Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Episode 63


__ADS_3

Theo menatap sekeliling kamarnya, tak ada istrinya dimanapun, bahkan di ranjang juga. Rasa cemas menghampirinya. Diapun menuju kamar mandi mengetuknya tapi tak ada jawaban. Memaksa dibuka tak dikunci tapi tak ada istrinya disana.


"Sayang..." panggilnya mulai ketakutan.


Menatap sekeliling lagi, masih tersisa satu ruangan, walk-in closet. Theo dengan harap-harap cemas menuju ruangan itu. Berharap istrinya benar-benar ada di situ. Saat hendak membuka hendel pintu, pintu itu terbuka.


Muncul istrinya dari dalam ruangan itu dalam keadaan sehat bugar. Tapi, sesaat Theo langsung menelan ludahnya kasar, menatap tubuh seksi istrinya yang hanya dibalut lingerie merah seksi yang sangat minim. Dengan keadaan perutnya yang sudah mulai buncit makin membuat istrinya terlihat semakin seksi.


"Kenapa? Jelek ya? Gendut ya?" ucap Kalila polos, merasa malu dan terlihat sedih.


"Siapa bilang, kau terlihat... ah tidak... cantik, seksi, mempesona. Tapi... apa kau sengaja menggodaku sayang dengan pakaian itu?" ucap Theo dengan wajah berkabut gairah.


Kalila tersenyum malu-malu, diapun mendekati suaminya yang masih menahan hasratnya. Mendekap tubuh suaminya dengan memberanikan diri menahan ketakutannya. Theo hanya diam masih menunggu apa yang dilakukan istrinya. Dia tak mau membuat istrinya terkejut.


"Bantu aku melupakannya?" bisik Kalila lirih.


"Apa?" tanya Theo memastikan pendengarannya.


"Aku siap dan bantu aku!" pinta Kalila menatap Theo lekat. Theo menangkup kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Jangan memaksakan diri sayang, aku akan menunggu sampai kau siap!" hibur Theo, dia tak mau membuat istrinya ketakutan.


"Sampai kapan? Sampai kau berselingkuh tanpa sepengetahuanku? Jika kau terlalu lama menahannya." jawab Kalila sendu, tak terasa air matanya menetes.


"Sayang, apa maksudmu? Aku sudah punya kamu, mana mungkin aku akan melakukan hal bodoh itu." hibur Theo ikut sedih mendengar perkataan istrinya.


"Kalau begitu bantu aku!" pintanya dengan nada sendu.


"Sayang, kau sedang tak sehat. Jangan memaksakan diri, kita bisa melakukannya perlahan."


"Aku... mau sekarang." tegas Kalila menatap suaminya lekat.


"Kalau sakit katakan sakit, Ok?" Kalila mengangguk mengiyakan.


Theo mengusap air mata yang menetes di pipi istrinya, mengecup kedua mata, hidung dan pipinya. Sudah tak terlalu tegang. Theo melanjutkan lagi dengan mengecup bibir istrinya lembut, sudah tak tegang. Mengu**lum, melu**mat, dan menghi**sap bibir istrinya masih dengan lembut.


Ada sedikit ketegangan di dalam ciuman itu. Theo melepasnya sebentar memberikan ruang untuk istrinya mengambil nafas. Menatap lagi lekat istrinya. Mata Theo sudah terpancar gairah, yang mungkin saja tak bisa dia hentikan jika istrinya tiba-tiba menolak, tapi dibuatnya istrinya rileks.


"Tatap mataku sayang, tatap aku, tatap siapa aku, kunci diriku dalam penglihatanmu. Bahwa aku adalah suamimu, yang tidak akan mungkin berani menyakitimu. Kau siap?" ucap Theo.

__ADS_1


Kalila tak menjawab, dia menelusuri seluruh wajah suaminya, meraba setiap inci wajah istrinya, merekam wajah itu dalam ingatan. Tak melewatkan satu inci pun. Menatap lekat wajah suaminya. Pria yang selalu mencintainya dan menjaganya.


"Ya, aku siap." jawab Kalila yakin. Suaminya tersenyum mulai menelusuri leher istrinya perlahan dengan sangat lembut memperlakukan istrinya seolah barang yang mudah pecah jika dia melakukannya sedikit kasar.


Kalila terus menatap apapun yang dilakukan suaminya pada tubuhnya. Dan tanpa sadar desahan keluar dari mulut mungilnya. Membuat Theo semakin bersemangat melanjutkannya. Tanpa sadar mereka dalam keadaan sama-sama polos.


"Kau sudah siap?" tanya Theo saat dia sudah memposisikan 'adik kecilnya' tepat di depan 'rumahnya'.


Kalila mengangguk masih menatap suaminya lekat, membuka matanya lebar-lebar merasakan perasaan itu demi melupakan hal buruk yang menimpanya beberapa waktu lalu. Theo menghentakkan tubuhnya perlahan dengan lembut. Desahan pun lolos lagi dari mulut Kalila, mulai bisa menikmati percintaan panas itu.


Theo tersenyum senang, hasrat yang dipendam selama ini tersalurkan sudah dengan kesabarannya. Kini istrinya sudah mulai rileks dan nyaman bisa menerimanya perlakuannya yang mulai sedikit kasar. Desahan-desahan menggema dari mulut keduanya, menikmati percintaan panas itu.


Theo melakukannya lagi, lagi dan lagi. Hingga pukul tiga pagi, Theo baru melepaskan istrinya. Meski berkali-kali hingga pagi, Theo tetap melakukannya dengan lembut demi istri dan anaknya.


bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2