Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Pisah


__ADS_3

Mereka diperiksa secara terpisah. Mei pada Dokter Ahli Saraf dan Tama diperiksa secara menyeluruh atas permintaan Arya. Pria itu menemani anaknya yang dipindah-pindah sesuai pemeriksaan. Setelah melakukan rontgen dan melihat hasilnya, Tama diobati. Beruntung, Tama hanya mendapatkan memar di tubuh dan luka di bibir yang masih tergolong ringan sehingga tidak perlu dirawat di rumah sakit tapi ia harus beberapa hari istirahat di rumah.


Lain halnya dengan Mei. Ia sangat canggung dengan kedua orang tuanya yang menunggui diperiksa oleh Dokter. Ia sangat kesepian. Ia merindukan Tama.


Ayah Mei bisa melihat kegundahan putrinya tapi ia tidak tahu bagaimana cara membuat Mei nyaman. "Nanti habis ini kita tengok Tama ya?"


"Eh, terima kasih Pak."


Ayah Mei menatap Mei yang terlihat gelisah. Ia memberi tahu. "Mmh ... biasanya kamu memanggilku 'Ayah'."


Mei tampak merasa bersalah. "Eh, maaf Pak, eh, Ayah." Ia terlihat gugup.


"Tidak apa-apa."


Diam sejenak.


Ayah Mei berdehem sebentar. "Kamu nanti akan pulang ke rumah karena kamu tidak lagi jadi Bodyguard Tama. Ayah tidak izinkan kamu bekerja jadi Bodyguard."


Mei melirik Ayahnya dan mengangguk. "Iya."


"Jadi setelah kamu mengambil barang-barangmu, kamu tidak akan bertemu dengannya lagi."


Mei tersadar akan sesuatu. Ia akan kehilangan Tama dan akan tinggal dengan orang tuanya yang masih belum ia ingat. Seketika sepi merambat dan menusuk tulang seperti dinginnya malam. Ia harus terbiasa dengan hal baru lagi. Ia harus belajar tegar.


"Mmh ... aku boleh main ke rumahnya?"


"Main boleh tapi kamu tahu kan ada batasannya? Kalian kan sudah dewasa. Tidak boleh kelewat batas, karena itu Ayah menganjurkanmu menikah. Kalau menikah, apa-apa yang kalian lakukan berdua jadi tidak haram lagi. Tidak pantas kan laki-laki dan perempuan berjalan berduaan karena akan jadi omongan orang," Ayah Mei menasehatinya pelan-pelan.


Mei takut-takut melirik Ayahnya dan mengangguk. "Iya Ayah."


"Maysaroh Safir."


Mereka berdiri karena nama Mei sudah di panggil. Mereka kemudian masuk ruang konsultasi dokter.


Di lain tempat, Tama sudah diobati. Pemuda itu, pikirannya hanya pada Mei. Belum pernah mereka terpisahkan seperti sekarang ini. Arya bisa melihat ada yang berubah dengan Tama sejak dipisahkan dengan Mei. Padahal belum sampai sejam tapi Tama jadi terlihat sering melamun.


Arya berdehem membuat Tama menoleh karena sadar.


"Bisa tahu gak ceritanya bagaimana kalian bisa tidur bersama?"


"Ayah!"


Arya terkekeh. "Gak bisa kasih bocorannya?"


Tama mendelik kesal.


"Ngak, ayah serius nanya."


"Mmh, cuma masalah mati lampu aja."


"Gimana ceritanya?"


Tama menoleh pada Ayahnya. "Gak ada yang perlu diceritakan Yah! Mei sepertinya pergi keluar kamar mungkin ingin minum tapi saat itu mati lampu. Saat dia kembali dia salah masuk kamar. Itu aja."


"Bagaimana kau tahu dia salah masuk kamar? Kamu bangun?"


"Tentu saja aku bangun, dia peluk aku dipikir aku bonekanya. Udah, puas?" jawab Tama sebal.


Arya kembali terkekeh. "Kenapa kamu gak terusin aja. Sekalian melakukan yang lainnya."


"Ih, Ayah. Malah ngajarin yang gak bener nih!"


Ayah tergelak. Ia memegangi perutnya karena tertawa hingga sakit perut.


"Ayah ...." Tama menggerutu. Ia menyendokkan makanan ke mulutnya.


Tak lama Mei dan kedua orang tuanya masuk ke dalam kantin. Mereka sudah janjian bila sudah selesai pemeriksaan, mereka akan bertemu di kantin.

__ADS_1


"Oh, Mei." Tama lekas berdiri dan mendatangi mereka.


Mei terlihat senang. Apalagi Tama. Arya bisa melihat kalau mereka sedang kasmaran. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.


Tama mentraktir mereka membeli makan siang. Ia bahkan membawakan baki untuk Mei karena tangan Mei masih di gips. Setelah membayar, mereka bergabung di meja Arya.


"Mana tagihannya Pak, biar saya bayar."


Ayah Mei memberikan tagihan pembayaran pengobatan Mei pada Arya kemudian mereka mulai makan.


"Mei belajar ilmu bela diri dari Bapak?" Arya membuka percakapan.


"Oh, iya. Saya karena hanya punya anak perempuan, saya ajarkan dia ilmu bela diri agar bisa melindungi dirinya sendiri karena dia gak punya saudara," Ayah Mei menerangkan.


"Bapak punya ilmu bela diri apa, kok kayaknya jurusnya perpaduan dari berbagai macam jurus ilmu bela diri?"


"Oh, iya benar. Saya mempelajarinya selagi muda, macam-macam ilmu bela diri dan itu coba aku padukan sebelum aku ajarkan pada Mei."


"Pantas, ia bisa memadukannya dengan mudah. Maaf, Bapak profesinya apa ya?"


"Ah, aku ini hanya pedagang lontong sayur keliling Pak," Ayah Mei merendah.


"Bapak bisa Wushu?"


"Oh bisa."


"Bagaimana kalau Bapak mengajar Wushu saja di tempat saya Pak. Saya kebetulan punya padepokan Wushu dan gajinya lumayan."


"Oh, terima kasih Pak. Akan aku coba."


Ibu Mei sibuk memperhatikan Tama yang begitu perhatian pada anaknya, Mei.


"Kamu bisa potong Lasagna-nya?"


"Bisa Tam."


"Ih, enggak Tam. Aku bisa sendiri." Wajah Mei bersemu merah.


Tama berdehem, karena tak berhasil membantu gadis itu. "Mmh."


Pembicaraan kembali menarik saat Arya menawarkan Ayah Mei bekerja di perusahaannya untuk jadi mandor bangunan.


Tama yang sudah sedari tadi menyelesaikan makannya, memperhatikan Mei menyelesaikan makannya. Setelah itu Mei pamit ke toilet.


Tama sedikit gelisah melihat Mei pergi sendirian ke toilet. Tak lama ia menyusul.


Ia tak menemukan Mei di toilet wanita karena toiletnya sedang kosong dan baru ada orang yang akan masuk, membuat Tama panik. Ia segera mencari ke sana kemari. Pikirannya hanya satu saat itu, apa Mei mencoba kabur lagi?


Ia segera bergegas ke arah pintu masuk rumah sakit. Benar saja, Mei sedang berdiri di luar di samping pintu masuk.


"Mei!" Tama segera meraih tangan gadis itu.


Mei terkejut ketika melihat pemuda itu mengetahui keberadaannya.


"Kamu bukan mau kabur lagi kan?" ucap Tama terengah-engah. Ia sedang mengatur napasnya.


"Gak tau Tam." Mei menunduk.


"Kamu kenapa lagi?" Tama menghela napas.


Mei mengangkat wajahnya. "Aku ...." Belum selesai ia berkata-kata, air matanya sudah terlanjur jatuh.


Tama tak tega melihat Mei menangis, ia langsung memeluknya. Sesaat. "Kamu kenapa? Ada apa denganmu? Bukannya kamu sudah mendapatkan semua yang kamu inginkan?" ujar Tama perlahan.


Belum, Tama. Belum. Aku belum mendapatkan ... dirimu. Perlahan tapi pasti Mei mulai menyadari arti penting Tama dalam hidupnya, tapi ia ragu untuk mendapatkannya karena ... "Aku merasa sendirian." Gadis itu mulai terisak. Sesak terasa di dada mengingat sebentar lagi mereka akan berpisah.


Tama merenggangkan pelukan, dan menilik wajah Mei. "Jadi aku harus bagaimana menolongmu?"

__ADS_1


"Mmh ...." Sambil menangis Mei menahan gejolak di dada. Ia tak tahu harus bagaimana tapi ia berharap Tama bisa membantu. Seketika karena berharap, membuat Mei menggulung bibir bawahnya karena Tama tak kunjung mengerti hingga ia tanpa sadar memeluk Tama di tangannya yang hanya berfungsi satu.


Saat itulah Tama mengerti. Pelukan Mei membuat ia menyadari, gadis itu tidak ingin kehilangan dirinya seperti ia yang juga tak ingin kehilangan gadis itu. Namun ada satu kendala, Mei sedang hilang ingatan jadi mungkin saja ini hanya bersifat sementara. Setelah ia kembali ingat semua, mungkin saja ia berubah pikiran. Tama berniat mengorbankan dirinya karena ikhlas ingin membantu gadis itu. "Bagaimana kalau kita menikah saja?"


Mei segera melepas pelukan. Ia menjauh. Seketika ia ketakutan mendengar kata itu.


"Tunggu." Tama meraih tangan gadis itu. "Kita buat kesepakatan."


Mei terlihat bingung. Mata indah jenakanya menatap Tama dengan pikiran penuh tanda tanya.


Tama mencoba mendekat. "Aku ...."


Gadis itu terdiam di tempat.


Tama makin mendekat. "Aku takkan menyentuhmu, kecuali kamu menginginkannya."


Bola mata indah Mei menatap wajah pemuda di hadapannya, memastikan kebenaran kata-katanya.


Tama tersenyum semanis mungkin. "Bagaimana?"


"Seperti menyentuh tanganku ini?"


Tama buru-buru melepas pegangan tangannya pada Mei. "Oh, iya."


"Tapi kamu hanya boleh memegang tanganku saja."


"Jadi ... kamu menerima lamaranku?" ucap Tama tak percaya. Ia membulatkan matanya.


"Kamu harus melamar pada Ayahku," sahut Mei sambil menghapus sisa-sisa air matanya.


"Iya, Mei. Aku akan melamar pada Ayahmu!" Tama begitu bersemangat. Tidak tahu berapa lama pernikahan ini akan bertahan, tapi setidaknya saat ini ia masih bisa bersama gadis itu. Itu saja. Ia tak mengira ucapannya yang berdasarkan apa yang terlintas di kepala malah diamini Mei dengan cepat. "Bagaimana kalau kita beritahukan orang tua kita sekarang mumpung mereka masih ada di sini bersama kita?"


Mei mengangguk dengan senyum kecilnya.


Segera Tama, saking semangatnya menarik Mei masuk kembali ke dalam rumah sakit untuk segera memberitahukan berita ini pada kedua orangtua mereka. Mei yang mengikuti, mulai menerbitkan senyum indah menatap laki-laki di depan yang akan menjadi calon imamnya. Semoga Tama yang terpilih, benar-benar akan selalu berada di hatinya. Semoga.


"Ada apa kamu berlari-lari berdua?" Arya sampai berdiri karena kebingungan.


Mei dan Tama yang kini berdiri di samping meja berusaha mengatur napas mereka satu-satu.


"Aku ingin melamar Mei, Yah!" ucap Tama tak sabaran. Ia masih belum selesai mengatur napasnya.


"A-apa? Melamar?" Kini Arya berusaha menajamkan pendengaran. Bukankah Tama bilang, Mei takut menikah, tapi kenapa sekarang Tama malah ingin melamar Mei? Ada apa ini sebenarnya? Dilarang, kabur. Dilamar, ketakutan. Sekarang, minta dilamar? Arya benar-benar pusing memikirkan kedua sejoli ini. Lebih baik turuti saja selama mereka masih di jalan yang benar. "Ini Ayah gak salah dengar kan? Kamu mau melamar Mei? Apa Meinya mau?"


"Mau. Iya kan Mei?" Tama menoleh pada gadis di sampingnya.


Mei hanya tersipu tapi cukup untuk memberi tahu semua, apa yang dipikirkannya.


Merpati ... merpati. Digenggam terlalu erat ia mati, tapi terlalu longgar ia kabur. Itulah wanita. "Oh, ya udah. Bagaimana kalau kita percepat saja Pak? Bagaimana menurut Bapak, sebelum mereka berubah pikiran kembali?" tanya Arya pada Ayah Mei.


Pria paruh baya itu hanya tertawa. "Ya sudah."


Mereka kemudian segera pulang. Arya mengantar orang tua Mei beserta gadis itu ke rumah mereka.


"Tapi barang-barangku masih ada di kos-kosan," ucap Mei kemudian.


"Mau diambil sekarang?" tanya Arya memastikan.


"Motorku juga masih ada di sana Yah," Tama memberi tahu.


Akhirnya Arya mengantar keduanya ke kos-kosan mereka.


"Nanti aku akan mengantar Mei pulang Yah."


Arya kemudian meninggalkan mereka di sana. Ia segera pulang dan memberitahukan kepada seluruh anggota keluarganya di rumah tentang kepulangan Tama. Tak lupa ia memberitahukan Chris. Mereka menyambut gembira tentang pernikahan Tama yang akan datang menjelang.


Sementara itu, Tama mengantar Mei pulang. Mereka tidak menyadari sebuah mobil tengah mengikuti mereka di belakang.

__ADS_1


__ADS_2