Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Ingin Mencoba


__ADS_3

"Jangan dengerin Aiko, Yah. Hasutannya bisa bikin perang dunia ke tujuh!"


Aiko menggigit tangan Tama.


"Aghh!" Pemuda itu melepas bekapannya pada adiknya karena kesakitan. Ia mengibas-ngibaskan tangannya. "Awas lho ngomong yang enggak-enggak, gak gue anterin sekolah lho!" ancamnya.


"Ih!" Aiko mengerut kening.


"Bodo!"


"Eh ... sudah, sudah." Arya melerai Tama dan Aiko. "Memangnya kamu gak bisa pindah aja. Mei di sini?" tanyanya pada Tama.


"Dia kan Bodyguard-ku, aku juga kasih les Yah karena dia aku masukin di sekolah aku. Biar gak ketinggalan pelajaran. Repot kan bolak balik dari rumah ke sini."


"Ya sudah." Arya menoleh pada Kenzo. "Tolong jaga mereka Jo."


"Oh, iya."


"Awas pacaran!" Arya memperingatkan sambil menunjuk Tama.


"Eh, enggak kok Yah."


Aiko membalik tubuhnya dan menjulurkan lidahnya. Tama kesal melihat tingkah Aiko yang usil.


"Ok, Ayah pulang dulu sama Mama. Besok mulai belajar sama ayah ya?"


"Eh, iya."


Kenzo dan Leka mengantar Arya dan Mariko sampai ke pintu. Belum juga pintu tertutup rapat, Tama mengejar Aiko karena omongannya tadi hampir menyebabkan masalah.


Mei hanya tersenyum simpul melihat mereka berdua dan melangkah menaiki anak tangga. Tama menyadari kemudian Mei naik ke lantai atas. Ia pun menyudahi mengejar adiknya dan mulai menapaki anak tangga. Ia masuk ke kamarnya.


Tama menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur sambil mengatur napas. Cukup melelahkan juga mengejar adiknya yang usil itu, tapi ia lega. Ayahnya membiarkannya bekerja. Entah kenapa ia begitu semangat mendengar Ayahnya mengatakan ia akan jadi direktur perusahaan itu. Mungkin karena ia bisa mempertahankan gadis itu lebih lama lagi di sisinya. Tanpa disadari senyum mengembang di bibirnya.


Terdengar suara ketukan di pintu. Tama bangkit dan segera membukanya. "Mei?"


Dahi gadis itu berkerut. "Kak aku ...."


"Kenapa Mei?"


"Rasanya dosa membohongi orang tua."


Tama menengok ke kanan dan ke kiri. Ia segera menarik Mei masuk ke dalam kamar dan menutupnya. "Kamu kenapa sih Mei?"


"Aku gak enak aja. Gimana kalau Ayahmu tahu kamu melamarku? Ayahku kan bisa datang setiap saat bila ia sudah sembuh nanti." Mulut Mei mulai mengerucut.


"Itu nanti saja kita pikirkan."


"Gak bisa. Aku harus bagaimana kalau Ayahku tiba-tiba datang nuntut janjimu Kak?" mata Mei mulai memerah ingin menangis.


"Udah Mei, biar aku saja yang pikirin. Ok?"


Sebutir air mata gadis itu jatuh. Tama mencoba menghapusnya.


Mei memukul dada Tama pelan. "Lagi kenapa sih, Kakak harus berbohong seperti itu!" protes Mei.


"Maaf, maaf." Tama memeluknya. "Aku waktu itu hanya kepikiran itu." Tanpa sadar ia mengusap punggung Mei berusaha mendamaikan hatinya.


"Ih, kok jadi pelukan sih!" Mei yang kemudian sadar, mendorong Tama menjauh.


"Haduuh ...." Tama jadi serba salah. " Intinya gini. Itu semua ada waktunya. Nanti aku pikirin lagi deh ... ya?"


Mei makin mengerucutkan mulutnya sambil menatap tajam Tama. "Modus!"


Aduuh, cewek ini susah sekali. Padahal dia sendiri yang datang padaku sekarang aku dibilang modus. Aduh, gak ngerti deh!


Mei segera membuka pintu tapi langsung di tutup lagi oleh Tama. "Mmh?"


"Kamu besok gak ke mana-mana kan?"


"Eh, gak tau Kak. Kenapa?"


"Kalau keluar bilang ya? Nanti aku anterin."


"Kan Kak Tama mau belajar sama Ayah Kakak?"


Tama baru teringat kembali. "O iya. Paling tidak kamu bilang ya?"


"Iya." Baru saja Mei hendak membuka pintu, kembali Tama menghalangi. "Apa Kak?"


"Aku gak suka kamu pergi sama Tristan."


"Lho memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Kan kamu bilang tadi, kalau Ayahmu lihat bagaimana?"


"Oh, iya."


Tama membukakan pintu untuk Mei dan gadis itu keluar. Ia menutup pintu. Kembali ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Mudah sekali mengaturnya ternyata, ia gadis penurut. Tama kembali tersenyum.


Dari luar, tak sengaja Leka melihat Mei keluar dari kamar Tama saat ia juga baru keluar dari kamarnya. Mei tak menyadari karena ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Leka sedikit ragu tapi kemudian ia melangkah ke lantai satu menuruni anak tangga.


Mei membuka tas belanja yang diberikan Tama padanya. Ada boneka lumba-lumba, mug yang bergambar sama dan gantungan kunci miniatur lumba-lumba. Mei suka semuanya. Gantungan kunci itu digantungkan di besi penyangkut tali tas sekolahnya. Kelihatan sangat cantik menggantungnya di sana. Mug-nya juga. Ia sekarang punya gelas sendiri dan bonekanya, menambah koleksi bonekanya yang sudah ada.


"Uhh ...." Mei tertelungkup memeluk kedua boneka miliknya itu. Tedy bear berwarna putih dan lumba-lumba berwarna biru. Senangnya ....


Untuk beberapa saat, ia senang memeluk boneka itu, tapi kemudian ia ingat sesuatu.


Ah, belajar ah! Sebentar sebelum tidur. Mumpung ada cemilan dari Ibu. Mei memilih buku yang ingin pelajarinya. Ia memudian ke lantai bawah mencuci mug dan mengisinya dengan air es. Ia membawanya ke kamar.


Ah, asyik! Gelas punya Mei. Gadis itu begitu senangnya menatap mug bergambar lumba-lumba itu. Ia memilih salah satu cemilan dalam plastik pemberian Ibunya. Stik talas. Ia membuka dan mulai memakannya sambil membaca buku.


Seseorang mengetuk pintu. Mei merengut. Pasti dia lagi. Ia kemudian membuka pintu.


"Ah, Mei kamu lagi ngapain?"


Bener kan? "Aku lagi belajar Kak."


"Mmh, tumben."


"Ada apa Kak?" jawab Mei malas. Kenapa sih dia gak bosen apa ketemu aku? Aku aja bosen nemenin dia seharian.


"Eh ...." Tama menggaruk-garuk kepalanya. Ia melirik ke meja belajar Mei yang ada mug pemberiannya, cemilan dan buku pelajaran. "Kamu makan apa Mei?"


"Ha?"


"Aku pengen cemilan juga."


"Oh, aku ada yang lain." Mei baru akan mengambilnya, Tama segera masuk ke dalam kamar. Gadis itu menoleh. "Kakak!"


"Kita makan berdua aja Mei." Tama menutup pintu.


Mei mengerut dahi. "Ngak ah!"


"Mei, kita makan berdua dari pada sendirian."


"Aku lebih suka sendiri."


"Ah, pelit!"


"Yuk makan berdua yuk, aku malas sendirian."


"Kakak, aku mau belajar." Mei merengut.


"Ngak, aku ngak gangguin kok. Belajar aja, tapi belajarnya di bawah temenin aku, biar kita makan cemilan ini sama-sama."


Mei masih merengut tapi ia tak punya pilihan. Ia pun duduk di lantai menemani Tama sambil belajar sedang Tama bermain game.


"Ini snack apa?" Tama mengangkat satu potong di tangannya.


"Stik Talas."


Pemuda itu mengunyahnya. "Enak juga. Ini favorit kamu?"


"Iya."


"Mmh."


Sesekali Tama mengintip dari balik hp-nya, melihat Mei sedang membaca buku.


Apa aku sudah gila ya? Kok aku belakangan suka merhatiin dia? Mmh ... gimana ya? Enak dilihat dan aku nyaman aja sama dia. Bukan, bukan cinta tapi aku kok kayak gak rela aja pisah darinya. Eh, dia bukan cewek idamanku lho. Cewek idamanku tuh kayak Bella, cantik, favorit para cowok di sekolah. Iya kan?


Mmh ... masalahnya, aku kok gak pernah yakin ya segala sesuatu yang berhubungan dengan Mei. Rasanya aku ingin mencobanya ....


Terdengar bunyi notif dari hp Tama membuat Mei melirik pada pemuda itu. Tama yang terkejut melihat perubahan itu segera mengecek siapa yang mengirimkan pesan singkat padanya. Oh, Troy. 'Lu kok gak nongol? ke mane lu malming? Dapet cewek lu ya?'


'Kagak.'


'Terus?'


'Ortu gw plg.'


'Kena sekep lu?'


'Gaklah. Family Time-lah.(waktu bersama keluarga). Males keluar gw.'


'Yang bener lu?'

__ADS_1


'Emang elu, ortunye kagak plg2.'


'Buahaha. Yakin nih?'


"Kakak!"


Tama menoleh. Ia melihat Mei merengut. Rupanya bunyi notif hp Tama sangat mengganggunya karena berbunyi terus dan pemuda itu baru menyadarinya.


"Katanya gak gangguin?"


"Iya, aku jawab satu kali lagi. Ya?" Tama mengacungkan jarinya.


"Ngak!" Mei mencengkram lengan Tama.


"Aggh ... sakit!" Tama menahan ngilu di lengannya.


"Keluar gak!" Mei masih mencengkram sambil menatap tajam pada pemuda itu.


"Ngak Mei, ngak. Ngak jadi. Aku di sini aja." Tama memicingkan mata, masih mencoba bertahan dalam kesakitan.


"Keluar gak!"


"Aduh, Mei please. Aku janji. Please."


Melihat Tama yang masih bersikukuh bertahan, Mei pun tidak tega. Ia akhirnya melepaskan cengkramannya dengan kesal.


Tama berusaha tersenyum sambil mengusap-usap bekas cengkraman tangan gadis itu yang cukup membekas di kulitnya. Gadis itu akhirnya kembali membaca buku sambil mengunyah camilan yang baru saja ia masukkan ke mulut. Sekilas ia melirik Tama.


Kembali Tama mencoba tersenyum. Aku gak papa kamu pukul Mei, kamu sakiti. Asal jangan kamu tinggalkan. Aku akan bertahan. Aku akan mencoba ....


----------++++--------


Aska terkejut dengan cara makan istrinya yang rakus. Wanita itu makan sate ayam di atas tempat tidur dengan lahapnya.


"Monique, pelan-pelan saja. Tidak ada yang akan mengambil makananmu."


"Mmh?" Monique menoleh ke arah suaminya dengan mulut penuh. Bibirnya pun dipenuhi dengan kuah kacang.


Aska hampir tertawa. Ia mengambilkan tisu dan membersihkan mulut istrinya itu pelan-pelan. "Memangnya kamu belum makan malam?"


"Iya, dan aku sudah kelaparan tapi kamunya belum pulang-pulang," jawab Monique dengan suara tidak jelas karena sedang mengunyah dengan mulut penuh dengan makanan.


Aska menahan tawanya dan kembali membersihkan mulut istrinya dengan tisu. "Maaf ya, aku agak kemalaman karena mencari sate ayam ini tapi banyak yang sudah kehabisan karena sudah malam. Aku dapatnya juga agak jauh tempatnya."


"Mmh." Monique mengangguk dan tersenyum. Ia nampaknya gembira Aska akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia kembali meneruskan makannya.


-----------+++---------


Setelah sarapan pagi, Mei buru-buru kembali ke kamarnya. lima belas menit kemudian, ia keluar dengan berdandan rapi. Ia mengetuk kamar Tama.


"Kamu mau ke mana?" tanya Tama heran dengan penampilan Mei yang terlihat rapi tapi santai.


"Aku mau pergi sama Ida Kak."


"Hah?"


"Iya, pergi dulu Kak!" kata gadis itu sambil berlalu.


"Tunggu!" Tama meraih tangan Mei. "Hanya sama Ida aja?"


"Iya."


"Aku antar ya?"


"Aku janjian di jalan Kak."


"Ngak papa."


"Assalamualaikum." Arya masuk dari pintu depan. Matanya segera mencari Tama.


"Ayahmu sudah datang Kak," ucap Mei mengingatkan.


"Mengantarmu sebentar saja." Tama berkeras.


"Tidak usah Kak, aku bisa sendiri," Mei menepis tangan Tama. Ia bergegas melangkah mendatangi tangga dan menuruninya. "Ah, Waalaikum salam Pak. Maaf saya mau berangkat." Ia mendatangi Arya dan mencium punggung tangannya.


"Ah, ya. Hati-hati ya?"


"Iya Pak. Tama ada di atas Pak."


"O ya? Terima kasih."


_______________________________________________

__ADS_1


Author Euro40 menulis cerita tentang perundungan dalam Langit Jingga Mengubah Takdir. Keren kayaknya yuk kepoin.



__ADS_2