
Pagi yang indah. Kehidupan baru muncul di mulai dari niat.
Monique menatap suaminya yang sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Ia sedikit mengerucutkan mulutnya.
"Aku ke bawah ya?" Aska menyandang tasnya di bahu. Ditatapnya Monique yang sedikit ngambek. "Apa lagi?"
"Hari ini pasti lama lagi ya?" Wanita itu menunduk dan memainkan jari di atas selimutnya.
Aska mendatangi tempat tidur dan duduk di tepian. "Aku kan ngurus tempat latihan Wushu karena pemiliknya lagi gak ada. Apa nanti malam mau dibawain makanan apa, gitu?"
Monique melirik Aska dengan sedikit senyum. Ternyata suami mulai sedikit memikirkannya di sela kesibukan.
"Aku mau dibeliin sate ayam."
"Sate ayam? Sate Ayam Restoran Om Arya mau?"
Monique kembali mengerucutkan mulutnya. "Supaya kamu ketemu wanita itu lagi?"
"Leka ngak kerja sampai malam."
Namun terlanjur. Ia telah salah bicara. Monique kembali ngambek.
"Eh, maksudku ...."
Monique memiringkan tubuhnya, menjauh. Aska menghela napas. Diraih tubuh istrinya dalam pelukan. "Maaf, maaf."
Walau dalam keadaan kesal, wanita itu senang Aska memeluknya. Ia menyentuh bahu suaminya lembut. Sesuatu yang jarang ia dapatkan.
"Ya udah, aku beli di tempat lain saja, mmh? Udah ngambeknya."
"Iya."
Aska melepas pelukan. Ia membantu istrinya bersandar dan merapikan selimut. "Jangan lupa sarapan, biar nambah tenaga."
"Aku pasti gak lupa, bayinya kan lapar terus," jawab istrinya manja.
"Ya udah, aku sarapan di bawah. Habis itu langsung berangkat. Kamu makan di kamar kan?" Aska menyodorkan punggung tangannya.
"Ini untuk apa?" Monique menunjuk punggung tangan Aska yang mengarah padanya.
"Masa orang Islam gak tau. Dicium punggung tanganku."
"Oh." Monique mengangkat sedikit kepalanya dan mencium punggung tangan suaminya.
Aska mengusap pucuk kepala istrinya. "Baik-baik di rumah ya? Banyak istirahat."
"Iya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
--------+++--------
Tama mendekati kamar Mei.
"Kamu mau apa?" Kenzo bertanya dari depan kamarnya.
"Oh, ngajak Mei keluar sarapan."
"Telat. Pagi-pagi sekali dia sudah keluar. Katanya jogging.(lari kecil)"
"Mmh? Sendiri?" Tama terkejut.
"Iya."
Tama segera lari ke kamar dan keluar lagi menutup pintu. Ia berlari ke arah tangga melewati Kakaknya itu.
"Kamu mau ke mana?" Kenzo terlihat heran.
"Cari Mei Kak, mau ikut jogging."
"Apa?" Kenzo melihat tubuh adiknya pelan-pelan menghilang seiring ia menuruni tangga.
Ini luar biasa! Tama jogging? Olah raga apapun ia tidak suka. Seumur hidup Kenzo selalu melihat Tama menghindarinya setiap diajak Arya berolah raga, tapi kini ia jogging? Setan apa yang telah masuk di kepalanya? Apa ini gara-gara Mei lagi? Atau ia hanya pura-pura saja?
Tama menaiki motornya dan langsung mengendarai keluar rumah. Ia mencari Mei sampai mengitari komplek itu tapi gadis itu seperti hilang ditelan bumi. Ia tidak bisa menemukannya di manapun. Pemuda itu akhirnya berhenti di sudut jalan dan menghela napas.
Ke mana Mei?
Suasana taman kota di pagi itu di ramaikan oleh beberapa orang yang berjalan di taman mencari udara segar. Ada beberapa orang juga yang sedang berlari-lari kecil seperti pasangan muda-mudi ini. Mereka telah mengelilingi taman kota itu sebanyak dua kali.
Tristan berhenti dengan membungkukkan tubuhnya dengan tangan menopang kaki karena lelah. "Sudah ah Mei, kita istirahat dulu." Ia mengatur napas. "Kuat banget sih Mei, lari sejauh itu."
__ADS_1
"Oh, kebiasaan," ungkap Mei yang kembali dengan masih berlari-lari kecil.
"Sarapan yuk Mei, ah!" Tristan mengangkat wajahnya yang penuh dengan peluh yang sudah membasahi rambutnya.
Matahari yang mulai bersinar pagi itu ikut membuat pemuda itu berkeringat banyak, sedang Mei tidak begitu banyak berkeringat padahal ia menggunakan baju training yang tertutup.
Tristan mengusap wajah tampannya itu dengan handuk yang sedari tadi bertengger di lehernya. Ia mengedarkan pandangan melihat suasana taman kota itu dari dalam. "Kita keluar yuk, cari sarapan."
Keduanya melangkahkan kaki keluar taman, melihat-lihat penjual makanan hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada batagor yang gerobaknya berada di pinggir jalan. Mereka asyik menikmati makan di sana bersama pembeli lainnya.
Mei melihat Tristan tidak canggung makan di pinggir jalan seperti itu padahal ia anak orang kaya. Ia menjemput Mei saja tadi dengan mobil mewahnya. "Kamu gak papa makan begini?" tanyanya penasaran.
"Mmh? Ngak papa gimana?" sahut pemuda itu sambil mengunyah.
"Makan di pinggir jalan."
"Oh, gak papa. Kenapa?"
"Biasanya orang kaya, gengsi makan di pinggir jalan kayak gini." Mei menyuap makanannya.
Tristan tertawa lebar. "Aku kadang-kadang makan di pinggir jalan kok. Ibuku kan orang kampung, sering ngajak makan aku di pinggir jalan."
"Masa?"
"Iya." Tiba-tiba memori itu kembali. Kenangan masa lalunya bersama ibunya menguar begitu saja. Sesuatu yang sulit digapainya, sekeras apapun ia ingin kembali. Tak terasa air matanya sedikit tergenang. Ia cepat-cepat mengusap agar Mei tak melihatnya.
"Mmh, kenapa?"
"Kelilipan."
Sementara itu di rumah Kenzo, Tama sarapan di rumah dengan yang lain, walaupun ia sulit menelan makanan karena memikirkan Mei.
"Mbak Mei memangnya ke mana Kak?" tanya Aiko pada Tama.
"Ngak tau."
"Oh, jalan-jalan sama pacarnya ya?"
"Hus, anak kecil!" Tama membulatkan matanya menatap adiknya itu.
Kenzo dan Leka tersenyum lebar mendengar percakapan mereka berdua.
"Sebentar lagi juga pulang. Kan katanya hanya pergi jogging," Kenzo memberi tahu.
"Nah, iya. Bener, sama pacarnya kali." Aiko menyuap rotinya.
"Anak kecil, berisik!"
Aiko menatap Tama. Air mukanya berubah nakal. "Cemburu ya?"
"Apa sih nih, anak kecil!" Tama memukul meja karena kesal.
"Eh, awas pacaran. Aku bilangin Ayah lho!" ancam gadis itu sambil mengunyah.
"Enggak! Siapa yang pacaran?"
"Itu, cemburu." Aiko menunjuk wajah Kakaknya.
"Ck!" Tama berdiri karena dongkol menghadapi adiknya.
"Eh ... udah, udah, udah. Kita kan lagi sarapan, kenapa bertengkar? Ayo Aiko! Tama! Silent!(Diam!)" Kenzo melerai kedua adiknya.
Wajah Aiko yang jahil menghembuskan aura kemenangan sementara Tama masih dengan wajah kesalnya.
Toooout!
Semua orang melihat ke arah Runi yang tersenyum lebar dengan jejeran gigi mungilnya yang belum begitu banyak. Gadis kecil itu baru saja kentut dengan nyaringnya.
"Astaga Runi ...," ucap Leka tersenyum lebar.
Semua orang di meja makan tertawa.
-----------++++-----------
Terdengar suara mobil mendekati pagar rumah Kenzo. Tama yang menunggu di sofa ruang tamu mengintip keluar. Aiko pun dari ruang tengah juga sedang mengintip Kakaknya Tama dengan duduk di kursi meja makan.
Dengan pintu pagar yang sedikit tertutup itu, sulit melihat dengan jelas ada apa di luar. Terdengar suara mobil menjauh dan pagar di buka. Mei masuk ke dalam rumah lewat pintu pagar itu.
Tama pura-pura kembali ke kursinya membuat Aiko yang sedang mengintip menahan senyum. Mei kemudian masuk lewat pintu depan. "Oh, Kakak."
Kamu dari mana Mei?" Tama menyilangkan kaki dan menggoyang-goyangkan sendalnya sambil melipat tangan di dada.
"Jogging."
__ADS_1
"Dengan mobil?"
"Iya, bareng Tristan. Emangnya kenapa Kak?"
"Kok gak bilang ke aku sih?"
"Lho, kan ini waktu liburku. Aku bebas dong ke mana-mana."
"Aku kan juga harus tau ke mana kamu pergi karena sewaktu-waktu aku butuh, kamu harus ada."
"Kan Kakak bisa tinggal telepon?"
"Tapi kan ...."
"Aku kan manusia biasa Kak, yang butuh istirahat, juga kehidupan pribadi. Masa aku gak boleh libur sih?"
"Bukan gitu, maksudku ...."
"Ya udah, aku harus ke mana lagi?" Mei menyerah.
Tama pun iba melihat wajah letih gadis itu habis berolah raga. "Eh aku ...."
Belum sempat pemuda itu bicara Mei berlari menaiki tangga. "Aku mandi dulu ya Kak."
"Cie aku ...." Ledek Aiko tiba-tiba dari ruang tengah.
"Anak kecillll!" Tama yang kesal dijahili terus adiknya mengejar Aiko yang tertawa terbahak-bahak, lari menjauh.
----------+++---------
Mei membuka pintu. "Kak Tama."
"Mmh sorry, aku siang ini mau belajar sama Kak Jo soal perusahaan. Nanti sore aja kita keluar."
Mei mengangkat bahu. "Terserah Kak Tama aja. Aku kan cuma nemenin."
Tama tersenyum senang. "Ok." Ia melangkah menjauh dan mendatangi ruang kerja Kenzo, ia masih berbalik menatap Mei. "Ntar ya?" Ia kemudian membuka pintu kamar itu dan masuk ke sana.
Mei menutup pintu kamarnya dan membanting tubuh ke atas tempat. "Ah, tidur dulu ah!"
Sehabis makan siang Tama kembali ke ruang kerja Kenzo bersama Kakaknya itu. Mei cukup takjub melihat keseriusan Tama belajar mengelola perusahaan sebab mengerjakan tugas sekolah saja ia tidak mau tapi mengelola perusahaan ... Bukankah itu perkara rumit? Bahkan tidak mudah dimengerti oleh orang-orang yang masih berusia remaja seperti mereka ini seharusnya. Yang dewasa saja tidak semua orang bisa melakukannya, apalagi mereka.
Namun tak lama. Kemudian Tama mengajak Mei keluar.
Di luar pagar, ada seorang wanita yang sedang kebingungan mencari alamat. Kebetulan pintu dibuka karena mobil Tama hendak keluar. Mei terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di depan pagar. "Ibu?"
"Oh, iya. Itu ibumu," seru Tama lagi.
Mei segera keluar dari mobil. "Ibu."
Wanita itu terkejut karena Mei keluar dari mobil yang berada di hadapannya. "Mei?"
"Ibu cari Mei?"
"Iya, alhamdulillah. Tadi katanya rumahnya di seberang sana tapi kata orang sana, orang-orangnya pindah ke sini. Hanya saja Ibu ngak tau cara masuk ke sini karena pagarnya tinggi. Untung ketemu kamu di sini." Ibu Mei menghampiri anaknya.
"Eh, Ibu," sapa Tama berusaha ramah.
Ibu Mei menoleh ke sisi yang satunya. Kepala Tama keluar dari jendela pintu mobil.
"Oh, Nak Tama."
"Ah, iya Ibu. Bagaimana kalau Ibu ikut kami saja. Kita pergi ke restoranku. Kita bicara di sana saja."
"Restoran? Oh boleh, boleh."
Mei membuka pintu belakang dan bersama ibunya duduk di sana. Mobil pun mengarah ke restoran milik Arya.
Tama sengaja membawa Ibu Mei keluar dari rumahnya agar tidak bertemu anggota keluarganya. Ia tidak ingin anggota keluarganya tahu tentang pertunangan itu. Tidak sekarang, belum saatnya. Ia juga tidak ingin ditagih soal masalah itu juga.
"Ini Mei, Ibu bawakan cemilan kesukaanmu dan makanan lainnya." Ibu Mei menyerahkan 2 bungkusan berisi makanan kering pada Mei.
"Ibu, Ibu gak usah repot-repot."
"Tidak apa-apa, nanti tolong berikan sebagian ke keluarga Tama ya?"
"Ibu ...."
___________________________________________
Author Kiss menulis tentang balas dendam seorang istri dengan judul Balas Dendam Istri Yang Tak Dianggap. Ayo kepoin, mumpung masih on going.
__ADS_1