Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Kembali


__ADS_3

Seorang pria Asia bertubuh tinggi kurus dengan overcoat panjang berwarna coklat muda, keluar dari lift yang terbuka. Ia merapikan kaca mata hitamnya dan menaikkan kerah jaketnya tinggi-tinggi. Sejenak ia mengedarkan pandangan ke sekitar dengan cermat sebelum ia melangkahkan kaki ke depan menyusuri lorong panjang yang sepi itu. Malam telah larut.


Tak lama setelah pria itu berlalu, dua orang pria bertubuh tinggi tegap dan berbadan besar keluar dari pintu tangga darurat. Keduanya juga sama, melihat ke kanan dan ke kiri sebelum ia mengikuti pria yang sudah berjalan di depannya.


Hingga pria Asia itu sampai ke sebuah pintu, ia masih melihat kanan dan kiri sebelum membuka pintu di hadapannya. Saat pria itu masuk ke dalam kamar, kedua pria yang mengikutinya itu segera mengejarnya dan ikut masuk ke dalam kamar itu. Mereka menutup pintu dengan cepat dan menghadap pria di depannya. Pria itu membuka kaca matanya. "Tidak ada orang di luar kan?" tanya Kenzo memastikan.


"Tidak ada Pak," jawab salah satu Bodyguard-nya.


"Bagus. Aku akan berkemas." Kenzo mulai mencari barang-barangnya dan menyusun dalam koper yang telah ia buka. Sebentar kemudian ia selesai. Ia segera ke lantai bawah bersama Bodyguard-nya mengurus kepulangan.


----------+++---------


Lucu juga Mei pakai baju kantor. Badannya terlalu kurus jadi pakai baju apa saja cocok. Cewek banget. Wajahnya juga jadi dewasa saat berdandan. Beda dengan saat ia menari di Game Center tadi. Ia sangat lincah persis seperti saat ia mengeluarkan jurus-jurus silatnya. Sangat ringan seakan-akan kakinya tidak menapak bumi. Eh, kok jadi cerita serem ya, Tama menggeleng-gelengkan kepalanya.


Maksudku, dia keren saat mengeluarkan jurusnya tapi kalau tidak, ia terlihat manis dan cewek banget. Eh, kenapa gue mikirin dia? Ntar kegeeran lagi dia. Kan dia bukan tipe gue. Dia Bodyguard gue, selesai! Tama membalik tubuhnya memeluk guling. Tidur, tiduuur! Gak waras lama-lama.


Di kamar Mei, gadis itu mengagumi boneka yang didapatnya. Ia belum pernah mendapatkan boneka secantik itu sebelumnya, sejauh ingatannya akan masa kecil. Ia selalu mendapat mainan murah yang dibeli Ibu di pasar.


Boneka yang sekarang dilihatnya sangat cantik. Tidak murah tetapi juga tidak terlihat mahal, tapi itu hasil usahanya sendiri. Ia memeluknya. Makasih Kak, eh? Ini kan hasil kerja kerasku sendiri? Mei tersenyum.


----------+++--------


Pagi seperti biasa, ada keramaian di rumah besar itu.


Pintu diketuk keras-keras. "Jangan lama Kak!" ucap Mei di depan pintu Tama, sedang ia kemudian kembali ke kamarnya.


"Iya, iya!" Tama baru saja keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk di sekitar pinggang, mendekati tempat tidur. Dengan duduk di tepian dan mengambil hp, ia baru saja akan membuka aplikasi sebuah game, tapi kemudian kata-kata Mei kembali terngiang di kepala. Belajar bertanggung jawab dong dengan pilihan sendiri. Jangan mentang-mentang gak ada orang tua jadi malah makin liar tak terkendali. Ia menghela napas dan menutup hp-nya.


Pagi itu, Leka dan Aiko menatap heran pada Tama di meja makan. Tidak biasanya ia bisa datang lebih cepat ke meja makan mendahului Aiko. Hari ini pemuda itu terlihat berbeda.


"Kenapa?" Tama menyadari tatapan Aiko dan Leka padanya.


"Oh, enggak. Ada ulangan pagi?" tanya Leka bingung.


"Ngak Mbak." Tama menunduk mengoles roti.


"Tumben bangun lebih pagi."


"Mmh?" Pemuda itu mengangkat pandangannya. "Seperti biasa kok Mbak, cuma ...."


"Ngak main game," potong Mei. Bersama Aiko, mereka tertawa.


"Ck," Tama merengut kesal pada Mei.


"Oh, gitu." Leka tersenyum.


Pagi itu Runi belajar sarapan bersama yang lain. Berbeda dengan Leka, ia terlihat sedikit pucat. Makannya pun tidak banyak.


"Mbak kenapa? Sakit?" Tama mulai menyadari ketika ia mulai makan sarapannya.


"Entahlah. Mungkin hanya butuh istirahat sebentar." Suaranya terdengar lemah.


"Sebaiknya Mbak ngak usah ke restoran dulu. Istirahat saja di rumah." Tama terlihat khawatir.


"Mmh."


"Unda ...." Runi menatap Leka. Ia seperti tahu ibunya sedang sakit. Ia yang sedang bermain dengan sendok, disuapi nasi tim oleh Ani, menatap Leka lekat.


"Ngak apa-apa Nak, bunda gak apa-apa." Leka mengusap kepala mungil Runi yang dipakaikan jilbab. Runi menyodorkan sendoknya.

__ADS_1


"Ntar aku pulang cepet kok," ucap Aiko.


"Iya, iya. Mbak gak apa-apa kok." Leka berdiri dari duduknya. "Mbak tidur dulu ya?" Suaranya mulai serak. Ia berdehem sebentar.


"Mbak masuk angin kali," Tama mengira-ngira.


"Mungkin." Leka menatap Ani. "Kalau Runi ingin denganku, bawa saja ke kamar ya?"


"Iya Bu."


Leka kemudian melangkah ke arah tangga.


Selesai sarapan, mereka bertiga, Tama, Aiko dan Mei masuk ke dalam mobil dan mobil langsung berangkat.


"Kakakmu tidak ke rumah kak? Kak Aska?" tanya Mei.


Tama menoleh ke belakang. " Mudah-mudahan sudah tobat."


Mei menahan tawa.


"Kak, gak kecepetan datangnya?" Aiko menatap keluar. Ia melihat di parkiran sekolah masih sepi.


"Kamu mah serba salah. Cepet salah, telat apalagi. Dah, cepet. Turun, turun, turun!" Tama mengusir adiknya turun.


Aiko mencebik mulutnya sebelum membuka pintu. Tama ikut turun dan duduk di tempat Aiko duduk tadi. Mei terlihat heran. "Apa aku harus duduk di depan Kak?"


"Bukan gitu. Kamu udah ngerjain tugas kemarin?"


"Oh, sudah."


"Ok, salinin dong di bukuku?" Tama tersenyum semanis mungkin.


"Aku males nulis. Kamu tolong kerjaian aja. Kan masih ada setengah jam lagi. Oh ya, tambah matematika."


"Matematika? Mana aku tahu, aku kan murid baru!" teriak Mei.


"Ish, jangan teriak-teriak. Biasa aja kali ...." Tama menutup satu telinganya yang diteriaki Mei. "Kalau kamu gak bisa nanti aku kasih tau caranya."


"Kamu bisa?" Mei tercengang.


"Kan udah aku bilang, aku segala bisa tapi malas nulisnya."


Aneh banget! Mei mengerutkan alisnya. "Kalau kamu bisa, kenapa ngak nulis sendiri?"


"Ck, berisik banget! Ntar kalo ujian butuh contekan, aku kasih jawabannya deh!"


Bener-bener aneh nih orang! Bisa ngerjainnya tapi ngak suka nulisnya. Apa bener begitu? Mei masih mengerut dahi, tapi mau tak mau dia kerjakan juga permintaan Tama. Saat Mei kesulitan menjawab, Tama membuktikan dia bisa menjawabnya. Mei masih terheran-heran. Beneran dia bisa ya? Otaknya encer banget. Baru kali itu Mei terkagum-kagum pada pemuda itu. Ia pikir pemuda itu sebloon wajahnya karena dia suka mengerjakan hal-hal yang konyol, tapi ternyata tidak. Ia sangat pintar dalam hitung-menghitung yang bisa dikerjakannya dengan segera tanpa masalah, sesulit apapun soalnya. Sungguh mencengangkan!


"Dah, ayo! Yang punya kamu udah salin belum?" Tama menutup buku cetaknya.


"Eh, belum. Ntar dulu." Mei mengeluarkan buku tulis baru agar bisa dikumpulkan dengan yang lain.


"Ya udah, aku tunggu." Tama menyerahkan buku tulisnya pada Mei. Tiba-tiba, hp Tama berbunyi. Ia mengenali siapa yang meneleponnya. "Halo Pa ...."


"Kamu di mana?"


"Di sekolah Pa, tapi belum bel masuk."


"Oh, Papa mau ketemu kamu sebentar. Kamu ke parkiran coba."

__ADS_1


"Aku di parkiran Pa. Parkiran SD." Tama keluar dari mobil. Ia melihat sebuah mobil berwarna biru tua memasuki gerbang sekolah itu. Ia mengenali itu mobil Chris. Ia melambaikan tangan. Mobil itu berhenti di depannya dan Chris keluar dari kursi penumpang.


"Papa hampir melewatinya. Untung saja kau bilang Parkiran SD." Chris menyerahkan selembar kertas pada Tama. "Tolong tanda tangani ini."


"Apa ini Pa?" Tama mencoba membaca isinya.


"Untuk Tim Audit. Mereka akan datang pagi ini ke kantor Kakekmu, tapi ia butuh surat tugas karena kau tidak ada di sana saat mereka datang."


"Oh, gitu." Tama mengambil pulpen dari tangan Chris dan menandatanganinya. Ia kemudian menyerahkan pulpen bersama kertas itu pada Chris.


"Ok, Papa langsung saja ya?" Pria bule itu segera mendatangi mobilnya kembali dan langsung masuk ke dalam. Ia melambaikan tangan seiring mobil itu berlalu.


Tama membalas lambaian tangannya.


---------+++---------


Ada keriuhan dalam kantor Kakek Tama. Tim Audit yang berjumlah 5 orang datang bersama polisi dalam jumlah banyak yang membuat cukup panik seisi kantor itu. Mereka langsung mendatangi bagian keuangan dan orang-orang di kantor itu tidak bisa menolak karena ada surat perintah yang ditandatangani oleh Tama. Mereka langsung memeriksa file-file yang berhubungan dengan keuangan dengan dijaga ketat oleh beberapa orang polisi.


Di tempat lain, beberapa petinggi mengadakan rapat mendadak di sebuah ruangan tertutup. Delia, Sekretaris Direksi juga ikut dalam rapat rahasia itu. "Aku sudah menghubunginya Pak tapi tidak bisa. Sepertinya dia masih sekolah jadi hp-nya dimatikan."


"Katamu, keponakan Hadi itu bodoh, tapi kenapa ia malah bisa menghadirkan Tim Audit kemari!" ucap pria setengah baya dengan kumis lebatnya itu geram. Ia menatap Delia kesal.


Wanita itu meremas ujung kemejanya. "Ia memang terlihat bodoh Pak, tapi aku tidak tahu kalau ia sangat pintar. Ia hanya bermain game saja selama di ruangan atau mengobrol dengan asisten barunya itu jadi aku tidak melihat dia seperti ancaman."


"Hadi saja, sudah bertahun-tahun di sini masih bisa kita bohongi tapi bocah ingusan itu, hanya dalam waktu 2 hari saja sudah bisa melihat kecurangan di kantor ini, apa kau benar-benar tak salah melihat atau kau mulai tak fokus dengan pekerjaanmu sejak punya pacar baru, hah? Ingat ya, kau juga turut andil dalam pengambilan uang di perusahaan ini jadi kalau sesuatu terjadi padaku, kau juga harus ikut merasakannya!" ucap pria itu menunjuk-nunjuk Delia.


Wanita itu hanya bisa menunduk sementara petinggi yang lain saling berpandangan dan juga cemas.


"Pastikan nanti sore ia masuk perangkap kita dan habisi dia tanpa jejak! Mengerti!!!" Pria itu menekankan dengan keras.


"I-iya Pak."


---------+++--------


Kenzo membuka seatbeltnya dan berdiri.


"Mau ke mana Pak?" tanya Bodyguard-nya di samping.


"Mau ke toilet."


Bodyguard itu segera berdiri.


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Ini pesawat terbang, aku tidak mungkin bisa hilang. Kau pasti bisa menemukanku." Kenzo melewati Bodyguard-nya sebab ia duduk dekat jendela.


"Tapi Pak,"


Kenzo mengangkat tangan, memberi isyarat untuk tidak mengikutinya dan Bodyguard itu tak bisa berkutik. Pria Jepang itu kemudian melangkah ke arah toilet pesawat di arah sebaliknya. Ia melewati bilik persiapan makanan tapi tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya dan menarik pria itu ke dalam. "Mmh!"


Bodyguard Kenzo sempat menoleh, tapi karena tidak melihat sesuatu apapun yang aneh, ia kembali duduk dengan tenang.


_____________________________________________


Author seneng banget reader masih nongkrong di sini baca novel ini. Jangan lupa, komen, like, vote, juga hadiah dan koin penyemangat author. Ini visual Christian Jhonson, atau akrab disapa Chris. Ayah angkat Tama, Aska dan Salwa juga Ayah kandung Zack. Salam, Ingflora 💋



Ada novel baru dari Author Ay Nissa berjudul Ratu Dominant Menikahi CEO Cacat. Ceritanya cukup menyentuh. Ayo kita kepoin yuk!


__ADS_1


__ADS_2