
"Ini kan masih siang."
"Sudah mau sore Mas."
"Runi kan sedang aktif-aktifnya bermain."
Leka memainkan jemarinya di sekitar dada bidang Kenzo. "Kita kan mainnya sebentar, gak selama Runi."
Kenzo tertawa. "Mas lagi online, Sayang. Mau ngecek data karyawan."
"Kan belum ketemu orang kan, udah matiin aja."
"Tapi Mas udah lama gak ah ...." Pria itu merasakan istrinya menyentuh daerah sensitifnya hingga ia harus berusaha menahan sensasi yang ditimbulkan. "Leka, kamu nakal sekali!" Ia mengerut dahinya.
Wanita itu tertawa cekikikan.
Kenzo melepas pelukan istrinya dan berdiri menghadapnya. Tangan pria itu bergerak mematikan laptop dan menatap Leka tajam. "Awas, kalau kau kuterkam, kau tak akan kulepaskan!"
"Ah!" Wajah Leka tersipu malu saat suaminya menggendong dengan kedua tangan dan membawanya ke kamar. Leka yang tersenyum manja, memeluk leher suaminya erat-erat.
---------+++---------
Rutinitas mulai menjadi biasa bagi keduanya, Tama dan Mei yang setiap hari ke sekolah dan ke kantor. Tama pun semakin lihai dalam memimpin perusahaan berkat bimbingan Kenzo dan Ayahnya, Arya. Pelan-pelan bakat kepemimpinannya mulai timbul dan terarah.
Tama yang sedang memeriksa beberapa berkas-berkas yang membutuhkan persetujuan, menoleh ke arah Mei. "Eh, Sekretaris yang baru sudah ada kabarnya belum?"
"Belum Pak, masih di interview."
Tama menatap Mei dan tersenyum. "Lucu ya? Kita cuma berdua di ruangan ini tapi kamu harus manggil aku Bapak, seperti permainan anak-anak, pura-pura jadi direktur." Ia tertawa. "Ya sudah. Kalo gak begini nanti kita dianggap tidak profesional lagi."
Tama kembali tenggelam dengan surat-surat yang sedang diperiksanya sedang Mei masih teringat kata-kata Tristan soal Tama.
Apa nanti dia akan keluar dengan Bella ya? Kak Tama belum pernah ke mana-mana tanpa aku. Apa nanti saat pergi dengan Bella, aku harus ikut? Mei mengerucutkan mulutnya.
Tama menyatukan surat-surat di hadapannya dan memberikannya pada Mei. "Ada 3 surat yang belum aku setujui. Kalau mereka bertanya, suruh mereka datang langsung menghadap, biar kita diskusikan masalahnya agar tahu perbaikannya di mana."
"Baik Pak." Mei mengambil berkas-berkas yang diberikan Tama.
"Oh, ya Mei. Terima kasih ya, kau mau merangkap jadi Sekretaris juga untuk sementara."
"Gak papa Pak," jawab Mei sambil tersenyum.
Gadis itu keluar dari ruangan menuju meja Sekretaris. Setelah mengecek beberapa berkas yang diterimanya, ia segera keluar dan mengembalikan berkas-berkas itu ke berbagai divisi.
Beberapa orang mulai mengenalnya sebagai Asisten merangkap Sekretaris CEO. Mei juga mulai mengenal beberapa orang dari perwakilan tiap divisi. Pengalaman kerja di kantor ini membuatnya bersyukur mengenal Tama. Kalau tidak, mungkin ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jadi Bodyguard, tinggal di rumah mewah, kerja di kantor, dan berteman dengan seorang pria.
3 orang perwakilan divisi akhirnya mendatangi kantor Tama. Setelah di persilahkan oleh Mei, bergantian perwakilan itu menemui Tama. Mereka membahasnya hingga malam.
Untung saja mereka pulang tidak terlalu malam. Wajah mereka, walau tampak letih, tapi pikiran mereka sedang mengembara di negeri prasangka. Tidak sedang nyaman akan sesuatu.
Mobil mewah Tama akhirnya sampai ke rumah Kenzo. Mereka berjalan menuju ke kamar mereka masing-masing dalam diam.
"Eh, Mei."
"Mmh?"
Hp Tama berdering. Ia mengangkatnya. "Halo?"
Hening. Sekilas ia melirik Mei dan mengangkat tangannya menahan gadis itu untuk ikut. Ia segera membalikkan tubuhnya melangkah mendatangi anak tangga. Setelah menuruninya ia berderap keluar rumah.
Dia ke mana?
Terdengar deru mobil. Tanpa penjelasan dan tanpa apapun? Dia mau ke mana? Biasanya kan aku selalu ikut, kenapa sekarang ngak?
__ADS_1
Terlintas kembali ucapan Tristan yang meresahkannya. Apa ia kini pergi menemui Bella? Mei menghela napas. Dengan langkah pelan ia memasuki kamarnya.
Setelah membersihkan diri, Mei melangkah ke tempat tidur. Ia bingung mau apa, tapi kemudian ia memutuskan untuk mengganti buku pelajarannya buat besok sekalian mengecek tugas. Ada satu mata pelajaran yang butuh mengumpulkan tugas hingga ia langsung mengerjakannya.
Sambil mengerjakan tugas ia teringat Tama. Entah kenapa yang terlintas hanya kesal semata. Hatinya seperti tidak mau diajak bicara. Kenapa ia mesti peduli?
Selesai mengerjakan tugas yang membutuhkan waktu lama dari biasanya, ia kembali ke tempat tidur. Ia ingin tidur tapi tak bisa karena teringat Tama.
Bella, gadis cantik yang berani melakukan apapun, telah dibayar Tama. Pasti mereka, ah ... itu bukan urusanku! Mei mengacak-ngacak rambut. Kenapa aku peduli?
Tiba-tiba terdengar notif dari hp Mei. Gadis itu mengambilnya dari atas meja nakas. Tristan.
'Kamu lagi apa?'
'Di kamar.'
'Keluar yuk?'
'Ngak ah, capek. Dah malem.'
'Sebentar aja. Kita beli kembang api, main.'
'Udah malem Tris.'
'Aku rindu ....'
Mei tak bisa menjawab. Apa aku terlalu memberi Tristan harapan? Aku kan hanya menganggapnya teman walaupun dia teman tergantengku. Mmh. Ia tersenyum dalam hati.
'Aku ada di depan rumahmu.'
Tristan?
'Aku boleh main ya?'
Terdengar bel rumah berbunyi. Mei segera memakai jilbab instannya dan keluar dari kamarnya. Saat itu Leka juga keluar dari kamar.
"Itu temanku Mbak."
"Oh."
Mei berlari menuruni tangga dan membuka pintu sebelum pembantu sempat membukanya. Ia ingin tidak boleh banyak orang tahu tentang pemuda ini atau nanti akan jadi bahan gosip bagi para pembantu di sana. "Ah, Tristan." Terengah-engah ia mengatur napas saat bertemu Tristan dan satpam di depan pintu.
"Eh, iya. Temannya Mbak." Satpam itu kemudian langsung pamit.
"Kenapa kamu dateng ke rumah ini lagi?" protes Mei kesal.
"Aku ... gak tau Mei. Aku hanya rindu. Belakangan ini kita susah bicara dan susah bertemu."
"Kita kan ketemu tiap hari."
Mimik wajah Tristan sepertinya tidak sependapat dengan itu. Ia terlihat kecewa. "Tiap hari, iya, tapi perlakuanmu berbeda. Kamu seperti ngindarin aku Mei."
"Tris, aku kerja sama Tama. Aku gak mungkin bikin dia naik darah setiap hari."
Tristan menunduk, resah. "Apa kita tak punya kemungkinan?"
"Apa maksudnya?"
"Aku suka padamu."
"Tris, kita kan teman."
"Bahkan untuk berteman saja, dia gak kasih kita kesempatan."
__ADS_1
"Maaf Tris, aku gak bisa apa-apa."
"Bisa kalau kamu berhenti kerja padanya. Aku akan mencarikanmu pekerjaan bila tak suka kerja padaku. Aku hanya ingin kesempatan Mei, kesempatan."
"Tetap tidak bisa!"
Keduanya terkejut melihat kedatangan Tama. Mei terlihat lebih panik.
"Kamu gak tau malu ya? Datang-datang mencoba mencuri di rumah orang."
Tristan mengerut dahi. "Mencuri? Siapa yang mencuri? Aku sebagai teman berusaha membantu teman lain yang kesusahan. Aku lihat kamu sering sekali mengeksploitasi Mei bekerja di luar batas kemanusiaan. Wajar kan aku menolongnya?"
Mendengar itu Tama tergelak. "Mengeksploitasi apa maksudmu? Memangnya kamu tau apa yang sedang kamu lakukan, hah? Berhenti mengganggu urusan orang lain, bodoh!"
Tristan marah dan berniat menyerang, tapi Tama segera menaikkan telunjuknya. "Hei, aku berhak melarangmu karena Mei adalah tunanganku. Kau mengerti?"
Netra pemuda tampan itu membulat sempurna. Ia berusaha mencari kebenaran di antara kedua mata gadis itu yang terlihat bingung. Mei memang benar-benar tak tahu harus menjawab apa.
Tama segera menarik Mei ke dalam rumah meninggalkan Tristan yang syok mendengar kenyataan pahit itu sendirian.
Pemuda itu terus membawa Mei yang masih memandang ke arah luar karena iba pada Tristan. Di lain pihak gadis itu lega pemuda itu pasti takkan lagi mengejarnya, tapi ia tetap berharap bisa kembali berteman lagi dengannya. Lalu bagaimana dengan ucapan Tama tadi? Tunangan? Tama baru saja menyebarkan gosip baru yang akan membuat panas telinga Mei.
"Kak!"
Tama masih terus saja membawa Mei sampai ke dalam kamar gadis itu. Setelah melepasnya, ia menutup pintu.
"Kak, kenapa Kakak bilang kita bertunangan?"
"Kan memang benar begitu."
"Iya, tapi itu kan bohongan."
Kata siapa? Kalaupun itu benar, aku ingin itu nyata. Itu bukan bohongan Mei. "Ya masa bodo. Aku kan tidak berbohong," Tama mengelak.
"Kak, aku tidak mau ini menjadi gosip di sekolah. Temanku sekarang hanya Tristan dan Ida di sekolah. Aku tidak mau gara-gara gosip ini aku kehilangan Tristan juga."
"Oh, jadi kamu senang ya di kejar-kejar Tristan?" ledek Tama geram.
"Lho, apaan sih Kak? Bukannya Kak Tama sendiri yang bilang, Kakak akan melepaskan aku bila aku ketemu cowok yang di suka. Kalo gosip ini menyebar, bukannya aku tambah sulit mencari pacar. Iya kan?"
Tama terlihat bingung. Ia gengsi menyatakan cinta pada Mei karena ia takut ditolak, tapi ia ingin tetap bersama gadis itu. "Kau masih utang banyak padaku, karena itu aku tidak ingin kamu pacaran. Kamu harus fokus pada pekerjaan."
"Iya, tapi bukan begitu caranya. Aku gak tau harus bilang apa besok, pas ketemu dia. Kakak sudah bikin masalah ini tambah rumit saja. Kalau Ayah Kakak tau tentang hal ini, bagaimana? Bukankah dia juga anti sama yang namanya pacaran apalagi menikah." Mei tiba-tiba teringat Bella. "Kamu tadi habis ketemu Bella kan?"
"Mmh, tidak. Aku baru ketemu Ayahku di luar."
Mei menatap Tama tak percaya.
"Aku bertemu dengannya di restoran jadi gak perlu bawa kamu. Lagipula ini masalah kantor, aku harus lapor."
Mei menyipitkan matanya. "Kamu bayar Bella bukannya buat kencan semalam?"
"Astaghfirullah alazim. Kata siapa?"
"Kata Tristan." Mei menutup mulutnya, tapi terlanjur bilang.
"Tristan si brengsek itu ...." gumam Tama, tapi kemudian ia melirik Mei. "Kalau iya bagaimana?" Ia pelan-pelan mendekati Mei. Ia penasaran dengan reaksi Mei.
"Eh?" Gadis itu melangkah mundur.
"Kalau aku benar-benar membayar Bella untuk kencan semalam, bagaimana?" Tama mendekatkan wajahnya pada Mei. Pemuda itu bisa melihat gerakan mata Mei yang terlihat panik.
"Bukan urusanku, kan itu duit, duitmu. Terserah kalau kamu mau tidur dengannya juga tidak masalah. Aku gak peduli!" Mei mendorong pemuda itu dengan kasar. Ia mendorong Tama hingga keluar kamar dan menutupnya.
__ADS_1
Tama mengenyit dahi. Apa itu tandanya ia cemburu?