Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Kenyataan


__ADS_3

"Papa."


Chris mengusap punggung Tama. Ia kembali menatap ke arah Dokter wanita di depannya. "Mereka ke mana-mana selalu berdua karena itu kami terpaksa menikahkannya."


"Mmh. Mereka harusnya mencegah kehamilan, tapi kalau kehamilan ini sudah terjadi dan memang diinginkan, kenapa tidak? Yang penting dijaga saja. Mmh ...." Dokter itu menghela napas. "Fisik si Ibu sepertinya kuat, juga janinnya karena hingga detik ini tidak keguguran, tinggal kami akan melakukan sebaik mungkin pengobatan agar mereka kembali pulih. Komanya kami tidak tahu berapa lama, tapi bersabar saja. Kalau fisik si Ibu kembali sehat, bukan tidak mungkin ia akan segera bangun dari komanya."


Tama menoleh karena mendengar berita baik dari Dokter itu. Wajahnya yang basah oleh air mata dihapusnya demi mendengar kalimat-kalimat menyejukkan itu. "Benar Dok?" tanyanya tak percaya.


"Insha allah. Dengan istirahat yang cukup dan nutrisi terpenuhi, mudah-mudahan Istrimu pulih, tapi saya tidak bisa menjanjikan banyak. Berdoa saja, mudah-mudahan si Ibu juga tidak punya komplikasi penyakit tertentu hingga memudahkan kami menyehatkan tubuhnya."


"Dia hanya tidak suka nasi," ujar Tama dengan polosnya.


Dokter itu tertawa. "Baiklah, kami akan permisi dulu."


"Eh, apakah pasien belum bisa dipindah ke Jakarta?" Chris menduga-duga.


"Belum ya. Tubuhnya masih belum cukup kuat untuk itu, tapi nanti akan diinformasikan lagi bila sudah cukup kuat."


"Terima kasih."


----------+++--------


Tristan yang diborgol dibawa ke sebuah gedung apartemen bersama beberapa polisi berpakaian bebas. "Kita ke mana?"


"Ada seseorang yang ingin bertemu Bapak di sana." jawab salah seorang polisi.


Tristan menghela napas panjang. Kalau dia telah menggunakan posisinya untuk melakukan niat kotornya, ia harus siap dengan konsekuensinya.


Di lantai 5 mereka turun. Mereka kemudian mendatangi salah satu ruangan dan mengetuknya. Pintu dibuka tanpa halangan dan Tristan dibawa masuk ke dalam. Saat itu juga borgolnya dibuka dan ia ditinggal sendirian di sana.


Sambil mengusap bekas borgol yang memberi bekas pada pergelangan, ia menatap ke arah balkon yang terbuka yang sedari tadi mencuri perhatiannya.


Seorang pria paruh baya yang sangat dikenalnya kini berdiri dan menatap ke arah laut. Hatinya bergetar hebat. Tentu saja karena itu adalah ayahnya, pria yang sangat dihormati dalam hidupnya. Ia melangkah ke arahnya.


"Kenapa kau melakukan itu Tristan?" ucap pria itu tanpa menoleh.


Langkah Tristan terhenti. "Maaf." Ia tertunduk.


"Kau hampir saja menghancurkan karir Papa karena perbuatanmu."


Suara pelan itu benar-benar membuat Tristan tak berkutik. Pria itu adalah idolanya, tempat ia menggantung cita-citanya dan bangga akan keberadaannya, kini dikecewakan oleh perbuatan egois dirinya yang sesaat tapi telah menghancurkan segalanya. Kebanggaan orang tua akan dirinya.


Ia melangkah ragu-ragu. Mencoba merangkai kata tapi pada akhirnya ia berhenti di samping pria itu dengan tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Apa yang telah ia kerjakan tak bisa ditolerir, dan ia bisa berada di tempat itu pasti adalah usaha ayahnya untuk membuat ia mendapat kebebasan. Kebebasan yang entah seperti apa.


Mereka sama-sama berdiri di pinggir pagar beranda dan melihat laut. Angin malam yang bertiup pelan tak sanggup membawa resah, jauh dari pikiran mereka. Mereka meneguknya pelan-pelan.


"Aku tidak tahu bagaimana membayar semua kesalahan ini," Tristan coba memulai. "Maaf, aku sudah salah melangkah," ucapnya penuh penyesalan.


"Orang tua berhak marah, tapi mereka selalu memaafkan."


Tristan menoleh. Wajah tua yang selalu ia kagumi ternyata juga memikirkannya. Berusaha membantunya, walau sudah sedemikian hebatnya ia telah merusak reputasi pria itu karena ia ternyata tidak memperhitungkan efek domino yang telah ditimbulkan dari penculikan itu.


Tama ternyata punya orang kuat yang berdiri di belakangnya yang bisa setiap saat merusak jabatan ayahnya yang sudah sangat terhormat di mata masyarakat, dan ia tidak memperhitungkannya sampai di situ.


Di luar itu tetap saja, ia telah melakukan perbuatan tercela yang bukan tidak mungkin merusak reputasinya sendiri yang juga sudah sangat bagus di kepolisian. Tidak ada ampun, ia sangat mungkin bukan saja diturunkan pangkatnya tapi mungkin juga dikeluarkan dari kepolisian karena tindak ketidakdisiplinannya pada pekerjaan. Ia sudah pasrah.


"Aku harus bagaimana Papa?"


Di dalam hidup, Tristan belum pernah melihat ayahnya marah. Ia adalah pribadi yang sabar. Sabar menghadapi Mamanya, sabar menghadapi pekerjaannya dan kini sabar menghadapi kesalahan dirinya yang hampir merusak reputasinya. Ia tak tega.


"Kabarnya gadis itu kritis."


"Cinta telah membutakanku Pa, untuk sesaat."


Pria paruh baya itu menoleh pada anaknya. "Dan sekarang kamu sadar?"

__ADS_1


"Terlambat ya?" Tawa kecil Tristan terdengar miris.


"Lalu?"


"Aku terima konsekuensinya Pa, walau masuk penjara sekalipun."


Pria yang rambutnya mulai memutih di ujung kening kembali memandang laut dan Tristan mengikutinya. Angin laut masih mengombang ambingkan perasaan.


"Beruntung Pak Chris tidak mempermasalahkan selama menantunya kembali, tapi kenapa gadis itu kritis? Itu bukan perbuatanmu kan?"


Tristan menghembuskan napas pelan mengusir resah. "Dia terlibat kecelakaan dan aku memanfaatkannya. Bisa dibilang aku juga memicunya."


Mereka diam sejenak.


"Berdoa saja gadis itu selamat dan kembali sehat sebab bila tidak, kita berdua akan menanggung resikonya."


"Maaf, maafkan aku Pa."


Kembali diam. Entah kenapa sunyi menggelayuti hati keduanya.


"Kamu tahu kenapa Papa mengirimmu ke sini?"


Tristan terkejut. "Papa yang menugaskan aku ke Kalimantan?"


"Papa lihat kamu mencoba mencari tahu tentang Ibumu. Apa hubunganmu tidak bagus dengan Mama?"


Tristan salah tingkah. "Eh, bukan begitu Pa. Aku sayang kok sama Mama."


"Tapi kamu juga kangen Ibumu?"


Tristan tertunduk.


"Karena itu Papa mengirimmu ke sini. Ibumu ada di sini."


Tristan menoleh menatap ayahnya dengan takjub.


"Jadi selama ini ...."


"Mama tidak pernah menyuruh Papa menceraikannya, jadi walaupun Mama mengusir Ibumu, Papa tetap akan mencarinya dan melindunginya. Papa tidak mau ada konflik diantara keduanya. Papa sayang pada mereka berdua. Kau tidak tahu kalau kau tidak sendirian kan?"


"Apa? Maksud Papa ...."


"Kau punya adik Tristan. Dua. Laki-laki dan perempuan. Nanti akan Papa bawa kamu pada mereka." Ayah Tristan mengalungkan tangannya ke leher anaknya. "Kenapa kamu tidak tanya pada Papa? Kenapa kamu cari sendiri, mmh?"


Netra Tristan berkaca-kaca. Ia bahagia.


Asrul mengeratkan pelukannya di leher anaknya. "Bila nanti gadis itu sembuh dan kembali sehat, kau akan tinggal di pulau ini dan tugas di sini selamanya. Itu janjiku pada Pak Chris yang merupakan hukumanmu Tristan. Kau harus jalani itu."


Tristan mengangguk senang. Bisa dibilang itu bukanlah hukuman. Ia akan berkumpul bersama keluarganya yang selama ini dicarinya. Ternyata selama ini ayah Tristan menyembunyikan Ibunya di Tarakan. Ia membelikan Istrinya rumah dan sesekali waktu mengunjunginya tanpa sepengetahuan Istri pertamanya. Bahkan hingga memiliki 2 anak lagi bersama Istri keduanya itu.


Ibu Tristan tak pernah berhenti menanyakan kabar Tristan setiap kali ia bertemu Suaminya dan ia sangat bangga dengan pencapaian anaknya itu.


"Lupakan gadis itu. Suatu saat kau akan bertemu yang kedua," Asrul menasehati.


"Yang kedua?"


"Dia mungkin lebih baik atau bahkan kurang tapi kamu mencintainya."


"Papa, mungkin aku tidak bisa melupakannya."


"Mungkin. Seperti Papa yang tidak bisa melupakan Mama tapi hidup lebih baik juga bersama Ibumu. Kau akan menemukannya. Tidak usah mencari tapi kau akan menemukannya."


Tristan hanya bisa menatap pria paruh baya yang kini tersenyum padanya, berusaha membangkitkan semangatnya, tapi paling tidak yang datang menjelang tidaklah terlalu buruk. Bertemu Ibu dan adik-adiknya.


Angin malam masih berlanjut. Mengusir sepi.

__ADS_1


--------+++--------


Semua orang menikmati makan malamnya kecuali Tama. Arya menyenggol lengan Mariko yang hanya melihat saja.


"Tama, ayo di makan makanannya nanti keburu dingin," bujuk Mariko. "Kamu harus punya tenaga untuk mengurus Istrimu."


"Mmh." Tama bergeming. Ia hanya memperhatikan saja makanan yang kini berada di tangannya.


"Kalau kamu ngak mau makan, kamu pulang saja ya, ke hotel sama Ayah biar Mama yang urus Mei."


Semua orang menatap Tama.


"Jangan, aku mau di sini sama Mei. Dia kan Istriku!" omel Tama.


"Kalau gitu makan! Mama gak mau tau, kamu harus habiskan," perintah Mariko.


"Iyak!" Namun Tama mengunyahnya sambil meneteskan air mata. Tampaknya berat baginya mengunyah makanan itu sementara Istrinya masih belum jelas keadaannya.


"Tama!"


"Iya, tapi kan susah ...," keluh pemuda itu. Air matanya makin menjadi-jadi banyaknya.


"Tama, bukankah dulu Mama juga pernah koma waktu melahirkanmu. Buktinya Mama kembali sehat," Mariko mencontohkan.


"Iya ...," gumamnya sambil menunduk.


"Kalau kamu gak semangat, Mei bisa down(kondisi badan menurun) lho!"


"Ih, Mama jangan bilang begitu!"


Pertengkaran keduanya menimbulkan tawa bagi mereka yang melihatnya karena terlihat sekali Tama masih anak-anak.


"Kan Mei dengar."


"Masa?"


"Iya. Dulu Mama tahu kalau dikunjungi dan dengar orang bilang apa."


Tama membulatkan matanya. "Beneran?"


"Iya. Mungkin saja Istrimu dengar kamu gak sungguh-sungguh mau ngurus dia."


"Ih, gak mungkin itu Ma." Tama menoleh ke pembaringan Mei. "Mei, aku gak gitu!" teriaknya pada Istrinya yang masih terbaring koma di tempat tidur.


"Ya udah sana gih, temani Istrimu ngobrol biar dia juga semangat sembuh."


Tama segera menghapus air matanya dengan kasar. Ia mendatangi tempat tidur Istrinya dan duduk di tepian tempat tidur. Lamat-lamat terdengar suara Tama yang mengajak ngobrol Istrinya sambil makan dengan semangat. Rupanya hanya Istrinya yang bisa membangkitkan semangatnya mengisi hari. Tama yang cerewet itu sudah kembali.


--------+++--------


Tama terbangun di tengah malam. Ia tidur di sofa panjang. Setelah menemui kesadarannya ia menoleh ke belakang. Istrinya masih terbaring di atas tempat tidur.


Rasanya seperti mimpi, ia baru kemarin tidur sambil memeluk Istrinya tapi kini gadis itu sudah berpindah alam dan berada di sana sendirian.


Tama mendekati tempat tidur Mei dan duduk di tepian tempat tidur. Diraihnya tangan gadis itu yang sedikit dingin.


"Maaf aku tidak bisa menjagamu, sampai kamu menderita begini. Aku suamimu tapi aku tak bisa kamu andalkan." Digenggamnya tangan Mei. "Maafkan aku."


Tiba-tiba dari kelopak mata Istrinya mengalir air mata.


"Mei ...." Pemuda itu terkejut. Benar kata Mariko, Istrinya bisa mendengar. Digenggamnya erat tangan itu. "Eh, tidak apa-apa kok. Aku tidak apa-apa. Aku akan menjagamu Mei, mulai detik ini. Kamu jangan khawatir ya?" Pelan-pelan diusapnya air mata yang mengalir di wajah Istrinya. "Mulai sekarang kau bisa mengandalkanku."


____________________________________________


Cinta Dalam Balas Dendam oleh Author Anggraeni.arp menceritakan tentang gadis tangguh yang di persiapkan ayahnya untuk balas dendam.

__ADS_1



__ADS_2