Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Episode 59


__ADS_3

Theo membawa pulang istrinya setelah dinyatakan sehat meski kadang masih merasa tubuhnya gemetaran jika teringat kejadian itu. Theo berusaha membuat istrinya senang dan berusaha membuat lupa karena tidak baik juga untuk kesehatan janin mereka.


Kalila menatap sekeliling halaman rumah tempat sopir mereka menghentikan mobilnya.


"Ini rumah siapa?" tanya Kalila lembut dengan senyum yang dipaksakan.


"Rumah kita. Ayo kita turun?" jawab Theo tersenyum manis, membuka pintu mobil untuk Kalila.


Theo mengulurkan jemari tangannya yang diraih Kalila agak ragu. Kalila menatap rumah mewah bak istana itu. Seperti rumah impiannya. Dulu Kalila pernah mempunyai mimpi akan punya rumah seperti ini dan entah dari mana Theo tahu tentang impiannya itu.


"Ini seperti rumah impianku, banyak bunga dan taman." ucap Kalila tersenyum benar-benar senang. Suaminya benar-benar mengabulkan impiannya.


"Aku tahu. Ayo masuklah!" ajak Theo menggenggam jemari tangan istrinya dan menariknya masuk.


"Dari mana kau tau?" tanya Kalila keheranan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, jadi aku tahu semua tentangmu bahkan semua mimpi-mimpimu. Dan satu persatu aku akan mengabulkannya." ucap Theo berbalik menghadap istrinya, menangkup kedua pipinya dan mencium bibir itu sekilas, meski sesaat Theo merasa bibir itu menegang.


Dokter menyarankan untuk menunjukkan kasih sayang yang tulus pada istrinya agar segera melupakan semua ingatan buruk yang dialaminya meski perlahan. Sontak hal itu membuat Kalila mundur ke belakang karena kaget dan sedikit takut. Wajah Theo langsung pias kecewa saat melihat reaksi ketakutan dari istrinya. Tapi segera ditepisnya perasaan itu agar tak membuat istrinya tidak kecewa.


"Ayo!" ajak Theo mengulurkan jemari tangannya mengajak masuk ke dalam meski Kalila menatap jemari tangan itu ragu dan takut.


Kalila meraihnya dan menatap wajah Theo yang memancarkan perasaan cintanya yang begitu besar walau terdapat sedikit semburat kesedihan sekilas. Theo menarik perlahan jemari itu, menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah baru mereka.


"Selamat datang tuan, selamat datang nyonya." sapa para pelayan yang sudah berjajar rapi dari pintu masuk yang mungkin lebih dari sepuluh orang yang kanan para pelayan pria dan kiri pelayan perempuan dan banyak para penjaga yang lebih mirip pengawal yang mungkin kurang lebih dua puluh lima orang yang padahal tadi di luar masih ada yang berjaga dan termasuk yang mengawal mereka tadi dari rumah sakit.


"Jangan pedulikan mereka, aku hanya ingin kau nyaman dan aman." jawab Theo tersenyum lembut.


Mata Kalila berkaca-kaca terharu mendengar perkataan suaminya yang sangat mencintainya.


"Terima kasih... terima kasih..." bisik Kalila lirih menutup wajahnya dengan kedua tangannya menangis membuat hati Theo seperti tercubit sakit. Theo segera mendekap tubuh istrinya itu yang sudah tak terlalu tegang mendapat perlakuan lembut darinya.

__ADS_1


"Kita ke kamar kita?" ajak Theo dengan nada lembut dan tenang setelah istrinya menangis terisak dalam dekapannya. Kalila hanya mampu mengangguk tak berani memperlihatkan wajah hancurnya karena tangisan tadi.


Theo yang langsung paham, langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style yang dijawab teriakan malu dari suara istrinya.


"Turunkan aku!" teriak Kalila menyembunyikan wajahnya di dada bidang Theo yang tersenyum gemas melihat istrinya tersipu malu.


**


Di ruang ICU. Suara mesin pendeteksi jantung tiba-tiba bergaris lurus, membuat semua dokter jaga bersiaga menghampiri pasien yang kritis itu. Orang tua Theo tampak cemas melihat keadaan Derrick yang sedang kritis. Ya, Theo tak mempedulikan keadaan kakaknya yang sekarang entah hidup atau mati.


bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2