
Kenzo tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Pak Touru?" Touru adalah orang Jepang teman Mariko, Ibunya, yang bekerja di restoran Arya. Ia sudah lama pulang ke Jepang dan tak tahu lagi kabar beritanya.
"Aku lihat kamu mondar-mandir di depanku tapi tak menyapaku. Aku pikir kau sombong sampai pura-pura tak kenal, tapi sepertinya kau memang tidak melihatku ya?"
"Gomen, mienakatta.(Maaf, ngak lihat.)" Kenzo menyatukan kedua tangannya.
"Mmh, daejobu.(Mmh, gak apa-apa)" Touru menepuk-nepuk bahu Kenzo.
"Oya, aku dengar berita tentang Mariko dan Ayahmu yang katanya ternyata bukan korban dari pesawat jatuh, jadi mereka selamat?"
"Mudah-mudahan."
"Lho, jadi mereka ke mana?" tanya Touru bingung.
"Aku juga tidak tahu tapi saat aku ke hotel tempat mereka menginap, barang-barang mereka masih ada dan ada surat yang Ayah tinggalkan untukku. Isinya memintaku segera pulang dan mereka akan menyusul pulang seminggu lagi."
"Benarkah, mmh aneh juga." Touru menyentuh dagunya, bingung. "Berpikir positif saja, alhamdulillah mereka selamat. Mereka pasti akan kembali pada waktu yang sudah di janjikan jadi kamu bisa menanyakannya langsung, ada apa."
"Iya, iya. Ngomong-ngomong Bapak kembali ke Jakarta, mau bekerja lagi di restoran Ayah?"
"Kalau diizinkan karena ternyata anak istriku tidak betah tinggal di Jepang."
"Benarkah? Di mana mereka?" Mata Kenzo mencari-cari.
"Itu di sana," Touru menunjuk pada bangku kelas ekonomi. Mereka kemudian bersama-sama ke arah yang di tunjuk Touru.
----------+++--------
Mei terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjawabnya, soal itu susah sekali. Ia memang dari dulu kurang begitu bisa pelajaran matematika. Harusnya guru itu tahu bahwa dia anak baru jangan malah disuruh ke depan menjawab soal. Huh!
Mei memandangi soal itu dan benar-benar tidak tahu karena belum mempelajarinya dan sialnya soal itu ada dalam tugas sekolah yang sudah ia serahkan. Pasti ibu guru itu tahu ia mencontek hasil teman karena terbukti ia tidak bisa mengerjakannya.
Tama baru saja hendak mengacungkan tangan membantunya ketika ada siswa lain mengacungkan tangan mendahuluinya.
"Ya, Tristan. Kamu bisa bantu?"
Mei menoleh. Tristan melangkah ke depan menghampiri dan mengambil kapur dari tangan gadis itu. Ia menjabarkan jawabannya.
Oh, cowok ganteng ini namanya Tristan .... Mei sekilas melihat pemuda itu dan kemudian melirik jawabannya. Dia mirip Tama, anak pintar juga di sekolah.
Sebentar saja pemuda itu menyelesaikan soal itu.
"Sudah mengerti kamu sekarang, Maysaroh?" tanya guru itu pada Mei.
"I-Iya Bu," jawab Mei singkat.
"Ya sudah, kalian kembali ke kursinya."
Mei dan Tristan kembali ke tempat mereka bersamaan hingga bahu mereka beradu karena sempitnya tempat yang mereka lewati.
__ADS_1
"Maaf," ucap Mei sambil menganggukkan kepalanya.
Tristan memajukan tangan kanan, memberi jalan pada Mei. Gadis itu kembali menganggukkan kepala berjalan mendahului Tristan.
Saat Mei duduk, ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi melirik ke belakang. Tama cepat tanggap dengan mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kenapa kamu gak bantuin aku sih tadi?" bisik Mei pada Tama. Ia tak nyaman dibantu Tristan yang terlihat sombong.
"Lah, cowok itu tukang pamer. Males gue rebutan ma dia," jawab Tama sambil berbisik.
"Aku juga males, makanya kamu harusnya bantuin aku tadi," Mei mulai ribut.
"Iya, iya."
Tak lama bel berbunyi. Tama memberikan selembar uang merah pada Mei. Gadis itu terlihat senang dan pergi lebih dulu ke arah kantin.
Tristan melihat Mei pergi ke kantin sendirian. Ia segera meninggalkan temannya yang sedang diajaknya ngobrol. "Gue duluan ye Jo. Gue laper nih."
Dilihatnya gadis itu sedang berusaha mengajak ngobrol teman-teman perempuan yang ada di kelas mereka sambil mengantri di gerai kebab. Tristan segera buru-buru membeli makanan dan mencoba mendekati gadis itu. Ia sendiri tak tahu bagaimana cara mendekatinya. Menyapanya atau ....
Tiba-tiba Mei mundur dan menyenggol wadah sushi yang di beli Tristan hingga terjatuh. "Eh, maaf."
"Ck!" Tristan pura-pura kesal. Makanannya jatuh dan tutup wadah plastiknya terlepas hingga sushi itu tumpah ke lantai.
"Eh, aku belikan deh! Aku ganti." Mei menarik tangan Tristan kembali ke gerai sushi. Tristan diam saja di tarik Mei ke konter makanan itu dan membelikan makanan yang sama dengan yang jatuh tadi. Ternyata harganya cukup mahal hingga uang yang tersisa hanya sedikit. Walaupun Mei tidak bisa membeli makanannya tetapi ia cukup senang telah mengganti makanan Tristan yang jatuh. "Ini." Gadis itu menyodorkan makanan itu pada Tristan.
"Tapi uangmu ...." Pemuda itu tahu Mei tak punya uang lagi untuk membeli makanan untuk diri sendiri karena ia melihat gadis itu tadi menerima uang dari Tama hanya selembar uang merah itu saja.
Sebelum berlalu pemuda itu menangkap lengan Mei. "Kita makan berdua saja bagaimana?" Tristan mengangkat bungkusan plastik itu di hadapan Mei.
"Tidak usah," elak Mei sopan.
"Tidak apa-apa," Tristan sedikit memaksa.
"Maaf, tapi aku tidak makan nasi." Mei berlalu.
"Oh, eh tunggu!" Tristan akhirnya mengerti tapi tetap menghalangi di depan. "Aku belikan saja kebab-mu ya?"
"Tidak usah," Mei kembali menolak.
"Tidak, aku maksa."
Mei terlihat bingung dengan maksud Tristan.
"Kamu seharusnya tidak usah mengganti makanan aku. Biar sekarang aku belikan makanan kamu jadi kita sama-sama impas. Ok?"
Mei tertawa dan Tristan pun tersenyum.
"Ok ya?"
__ADS_1
"Ya sudah."
Tama keluar kelas dengan sedikit telat. Ia terkejut melihat Mei duduk berdua dengan Tristan dan terlihat akrab.
Eh, bukannya tadi kayak gak suka gitu sama Tristan? Trus, kenapa jadi akrab begini? Tama entah kenapa sedikit kesal. Bukan Tama saja, banyak gadis-gadis yang melihat iri pada Mei karena Tristan bukan tipe cowok yang gampang didekati. Belum ada yang berhasil meluluhkan gunung es itu hingga pernah di gosipkan menyukai sesama jenis karena ia selalu ke mana-mana bersama teman dekatnya Jonathan, tapi kali ini Jonathan malah duduk dengan teman cowok lainnya sedang Tristan bahkan tidak melirik temannya itu sama sekali. Ia hanya fokus melihat Mei.
Tama membeli makanannya dan duduk di tempat lain bersama teman-temannya tapi matanya tak bisa lepas selalu ingin tahu reaksi Mei setiap bicara dengan cowok itu.
Kadang-kadang Mei tertawa lepas yang membuat Tama kesal, kenapa Mei bisa tertawa sebahagia itu dengan orang lain, harusnya dengan dirinya saja gadis itu boleh begitu.
Tama mulai bingung. Ia tak mungkin mulai suka dengan Mei karena kemarin temannya saja yang terlihat suka pada gadis itu, ia biarkan tapi kenapa pada Tristan tidak? Apa ia sebenarnya benci pada Tristan?
Tak mungkin. Cowok bengal manapun di kelas tak pernah ia perdulikan, apalagi Tristan, pria sombong satu itu. Apa karena Tristan kaya, pintar dan juga tampan lebih bisa menyaingi dirinya dibanding temannya Troy yang sedikit bengal dan wajahnya biasa-biasa saja itu? Eh, kedengarannya aku cemburu. Ah, gak mungkin. Mei kan bukan tipeku. Tipeku itu ....
Seorang gadis yang sangat cantik datang bersama teman-temannya ke kantin dengan bergerombol. Ia selalu jadi perhatian karena kecantikannya itu tidak ada yang bisa menandinginya di sekolah. Cewek paling cantik di sekolah dan juga berprofesi sebagai model. Ada beberapa brand terkenal memakainya sebagai model.
Di sekolah gadis ini punya geng pertemanan yang cukup kuat. Kebanyakan dari teman-temannya adalah penggemarnya juga sehingga mereka selain berteman juga melindungi gadis itu, Arabella Karim atau yang biasa di panggil Bella.
Tidak banyak yang bisa berteman dengan Bella karena ia punya kelompok geng sendiri yang membuatnya tidak tersentuh. Kelompok geng Bella dikagumi sekaligus dibenci, jadi saat ia datang banyak siswa yang harus memberi mereka jalan karena kelompok mereka terdiri dari bukan orang sembarangan tapi dari keluarga yang super-super kaya.
"Halo Bella sayang. Makan yuk bareng aku!" goda Tama.
Bella hanya melihat pemuda itu sekilas. Mencebik dan kemudian melirik Tristan. Ia mendatangi meja pemuda itu. Teman-teman Bella mulai mengusir Mei yang duduk berseberangan dengan Tristan, tapi pemuda itu memegangi pergelangan tangan Mei untuk menahannya. "Apa sih, dateng-dateng udah ngusir orang. Ngak sopan tau gak, ngusir orang yang sedang aku ajak bicara."
Mei terjebak di situasi yang tidak nyaman tapi ia bisa apa. Ia tidak tahu apa-apa karena ia masih anak baru di sana. "Tristan, baiknya aku ...."
Tristan melirik Mei dan menggenggam tangannya lebih erat.
Bella yang datang mendekat, menyipitkan mata dengan sinis pada Mei. Ia memang sudah lama naksir Tristan, tapi pemuda itu selalu menolaknya. Kini ia tiba-tiba melihat pemuda itu dengan seorang gadis, ia benar-benar tak rela.
"Aku cuma mau bicara aja. Anak siapa sih ini!" la melirik Mei kesal.
"Tris ...."
Namun Tristan mengangkat tangannya menyetop Mei untuk bicara. "Maaf, aku gak pengen bicara sama kamu tuh!" jawabnya ketus.
Kejadian ini menarik perhatian seluruh siswa yang berada di kantin itu. Mereka melihatnya tegang. Apalagi Tristan berani menolak Bella terang-terangan di depan umum membuat Bella semakin malu dan meradang pada Mei.
Tiba-tiba Tama datang dan meraih tangan Mei agar gadis itu bisa keluar dari situasi rumit itu. "Mei ikut aku yuk!" Ia tidak ingin orang tahu identitas Mei yang sebenarnya yang hanya seorang Bodyguard.
Mei mengikuti Tama, tinggal Tristan yang terlihat kesal pada Bella. Gadis cantik itu hampir saja duduk kalau saja ia tidak mendengar Tristan mengomel padanya. "Hah, ganggu aja lu!" Pemuda itu langsung meninggalkannya.
Sepeninggal Tristan gadis itu langsung terduduk di kursi dengan wajah kesal dan menggebrak meja. Teman-teman geng Bella langsung melihat ke sekeliling membuat siswa-siswa lain buru-buru memalingkan wajah agar tidak terkena masalah. Bella benar-benar kesal pada Mei.
Di tempat lain Tristan ternyata mengikuti Tama dan Mei yang kembali ke kelas mereka. Iapun kembali ke sana.
Kursi Tristan memang tidak jauh dari mereka. Ia duduk paling belakang. Ia agak heran saja melihat Tama dan Mei yang mengaku sepupu tapi wajah mereka tidak mirip. Tama berkulit putih dan wajah Jepangnya terlihat sangat jelas sedang Mei berkulit sedikit gelap dengan wajah Indonesianya yang sangat kental terlihat. Apa benar mereka sepupuan?
_______________________________________________
__ADS_1
Author Putri Nilam Sari menulis Hei! Gadis berkaca mata. Bercerita tentang gadis yang berubah karena dirinya sering diejek punya wajah yang buruk. Gmn ceritanya, cekidot guys!