
Hari sudah mulai sore, Kalila mengajak suaminya kembali ke hotel karena merasa sudah cukup belanjanya.
"Kita mampir makan dulu?" tawar Theo saat perjalanan kembali ke hotel.
"Kita makan di kamar saja sayang, aku lelah, aku ingin tidur." keluh Kalila menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil memejamkan mata.
"Baiklah." jawab Theo lembut mengelus pipi istrinya yang tetap tak membuka matanya meski suaminya membelai bibirnya juga.
Mungkin karena seharian ini Kalila berkeliling kesana-kemari di tempat oleh-oleh tadi. Dan Theo hanya tersenyum senang melihat wajah kelelahan istrinya.
Sesampainya di parkiran hotel.
"Sayang, kita sudah sampai?" ucapa Theo menoel-noel pipi istrinya mencoba membangunkannya karena ternyata Kalila tertidur pulas.
Tapi Kalila tak bergeming, membuat Theo tersenyum, berpikir untuk mengerjai istrinya. Tangannya sudah mulai merambat masuk ke dalam dress bawah Kalila mengusap pahanya, terus masuk ke dalam celana dalamnya, mengusap lembut inti istrinya yang dijawab desahan lembut dari bibir istrinya tanpa membuka matanya. Theo meneruskan belaiannya, istrinya semakin keenakan.
"Shit..." Theo mengumpat nikmat, bukan hanya istrinya yang melenguh, tapi 'adik kecilnya' ikut sesak di bawah sana. Theo tak mungkin 'menyerang' istrinya di situ. Theo menarik tangannya keluar dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya.
"Aku akan menggendongmu ke kamar jika kau tak bangun." Kalila sontak bangun dan membuka matanya, seperti ada yang berbisik di telinga membuat wajah Kalila memerah, Kalila menatap suaminya yang tertawa melihatnya.
"Kau sungguh-sungguh tak mau kugendong ya?" goda Theo membuat Kalila cemberut yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya setelah terkejut bangun dari tidurnya. Kalila segera turun dari mobil diikuti Theo. Mereka mengambil belanjaan di bagasi mobil.
__ADS_1
Mereka berada di parkiran mobil. Theo menarik pinggang istrinya posesif tak mau siapapun menatap istrinya lapar. 'Adik kecilnya' semakin sesak saja, saat tubuh istrinya menempel intens di tubuhnya.
"Kalila..." sapa seorang pria dari arah dalam hotel saat mereka muncul di pintu depan masuk gedung hotel.
Kalila menghentikan langkahnya begitu juga Theo, yang tersentak tak percaya siapa yang ada di hadapannya kini. Bukan menatapnya tapi menatap istrinya intens, dengan mata berbinar kerinduan.
Theo mengepalkan tangan kanannya yang memegangi kantong belanjaan mereka sedang tangan kirinya menarik pinggang istrinya semakin menempel padanya, menunjukkan kepemilikan pada kakaknya.
Ya, Derrick yang tiba-tiba muncul di hadapannya kini. Entah kenapa mimpi Theo beberapa waktu lalu terlintas dalam benaknya, saat istrinya berbalik meninggalkannya pergi bersama kakaknya. Theo segera mengendalikan kecemburuannya.
"Kakak... sedang apa disini?" tanya Theo dengan tatapan penuh selidik.
"Ah, kakak sedang mengurus perusahaan cabang yang disini, papa meminta kakak mengurus masalah yang ada disini, sekaligus menemui klien yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita." jelas Derrick menatap Theo walau sesekali melirik pada Kalila dan pegangan tangan Theo di pinggang Kalila pun tak luput dari tatapan Derrick dan segera mengalihkannya menatap Theo.
Kalila yang masih terdiam hanya mendengarkan perbincangan kedua kakak beradik yang juga pernah mengisi hatinya dulu, meskipun sekarang perasaan itu hanya masa lalu baginya. Kalila menatap Theo karena mendengar suara berat Theo mengisyaratkan kecemburuan.
Kalila merasa bersalah karena belum menceritakan tentang masa lalunya pada Theo, meski percakapan kedua kakak beradik itu seolah sudah mengetahui hubungannya dulu dengan Fredy atau Derrick.
"Baiklah kak, istriku sudah lelah karena jalan-jalan tadi. Kami harus kembali ke kamar agar Theo junior segera hadir di perut istriku." ucap Theo tersenyum puas beralih menatap istrinya mengelus lembut perut istrinya.
"Tentu. Silahkan!" jawab Derrick beralih menatap Kalila yang juga menatapnya meski langsung beralih menatap Theo.
__ADS_1
"Tentu." jawab Kalila disertai anggukan kepala.
Theo menarik istrinya menuju lift hotel yang sepi. Mereka masuk ke dalam lift yang hanya ada mereka berdua saja. Setelah pintu lift tertutup, Theo langsung ******* bibir istrinya liar. Kalila yang belum siap terpundur menubruk dinding lift mengimbangi 'serangan' suaminya.
Kalila menyadari sesuatu terjadi pada suaminya dan itu adalah kecemburuan. Kantong belanjaan mereka pun bukan penghalang untuk menunjukkan kemesraan mereka saat itu.
Bunyi ting, tanda lift terbuka di lantai 5. Kalila segera mendorong dada Theo untuk melepasnya. Theo pun segera melepas ciuman dalamnya, mereka mengingat tempat mereka saat ini. Kalau saja bukan di dalam lift, Theo pasti sudah menelanjangi istrinya untuk dibuatnya mendesah kembali di bawahnya. Tapi Theo harus menahan itu sebentar sampai ke kamar hotel mereka.
**
Derrick menatap kepergian mereka dengan perasaan campur aduk, di satu sisi adalah adiknya yang merupakan saingan cintanya. Dan di sisi lain dia masih sangat mendamba untuk memiliki Kalila, Derrick bahkan tak bisa berpikir apakah dia harus nekat mengambil Kalila dari adiknya sendiri. Derrick membuang nafas berat.
bersambung
Beri like, rate dan vote nya
Mohon dukungannya
Makasih 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.