Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 7


__ADS_3

Sudah 3 bulan berlalu, Kalila tak pernah bertemu Theo. Kalila juga berangkat dan pulang kerja seperti biasanya. Tidak sembunyi-sembunyi untuk menghindari siapapun bahkan Theo sekalipun, malah Theo tak pernah menampakkan batang hidungnya sekalipun di rumah Kalila.


Aksa bilang mereka sibuk magang setelah wisuda. Mungkin ini lebih baik, batin Kalila pagi itu. Udara pagi begitu sejuk, Kalila memilih turun dari taksi agak jauh dari gedung kantor untuk berjalan kaki. Sambil menikmati udara sejuk di pagi hari.


"Kal!" seru Dina mendekati Kalila yang baru turun dari taksi.


Dina jalan kaki dari tempat kost an, untuk menghemat biaya ongkos kendaraan dia memilih kost di dekat gedung kantor tempatnya bekerja.Kalila menoleh.


"Tumben jalan, turun disini lagi?" tanya Dina sambil berjalan bersisian bersama.


"Mau jalan kaki, udaranya sejuk.." jawab Kalila.


"Eh, udah dengar kabar belum?"


"Kabar apa emang?" tanya Kalila penasaran.


"Katanya ada wakil Presdir baru yang mau menggantikan posisi Presdir?"


"Oh, kalau itu aku juga dengar," sahut Kalila.


"Yah .gak asyik kamu kal, katanya wakil Presdir itu tampan sekali, dia juga masih bujang Lo, blasteran lagi...ah kamu udah punya pak Iwan mana tertarik..." ucap Dina lebay. Kalila hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Lagian jangan berharap mendekatinya apalagi anaknya Presdir, belum apa-apa sudah disingkirkan," telak Kalila.


"Yah, setidaknya bisa untuk cuci mata melihat cowok tampan kan, lagian idola no 1 kami udah kamu dapatkan, gak ada yang dikagumi lagi dong ," ucap Dina masih lebay meng-hallu.


Kalila hanya tersenyum geli melihat tingkah Dina, temannya Dina memang seperti itu lebay, caper, ceria dan cantik.


Semua pegawai kantor berjajar rapi di depan gedung menyambut Presdir mereka yang datang berkunjung bersama putranya untuk menggantikannya sementara. Kalila yang kebelet ke toilet tak bisa ikut berbaris melewatkan acara itu.

__ADS_1


Setengah jam mereka menunggu, iring2an mobil datang, pintu mobil belakang dibuka keluar pria paruh baya sudah berumur berkulit putih, berkebangsaan keturunan asing yang sudah sukses mempunyai banyak bisnis di kota ini, perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata Harrison company.


Diambil dari nama Presdir itu Jhoni Harrison. Memiliki banyak cabang perhotelan di kota-kota besar di negara ini. Para wartawan yang ikut menyambut untuk meliput berita tak kalah antusias mengarahkan blitz kamera ke arah pria paruh baya itu.


Di pintu berlawanan keluar pemuda tampan masih muda, putra Presdir yang katanya akan mewakili menggantikan Presdirnya, Brian Theodore Harisson, putra kedua presdir.


Kamera blitz wartawan tak berhenti mengarahkan pada mereka saat mereka berdiri berjajar hendak masuk ke gedung kantor. Semua karyawan kantor perempuan terkesima, terpesona pada ketampanan wajah putra Presdir itu.


Wartawan dilarang masuk setelah Presdir dan putranya masuk ke gedung. Kalila yang baru datang dari toilet penasaran melihat keantusiasan para karyawan perempuan itu.


Kalila berusaha berjinjit melihat putra Presdir yang membuat semua temannya terpesona, tapi tetap tak bisa terlihat. Kalila mencoba maju ke depan tak ada celah, akhirnya menyerah di belakang.


Setelah 2 jam kehebohan para karyawan perempuan, mereka mulai bekerja seperti biasa kembali ke tempat masing-masing, masih membahas tentang ketampanan putra Presdir.


"Eh,siapa tadi namanya wakil Presdir baru itu," celetuk seseorang teman Kalila. Kalila hanya cuek menggelengkan kepalanya.


"Brian Theodore Harisson, itu namanya," sahut Dina ikut-ikutan menyela.


Kalila terdiam, menghentikan ketikan jarinya di atas keyboardnya.


"Siapa tadi kau bilang, Din?" tanya Kalila masih belum yakin.


"Brian Theodore Harisson, kau bilang tak tertarik pada putra Presdir..." sela Dina.


"Lihat...aku coba googling...kamu baca deh..." spontan Kalila langsung menyahut ponsel Dina dan membacanya, gambarnya terpapang wajah Theo.


Theo teman adiknya yang sering menginap di rumahnya, Theo yang pernah menyatakan cinta padanya. Dilihatnya sekali lagi untuk meyakinkan Kalila. Kenangan masa lalu dirinya dengan Theo terlintas seperti kaset rusak, sekarang Kalila tau bagaimana Theo bisa sering lewat jalan ini, menjemputnya pulang kerja.


"Kamu kenapa sih Kal?" tanya Dina heran melihat antusias Kalila.

__ADS_1


"Ah, tidak sepertinya aku salah mengira dia orang yang kukenal..."


"Gak mungkinlah, secara dia katanya baru pulang dari luar negeri, kuliah disana, masa kamu kenal?" kata Dina, diikuti yang lain, manggut-manggut.


"Sudah waktunya kerja! Jangan ngobrol saja!" bentak Bu kepala bagian. Semua ngacir ke tempat masing-masing.


Kalila masih dalam lamunannya mengingat setiap diri Theo, pulang dari luar negeri? Bukannya dia kuliah dengan Aksa disini di kota ini, berarti kan gak kuliah di luar negeri, batin Kalila. Ah, jadi selama ini Theo berbohong, tapi aku juga tak pernah bertanya, ah, semakin tak mungkin juga hubungan kami, kau terlalu tinggi untuk kuraih, batin Kalila lagi membuyarkan lamunannya mulai mengerjakan pekerjaannya.


Pulang kerja tim Kalila keluar bersama dari ruang kerja. Kalila pulang terakhir, masih harus menyelesaikan laporan akhir bulannya pada kepala tim. Setelah 1 jam Kalila bersiap untuk pulang, menaiki lift turun sendiri. Bunyi ting tanda pintu lift terbuka, Kalila keluar dari lift.


Dari arah lift khusus executive muncul 2 orang berpapasan dengan Kalila. Kalila menatap pria itu, Theo dengan pakaian jas formalnya sungguh tampan semakin menawan. Ah, Kalila mulai sadar diri siapa dirinya. Kalila membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada atasannya.


Tangan Theo yang hendak menyapa Kalila menggantung di udara mengurungkan niatnya untuk menyapa. Bagaimanapun ini masih di kantor, Theo mencoba menjaga wibawanya dihadapan sekretarisnya yang berdiri di belakangnya.


Tapi sudah sepi kantornya, pasti sudah banyak yang pulang. Terlihat sorot mata kecewa pada Kalila. Ah, aku tak pernah mengatakan tentang diriku padanya, apa dia kecewa padaku? batin Theo. Diliriknya pada jari tangan manis Kalila, terdapat cincin, seketika Theo menghela nafas mengontrol emosinya.


Setelah 3 bulan lalu Kalila menolak perasaannya, Theo bertekad untuk menunjukkan kerja kerasnya. Mengambil magang kilat di perusahaan papanya di luar negeri agar segera pulang menggantikan posisi papanya dan membuktikan bahwa semua usahanya untuk memperjuangkan Kalila, tapi seolah sia-sia.


Di jari manis tangan kiri Kalila terpasang cincin lamaran dari kekasihnya. Theo beranjak pergi meninggalkan Kalila. Kalila masih diam, tak beranjak dari tempatnya, dirinya masih menata hatinya. Tekad dirinya untuk melupakan perasaannya pada Theo hampir saja goyah jika Theo mencoba untuk menyapanya, tapi saat berpapasan tadi Theo seperti orang yang tak mengenalnya, bahkan menyapapun tidak.


Kini tekadnya untuk melupakan Theo dan akan menerima lamaran Iwan semakin kuat, Kalila akan berusaha mencintai Iwan walau sulit, itu lebih baik daripada berusaha menggapai sesuatu yang tidak akan mungkin kesampaian.


bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2