
"Anakku sempat berkenalan dengan Tristan. Dia dan Bodyguard-nya sekolah di sana."
"Oh, jadi anak kita berteman akrab."
"Apa Bapak tidak pernah mendengar Tristan bercerita?"
"Oh, maaf. Sudah hampir setahun ini aku dinas di Papua jadi aku tidak tahu banyak soal anak-anak di rumah. Aku sempat pulang beberapa kali tapi ia jarang bercerita tentang teman-temannya."
"Oh begitu. Berarti Bapak sekarang berada di Papua ya?"
"Ya, betul sekali Pak, tapi senang juga mendengar anak kita berteman akrab."
"Sebenarnya Tristan berteman akrab dengan Bodyguard anak saya."
"Ya, biasalah. Kan sama-sama laki-laki."
"Oh, bukan. Justru Bodyguard anak saya perempuan."
"Berarti anak Bapak perempuan?"
"Tidak, justru laki-laki. Beberapa bulan yang lalu mereka menikah."
"Anak Bapak dengan Bodyguard-nya?"
"Ya, benar. Sekarang menantu saya itu sedang hamil."
"Oh, selamat ya Pak."
"Iya, terima kasih. Hanya saja tadi pagi, mereka saling bertemu."
"Anak Bapak dengan Tristan?"
"Bukan. Tristan dengan menantu saya dan sampai sekarang belum pulang. Anak saya telah mencoba menghubungi Istrinya tapi tak bisa. Apa Bapak bisa menghubungi Tristan karena anak saya tidak punya nomor teleponnya. Kalau Istrinya memang benar bersama Tristan, tolong suruh dia pulang karena anak saya sedang mencarinya."
"Oh, begitu." Pria itu dalam keragu-raguan yang dalam. Kenapa Chris sampai meneleponnya hanya karena ingin menyampaikan masalah ini, tentunya ini bukan masalah yang remeh. Chris telah mengemukakan bahwa ini adalah masalah perempuan, dan pria bule itu tidak mungkin menelepon kalau bukan masalah yang serius. "Aku akan menanyakannya pada anak saya."
"Boleh kan, saya mengharap kabar segera."
"Oh, tentu saja. Kalau perlu, aku akan membantu Bapak mencarinya."
"Oh, terima kasih. Oh ya, tolong sampaikan pada Asisten Presiden agar tidak mengundangku untuk main Golf karena saya sudah pensiun main itu, sedang undangan untuk berkuda di villa Presiden di Puncak minggu depan aku sanggupi."
"Oh, ok. Aku akan sampaikan Pak."
"Baiklah, terima kasih."
"Sama-sama." Telepon pun ditutup, tapi pria paruh baya itu belum selesai. Ia mencoba menelepon Tristan, tapi tak diangkat. Ia memanggil Sekretarisnya di telepon. "Suni, tolong cari tahu anakku Tristan sekarang ada di mana."
"Baik Pak."
Tak lama Sekretarisnya menelepon. "Anak Bapak sekarang sedang naik pesawat menuju Tarakan, Kalimantan Utara, sesuai dengan surat tugasnya Pak."
"Dia pergi dengan siapa?"
"Sebentar, saya lihat daftar ... Sepertinya dengan anak buahnya Pak."
"Apa tidak ada nama perempuan?"
Hening sebentar. "Tidak ada Pak."
Asrul berpikir sejenak. Nama baiknya sedang dipertaruhkan, tapi ia tidak bisa menuduh anaknya tanpa bukti.
__ADS_1
"Kalau begitu siapkan pesawat. Aku akan pergi ke Tarakan, sekarang juga. Berikan aku alamat tempat tinggal anakku di sana."
"Baik Pak."
"Oya, sambungkan aku dengan Kepala Polisi di Tarakan."
"Baik Pak."
-----------++++---------
Pesawat itu bukan pesawat besar yang terdiri dari 4 kursi ke samping. Tristan dan Mei, keduanya duduk di dekat jendela. Tristan sedang membujuk gadis itu makan dengan menyuapinya tapi Mei memalingkan wajah dan menatap ke jendela di sampingnya. Tubuh gadis itu terikat tali hingga sulit baginya untuk bergerak.
"Mei, tolong kau makan dulu. Ngak baik ngambek gitu, mmh?" Tristan berusaha membujuknya dengan lembut tapi gadis itu tidak bereaksi apapun.
Mei sedang memperhatikan awan berarak di balik kaca. Begitu indahnya. Baru kali ini ia naik pesawat. Sayang ia tidak bersama Suaminya. Sayang ia tak bersama keluarganya. Ia begitu merindukan orang-orang yang disayangnya saat ini. Ia begitu kesepian.
"Mei! Tolong. Demi bayimu," terdengar suara Tristan mengiba, tapi Mei tak menggubrisnya. Ia menghela napas dan menyerah. Kemudian ia menyuap makan siangnya.
Mei melirik meja daruratnya. Alat makannya hanya terdiri dari sendok dan garpu plastik, tapi ada sumpit kayu yang perlu dipatahkan bila dipakai. Itu cukup kuat untuk menjadi senjata.
Ia berusaha menggerakkan tubuhnya yang diikat, ternyata cukup kuat terikat. Gerakan ini membuat Tristan meliriknya, tapi hanya sebentar saja. Pria itu kemudian kembali makan.
Dilihatnya di sekeliling, bertaburan bawahan Tristan mengelilingi. Tristan sepertinya telah mempersiapkan ini agar ia tidak bisa berkutik melawannya, tapi Mei tak gentar.
Menyerang orang bukan seberapa banyak lawannya tapi seberapa kuat lawan yang dihadang. Saat ini ia tidak tahu kekuatan lawan tapi ia tahu tubuhnya sedang lemah. Ia ingin coba semampu yang ia bisa. Sejauh yang ia mampu.
Dengan cepat Mei mengambil sumpit yang masih terbungkus di hadapannya dan kembali menarik kerah baju Tristan dari samping. Tangannya yang terikat masih bisa mencapai leher pria itu. Ia menodongkan sumpit itu ke leher Tristan.
"Mei!" Pria itu terkejut karena Mei masih bisa melawannya bahkan menjadikan ia sandera.
Beberapa anak buah Tristan ikut kaget, gadis yang diikat itu mampu menawan atasannya.
"Bilang pada pilot itu untuk memutar arah ke Jakarta," perintah Mei dengan tegas.
"Lakukan perintahku!" ucap gadis itu, marah.
"Mei dengar dulu ...." Tristan mencoba menyentuh lengan Mei untuk meredakan emosinya tapi gadis itu sudah tak ingin ditawar lagi.
Mei kembali menusukkan sumpit itu lebih dalam ke leher Tristan hingga menyisakan rona merah di sekitarnya. Ia tetap menggenggam baju Tristan.
Pria itu tak berani melawan karena takut Mei nekat.
Gadis itu bahkan menarik Tristan untuk berdiri saking enggannya pria itu melakukan perintah gadis itu. Wadah dan makanan jatuh berserakan di kaki mereka karena mendadak berdiri.
"Mei, ingat bayimu. Kau belum boleh ...."
Mei kembali menusukkan sumpit itu ke leher Tristan agar pria itu mengerti. Dengan gerakan kepala, Mei meminta Tristan bergerak ke arah tempat pilot pesawat berada. Mau tak mau Tristan melakukannya.
Dengan waspada, Mei bergerak ke depan menarik pria itu.
Salah seorang bawahan Tristan mencoba merebut sumpit Mei dari samping tapi dengan beberapa kali serangan cepat gadis itu, ia berhasil melumpuhkan pria itu hingga terjatuh.
2 orang kini berusaha merebut sumpit itu yang kemudian berakhir sama. Bahkan Tristan yang diam-diam berusaha melepas diri ternyata berhasil diketahui Mei hingga menarik baju pria itu dengan cepat dan menusukkan kembali sumpit ke leher pria itu.
Tristan bisa saja melawan Mei, tapi ia takut gadis itu celaka ditangannya juga keguguran. Ini saja, Mei terlihat kelelahan dan tampak pucat. Napasnya tersengal-sengal setelah menangkis serangan tadi.
Yang lain jadi tak berani melawan, karena hasil yang mereka lihat. Gadis itu masih sangat tangguh walau dalam keadaan lemahnya.
Tristan dan Mei akhirnya sampai juga di area kokpit pesawat. Pilot dan kopilot terkejut melihat kedatangan mereka.
"Cepat putar arah pesawat, kembali ke Jakarta," perintah Mei.
__ADS_1
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi-tapi, segera putar balik ke Jakarta!" teriak Mei garang. Wajahnya sangat menakutkan walaupun sedikit pucat. "Mengerti?!!"
"Kita sudah sampai di Tarakan," Pria yang duduk di kursi kopilot itu menerangkan. Ia melirik Tristan yang yang tidak memberikan respon apa-apa.
"Aku tidak peduli! Sekarang juga pesawat harus balik ke Jakarta. Aku ... ah!" Mei mengerang menahan sakit di perutnya. Sebelum ia jatuh, Tristan sudah meraih tubuhnya yang mulai lemas.
"Mei!" Tristan melihat gadis itu sedang menahan kesakitannya. "Cepat mendarat! Lakukan pendaratan darurat kalau perlu!" teriaknya panik.
"Siap Pak!" Pilot langsung melakukan kontak dengan menara bandara terdekat. Kebetulan sekali Kalimantan Utara punya banyak Bandara.
"Cari daerah yang dekat dengan rumah sakit," perintah Tristan. Ia tak mau mengulur waktu membawa Mei ke rumah sakit.
"Siap Pak!" Pilot melakukan segala sesuatu yang diperlukan.
Tristan menggendong Mei dengan kedua tangannya kembali ke kursi mereka. Bahkan Tristan mulai melepaskan ikatan di tubuh gadis itu melihat Mei perlahan mulai kehilangan kesadarannya. "Mei, kau tak apa-apa kan? Mei ...." Ia memeluk gadis itu dari samping.
Mei berusaha menepis tangan pria itu. "Aku lebih mati bersama bayiku daripada harus berselingkuh denganmu," ungkapnya lemah. Rupanya ia sudah bisa menangkap keinginan busuk Tristan atas dirinya, tapi itu malah membuat Tristan makin mengeratkan pelukannya pada Mei dan mulai menangis. "Mei, jangan tinggalkan aku. Aku tak bisa hidup tanpa dirimuuuu ...." Tristan sudah tak peduli lagi bagaimana bawahannya akan memandangnya.
Tak lama pesawat akan melakukan pendaratan. Mei yang sudah tak sanggup melawan, menerima saja saat Tristan membantunya memasang seatbelt. Tak lama pesawat melakukan pendaratan.
Tristan memeluk gadis itu untuk melindunginya, tak peduli begitu hebatnya penolakan terakhir Mei. Saat pesawat mendarat, Mei telah pingsan.
Pilot telah memberi tahu sebelumnya bahwa mereka membawa orang sakit di dalam pesawat sehingga ketika pesawat turun, tempat tidur pasien telah disiapkan untuk membawa pasien segera.
Mei segera dibawah oleh para medis dengan tempat tidur itu sementara Tristan mengikuti di belakang.
Ada beberapa orang yang memperhatikan mereka tapi ada sepasang mata yang juga mengintai mereka. Pria itu segera melapor. "Benar Pak, ada seorang wanita yang segera dibawa ke rumah sakit sepertinya."
"Ok, pantau terus."
"Siap!"
Beberapa jam kemudian, Asrul telah sampai di Bandara Tarakan dan membuka kontak teleponnya. Ia melihat nomor seseorang yang sempat mencarinya. Ia kembali menelepon. "Halo? Bagaimana jadinya?"
"Sesuai dengan dugaan Bapak, tapi yang wanita sepertinya sakit Pak, jadi dilarikan ke rumah sakit. Kami menunggu perintah."
"Amankan Tristan."
"Baik Pak."
Pria paruh baya itu kemudian mematikan sambungan dan menghela napas sebelum ia menyambung ke nomor lain. Ia berucap dengan suara pelan. "Halo."
-------+++-------
Tristan termenung sendiri melihat Mei yang masih terbaring pingsan di atas tempat tidur rumah sakit. Sebagian wajahnya telah tertutup oleh masker oksigen sementara tangannya telah diberi jarum infus. Ia berada dalam kondisi terburuknya.
Haruskah kini ia menyerah dan mengembalikannya pada suami dan keluarganya sebab pada akhirnya gadis itu tetap memilih keluarganya dibanding dirinya, bahkan bila gadis itu bangun nanti. Seperti sebelumnya ia bisa membayangkan gadis itu akan melawan sampai ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Selain dari itu gadis itu hanya ingin mati. Mati terhomat sebagai istri yang setia.
Tristan baru sadar ia telah salah mengartikan cinta. Bahwa cinta itu adalah, melihat orang yang dicinta itu bahagia walaupun pada akhirnya gadis itu tidak memilih dirinya.
Cinta itu pahit namun mengajarkan arti mengerti keinginan orang lain. Keinginan orang yang dicinta, dan cinta tak selamanya berakhir dengan bahagia bersama dengan orang terkasih. Terkadang cinta harus rela saling melepas untuk menemukan titik bahagia. Titik di mana memberi adalah cinta, melepas adalah cinta, dan saling merelakan juga adalah cinta. Meski dengan itu ia harus belajar menelan sesak.
____________________________________________
Bagaimana nasib Mei? Bagaimana nasib Tama? Bagaimana nasib Tristan? Ayo kasih semangat Authornya biar bisa menulis cemerlang dengan like, komen, vote, hadiah, atau mungkin koin. Ini visual Istri Popeye, ledekan Tama pada Mei yang kemudian berakhir menjadi Istrinya. Mei bertambah cantik ketika hamil. Salam, Ingflora💋
Author Emy, menulis novel tentang perjuangan gadis cacat untuk bisa dihargai. Serius tapi mengharukan.
__ADS_1