Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Sebuah Kisah


__ADS_3

'Jadi, itu benar Mei?'


Gadis itu hanya menatap layar hp tanpa berniat untuk menjawabnya. Seakan setiap hurufnya terlalu berat untuk di pertanggungjawabkan. Ia mematikan hp-nya.


Maaf Tristan, aku tak bermaksud membohongimu.


Tristan di kamar menunduk. Walaupun Mei belum memberi jawaban atas pesan yang dikirim, Tristan bisa menebak jawabannya. Ia rasa Mei takkan mampu untuk menjawabnya, karena biar bagaimanapun cara ia menjawab intinya tetap menyakitkan. Sebuah kenyataan yang menamparnya sadar akan tempatnya sekarang berdiri. Ia sedang mengejar angan semu sedang Tama memegang kenyataan. Tinggal ia bertahan hingga badai berlalu.


Tak terasa air matanya menetes. Sebenarnya pantang baginya meneteskan air mata setelah sekian lama tak pernah ia lakukan, tapi tak ayal pertahanannya runtuh kala ini menyangkut soal Mei. Perempuan yang membuatnya menangis setelah Ibunya.


Braagh!


Tristan memukul meja dengan keras dengan kepalan tangannya karena kesal. Sungguh, ia tidak pernah kalah dan sehancur ini. Ia membiarkan sekeping amarah menghancurkan rasa cintanya. Andai itu bisa ....


-------+++-------


Aska menatap Monique yang telah tertidur di sampingnya. Wajah cantik wanita yang menjadi istrinya itu membuatnya terpaku, padahal wanita itu sangat cantik.


Hanya orang bodohlah yang bilang ia tidak menarik dan orang bodoh itu aku. Entah kenapa tuhan menjadikannya tidak menarik di mataku. Itulah kuasa Allah, dan kembali aku meminta kuasanya untuk bisa mencintainya.


Ia istriku yang mengandung buah hatiku. Bantu aku untuk membuatku jatuh cinta padanya ya Allah, agar aku tidak menyesal pernah menikahinya. Aku ingin membangun rumah tangga yang bahagia, sakinah bersama walaupun di awal aku tak mencintainya. Aku takut saat melihat dia mencoba bunuh diri, aku takut salah melangkah karena di saat semua orang menjauh hanya dia yang datang mendekat, ya Allah. Hanya dia yang memberi perlindungan dan hanya dia tempatku kembali.


Aska menggerakkan tangannya masuk ke dalam selimut dan menyentuh perut istrinya. Tiba-tiba Monique terbangun.


"Eh, maaf. Aku membangunkanmu ya?" Aska menarik kembali tangannya.


"Oh, bukan. Bayinya bergerak," ucap wanita itu sambil mengucek matanya karena dalam lelap ia terbangun.


"Apa? Benarkah?"


"Iya, jadi aku terbangun karena itu."


Aska menatap perut sang istri di balik selimut. "A-aku tadi tidak sengaja menyentuhnya," katanya gugup.


Monique menatap Aska. "Apa ... dia tahu itu kamu?"


"A-apa maksudnya?" Aska masih saja gugup.


"Dia mengenal Ayahnya."


"A-apa?"


Monique meraih tangan suaminya. "Coba kamu sentuh lagi." Ia membantu suaminya menempelkan tangan pria itu pada perutnya.


Saat itu Aska terkejut merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuh istrinya dan itu adalah bakal calon bayinya. Ia terus saja bergerak seolah ia senang Aska mencoba menyentuhnya. Sampai-sampai pria itu menitikkan air mata haru.


"Lihat, dia mengenalmu, mengenal Ayahnya."


"Iya, Sayang. Ia mengenalku, mengenal Ayahnya." Aska berlinang air mata.


Monique mengecup pipi Aska. "Ia sangat mengenalmu, Sayang. Ayahnya."


Mungkin, beginikah dulu Runi saat Leka mengandungnya sendirian? Aku melewati saat-saat indah mengandungnya yang seharus bisa kita lewati bersama. Saat itupun aku belum mencintai Leka. Aku malah mencintainya kemudian dan sudah terlambat. Ia sudah terlanjur sakit hati sebelum ia sempat mencintaiku.


Maafkan aku Leka, maafkan aku Runi. Mulai sekarang aku akan tunjukkan pada mereka aku adalah Ayah yang baik dan bertanggung jawab dengan mendampingi adikmu ini Runi dan berharap kisah kita terulang kembali pada aku dan istriku Leka. Aku bisa kembali jatuh cinta. Doakan aku, bisa mengemban amanah ini, si kecil yang masih di perut istriku. Mudah-mudahan ia laki-laki.

__ADS_1


--------+++-------


Hujan sangat deras di luar rumah tapi seorang anak kecil terlihat ketakutan melihat seorang wanita yang menjadi tamu di rumahnya, sedang memandanginya.


"Kau tidak bisa mengundur waktu lagi, kau harus menyerahkannya sesuai kesepakatan." Wanita itu memandang seorang wanita muda di hadapan.


Terukir raut sedih di wajah wanita muda itu yang sedang menunduk, membisu. Ia seperti tidak punya kuasa atas permintaan wanita di hadapannya itu. Ia termenung. "Biarkan saya membereskan barang-barangnya."


"Tidak usah. Ia tidak perlu memakai barang-barang murahan seperti itu lagi. Aku minta kau tidak juga mencarinya karena sekarang dia bukan anakmu lagi. Dia akan hidup berkecukupan, kau tak perlu khawatirkan itu. Jadi terima saja kertas cek ini. Kau harus meninggalkan tempat ini dan jangan pernah kembali." Wanita itu meletakkan selembar kertas di atas meja di hadapannya.


Wanita muda itu mengangguk pelan.


"Kau yang harus memasukkannya ke dalam mobilku." Wanita itu bangkit dari kursi dan melangkah keluar.


Di luar hujan telah reda seketika, meninggalkan rintik yang masih ingin turun. Wanita muda itu mengekor dengan menggandeng anak laki-laki kecil itu bersamanya. Saat wanita itu masuk mobilnya di bagian pengemudi, wanita muda itu mendudukan anak kecil itu di sisi yang satunya.


"Jangan nakal ya?" ucap wanita muda itu pada bocah kecil itu.


Bocah itu seperti merasakan firasat buruk, akan berpisah darinya. "Ibu ...." Ia mulai merengek.


"Jangan menangis ya Nak, kamu akan bertemu dengan Papamu kalau kamu tidak nakal sama ibu ini. Bukankah kamu selalu menanyakannya setiap malam?" Wanita itu sudah berusaha menahan tangisnya tapi tak ayal sebutir air matanya lolos membasahi pipi.


Anak kecil itu mengangguk, tapi ia heran kenapa pintunya langsung di tutup dan mobilnya langsung meninggalkan ibunya sendirian di depan rumahnya. Bocah itu ketakutan dan terus memanggil-manggil ibunya. Wanita muda itu yang melihat anaknya berdiri dan menangis menatapnya juga tak tahan. Akhirnya pecah sudah tangisnya hingga terduduk di tempatnya berdiri. Ia terus menangis terisak menatap mobil yang melaju meninggalkannya.


"Ibuuu ...." Tristan terbangun. Wajahnya penuh dengan peluh yang membasahi hampir separuh rambutnya. Netranya menatap nanar pemandangan di depan. Kamar besar dan mewah ini tak sanggup mengalihkan rasa rindu pada ibunya.


Ya, Tristan tinggal dengan Ayahnya yang di panggil Papa dan Ibu Tirinya yang di panggil Mama olehnya. Ibu Tirinya tidak bisa mempunyai anak karena itu ia menikahkan suaminya dengan wanita pilihannya dan melahirkan Tristan, hanya saja ibu Tristan dipaksa menandatangani surat perjanjian akan meninggalkan suaminya setelah melahirkan.


Ibu Tristan tidak tega meninggalkan anaknya hingga mencoba mengundur pengambilan Tristan, tapi pada akhirnya ia harus menyerahkan anaknya dan pergi meninggalkan kampung halaman dengan berbekal uang yang banyak dari Ibu Tiri Tristan. Hingga kini, Tristan masih belum bisa menemukan keberadaan ibunya itu, karena wanita itu tidak pernah kembali ke kampung halamannya.


--------+++-------


"Mau sarapan di luar lagi Kak?" tanya Mei heran.


"Sudah, ikut saja."


Kali ini Tama memilih makan lontong sayur dan Mei makan kue basah yang tersedia.


"Kak, sebaiknya ...."


"Kenapa? Kamu mau protes karena aku makan di luar terus? Aku nyaman begini, kenapa emang?"


"Enggak," Mei menggeleng.


"Kayaknya hari ini aku tugas luar. Kita akan mendatangi salah satu proyek yang bermasalah."


"Iya Pak, eh!" Mei salah memanggil Tama hingga pemuda itu tertawa.


"Kamu jadi susah mengingat sebutanku ya?"


"Dan kamu juga makin formal ngomongnya Kak."


Mereka berdua tertawa.


Di sekolah, pelajaran pertama berlalu dengan tanpa hambatan tapi pelajaran kedua dilalui dengan kericuhan. Pelajaran dihentikan sementara. Murid-murid tidak tahu ada apa, karena tidak ada kejadian apa-apa selain menunggu. Guru pun juga sama.

__ADS_1


Tak lama Jonathan, teman dekat Tristan keluar setelah menerima telepon. Lama ia tak kembali. Dua puluh menit kemudian Jonathan kembali dengan melapor pada Tristan. Para siswa terkejut ketika Jonathan memanggilnya Pak.


Sekilas Tristan melirik ke arah Mei sebelum ia keluar bersama Jonathan. Mei pun bingung dengan gerak geriknya.


Terdengar kericuhan di luar. Siswa dari kelas itu mengintip keluar bersama guru mereka untuk mengetahui ada apa, termasuk Tama dan Mei.


Beberapa mobil polisi sudah memasuki halaman sekolah itu. Beberapa siswa sekolah itu ditangkap polisi dan salah satunya adalah Bella. Banyak siswa tercengang melihat kejadian itu, dan yang lebih mencengangkan lagi, semua polisi melapor pada Tristan. Bahkan ada yang memberi hormat. Jadi siapa Tristan sesungguhnya?


Setelah membawa siswa yang ditangkap oleh polisi, Tristan beserta Jonathan pergi dengan rombongan polisi itu.


Kepala sekolah akhirnya mengumpulkan siswa di lapangan untuk memberi pengumuman. Pengumuman itu makin membuat siswa di sekolah itu terkejut dengan hasilnya.


Ternyata selama ini polisi sedang mengintai sekolah ini karena ada laporan tentang transaksi penjualan narkoba di dalam sekolah. Bahkan demi menangkap jaringan ini beberapa polisi menyamar menjadi siswa di sekolah itu agar bisa menjaring seluruh pengedar dan pemakai di sekolah itu. Kepala sekolah kemudian memulai pidatonya tentang narkoba.


"Lihat Mei, Tristan itu memang orang yang tidak bisa dipercaya kan? Dia memberimu coklat kemarin dulu itu pasti juga hanya akal-akalannya saja padamu."


"Kakak juga kemarin kasih Bella uang, apa tidak takut ikut tersangkut, hah?" Mei kembali meledeknya.


Tama terdiam. Sejujurnya dia juga bisa ikut tersangkut bila saat itu ia memberi uang Bella dengan cara ditransfer, yang ternyata tidak terjadi. Itupun ia sudah sangat bersyukur karena bukti tidak kuat terhadapnya. "Bella waktu itu pinjam uang."


"Hah?"


"Dia pinjam uang."


"Bro, lu hampir aja ke tangkep gara-gara minjemin duit ke Bella," potong Troy.


"Ho'oh," jawab teman lainnya.


"Jadi Tristan polisi?" seorang teman Troy, ikut bicara.


"Bahkan dia Komandan Operasionalnya," jawab Troy sengit.


"Tau dari mana lu?" tanya Tama penasaran.


"Gue nguping tadi."


"Oooh." Diamini yang lain.


"Pantesan tampangnya tua ya?"


"Ya emang udah tua."


"Iya, sepertinya."


Tak lama, murid-murid diminta kembali ke kelas karena pelajaran akan dimulai. Mereka kembali ke kelas dengan tertib.


Di sore hari, jam pelajaran sekolah berakhir. Seperti biasa, Mei mengaktifkan hp-nya kembali. Ada pesan singkat berasal dari Tristan di hp-nya.


'Aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku. Bisakah kita bertemu?'


Mei akhirnya menjawab. 'Tidak.'


Padahal Tristan sedang menunggu Mei di dalam mobil di seberang sekolah. Ia bukannya tidak mau tahu bahwa Mei adalah tunangan Tama tapi ia tidak ingin Mei salah sangka tentang dirinya. Perasaan ini nyata walau tak mungkin. Ia ingin Mei tahu itu walaupun itu sudah tak penting lagi.


Ya allah, aku benar-benar mencintainya. Ini tak boleh terjadi dalam tugas tapi tak bisa kuhindari. Aku harus bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2