Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Canda Berat


__ADS_3

"Ini Mbak." Pembantu itu memberikan sebungkus coklat dan setangkai bunga pada Mei. "Ini dari cowok yang tadi datang."


"Oya, makasih." Mei menutup pintu. Dihirupnya bunga mawar merah itu. Ada bau khas semerbak bunga mawar yang lembut tercium hidungnya yang bangir. Baru kali ini dia menyentuh bunga mawar sebagus itu, berbunga-bunga rasanya telah mendapatkannya.


Ia kemudian duduk di tepian tempat tidur dan membuka bungkus coklat itu. Ia mulai mencicipinya.


Kenzo mengetuk-ngetuk pintu kamar Tama. Tak lama pintu itu terbuka.


"Ada apa Kak?" Wajah Tama muncul di depan pintu.


"Tadi Om Chris telepon, dia sudah menyelesaikan Audit perusahaan Kakek dan sudah menyerahkan bukti-bukti penyelewengan uang perusahaan pada polisi. Polisi juga sudah menetapkan siapa-siapa yang menjadi dalang penyelewengan dana itu. Mereka-mereka yang mengganggumu ikut membantu mempercepat proses penangkapan dalang kejahatan yang sebentar lagi akan diumumkan di tivi. Jadi besok kamu udah boleh kok sekolah dan kerja lagi."


"Asyiiik! Makasih Kak." Tama melompat dan memeluk Kenzo.


"Ow, ow, ow." Pria itu menenangkan Tama yang bergelayut di lehernya. "Tapi besok, aku akan menemanimu ke kantor. Aku akan ajari kamu cara me-manage(mengatur) perusahaan dengan benar."


"Makasih Kak." Tama menurunkan tangannya. Matanya tampak bercahaya.


"Mmh." Kenzo menepuk bahu adiknya. Ia kemudian meninggalkan pemuda itu.


Tama segera mendatangi kamar Mei. Ia ingin memberi tahu Mei soal kabar gembira ini. Tanpa sempat mengetuk, ia membuka pintu kamar yang kebetulan tidak dikunci itu dan mendapati Mei sedang mengunyah sesuatu di tepian tempat tidurnya. Tama mengerut kening dan sekilas melihat ke atas meja nakas. Setangkai bunga mawar merah. Pasti itu ....


"Kak, kenapa masuk gak ketuk pintu sih? Ini kan kamar cewek!" protes Mei yang terkejut melihat kedatangan pemuda itu. Untung saat itu ia masih memakai jilbab instannya.


"Itu dari Tristan kan?" ucap Tama dengan nada kesal. Ia berusaha merebutnya. "Sini!"


Mei dengan sigap merentangkan tangannya ke atas. Tama tak peduli. Ia terus berusaha menggapainya hingga menjatuhkan Mei ke tempat tidur. Bahkan menindihnya. Bungkus coklat itu akhirnya ia dapatkan. Saat ia melihat ke depan, ia baru menyadari telah menindih Mei.


Tama tersenyum nakal.


"Awas Kak, iiih!" Mei protes karena ditindih.


"Ini siapa yang kasih kamu ini? Pembantu ya? Yang mana, biar kupecat!"


"Ih, Kakak jahat!"


"Biarin!" Tama baru saja hendak berdiri, Mei mencubit pipinya karena gemas. "Aaah!" Ia menepis tangan Mei. "Sakit tau!" Ia kembali coba berdiri.


Mei tak mau menyerah begitu saja. Tiba-tiba gadis itu mendorongnya jatuh ke samping. Ia menduduki perut Tama dan merebut kembali bungkus coklat itu.


"Hei!" Tama berusaha menggapai coklat yang direbutnya.


Mei hanya memiringkan kepala, menggigit kembali dan mengunyah coklat itu. "Ini punyaku," ucapnya sambil mencubit pipi Tama lagi.


"Ahh!"


"Jangan jadi orang jahat kenapa sih Kak! Orang kerja baek-baek dipecat," katanya sambil masih mengunyah.


Tama kesal dikalahkan Mei. Ia berusaha menjatuhkan gadis itu ke samping tapi Mei tak kalah cepat. Setelah berguling ia langsung duduk dan segera turun dari tempat tidur. Ia berusaha kabur. Tama berguling cepat ke arah Mei dan turun dari tempat tidur. Ia mengejar Mei.


Karena tempatnya tidak luas, Mei tersudut. Masih sambil mengunyah, ia memikirkan cara untuk kabur dari kepungan Tama yang mulai mendekat.


"Ayo lho ...." Tama merentangkan tangannya.


"Kakak ...." Mei merajuk. "Kak Tama jahat ih! Ini kan Tristan kasih buat aku!" Kembali Mei menggigitnya.


"Ayo siniin ...." Tama menyeringai nakal.


Dengan nekat, Mei menerobos dari kiri tapi Tama berhasil menangkap tubuhnya dari belakang.


"Kakak!"


Tama mendekap Mei, erat. "Ayo siniin gak?"


"Enggak!!"


"***** nih!" Tama langsung mencium pipi gadis itu.


Mei kesal. Ia menginjak kaki pemuda itu.


"Aduuh!"


Mei terlepas. Bukan itu saja, gadis itu langsung menyerang balik. Ia memiting satu tangan Tama ke belakang dan menjatuhkan pemuda itu tertelungkup ke atas tempat tidur. Kemudian Mei mendudukinya.


"Aduh, Mei. Lepasin gak!"


"Ngak!"


"Mei!"


"Bodo!" Mei meneruskan makannya.


"Nanti gajimu kupotong lho!"


"Biarin!"

__ADS_1


"Mei!"


....


"Mei ... please ...." Tama terpaksa mengiba. Ia sudah kalah.


Mei melepas pitingan pada tangan pemuda itu.


"Ayo Mei ... Aku mau berdiri."


Gadis itu masih mendudukinya. "Nanti kamu mau pecat pembantu itu lagi."


"Ya udah, enggak," Tama mengemis.


"Trus, mau ambil coklat aku."


"Itu coklat biasa aja. Aku bisa beli yang lebih enak dari itu kok."


Mei semakin menekan dudukannya hingga tempat tidur itu bergoyang.


"Aduh, iya-iya. Ngak, aku gak ambil. Takut banget sih," gerutu Tama.


Mei kemudian membebaskannya.


Tama perlahan duduk dan memperhatikan Mei memakan coklat batangan itu sendirian. "Bagi kek," Ia memelas.


Mei melirik Tama. "Kalau mau bilang. Ntar aku kasih." Ia mematahkan sedikit buat Tama.


Tama menggigitnya. "Kalau mau ntar aku beliin. Emang aku gak sanggup beli apa? Bahkan yang lebih enak dari ini. Mau semana? Selemari? Ok, aku beliin." Ia menyombongkan diri.


Mei mendengus kesal. "Ini bukan coklatnya tapi yang ngasihnya."


Sambil mengunyah, Tama melirik Mei dan tersenyum masam.


Mei kembali menggigit coklatnya yang tinggal separuh, tapi ada lelehan coklat tersisa di sudut bibirnya.


"Itu ada ...." Tama berusaha menunjuk tapi sepertinya gadis itu tidak mengerti. Ia mencoba menyentuhnya, tapi gadis itu menepis tangannya.


"Ini apa, kamu mesum banget sih jadi cowok!"


"Eh, bukan gitu. Itu, kamu makannya berantakan banget tuh di mulut." Tama tertawa.


Mei mengusap mulutnya dan menyadari ada sisa coklat yang mengotori mulutnya. "Eh, iya." Ia mengambil tisu lalu menyeka mulutnya.


"Heran. Kamu cewek, bar bar amat!"


"Eh, jangan gitu." Tama langsung menggeser duduknya mendekat. "Aku suka sama kamu, Mei. Jangan pergi ya?Jangan tinggalin aku ya Mei?"


Gadis itu berdehem. Ia sedikit menggeser menjauh. "Jangan dekat-dekat ah! Bukan mahram."


Tama memberi senyuman termanisnya. "Janji jangan tinggalin aku ya? Aku suka sama kamu ya, Mei." Ia menggenggam lengan Mei.


Jantung Mei berdebar kencang. Aduh hati, jangan gabung sama jantung gini dong, nanti dia denger kegeeran lagi. Dia pasti cuma bohongan.


Tiba-tiba Tama bergerak cepat. Ia menggigit sisa coklat yang berada di tangan Mei dan menariknya ke atas meninggalkan bungkus yang berada di tangan gadis itu. Mei terkejut karena berhasil dikelabui.


Tama berdiri dan menjauh. Wajahnya terlihat puas. Ia mengambil sisa coklat dari mulutnya. "He he, sisanya buat gue."


"Kakak!" Mei terlihat kesal.


"Ntar gue ganti!" Pemuda itu segera pergi keluar kamar gadis itu dan menutup pintu. Tinggal Mei yang menghentak-hentakkan kakinya karena dongkol.


Sementara Tama masuk ke dalam kamarnya. Ia mulai menggigit sisa coklat di tangan. "Enak aja dia ngabisin coklat pemberian Tristan. Dia harus ngabisin coklat pemberian gue," sungutnya. Ia kemudian membuka hp dan mencari layanan belanja online.


Sementara itu, Tristan berusaha menghubungi Mei tapi tak bisa. Ia terlihat bingung. Ini kemarin kan dia kasih nomornya tapi kok gak bisa dihubungi ya? Apa Tama mengganti nomornya atau menyitanya? Ah, sial!


Tristan tidak tahu bahwa Mei mengganti hp-nya karena rusak saat kecelakaan masuk jurang.


Seseorang mengetuk kamar Tristan dan membuka pintu. Muncul seorang wanita paruh baya dengan wajah menyebalkan masuk kamarnya.


"Mama."


"Papamu sudah pulang, ayo cepat keluar!" ucapnya ketus pada Tristan.


"Iya Ma."


Tristan bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar.


----------+++----------


Seseorang berusaha membuka pintu kamar Mei. Gadis itu tahu pasti, ulah siapa. Terdengar ketukan di pintu.


"Siapa?"


"Aku Mei."

__ADS_1


"Siapa?"


Terdengar ******* kesal. "Tama."


Mei kemudian membuka pintu. "Mau apalagi?" jawabnya dengan cemberut.


"Ini aku ganti." Tama memamerkan sebuah kotak berukuran sedang dengan kemasan yang yang terlihat cantik. Tutup kotak itu dari mika tembus pandang sehingga bisa melihat coklat bentuk butiran yang di kemas satu-satu.


Mei terpesona melihat keindahan kotak itu. "Apa ini?"


"Coklat."


"Masa?"


"Iya."


"Kok bagus banget kotaknya?" Mei mulai menerbitkan senyumnya lagi.


Tuh kan, senyum dong yang manis. "Cobain dong."


"Mmh? Gak ah! Sayang, bagus banget."


"Kan aku beliinnya buat kamu," Tama mencoba merayunya.


"Aku udah kenyang makan coklat, lagi pula aku gak hobi makan beginian nanti sakit gigi."


Pemuda itu terlihat kesal. Udah capek-capek beliin ternyata bukan penggemar coklat. Sialan! "Trus kenapa tadi coklat dari Tristan makannya kayaknya doyan banget! Kenapa coklat dari gue enggak?"


"Kan bentar lagi makan malam Kak. Tadi kan aku udah banyak makan coklatnya. Kalo sekarang aku makan lagi, nanti aku gak bisa makan malem karena kekenyangan."


Tama masih mengerucutkan mulutnya.


"Nanti aku makan deh Kak, tapi gak sekarang ya?"


Pemuda itu makin mengerucutkan mulutnya.


"Aku janji deh."


"Mmh." Tama menunduk.


"Udah Kak?"


Tama mengangkat wajahnya. "Eh, oitu. Eh, besok kita udah bisa pergi sekolah sama ke kantor karena orang-orang jahat itu udah di beresin sama Papaku."


"Oh ya sudah."


Tama masih berdiri.


"Apalagi Kak?"


"Itu, eh ...." Tama berdehem dan merapikan belakang kepalanya. "Besok kan ada ulangan matematika."


"Oh, iya Kak." Mei baru mengingatnya.


"Kamu bisa?"


"Mmh."


"Kalo gak, aku ajarin."


"Aku belajar sendiri aja Kak. Nanti ngerepotin."


"Enggak, aku lagi kosong. Ayo aku ajarin sini." Seperti biasa, Tama langsung masuk ke dalam kamar Mei. Gadis itu terpaksa menerimanya.


Mei mengeluarkan buku dan Tama mencari halamannya setelah itu Mei duduk sementara Tama mengajari sambil berdiri. Kemudian ia membuat soal agar Mei menyelesaikannya.


"Aku mau ambil minum, awas jangan dikunci lho!"


Kan ini kamarku, kenapa dia yang ngatur sih?


Tama sudah keluar dan Mei mengerjakan soalnya. Tak lama pemuda itu kembali dengan membawa 2 gelas air dingin. Ia menaiki tempat tidur Mei dan sibuk memainkan hp-nya. Tak lama ia memeriksa jawaban Mei. Ia menatap gadis itu. "Kamu gak ngerti apa gak bisa?"


"Susah Kak."


Tama kemudian kembali mengajarinya. Pemuda itu ternyata sangat sabar mengajari berbeda jauh dengan kesehariannya yang kadang menyebalkan itu.


Mei kembali mengerjakan soal baru dari Tama dan pemuda itu kembali ke tempat tidur Mei. Kali ini Tama main Game sambil tiduran.


Tak lama Mei selesai mengerjakannya. "Udah Kak."


Hening. Mei menoleh pada tempat tidurnya. Sepertinya pemuda itu telah tertidur. Gadis itu mencoba mendekat. Disentuhnya bahu Tama untuk membangunkannya, tapi ia tak sengaja menyentuh leher Tama yang hangat. Mei coba menyentuh dahinya yang juga hangat.


Apa dia sakit ya?


____________________________________________

__ADS_1


Author Anisyah S. menulis tentang CEO dengan cerita berbeda. Kisah Cinta CEO dan Dokter Cantik. Kuy, kuy, kuy!



__ADS_2