
"Kenapa mbak menanyakan hal yang belum tentu terjadi? Apa mbak mau mencoba menerimaku? "goda Theo.
"Ah, itu tak mungkin, aku masih punya hubungan dengannya yang belum selesai dan aku tak mungkin menduakannya denganmu." sahut Kalila hendak berbalik.
"Kenapa? Aku tak keberatan jika kau jadikan yang kedua?" kata Theo cepat.
Kalila tak jadi berbalik kembali menatap Theo. Tertawa.
"Sudahlah." kata Kalila menyapu tangannya di udara di depan Theo.
"Kenapa kita tak mencobanya? Berselingkuh?" ucap Theo antusias bersemangat menanti jawaban Kalila.
"Karma terlalu kejam Theo," jawab Kalila.
"Kenapa? Mbak takut semakin jatuh cinta padaku?" tanya Theo percaya diri.
"Lebih baik kita pulang!" ajak Kalila berbalik pergi.
"Kenapa menghindar mbak?" Kalila masih diam.
Mata Kalila terkejap, menatap pemandangan didepannya, setengah tak percaya mendekat,
Itu mas Iwan?Benar mas Iwan, dengan siapa? Seorang perempuan dan perempuan itu bergelayut mesra di lengannya, batin Kalila semakin mendekat memastikan pandangannya.
Theo yang memanggil-manggilnya tak dihiraukan. Kalila berharap penglihatannya salah, saat melihat sosok yang ada di depannya.
Theo mendekati Kalila mengikuti arah pandang Kalila ke arah 2 sosok manusia laki-laki dan perempuan yang mereka kenal.
"Mbak...Dia..." kata Theo berganti menatap wajah Kalila yang tak menghiraukannya.
Kalila melangkah mendekati kedua orang itu yang hendak berjalan ke rumah makan depan mobil mereka yang sudah diparkir.
"Mas Iwan?" panggil Kalila yang juga terkejut merasa dipergoki Kalila.
Iwan salah tingkah, wajahnya berubah pias dan segera melepas tangan perempuan di sampingnya itu, yang juga tak kenal siapa Kalila.
"Ka..Kalila..." balas Iwan masih terkejut bingung mau menjelaskan apa.
"Dia siapa mas?" tanya Kalila menunjuk ke arah perempuan di samping Iwan. Theo masih mengikuti Kalila.
"Dia..." Iwan masih ragu untuk menjawab Kalila.
"Perkenalkan nama saya Reni, saya istri mas Iwan," jawab perempuan yang ada di samping Iwan yang bernama Reni.
Wajah Kalila berubah pias. Dia tidak marah dia tidak sedih, dia hanya kecewa merasa dibohongi, cintanya pada Iwan memang belum tumbuh, tapi saat dirinya bertekad untuk menerima lamaran Iwan, ternyata Iwan malah mengkhianatinya. Kalila hanya mengangguk mengerti, tersenyum mengejek dirinya, Iwan bahkan tidak berusaha menyangkal dan itu berarti benar.
__ADS_1
"Ah, kalau begitu aku akan mengembalikan ini." kata Kalila melepas cincin yang dipasang di jari manisnya.
Iwan mengulurkan tangannya menerima tanpa banyak bicara.
"Terimakasih atas kenangan indah yang kau berikan selama ini dan maaf," kata Kalila pergi meninggalkan keduanya. Theo masih mengikuti Kalila.
"Ah... sepertinya karma sudah menghampiriku." ucap Kalila entah pada siapa. Theo menarik tubuh Kalila ke dalam pelukannya.
"Menangislah untuk hari ini, setelah itu jangan kau tangisi lagi laki-laki itu," bisik Theo.
Kalila tak menolak. Kalila menangis keras di dalam dada Theo, tidak sedih tidak sakit hati, entah apa yang ditangisi tapi dia ingin menangis. Kemeja Theo yang mahal tidak dihiraukannya, yang basah dan juga terkena ingusnya. Orang-orang di sekitar mereka menatap Theo dengan wajah mengolok. Theo tak peduli, dia hanya memperdulikan Kalila.
Setelah 2 jam menangis, Kalila diajak duduk dengan tenang di bangku taman. Walau masih sesenggukan. Kalila masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Theo. Tak pernah menunjukkan wajahnya yang mungkin saja sudah sangat memalukan.
"Bisa kita pulang?" tanya Kalila masih dalam dekapan Theo memegang erat kemeja Theo enggan melepaskan.
"Kalau kau tak melepaskanku, bagaimana kita bisa pulang," jawab Theo.
"Aku..... malu....," bisik Kalila masih mendekap tubuh Theo erat. Theo tersenyum.
"Wajahku pasti hancur."
"Haa..haa..." Theo tergelak. Kalila memukul dada Theo manja, merajuk.
"Kau menyebalkan Theo..." seru Kalila sebal.
"Huaaa..." jerit Kalila kembali menangis, sifat kekanak-kanakannya selalu muncul saat dirinya sedang sedih.
"Maaf...maaf..." ucap Theo menenangkan Kalila lagi.
"Lalu?" tanya Kalila polos, otaknya tak bisa berpikir jernih. Theo tampak berpikir.
"Sebentar..." kata Theo mengambil ponselnya menghubungi sekretarisnya untuk menyusulnya dengan membawa seseorang untuk membawa motornya.
Tidak lebih dari 30 menit, sekretaris Theo tiba dengan asistennya, menitahkan pada asisten sekretarisnya. Theo membawa Kalila masuk ke dalam mobilnya masih mendekap erat tubuh Theo tanpa menunjukkan wajahnya.
"Kau mau membawaku kemana? Kita akan kemana?" tanya Kalila setelah masuk ke dalam mobil tetap tidak menunjukkan wajahnya yang hancur karena menangis walau disitu hanya ada sekretaris Theo.
Tak lama pun mereka tiba memasuki pelataran parkiran gedung mewah. Kalila yang lelah karena menangis tertidur di dada Theo. Theo membopong tubuh Kalila menuju kamarnya di lantai 15. Kalila masih belum bangun.
Memasuki apartemennya yang dibukakan sekretarisnya yang karena tangannya untuk membopong tubuh Kalila. Sesampainya di kamarnya Theo membaringkan tubuh Kalila di tempat tidurnya. Kalila tertidur pulas dengan mata sembabnya.
"Sekarang aku tak akan melepaskanmu dan kau tak akan bisa lepas dariku," bisik theo, masuk ke dalam selimut yang sama mendekap tubuh Kalila dari belakang terlelap dalam mimpi indahnya setelah membersihkan tubuhnya.
Pukul 5 pagi, Kalila membuka matanya perlahan, matanya terasa sakit, mungkin efek dari tangisnya semalaman. Memandang langit-langit kamar itu.
__ADS_1
Ah, bukan kamarnya. batin Kalila.
Memandang sekeliling ruangan itu,
tercium bau maskulin yang menyegarkan, warna kamar dominan abu-abu dan hitam.
"Kau sudah bangun?" sapa Theo yang keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk di pinggangnya dan bertelanjang dada memegang handuk kecil untuk rambutnya.
Kalila menoleh ke arah suara.
"Aaaaaaaa....." jerit Kalila menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ah maaf...." kata Theo masuk ke dalam walk-in closet memakai baju kerjanya.
Kalila mengangkat selimut meneliti tubuhnya satu persatu, masih utuh, batinnya. Mengawasi ruangan tempat Theo masuk. Menunggu Theo keluar yang sudah berpakaian formal dengan jas mahalnya rapi sekali dan terlihat memukau. Kalila sempat mengagumi keindahan makhluk ciptaan Tuhan, tapi segera tersadar.
"Dimana aku?" tanya Kalila.
"Di tempatku, tepatnya di apartemenku." jawab Theo santai sambil memakai jam tangannya.
"Apa yang terjadi? Bukannya aku kemarin memintamu untuk diantar pulang?Tapi...." ucap Kalila.
"Keadaan mbak seperti itu? Mana mungkin aku mengantarkan mbak pulang? Om dan tante pasti membunuhku jika melihat anak gadisnya seperti itu, apalagi mbak juga tertidur semakin tidak berani aku mengantarkan pulang. Pasti aku dituduh ngapa-ngapain mbak, jadi terpaksa aku membawa mbak kesini.." jelas Theo panjang lebar. Kalila manggut-manggut mengerti.
"Ah, tapi tak terjadi apa-apa kan dengan kita?" selidik Kalila.
"Kenapa?vMbak berharap terjadi sesuatu ya?" goda Theo duduk di tepi ranjang.
"Hei, anak kecil, kau menggodaku ya?" seru Kalila tersenyum malu. Theo tergelak.
"Bagaimana kalau aku membuat terjadi sesuatu padamu kemarin?"
"Apa?" tanya Kalila bingung yang menatap tangannya ditarik Theo dalam genggamannya. Kalila tak menolak, saling menatap.
"Tawaranku kemarin masih berlaku Lo? Apalagi sekarang tak ada alasan bagi mbak untuk menolaknya?" ucap Theo.
"Tawaran yang mana?" tanya Kalila sok polos.
"Maukah mbak menjadi pacarku? Menerima cintaku?"
"Ah...."
bersambung
.
__ADS_1
.
.