Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Episode 71


__ADS_3

"Aduh... sakit... " teriak Kalila memegangi perutnya.


Dia merasakan sakit tak tertahankan. Menoleh sisi ranjangnya tak ditemukan suaminya yang berjanji akan menemani selalu disisinya. Kalila memang sudah sering merasakan kontraksi palsu. Tapi sekarang semakin dirasakan semakin sakit saja.


Dia ingin berdiri untuk memanggil suaminya tapi tubuhnya yang akhir-akhir ini dirasakan lemah semakin kesakitan. Dia hanya bisa meringkuk di ranjangnya menunggu suaminya datang dengan sendirinya.


Dia mencoba meraih ponselnya yang ada di nakas samping ranjangnya tapi terlalu kesulitan. Sakit perutnya semakin kencang dan tak tertahankan.


"Sayang..." lirih Kalila lemah dan tentu saja tak terdengar dari luar.


Ponselnya dapat diraih dan segera menghubungi suaminya, sayangnya ponselnya tergeletak di nakas samping ranjangnya di sisi lain. Kalila semakin frustasi, mencoba bangun dari tempat tidur.


Dan tak disangka pelayan yang hendak mengantar makanan yang diminta tuannya tiba dan melihat nyonya majikannya kesakitan segera menghampirinya setelah meletakkan nampan yang dibawanya.


"Cepat beritahu tuan, nyonya sepertinya hendak melahirkan."


"Iya." jawab teman pelayan yang sama-sama wanita itu. Dia langsung berlari.


"Kalian siapkan mobil, agar tuan tak terlalu marah karena kita terlambat mengetahui keadaan nyonya yang sudah sangat kesakitan."


"I..iya." mereka langsung berlari ke garasi mobil menyiapkan mobil, mereka lebih takut dibentak tuannya yang tanpa belas kasihan jika itu sudah menyangkut nyonya majikannya yang sangat dicintainya itu.


"Nyonya... nyonya tak apa, nyonya bertahanlah!" seru pelayan yang memberikan perintah tadi mendekati nyonya majikannya.


"Sakit...sa..ngat...sa...kittt..." jawab Kalila mulai lemah.

__ADS_1


Theo membuka pintu kamarnya dengan kasar saat pelayan memberitahu kalau istrinya sedang kesakitan hendak melahirkan. Tanpa basa-basi Theo segera menutup meeting onlinenya sepihak karena sudah tak sabaran.


Perasaan bersalahnya meninggalkan istrinya di kamar sendirian terus menghantuinya.


"Tuan, nyonya pingsan." beritahu pelayan yang menolong istrinya.


"APA!!" Theo berteriak dengan wajah menakutkan siap untuk menelan semua orang yang ada disitu.


"Cepat siapkan mobil!" seru Theo menatap istrinya.


"Sudah disiapkan tuan."


"Kita ke rumah sakit segera. Bawa apa yang perlu dibawa!" seru Theo disela kekhawatirannya.


Theo segera masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan pengawalnya dan pintu mobil sudah dibuka salah seorang pelayan.


"Kalian salah satu ikut!" seru Theo pada pelayan yang berkerumun membantu majikannya dan yang panik dan khawatir tentang nyonya majikannya.


"Baik tuan." jawab pelayan yang sejak tadi mengikuti dari dalam kamar masuk ke depan di samping sopir.


**


Tak lebih dari satu jam, mobil memasuki halaman rumah sakit. Theo yang sudah menyuruh pelayan tadi menghubungi dokter kandungan pribadi istrinya yang sedang bertugas di rumah sakit langsung menyiapkan segala sesuatunya di rumah sakit.


Dan dia sudah minta tolong pada asisten perawat untuk menunggu kedatangan pasiennya yang sedang dalam perjalanan. Brankar yang sudah disiapkan segera didekatkan pada mobil pasiennya yang sudah turun.

__ADS_1


Theo dengan wajah penuh kepanikan dan kecemasan ikut mendorong brankar itu menuju kamar bersalin.


"Dokter tolong anak dan istriku, dia sudah pingsan sejak tadi." pinta Theo memelas penuh permohonan dalam rasa yang panik dan cemas.


"Tentu pak, kita akan menolong semaksimal mungkin." dokter itu pun segera masuk ke dalam memeriksa keadaan istrinya. Setelah beberapa menit dokter itu keluar lagi. Theo segera menghampirinya.


"Kita harus melakukan operasi cesar, karena tubuh istri anda lemah untuk melakukan melahirkan normal." sesaat Theo teringat ucapan istrinya yang menginginkan kelahiran normal, tapi sekarang keadaan sedang darurat.


"Lakukan yang terbaik untuk anak istri saya, apapun itu asal mereka selamat!" putus Theo, rasa frustasinya memaksanya untuk segera menindaklanjuti demi menyelamatkan keduanya.


"Silahkan urus berkas laporan perizinannya!" ucap dokter itu yang diangguki Theo dan segera mengikuti salah satu perawat yang ditunjuk dokter.


"Silahkan tanda tangan disini dan disini pak." ucap perawat itu, Theo langsung saja menandatanganinya tanpa membaca karena baginya keselamatan kedua nyawa mereka adalah segalanya.


Setelah mengurus tanda tangan, dia segera kembali di depan ruangan bersalin istrinya. Mondar-mandir di depan pintu, bergerak gelisah kesana-kemari menunggu dengan cemas.


"Theo..." seru seorang wanita yang baru datang.


bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2