Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Keputusan


__ADS_3

Tama terkejut mendengar jawaban Ayahnya. "Tapi Ayah, aku bisa mengurusnya kok. Buktinya, aku bisa mengurus perusahaan sampai sejauh ini."


"Ini baru seminggu kamu mengurus perusahaan. Apa yang bisa kamu lihat? Kalau kamu tidak punya pengetahuan dasar yang cukup, kamu tidak bisa mengatur orang sebanyak itu, Tama. Ingat perusahaan Kakekmu itu perusahaan besar, banyak orang tergantung pada keputusanmu. Kalau kamu salah melangkah, bisa runyam urusannya. Apa kamu pikir kamu bisa jadi tempat bersandar ribuan karyawan perusahaan itu?"


Tama tercekat pucat. Ia melirik Kenzo dan juga Ayahnya dan sekilas pada Mei. Ia membulatkan tekad. "Bisa, aku bisa!"


Arya terlihat bingung. Ia melirik Kenzo yang juga melirik kepadanya. "Tama, bukankah sekolahmu juga cukup melelahkan, kenapa kamu harus memaksakan diri untuk bekerja? Apa bekerja cukup menyenangkan untukmu? Aku tidak melihat alasan kenapa kamu harus bekerja. Kalau kamu butuh uang, Ayah akan berikan. Kakak-kakakmu juga siap membantu kalau kau minta, kenapa kau berkeras ingin bekerja? Bukankah dulu kamu terpaksa menerima pekerjaan ini, lagipula Ayah berniat merekrut GM(General Manager) dari luar perusahaan yang sudah profesional karena merekalah yang bisa mengurus perusahaan besar seperti itu, bukan anak sekolah sepertimu."


Tama merengut. "Ayah, aku mau bekerja ...."


"Tama, kamu itu aneh! Sekolah saja kamu tidak mau, bagaimana mungkin kamu ingin bekerja yang bebannya lebih susah dari itu?"


"Ayah, aku sudah mulai rajin sekolah."


"Itu saja tidak cukup Tama. Memimpin perusahaan itu tidak hanya teori, prakteknya bisa beda dan kalau kamu ingin mencoba memimpin perusahaan, cobalah memimpin perusahaan kecil dulu."


"Aku bisa Yah. Kenapa harus ke perusahaan lain sih Yah, kan ada perusahaan Kakek, tinggal praktek, selesai."


"Tama, ini perusahaan konstruksi. Pasti ada berbagai macam intrik yang kamu tidak mengerti seperti kecurangan, masalah di lapangan, masalah izin, melobi, dan masalah lainnya yang berhubungan dengan dunia kekerasan karena dunia kontruksi itu haruslah diisi dengan orang-orang yang tangguh, bukan orang-orang yang cengeng seperti kamu." Arya menerangkan.


"Aku akan berusaha Yah, aku pasti bisa."


Arya terdiam. Ia bergerak merapatkan kursinya ke kursi Tama. "Ini berat Tama, apa kau yakin?"


"Kenapa sih Yah? Aku gak boleh kerja?"


"Tapi Ayah tak mau sekolahmu terabaikan, Tama."


"Aku janji Yah!" Tama berusaha meyakinkan.


Arya berusaha melihat dari kedua netra anaknya akan kesungguhan ucapannya. "Kau tidak bisa main-main di sini Tama, dibutuhkan kerja keras karena kamu juga sekolah dan menyambi kerja."


"Iya, aku janji."


"Aku tak yakin."


"Ayah!"


Arya menoleh ke arah lain. "Ayah akan telepon Kakek dulu. Biar dia yang memutuskan." Ia menyambung ke nomor tertentu di hp-nya dan meletakkannya di telinga. Ia berdiri menjauh.


Sementara Tama duduk diam dan muram. Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalanya.


Mei pun iba. Ia juga tidak mengerti kenapa pemuda itu ingin sekali bekerja. "Kak ...."


Tama melirik Mei dan menggenggam tangannya. "Sst!" Ia meletakkan jari telunjuknya di depan mulut sambil melepas genggaman.


Kenzo yang duduk di samping Mei melihat semuanya. Anak berdua ini ... Sebenarnya apa yang dipikirkan Tama? Apa dia sedang ... mempertahankan Mei? Ah, Tama. Kau sudah gila ya? Ini kan di luar kemampuanmu! Ayah benar, aku juga meragukannya karena apa yang telah terjadi beberapa hari belakangan ini. Ini saja tidak semuanya aku ceritakan. Kalau aku menceritakan masalah penculikan, masuk jurang dan penyimpangan pada perusahaan, aku yakin tanpa bertanya Ayah pasti melarang Tama bekerja di perusahaan itu.


Arya mendengus kesal. Ia menutup teleponnya dan menatap Tama. Sebenarnya perusahaan itu sudah sejak dulu seharusnya diurus olehnya tapi ia terus menghindar. Ia ingin memberikan perusahaan itu pada Kakak Perempuannya tapi Ayahnya merasa Iparnya itu tidak cocok jadi pemimpin. Apalagi, Kakaknya itu hanya punya anak perempuan. Di sisi lain, Arya punya 2 anak tiri yang dianggap penerus oleh Ayahnya. Karena Kenzo sudah punya perusahaan sendiri, Tamalah yang menjadi tumpuan untuk meneruskan perusahaan itu.


Karena itu, Ayahnya menyarankan, bila Arya tidak mau mengambil alih perusahaan, ia harus membimbing Tama menjalankan perusahaan, karena pada dasarnya perusahaan itu juga akan diwariskan untuk Tama pada akhirnya. Arya disudutkan pada pilihan yang sulit.


"Eh, tadi sore Ibuku datang. Dia membawa sekedar buah tangan." Mei meletakkan sebuah bungkusan ke atas meja.


Orang-orang yang sedang melepas kangen sambil mengobrol, menoleh.


"Eh, apa ya?" Leka membukanya. Berisi beberapa bungkus kue kering.


"Eh, mauuu!" seru Aiko yang sedang bercanda dengan Runi.


"Mama juga bawa dari Jepang tapi masih di dalam koper."


"Mmh, sebaiknya bikin teh hangat sambil makan ini, enak ya? Sebentar, aku minta Pembantu buatkan." Leka berdiri dan melangkah ke dapur.

__ADS_1


"Mau." Runi yang duduk dipangku Aiko menyodorkan tangannya. Ia tertarik dengan warna warni kue kering yang dibawa Mei.


"Oh, mau ya? Sebentar papa ambilkan gunting dulu." Kenzo berdiri dan juga pergi ke dapur.


Sementara Arya menelepon Chris.


"Eh, halo! Apa kabarmu?" ucap suara di ujung sana.


"Baik."


Chris menilik suara Arya. "Mmh, sepertinya tidak baik-baik saja. Bukankah kau baru saja lolos dari lobang jarum? Ada apa lagi? Kau harusnya sedang bahagia setelah bertemu dengan keluargamu. Apa ini soal Tama?"


Arya terkejut. "Bagaimana kau tahu?"


"Karena aku membantunya." Chris ingin membicarakan tentang penyelewengan dana kantor dan kecelakaan itu tapi diurungkannya karena takut merusak suasana melepas rindu yang pasti sedang berlangsung di rumah itu. Lagi pula, Kenzo pasti juga tidak berani menceritakan pada Ayahnya soal ini jadi Chris berusaha untuk tidak ikut campur dalam masalah keluarga mereka.


"Kau membantunya?"


"Iya. Waktu itu Kenzo masih di Jepang mencarimu karena itu ia datang padaku meminta saran bagaimana cara mengelola perusahaan. Sekarang sudah ada Kenzo di sana jadi aku rasa ia sekarang sudah dibantu Kenzo mengurus perusahaan."


"Iya, benar tapi masalahnya Tama masih terlalu kecil untuk mengurus perusahaan. Aku ingin agar perusahaan itu diambil alih seorang GM yang akan aku ambil dari luar. Aku mengatakan ini pada Ayahku tapi ia tidak setuju. Ia sebenarnya ingin aku yang mengelola perusahaan itu tapi aku menolak karena aku ingin Iparku yang menjalankan, tapi Ayah ternyata tidak suka dengan kepemimpinannya. Ia tetap ingin aku atau Tama yang mengelola perusahaan itu karena sebenarnya Ayahku ingin memberikan perusahaan itu pada Tama nantinya."


"Apa kamu mendukungnya?"


"Mendukung apa?"


"Apa kamu akan menerima bila Tama yang akan mewariskan perusahaan itu?"


"Entahlah. Aku tak yakin ia bisa mengelola perusahaan itu. Ia terlampau cengeng."


Chris tertawa. "Aku ingin pastikan dulu apa perusahaan itu akan menjadi milik Tama atau tidak karena menjadi seorang pemimpin tinggal bagaimana kita membentuknya."


"Maksudmu?"


"Aku selalu dipusingkan dengan kenakalannya yang sering bolos di jam pelajaran tertentu."


"Kenapa kau tak coba beri ia kesempatan, agar ia punya tujuan. Aku setuju dengan pendapatmu, mencarikan GM di luar tapi ia akan menjadi Direktur Utamanya. Bukankah itu yang dimaui oleh Ayahmu? GM atau CEO bertugas untuk menjalankan perusahaan sedang Direktur Utama adalah pemilik yang hanya mengontrol bagaimana perusahaan harusnya berjalan."


"Mmh." Arya mulai melihat apa yang seharusnya ia lakukan.


"Aku akan membantumu membentuk Tama menjadi pengusaha yang sukses."


Arya tertawa kecil. "Terima kasih."


"Tidak usah berterima kasih padaku, ia juga anakku."


"Ya ... terima kasih karena sarannya, Da." Arya menggaruk-garuk kepalanya.


"Ya, ya jangan sungkan. Anytime you wish, I'll be there for you.(Kapanpun kamu butuh, aku akan ada untukmu)"


"Terima kasih, sudah banyak membantu keluargaku."


"Oh, aku tunggu kau main ke rumah. Aku ingin dengar cerita jalan-jalanmu."


"Ok." Arya tersenyum. Ia menutup teleponnya. Kini ia harus bicara dengan Tama yang menunggunya dengan cemas.


Semua orang di meja makan sibuk berceloteh sambil mengunyah kue kering yang dibawa Mei kecuali Mei dan Tama yang seperti tahanan menunggu eksekusi. Wajah mereka fokus pada Arya.


Arya menarik kursinya kembali dan duduk di sana. Ia menatap Tama dengan sungguh-sungguh. "Ayah tetap akan mencari GM untuk menggantikanmu."


"Ya Ayah ...." Tama makin merengut.


Jantung Mei hampir saja lepas.

__ADS_1


"Tapi kamu akan menduduki kursi Direktur Utama di sana."


Mata pemuda itu membulat sempurna. "Di-direktur Utama?" Ia tergagap mengucap jabatan barunya.


"Iya. Kakekmu memutuskan kamu sebagai penerus perusahaan, karena itu kamu akan menduduki posisi itu setelah kita menemukan GM untuk perusahaan itu."


"Tapi Om Hadi bagaimana? Kalau dia sudah sembuh dia pasti kembali kan?"


"Stroke itu lama penyembuhannya setahu Ayah. Walaupun nanti ia kembali bekerja, ia tidak bisa bekerja seaktif dulu lagi jadi mungkin ia akan bekerja tapi dengan jabatan yang berbeda. Biarkan itu jadi urusan nanti."


Tama masih terperangah mendengar keputusan ayahnya itu sampai-sampai Arya memanggilnya berkali-kali, ia tidak merespon.


"Tama." Akhirnya Arya menepuk bahu pemuda itu.


"Ayah, terima kasih." Tama langsung memeluknya erat.


"Eh, sudah! Ayah belum selesai bicara."


Tama melepas pelukannya.


"Tapi janji rajin belajar."


"Iya." Tama mengangguk.


"Tidak bolos sekolah."


"Aku udah enggak Yah."


"Kamu juga kerja keras karena ayah akan mengajari."


"Siap Yah," jawab Tama dengan senyum lebar.


"Ayo kita habiskan dulu kue kering ini sebelum kehabisan."


Tama tertawa. "Iya Yah."


Kenzo pun tersenyum. Satu masalah telah terselesaikan dengan damai.


Mereka kemudian sambil mengobrol, menghabiskan kue kering yang dibawa Mei.


Sejam kemudian Arya dan Mariko pamit.


"Rumah mungkin sudah selesai dirapikan pembantu di sana. Jo, kamu kan sudah punya keluarga. Mulai sekarang sarapan saja di rumah, tidak usah sarapan ke tempat Ayah."


Kenzo dan Leka saling pandang dan tersenyum.


"Tama! Aiko! Besok rapikan barang-barangmu. Kalian kembali ke rumah."


"Siap Yah," ujar Aiko menyatukan jemari meletakkannya di atas dahi.


"Eh, Ayah. Aku tinggal di sini aja ya?" tawar Tama.


"Lho kenapa?"


"Eh, kan tidak ada kamar lagi di rumah untuk Mei."


Arya mengerut kening.


Aiko tertawa. "Itu Yah ...." Namun belum selesai Aiko bicara, Tama sudah membekap mulut adiknya.


_____________________________________________


Author R. Angela dengan novelnya yg bercerita tentang isekai, seseorang yang masuk ke dalam novel untuk mengubah takdirnya. Judulnya, My Crazy Lady. Mmh, menarik ya?

__ADS_1



__ADS_2