Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 45


__ADS_3

Theo baru selesai meeting, dia melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 2 siang. Dia terlambat makan siang, dia juga lupa menghubungi istrinya untuk mengajaknya makan siang dan lagi ponselnya ketinggalan pula di meja ruang kerjanya.


Theo tak mungkin meninggalkan meeting nya yang lagi panas-panasnya meminta pertanggung jawaban pada bagian yang bersangkutan hanya untuk mengambil ponselnya di meja ruangannya.


Setelah keluar ruang meeting, Theo kembali ke ruangannya.


"Pak Theo, istri anda sudah menunggu sejak satu jam lalu lebih di dalam ruangan bapak dan...." belum selesai Dewi menyampaikan pesannya sudah dipotong Theo dengan senyum manisnya.


"Benarkah?" Theo langsung nyelonong masuk ke dalam ruangannya dengan tak sabar, sebelum masuk Theo sempat bicara lagi pada Dewi.


"Mbak, nanti setelah istriku keluar ruangan, bawakan laporan hasil meeting hari ini ya?" ucap Theo langsung masuk tanpa menunggu jawaban Dewi, sekretarisnya.


Tapi, niat hati ingin mengejutkan istrinya dengan kedatangannya tapi malah terkejut melihat istri dan kakaknya berduaan di dalam ruangannya. Dan sesaat dia sempat melihat kakaknya menyentuh istrinya meski istrinya berusaha menepis dan menghentakkan tangan kakaknya dengan kasar.


"Apa... yang kalian lakukan berdua disini?" tanya Theo dengan tatapan tajam dan dingin menatap kakaknya.


Kalila hanya diam, salah tingkah dan serba salah. Dia ingin menjelaskan, tapi suaminya belum tentu akan percaya. Apalagi sorot mata Theo menunjukkan kemarahannya. Kalila sudah pasrah, pembelaan apapun sekarang dirasa percuma. Kalila sudah lebih baik mengenal suaminya meski baru beberapa hari menjadi istrinya, Kondisi emosi Theo masih tinggi.


Dijelaskan langsung seperti apapun, dia akan semakin marah. Kalila harus menunggu beberapa saat setelah mereka hanya berdua saja. Dan Kalila pasrah akan perlakuan Theo nanti. Meski Theo akan mengasarinya saat menuntaskan hasratnya karena cemburu nantinya.


"Aku... baru beberapa menit datang. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Tentang kejanggalan yang terjadi di perusahaan cabang denganmu. Tapi kau..."


"Bisa tinggalkan kami berdua dengan kakakku?" sela Theo menatap istrinya dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.


"Baiklah." jawab Kalila meninggalkan ruangan suaminya.


Kalila hanya menurut tak banyak bicara. Derrick menatap Kalila merasa bersalah dan masih setia menatap punggung Kalila yang menjauhi mereka dan Theo melihat itu semua dengan sebal.


"Duduklah kak!" perintah Theo malah dia yang lebih dulu duduk di sofa utama di ruangannya.

__ADS_1


"Theo, tak terjadi apapun pada kami." ucap Derrick menatap Theo menjelaskan yang terjadi tadi.


"Memangnya akan terjadi apa pada kalian kak?" jawab Theo menyindir menatap Derrick tajam dan dingin.


"Ah, kau benar kami adalah ipar." jawab Derrick terduduk di sofa dengan wajah sedih dan memilukan, tapi segera ditepisnya tapi Theo melihat itu semua.


"Tapi, kalau sampai terjadi sesuatu pada kalian, aku tak akan membiarkan itu terjadi." ucap Theo dengan nada yang terdengar mengancam menatap Derrick.


"Apa maksudmu?" tanya Derrick yang mendengar nada suara adiknya yang tenang tapi terdengar mengancam.


"Aku hanya berharap kakak melepaskan istriku. Sekarang dia adalah istriku kak, urus saja istri kakak sendiri." ucap Theo lagi masih menatap Derrick tak suka.


"Apa maksudmu? Kau sudah tau tentang kami?" tanya Derrick mengernyitkan keningnya penuh tanda tanya.


"Anggap saja begitu. Dan aku harap kakak bisa menjauh dari istriku. Dari kami berdua. Itu sangat membuatku tidak nyaman." ucap Theo dingin masih diikuti dengan senyum seringai. Derrick merinding melihat ekspresi adiknya. Theo yang dulu seperti muncul sesaat pada adiknya.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa?" tanya Derrick menantang menatap Theo tajam. Mereka pun saling melempar tatapan tajam dan dingin.


"Kurasa lain kali saja kita bicara." ucap Derrick meninggalkan ruangan adiknya.


"Aku tak akan tinggal diam kak, ingat itu." ucap Theo terakhir kalinya masih dengan nada mengancam.


Setelah beberapa menit, Theo berdiri membanting semua barang-barang yang ada di ruangan itu tak terlewatkan satu pun. Ruangannya kini sudah hancur berantakan, juga berkas-berkas yang entah penting atau tidak sudah berserakan di lantai ruangannya, bahkan ponselnya pun jadi korban.


Dewi yang mendengar sedikit suara berisik terkejut. Theo mengendurkan dasinya yang terasa sesak setelah menumpahkan kekesalannya.


"Mbak, tolong bereskan ruanganku! Dan Carikan aku ponsel baru. Aku pergi dan pekerjaan dilanjutkan besok saja." titah Theo langsung pergi dari situ.


Sementara di tempat lain.

__ADS_1


Kalila juga memutuskan pulang cepat, dia minta izin pada Kabag bagian timnya. Dan tentu saja Kabag mengizinkannya tanpa banyak bertanya. Kalila masa bodoh dengan itu semua, entah kenapa hatinya merasa tak enak dan tak tenang.


Kejadian di ruangan Theo tadi terlintas di benaknya. Theo seolah mengetahui tentang hubungannya dengan kakaknya. Kalila berniat ingin mengatakan semuanya pada suaminya. Bagaimanapun juga suaminya berhak tau tentang masa lalunya yang terjadi dengan kakaknya. Kalila akan pulang ke apartemen mereka, tapi panggilan ponsel dari ibunya mengurungkan niatnya untuk pulang.


"Ya bu." jawab Kalila menerima panggilan telpon ibunya.


"..."


"Baiklah. Aku kesana Bu?" ucap Kalila.


"..."


Kalila menutup ponselnya, dia mencari taksi menuju rumah sakit tempat adiknya dirawat. Theo melihat istrinya dan hendak memanggilnya, tapi istrinya keburu naik taksi, entah kemana.


Theo merogoh kantongnya mencari ponselnya. Sesaat dia teringat ponselnya ikut hancur saat dibantingnya semua barang-barangnya di ruangannya tadi.


"Shit..." Theo mengumpat kesal saat mengingat ponselnya tadi.


Dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi istrinya dan menuju mobilnya dan entah kemana tujuannya.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2