Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Berjuang


__ADS_3

Tama dan Mei terus memukul-mukul dinding itu, tapi tak ada reaksi.


Supir itu memang mendengar tapi karena ingat pesan sekretaris itu, ia mengacuhkannya. Ia sibuk mengunyah makan malam. Rasanya sedikit aneh, atau lidahku yang kurang peka ya? Apa aku mau sakit? Ia segera meneguk air yang banyak untuk mengurangi rasa tidak enak di lidahnya, tapi meminum air pun ia tetap merasakan ada rasa aneh di lidahnya. Ini sedikit memusingkan.


Tama dan Mei terduduk di lantai besi itu. Sudah lelah mereka berusaha untuk membuat keributan agar di perhatikan, tapi nyatanya sia-sia.


"Kita harus bagaimana lagi, kan gak bisa minta tolong orang lain kan?" Tama menatap hp-nya. Ia berniat mengecek baterainya. "Eh, aku kan bisa menelepon. Bodoh!" Ia menepuk dahinya. Sayang, ia sedikit terlambat. "Ya, bateraiku mau habis!"


"Pakai hp aku, bisa Kak." Mei menyodorkan hp-nya.


Tama mengambil hp itu, dan mencari nomor telepon Kenzo di hp-nya. Ia segera memasukkan nomor itu di hp Mei dan meneleponnya. "Kakak!" Rengek Tama.


"Tama? Ini kamu? Kamu pakai hp siapa?"


"Hp Mei Kak. Hp-ku low bat.(habis baterai)" Tama menggulung bibir. Mei hampir tertawa melihat wajah Tama yang cukup menggemaskan itu. Rasanya Mei ingin mencubit pipinya yang menggembung karena lucu.


"Ada apa?"


"Aku disekap Kak, di dalam truk."


"Apa?? Oleh siapa? Siapa yang melakukan itu padamu??!" Kenzo benar-benar kaget. Kenapa adiknya tiba-tiba disekap orang? Dia terlibat apa?


"Sekretarisku Kak. Sekarang truknya jalan entah ke mana." Masih merengut.


"Sekretarismu?" Kenzo kembali ingat, hari ini perusahaan Kakeknya dikirim Tim Audit oleh Chris. Jangan-jangan memang ada masalah besar yang tak sengaja terbongkar seiring dengan adanya Tim Audit itu datang ke sana sehingga mereka-mereka yang tersangkut kasus tidak senang dan mengadakan serangan balasan pada Tama. Harusnya Tama tidak usah masuk kantor saja hari ini sampai hasil audit itu selesai, tapi mau bilang apa. Nasi sudah menjadi bubur, Tama ikut terseret masalah ini sementara orang-orang yang terlibat di dalamnya belum diamankan. Kenzo menyalahkan dirinya yang tidak menahan Tama tadi ke kantor.


Kenzo memejamkan mata. Maafkan aku Tama, aku ceroboh. Aku mungkin terlalu lelah turun dari pesawat dan terlalu senang bertemu keluarga hingga tidak menyadari kamu sebenarnya dalam bahaya. Ia membuka matanya. "Jadi kau tidak tahu, kau sekarang ada di mana? Coba kau cek peta online-mu dan kirim ke Kakak. Sementara kamu hidupkan 'lokasi'mu biar Kakak bisa lacak tempatmu terus. Kamu hanya berdua dengan Mei saja kan?"


"Iya Kak." Tama dengan suara rendah.


"Sudah jangan takut ya, kan ada Mei. Inshaallah ia bisa melindungimu. Kamu memangnya tidak bisa keluar dari truk itu? Memanjat misalnya?"


"Kakak ini kontainer, aku ngak bisa!" sungut Tama.


Mei gemas melihat Tama yang bertingkah seperti anak kecil dengan mulutnya yang makin mengerucut itu. Ia hanya tersenyum kecil melihat wajah Tama yang makin lucu itu.


"Oh, maaf. Kakak gak tau." Kan ada Bodyguard-nya, gak mungkin gak di kerjakannya. Bodohnya aku. "begini saja. Hubungi Kakak kalau ada sesuatu. Sementara Kakak hubungi polisi dulu agar bisa mengejar truk kalian ya?"


"Iya Kak."


"Share(kirim) dulu lokasimu sekarang."


Tama mematikan telepon. Ia kemudian membuka peta online dan melihat lokasinya.


"Oh, kita ada di daerah Puncak." Ia memperlihatkan peta itu pada Mei. "Aku kirim dulu ke kakakku." Ia kemudian mengirim lokasi terakhir dirinya lalu menghidupkan lokasi pada hp Mei. "Aku menghidupkan lokasi biar Kakakku bisa ngikutin terus kita ada di mana."


Mei mendengarkan dengan seksama karena ia juga tidak mengerti penggunaan hp canggih yang dimilikinya. Ternyata begitu banyak hal yang ia tidak tahu.


Tiba-tiba mobil bergerak, tanda truk akan berangkat ke tempat lain. Mei dan Tama terpaksa menyerah pada nasib, menunggu bantuan datang menjemput mereka.


Kenzo menelepon polisi, kemudian menelepon Chris.


"Apa? Tama disekap di truk kontainer? Untung kamu mengerti teknologi, kalau tidak ... hufh. I don't know what happened with them.(aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan mereka) Aku juga salah, lupa melarang Tama datang ke kantor karena ternyata masalah pencurian dana kantor itu sudah terjadi bertahun-tahun dan dilakukan oleh petinggi perusahaan, karena itu sangat berbahaya bila Tama pergi ke kantor karena mereka-mereka itu belum diamankan jadi tak aneh kalau sekarang mereka melakukan serangan balasan. Aku belum bisa menahan siapa pun karena bukti-bukti sedang dikumpulkan."


"Yang penting kita harus bergerak cepat. Aku harus ke kantor polisi sekarang."


"Oya, pencarian orang tuamu bagaimana?"


Kenzo sedang memakai jaketnya sambil menelepon. "Belum tau Om, tapi yang penting mereka selamat."


"Syukurlah. Ya sudah, kalau ada apa-apa tolong hubungi Om ya? Om juga akan bergerak cepat dengan Tim Audit ini."


"Baik Om." Kenzo mematikan hp-nya.

__ADS_1


"Aku dengar Mas mau ke kantor polisi? Ada apa?" Leka yang baru bangun tidur sempat mencuri dengar telepon Kenzo.


"Oh, ada masalah sedikit. Aku pergi sebentar ya?" Kenzo mengecup lembut pipi istrinya yang duduk di atas tempat tidur.


"Eh, iya Mas."


Kenzo segera keluar kamar. Tama, aku harap kau tak apa-apa. Kakak ingin kau selamat.


---------+++---------


Sopir itu merasa tidak enak badan. Pandangannya pun mulai kabur. Ia tak bisa konsentrasi dan berpikir jernih hingga mobil berjalan tak bisa lurus ke depan. Aduh ada apalagi denganku sekarang? Kenapa aku tidak bisa berkonsentrasi menjalankan mobil begini?


Itupun dirasakan oleh Mei dan Tama yang sesekali terguling ke kiri dan ke kanan hingga menyentuh dinding kontainer.


"Ada apa ini Mei?" Tama berusaha bertahan pada dinding yang memang tidak ada tempat berpegangnya. Ia terpaksa harus bergerak ke dinding yang satunya saat truk kembali bergerak ke arah sebaliknya.


"Aku gak tau Kak," ucap Mei yang berusaha bertahan dengan cara yang sama dengan Tama.


"Mei." Pemuda itu mulai ketakutan. "Apa kita mau tabrakan? Apa remnya blong?"


"Atau supirnya sakit?"


"Kenapa orang sakit malah nyupirin mobil sih?" ucap Tama kesal.


Mei berusaha berjalan ke pintu dengan menjaga keseimbangannya berdiri. Ia berusaha kembali mengintip keluar. Dengan susah payah ia memfokuskan penglihatannya dalam gelap dan melihat dengan posisi mobil yang bergerak tidak beraturan. Ia terkejut dan segera kembali mendatangi pemuda itu.


"Di sampingnya jurang Kak!"


"Bagaimana ini Mei!!" Tama berteriak panik.


Mei berpikir sebentar.


"Mei!!!"


"Mei!!!"


"Dan selamat."


"Apa?"


"Ikuti aku Kak. Genggam tanganku."


"Buat apa Mei?" Sedikit ragu ia mengikuti perintah gadis itu.


Ia dan Mei masih menyeimbangkan tubuh berdiri berhadapan dan saling berpegangan tangan.


"Begini Kak. Kalau kita jatuh, usahakan kaki kita menginjak ke bawah dan lutut sedikit ditekuk. Usahakan juga jangan sampai badan yang jatuh."


"Mei ...." Mata Tama memerah.


"Inshaallah Kak, kita selamat," ucap Mei lembut. "Kita konsentrasi ya, waktu kita gak banyak."


Tama mengangguk. Truk bergoyang sedikit kasar. Mereka berusaha menyeimbangkan tubuh agar tetap berdiri.


Pemuda itu mencoba apa yang diajarkan Mei. "Begini?" Ia menekuk kakinya di hadapan Mei.


"Iya, betul. Lalu kalau kontainer ini terguling ...."


"Terguling?" Tama semakin syok.


"Betul. Kita akan berlari ke arah mana ia menggelinding."


Tama masih melihat Mei dengan syok yang menohok.

__ADS_1


"Kak, ngerti gak?"


"Iya ...." Pemuda itu mematung.


Tiba-tiba Mei mengecup pipi Tama. Cup!


Seketika pemuda itu seperti tersadar dari mimpi. "Mei?" Ia menyentuh pipinya.


"Kakak jangan bengong, waktunya gak ada!" teriak Mei kesal. Di saat genting seperti ini pemuda itu malah sibuk dengan ketakutannya.


"Eh, iya Mei!"


"Takut itu harus di hadapi. Siap gak!" Mei dengan suara kencang.


"A, siap Mei!" Tama pun menyahut kencang.


"Saat jatuh kita kalau bisa saling berpegangan tangan tapi saat mengelinding berpegang satu tangan saja, ok?"


Belum sempat Tama menjawab, truk berguncang hebat. Ternyata, supir itu mulai merasa sakit perut dan sakit di sekujur tubuhnya. Kepala mulai pusing dan ia sudah tidak ingat lagi bahwa ia membawa mobil dengan hilang arah. Ia menyetir tak terkendali sehingga hampir beberapa kali menabrak mobil dari arah berbeda dan sering kena klakson dan umpatan mobil dan truk lain.


Pada satu kesempatan akhirnya ia benar-benar salah arah hendak terjun bebas ke arah jurang, tapi entah kenapa, sopir sadar dan membelokkan ke arah samping. Walaupun begitu truk tetap saja jatuh ke jurang dengan posisi menyamping.


Saat kejadian, suasana sangat sepi hingga tidak ada yang melihat truk itu jatuh ke jurang. Badan kontainer itu menggelinding pelan sambil menghantam dinding jurang yang tidak rata.


Mei dan Tama saling berpegangan satu tangan berlari mengikuti ke mana kontainer itu mengelinding. Ia jadi ingat beberapa permainan game yang sering dimainkannya di hp. Mei benar, mereka bisa saja selamat bila tahu cara jatuh yang benar.


Ketika kontainer membentur dinding jurang, mereka melompat dan jatuh dengan kaki sedikit menekuk, dan mereka melakukannya beberapa kali sambil berlari. Karena beberapa kali benturan, bentuk kontainer itu agak rusak dan pintu tiba-tiba terbuka. Kontainer juga miring ke arah pintu.


Tak dapat dicegah, mereka meluncur ke arah jurang.


"Mei!" Tama dengan sigap memeluk gadis itu.


Tapi mata gadis itu malah melirik ke bawah. "Ada pohon."


"Apa?"


Bugh, kragh, kras, cuss ....


"Ah!" Tangan Tama menabrak batang pohon hingga pelukannya terlepas.


Mei jatuh lebih dulu ke sisi lain. Mereka terpisah. Setelah melewati ranting, dedaunan dan batang pohon, Tama jatuh ke tanah datar.


Terdengar benda jatuh dengan sangat keras ke tanah. Sepertinya truk itu sudah sampai di dasar jurang.


Tama masih bisa bangun dengan badan sedikit sakit. Ternyata pohon itu tidak tinggi dan jurangnya juga tidak dalam, tapi suasana gelap karena malam. Ia duduk sambil mencari-cari di mana gadis itu berada. Ia melihat sosok seseorang yang terbaring tak jauh dari tempatnya duduk. Sosok itu tak bergerak. Ia segera mengenali dari pakaiannya.


"Mei! Mei!" Tama berlari ke arah gadis itu terbaring.


Mei diam tak bergerak.


"Mei ...." Ia menyentuh wajah gadis itu, tapi tak ada respon apa-apa. "Mei ...." Butiran air mata Tama langsung menetes deras. "Mei, jangan tinggalkan aku, Mei ... jangan tinggalkan akuuu." Tama mengangkat tubuh itu dan mendekapnya erat. "Mei ...." Ia menangis terisak hingga mengguncang tubuhnya.


"Ssst!"


"Mmh?"


"Jangan berisik kepalaku pusing."


_______________________________________________


Author Ummi Asya dalam novelnya Akulah Malaikat Penolongmu bercerita tentang anak kembar yang diperlakukan beda karena salah satunya buruk rupa.


__ADS_1


__ADS_2