
Runi bersenandung kecil menirukan lagu kartun favorit yang ditontonnya. Ia sedang dipangku Kenzo dan keduanya larut dalam acara tv yang kini di tontonnya. Kadang Kenzo tertawa kecil mendengar Runi menyebut kata-katanya dengan salah ucap. Sesekali gadis kecil itu menggulung bibirnya melihat Kenzo menertawakannya. Bukannya berhenti, pria itu malah makin tergelak. Runi terlihat ngambek.
"Oh iya, Papa salah," Kenzo pura-pura mengakui.
Runi kembali bernyanyi dengan berdiri. Ia memeluk leher Kenzo dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu.
Tak lama keduanya terdiam. Leka mengintip ke dalam kamar Runi. Keduanya tertidur di lantai di depan tv.
Leka hanya geleng-geleng kepala melihat suaminya sangat sabar mengurus Runi hingga belakangan gadis kecil itu nampak banyak menuntut untuk ditemani Kenzo. Ia bersyukur bersuami Kenzo karena ia sangat sayang pada Runi yang bukan anak kandungnya, padahal Runi jarang menuntut pada siapapun termasuk dirinya tapi dengan Kenzo, gadis kecil itu serasa ingin menjadi dunianya.
-------+++--------
Mobil mewah Tama memasuki sebuah area luas yang bangunannya sedang diratakan hingga tanah. Area itu sudah diberi pagar seng menandakan sudah diambil alih dan siap diolah. Hanya saja ada beberapa bangunan di samping yang masih utuh dan masih dihuni oleh pemiliknya. Sepertinya pembebasan lahan belum sepenuhnya selesai.
Di sana sudah ada staf dari HRD yang menunggunya. Tama dan Mei mendatangi mereka.
Ternyata kedatangannya juga sedang ditunggu oleh pihak warga yang kontra. Staf HRD mendampingi Tama menemui warga yang sedang berkumpul di depan salah satu rumah yang lusuh dan tak terawat. Di sampingnya juga ada rumah mewah dan beberapa rumah biasa. Sepertinya, mereka berasal dari berbagai elemen masyarakat yang bersatu untuk menggagalkan proyek itu atau mungkin ingin meminta pergantian lebih. Hal inilah yang ingin pemuda itu cari tahu, karena proyek itu sudah hampir setahun mangkrak tanpa solusi.
Salah satu warga melihat Tama dengan wajah heran. "Pak Andi, inikah CEO yang Bapak maksud?" tanyanya pada staf HRD yang mendampingi Tama.
"Oh, iya Pak. Dia."
"Yang benar saja. Ini kan anak-anak?"
Tama hanya tersenyum tanpa merasa tersinggung.
"Iya, tapi dia CEO kami."
"Pak Andi, kami serius menanggapi permintaan Bapak dengan berkumpul di sini tapi Bapak malah bercanda."
"Tapi Pak, dia memang benar CEO kami."
"Dia tidak bohong," jawab Tama berusaha menengahi.
Pria itu menatap Tama, sangsi. "Kamu ... anak SMA, paling." Ia melihat Tama dari ujung rambut sampai ujung kaki, tak percaya.
"Betul, tapi mengemban tugas untuk pekerjaan CEO."
"Aku rasa, perusahaan sebesar itu harusnya mempekerjakan seorang profesional," sela yang lain kesal.
"Menurutmu kenapa mereka mempekerjakan saya?"
Beberapa warga yang keseluruhannya pria menatap pemuda itu lebih teliti, dan masih tetap merasa tak yakin. Kenapa perusahaan sebesar dan seterkenal itu malah mempekerjakan pemuda tanggung seperti Tama. Apa istimewanya?
"Nabi Muhammad juga dulu disangsikan banyak orang saat pertama kali menyebarkan agama Islam dan sekarang umatnya ada di seluruh dunia. Jangan menilai orang dari luarnya saja. Coba cari tahu lebih dalam hingga kita bisa saling mengerti."
"Tapi apa orang seperti kamu bisa menyelesaikan masalah sedang orang yang lebih tua darimu saja sudah banyak yang gagal melakukan kata sepakat dengan kami."
"Memang masalahnya di mana?"
"Ini harta warisan keluarga dan kami tidak ingin menjualnya pada siapapun."
Tama melihat satu-satu wajah mereka. Memang kalau diperhatikan wajah mereka sangat mirip. Rupanya mereka bersaudara.
"Sebaiknya kita duduk bersama dan membicarakan ini baik-baik," tawar Tama.
__ADS_1
"Ok, kita lihat apa kamu mampu menyelesaikan masalah ini, sekarang." Pria itu penasaran dengan argumen apa yang akan pemuda itu utarakan.
Pria itu mengajak Tama duduk di beranda rumahnya. Di sana ada kursi berbagai ukuran yang sengaja di kumpulkan di rumah itu untuk pertemuan dengan perwakilan perusahaan.
Semua orang duduk dan Tama mulai bicara. "Bukankah semua orang di lingkungan ini sudah pindah, kenapa kalian memaksa untuk bertahan?"
"Saya kan sudah bilang ini tanah orang tua kami."
"Kami dari pihak pengembang ingin mengembangkan daerah ini jadi lebih bagus lagi. Apa kalian tidak tertarik untuk kontribusi di tanah leluhur kalian?"
"Maksudnya?"
"Daerah ini akses jalannya masih buruk, tidak ada perumahan yang memadai padahal makin hari daerah ini mulai berkembang menjadi lebih baik lagi. Di beberapa tempat di sebelah kiri dan kanannya akan di bangun Mal dan sekolah swasta yang berstandar bagus dan kami turut serta menyumbang membuat perumahan bagus di sini. Apa kalian tidak ingin di tanah warisan keluarga berdiri sebuah bangunan bagus atau akses jalan yang mulus sehingga kalian ikut serta dalam meningkatkan pemberdayaan warga sekitar juga membuat harga tanah ini juga ikut naik ke depannya?"
"Tapi yang menikmati orang lain, bukan kami."
"Itu maksudku dengan kontribusi."
"Lah, enak saja. Terus kita pindah ke mana?" jawab yang lain.
"Bisa nanti dibantu untuk membeli rumah."
"Ya, tidak mungkinlah. Situ pasti jual lagi dengan harga mahal. Tidak semua dari kami ini mampu membeli lagi perumahan yang kalian bangun dan mungkin juga kami tidak cocok tinggal di perumahan kalian," jawab seorang pria yang sedari tadi bicara. Ia ditunjuk mungkin karena ia Kakak Tertua dan sekaligus juga yang hidupnya jauh dari kata mapan dilihat dari pakaian yang dikenakannya. sepertinya, pria itulah pemilik rumah tempat diadakannya pertemuan tersebut.
Seorang gadis malu-malu datang membawakan beberapa gelas minuman teh hangat di bakinya. Mei membantunya meletakkan gelas itu satu-satu ke atas meja.
"Bapak tau hijrah kan?" tanya Tama pada pria itu.
"Ya kalo orang Islam pasti taulah!" Pria itu melipat tangannya di depan dada.
"Nabi hijrah untuk perjuangan. Tahu bagaimana sulitnya hidup di tanah orang tapi yakin ada perubahan. Mungkin saja Bapak hidup lebih baik di tanah orang atau bahkan bisa mempertemukan anak gadis Bapak dengan jodohnya, mana kita tahu. Iya kan?" Tama mengangkat kedua tangannya.
"Tapi ini tanah warisan ...." Pria itu masih ragu-ragu.
"Kalau aku jadi orang tua kalian yang memberikan tanah ini untuk dijadikan warisan, aku akan menyerahkan semua keputusannya pada kalian. Kalian boleh tinggal atau memutuskan pindah, sebab saat aku membeli tanah ini pasti dimaksudkan agar anak-anakku punya tempat tinggal yang nyaman, tapi kalau tempat tinggal ini membawa pertengkaran, dan ketidaknyamanan pastinya dari awal aku takkan membelinya untuk kalian tempati."
Semua orang tafakur mendengarkan penjelasan Tama. Penjelasannya sangat masuk akal dan membuat mereka mulai berpikir ulang untuk tinggal di sana.
"Lihat sekeliling, sudah tidak ada tetangga, tentunya istri dan anak kalian tidak punya teman untuk diajak bicara. Menurut kalian apa mereka senang hidup seperti ini? Tempat ini juga sudah terisolasi karena sudah di tutup pagar seng proyek, debu beterbangan, dan akses keluar masuk yang sulit. Apa Bapak mau bertahan terus di lingkungan sulit seperti ini?"
Lama mereka terdiam, kemudian pria itu mulai bicara. "Kalau aku pindah ...."
"Kami akan membantu Bapak pindah ke tempat baru. Bapak perlu apa? Truk? Atau dicarikan tempat pindahnya?"
"Aku hanya pedagang keliling."
"Bapak boleh masuk ke perumahan itu untuk jualan. Bapak jualan apa?"
"Aku hanya pedagang sayur dan daging keliling."
"Saya rencananya akan membolehkan pedagang keliling masuk komplek yang saya buat. Jadi nanti saya akan berikan tanda pengenal untuk pedagang yang masuk ke dalam komplek itu."
"Oya? Jadi seperti apa sistemnya? Aku kalau buka toko bisa?" tanya yang lain.
Ternyata sebagian besar mereka adalah para pedagang yang kemudian dijanjikan Tama ke depan untuk difasilitasi. Mereka terlihat antusias dan pembicaraan berlanjut hingga malam. Tama hampir-hampir tak bisa pulang karena terus diajak bicara.
__ADS_1
"Haaah ...." Tama menghempaskan tubuhnya di kursi belakang mobilnya. Ia terlihat lelah.
Mei melirik Tama dari kursi depan lewat cermin kecil di atasnya. Ia melihat pemuda itu mulai memejamkan mata. Sebentar kemudian ia tertidur. Mei membangunkannya setelah mobil sampai ke rumah Kenzo.
Mei mengekor Tama menaiki tangga menuju kamar mereka. Pemuda itu menyentuh belakang lehernya karena pegal. "Aduuh ... kalo diurut, enak kali ya?" Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Mau diurut Kak?" Mei langsung memijat bahu Tama dari belakang.
"Oh, enak Mei. Terus." Tama menghentikan langkahnya dan menikmati sesaat pijatan Mei, kemudian ia melangkah maju. "Udah lama nih, badan pegel-pegel gak ada yang mijitin."
Mei, saking fokusnya ia tidak melihat ke mana ia melangkah. Ia telah mengikuti Tama masuk ke dalam kamarnya. "Udah Kak?"
"Belum, terus Mei." Tama naik ke tempat tidur dan tidur tengkurap. Ia menikmati pijatan gadis itu yang melenakan.
Mei kemudian sadar ia berada di atas tempat tidur Tama. "Eh, Kak ...."
"Terus Mei, leher dan badanku masih pegal," pinta pemuda itu.
Karena terlihat aman-aman saja, Mei terus mengurut sekitar leher dan tubuh Tama. Sebentar kemudian pemuda itu kembali tertidur.
"Terus Mei, terus."
"Capek ah Kak." Mei menghentikannya.
"Terus Mei, terus."
"Udah ah Kak, capek."
"Terus ... peluk aku."
Mei mengenyit dahi. Masalahnya kalimat terakhirnya dikatakan dengan samar. Rasanya Mei mendengar kata 'peluk'. "Mmh?"
Ia mencoba melihat wajah Tama dari samping. Pemuda itu ternyata telah tertidur, tapi beneran kan ia tadi bilang 'peluk?'
-------+++------
Reina menutup hp-nya. Ia mendatangi Chris yang menyambanginya. "Telepon dari Rafi tadi, mengajak kita pergi ke Amerika."
Chris memandang Reina dengan cemberut.
"Lho, kenapa? Kamu masih saja cemburu dengannya?" Reina hampir tergelak. "Tapi aku hanya menganggapnya Kakak."
"Peluk aku," canda Chris dengan wajah pura-pura ngambek.
Reina melakukannya sambil tertawa. "Bukannya Arya juga sama, tapi kamu malah tidak cemburu padanya."
"Iya, entahlah. Mungkin karena Arya tidak segenit Rafi saat memandangmu hingga kini."
"Itu hanya perhatian." Reina masih tertawa.
"Bagaimana kehidupannya sekarang?"
"Sepertinya lebih baik sejak bersama Anna. Lydi juga mulai punya banyak teman."
"Mmh, gampang beradaptasi juga ya, Lydi."
__ADS_1
"Iya. Kalau diberi tahu pada Zack ia pasti sangat antusias."
"Oh itu pasti."