Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Untukmu


__ADS_3

Mei segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Ia terduduk di lantai. Kesal, marah, sedih, jadi satu dan ia benar-benar tak bisa mengurai satu-satu emosinya kala itu. Menyesakkan entah kenapa.


Kenapa aku harus semarah ini padanya? Dia kan berusaha agar aku tak melanggar kontrak kerjanya. Iya kan? Lagipula aku gak ada ide juga untuk tetap ada di rumah ini, tapi sebenarnya kalau aku kembali ke rumah juga gak apa-apa kan?


Sementara itu, Tama masih berbicara dengan Kenzo di bawah tangga. "Padahal aku gak maksud jahat Kak." Ia terlihat bingung dan menunduk.


Kenzo mengulas senyum. "Dia kan temanmu. Kamu pasti tahu cara membujuknya."


Tama mengangkat wajahnya dan menatap Kenzo dalam. Sebentar kemudian, ia sudah berlari menaiki anak tangga dan berhenti di depan kamar Mei. Ia menyentuh pintu itu pelan. "Mei ...."


Gadis itu mendengarkan dengan seksama.


"Maafin aku ya?" Tama duduk di lantai, merapatkan diri ke pintu dan memeluk lututnya. "Aku hanya kepikiran itu."


Mei tidak menjawab. Ia sendiri bingung Tama sudah membuat status mereka jadi begini.


"Kalau ayahku benar datang bagaimana? Kak, apa tidak sebaiknya aku pulang ke rumah saja. Aku akan hadir di jam-jam yang Kakak butuhin."


"Aku tidak mau ada kendala di jalan," jawab Tama cepat.


"Tapi Kak ...."


"Sudah jangan pusingkan tempat tinggal. Bukankah Ibumu juga yang menyarankan tinggal denganku?"


Mei kesal dengan Ibunya yang sering asal bicara sehingga sering bertengkar dengan Ayahnya.


"Mei ... kamu gak usah khawatir. Kalau kamu nanti ketemu dengan cowok yang kamu suka, aku pasti akan melepaskanmu."


Mei hanya diam tak bicara. Entah kenapa rasa kesalnya tak juga hilang.


"Mei ... aku janji."


Tak ada jawaban dari balik pintu.


Tiba-tiba ada keributan di depan pagar. Kenzo mendatangi pintu utama dan tahu siapa yang datang. Ia memberi izin mobil itu untuk masuk.


Mobil itu kemudian masuk dan parkir di depan pintu. Aska keluar. Ia melihat Kenzo menggendong Runi dan Leka berdiri di sampingnya. "Eh, aku mau lihat Tama. Dia tidak apa-apa kan?" tanyanya pada Kenzo. Ia melirik Leka.


"Silahkan masuk saja. Nanti aku panggilkan," jawab pria Jepang itu berusaha ramah.


Mereka kemudian masuk bersama-sama.


"Tama, Kakakmu datang! Oh iya. Jangan lupa, ajak Mei!" teriak Kenzo dari bawah.


Mereka kemudian duduk di ruang tamu.


"Leka, tolong minumnya," pinta suaminya.


"Oh, ya."


"Eh, tidak usah. Aku hanya sebentar saja." Aska berusaha menahan Leka pergi.


"Santai saja tidak apa-apa, bukankah kamu juga ingin melihat Runi." Kenzo mencondongkan tubuhnya ke depan agar gadis kecil itu yang berada di pangkuan bisa dekat dengan ayahnya.


"Oh, benar kok. Aku hanya sebentar," Aska masih berkilah. Ia ingin Leka tetap di sana.


Kenzo tersenyum lebar. "Ok. Sayang, bisa tidak carikan boneka buaya Runi yang di kamar?"


"Boneka buaya?" Leka mengerut dahi karena setahunya, Runi tidak punya boneka buaya.


"Carinya pelan-pelaan ... saja. Nanti juga ketemu," Kenzo tersenyum makin lebar.


Leka akhirnya mengerti kode suaminya. "Oh, iya." Ia segera menaiki tangga.


Aska tersenyum kecut.


Di atas, Tama sedang membujuk Mei untuk keluar. Ia mengetuk pintu. "Mei, ayo keluar. Temenin aku yuk!"

__ADS_1


"Kenapa aku? Aku kan gak penting, Kak."


"Ya udah, tapi temenin aku aja," Tama merajuk.


Mei membuka pintu. "Kak, itu kan keluargamu. Untuk apa aku ikut?"


"Lah, nanti kalau ayahmu datang bagaimana? Setidaknya kamu kenal mereka, jadi terlihat beneran kalau kamu kenal keluargaku."


"Tapi Kak ...."


Tama malas berdebat. Ia langsung menggandeng tangan gadis itu dan menariknya ke lantai bawah. Mei mau tak mau mengikutinya.


Semua orang yang melihat Mei dan Tama bergandengan, terkesima. Kenzo dan Aska. Juga Leka yang baru dilewati di depan kamar Kenzo tapi Tama tak peduli. Ia membawa Mei hingga ke lantai satu. Mereka bergabung di ruang tamu dan Tama duduk di samping Aska. Pria itu sedikit merasa tak nyaman karena Mei duduk tak jauh dari Tama.


"Eh, kamu selamat jatuh dari jurang, katanya?" Aska langsung menanyakan keadaan adiknya. Ia tidak melihat ada luka berarti di tubuh Tama selain lebam di lengannya dan sedikit goresan luka di kulit ari yang menyebar di beberapa tempat.


Mei pun juga sama tapi tak terlihat karena busananya yang tertutup.


"Kan aku punya Bodyguard Kak," kata pemuda itu sambil tersenyum.


"Tapi bagaimana caranya? Kan Bodyguard tidak bisa menggantikan nyawamu kan Tama?" Aska melirik Mei yang hanya menunduk diam. Gadis itu juga merasa tak nyaman karena harus berada di tengah-tengah keluarga Tama yang dia tidak kenal. Terutama Aska.


Terdengar suara klakson mobil dan pintu gerbang di buka. Mobil Chris masuk. Chris dan istrinya keluar dari mobil di sambut Kenzo yang sedang menggendong Runi.


"Aduh, Runi. Kamu sedang apa, Sayang?" Reina datang memeluknya.


"Nenek!"


Reina menggendongnya dan mereka sama-sama masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana perjalananmu Kenzo? Maaf Om baru bisa ke sini. Kalau bukan karena kejadian ini, Om tidak akan tahu kalau kau sudah kembali," sapa Chris pada Kenzo.


"Menunggu yang sia-sia Om, tapi aku lega, orang tuaku tidak ikut pesawat naas itu hanya saja aku tak tahu mereka ada di mana."


Chris melihat Mei ada di ruang tamu. "Oh, ada kamu. Mei kan namanya?"


"Namanya Maysaroh. Di panggilnya Mei," ucap Tama bangga.


Nama yang kampungan. Kebetulan saja kau bisa menyelamatkan adikku, cih! Aska memandang sebelah mata pada Mei.


Mei berdiri.


"Eh, kamu tak usah pergi. Duduk dulu. Bapak mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu." Chris terlihat antusias sedang Mei terlihat tegang. Gadis itu duduk pelan-pelan kembali ke kursi sofanya.


Reina, Kenzo dan Chris duduk bersama-sama di ruang tamu. Chris duduk dekat Mei. "Om paling suka dengan anak-anak muda jaman sekarang yang berprestasi. Jadi ceritakan bagaimana kalian bisa selamat dari kecelakaan terjun ke jurang itu."


Tama menceritakan dengan bersemangat strategi Mei hingga mereka bisa selamat. Semua orang di ruangan berdecak kagum mendengar cerita Tama kecuali Aska.


Dia hanya Bodyguard, memang pekerjaannya kan menyelamatkan bosnya?


"Tapi kalian ada luka atau bagaimana?" Reina masih khawatir karena sulit baginya memikirkan keduanya selamat setelah jatuh ke dalam jurang.


"Cuma lebam-lebam kecil terus luka gores aja Ma. Kita sudah periksain ke rumah sakit," Tama memberitahu.


Reina menoleh pada Mei. "Makasih ya Mei, kamu sudah menolong Tama, anak kami."


"Eh, tidak apa-apa Bu, sudah tugas saya." Mei menganggukkan kepala.


"Iya. Dia kan cuma Bodyguard."


Semua orang menoleh ke arah Aska dengan pandangan aneh. Seketika pria itu terdiam.


"Kak Jo, aku kan gak masuk sekolah kan Kak, hari ini ...." Tama menatap Kenzo.


Kenzo terkekeh. "Salahmu sendiri, kenapa menginap."


"Aku mau ke Mal beli hp ya Kak, pinjam mobilnya."

__ADS_1


"Oh ya sudah."


"Tama, kamu jangan ke kantor dulu ya? Berbahaya. Sekretarismu itu sudah ditahan tapi yang lainnya akan menyusul jadi hati-hati berpergian," Chris memperingatkan.


"Aku perginya sama Mei kok, Pa."


"Iya, tapi hati-hati. Mei kan perempuan. Harusnya kamulah yang jaga dia." Goda Chris.


Yang lain tertawa, kecuali tentunya Aska. Mei tersipu. Gadis itu merasakan kehangatan keluarga Tama padanya.


Tama berdiri. "Yuk Mei. Kamu mandi dulu. Aku juga mau mandi, badan rasanya lengket-lengket." Mereka berdua melangkah ke arah tangga.


Melihat keakraban keduanya, Chris pun lega. Mereka tidak hanya Bos dan bawahan tapi lebih seperti teman. Tama pun kelihatan senang berbicara bersama Mei, seakan persahabatan mereka sangat dekat, padahal mereka belum lama berkenalan. Chris merasa beruntung Tama bisa bertemu Mei.


Setelah mengobrol beberapa lama, Leka turun. Mereka berbicara sebentar lalu Chris dan Reina pun pamit. "Om harus nganter Tante dulu ke toko bunga terus langsung ke kantor. Eh, Aska! Kamu ngak ke kantor?" Chris melirik Aska.


"Oh, masih kangen sama Runi." Aska tiba-tiba menyentuh Runi yang baru saja diberikan pada Kenzo.


"Eh, gak boleh begitu, Aska. Kamu kan pengantin baru demikian pula Kenzo. Jangan saling mengganggu. Sudah, kamu berangkat saja bareng Papa."


Aska tak bisa membantah. Ia mengikuti Chris. Kenzo dan Leka saling pandang dan kemudian tersenyum.


---------+++---------


Mei melirik Tama yang sedang menyetir mobil. Ia bingung kenapa tadi Tama tidak bercerita soal Ayah Mei yang akan datang dan soal lamarannya itu pada keluarganya, padahal sewaktu-waktu Ayahnya bisa saja datang berkunjung dan menagih janji Tama pada keluarganya. Apa yang sedang dipikirkannya ya?


Tama merasa diperhatikan. "Kenapa?"


"Eh, enggak. Kamu gak takut ditilang? Kan belum punya SIM." Dia mahir juga menyetir ya?


"Kamu itu Mei, terlalu kaku. Wajahku itu sudah dewasa kan? Coba lihat? Ganteng gini," Tama menyentuh wajahnya dan memandang lewat cermin kecil di atas.


Mei hampir tertawa. Di mana gantengnya? Wajahnya sangat konyol.


"Tapi kalau ada razia gimana?"


"Ck, makanya pikiran harus positif terus dong, biar gak miskin selamanya."


Mei merengut dan Tama melihatnya.


"Tuh kan ... tuh kan, tuh kan. Belum apa-apa udah ngambek. Ya udah, gini deh. Sekarang gue lagi seneng karena lo udah nyelametin gue. Sekarang lo mau apa gue kabulin."


Mei terdiam.


"Lo mau apa, bilang aja. Tas mahal, baju branded(bermerk), atau hp mahal juga gue beliin. Gue sanggup kok." Tama tersenyum senang. "Gue happy(senang) lo ada di sisi gue. Jangan pernah tinggalin gue ya?"


Mmh? Maksudnya apa? Ih, nih cowok nyebelin banget, suka mancing-mancing bikin penasaran. Dia becanda kan bukan beneran? Berada di sisinya maksudnya kerja jadi Bodyguard-nya gitu kan? Eh, aduh Mei jangan gampang ge er, bodoh!


"Mei ...."


Mei terbangun dari lamunannya. "Eh, iya."


Mobil Tama akhirnya sampai juga di halaman sebuah Mal besar. Tama memarkir mobilnya dan kemudian masuk bersama Mei. Setelah berputar-putar di dalam Mal, mereka berhenti di gerai kosmetik.


"Kamu cuma mau ke sini?" Tama bertanya heran.


"Aku penasaran. Kemarin aku beli lipgloss(pelembab bibir) rasa lemon. Coba. Ternyata bagus di bibir. Bibirku jadi gak kering. Aku ingin beli yang stroberi."


Pramuniaga itu memberikan yang Mei minta. Mei membuka wadah kecil itu, mencolek dan memolesnya di bibir. Bibir gadis itu jadi terlihat segar dan bercahaya. "Ada rasa stroberinya lho." Ia mengulum bibirnya dalam mulut.


"Mana?" Tama menyentuh bahu Mei dan menariknya mendekat. Otomatis bibir mereka bersentuhan. Tama mengeluarkan lidahnya sedikit untuk mencoba.


_____________________________________________


Yang puasa masih semangat kan? Jangan lupa like, vote, komen, hadiah atau koin biar author juga semangat. Ini visual Tama dengan baju kasualnya. Salam, Ingflora💋


__ADS_1


__ADS_2