Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 44


__ADS_3

Theo dan istrinya pulang pagi-pagi sekali setelah ibu mertuanya datang ganti menjaga Aksa. Mereka harus pergi ke kantor untuk bekerja. Setelah sampai apartemen, Kalila mandi di kamarnya dan Theo mandi di kamar mandi lain.


Sebenarnya Theo mengajak mereka mandi bersama, tapi Kalila tau mandi bersama mereka tak hanya sebentar, pasti ada plus-plusnya dan itu malah semakin akan membuat mereka kesiangan untuk berangkat ke kantor.


Setelah selesai bersiap-siap, Kalila membuat sarapan sederhana untuk mereka. Saat sarapan selesai dibuat, Kalila melihat suaminya dari arah kamar sudah bersiap. Mereka pun sarapan bersama.


**


Kalila melirik jam tangan di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul 12 siang lebih. Tapi, ponselnya tak berdering sejak tadi. Biasanya suaminya sebelum jam makan siang selalu mengirimi pesan chat untuk mengajaknya makan siang bersama, tapi hari ini hingga jam 12 lebih suaminya belum menghubunginya.


Kalila mencoba mengirimkan pesan tapi masih belum di read. Kalila berinisiatif untuk melakukan panggilan pada ponsel suaminya tapi tak diangkat, berdering tapi tak diangkat.


Kalila duduk dengan gelisah di meja kerjanya, memikirkan kemungkinan yang terjadi pada suaminya, berharap suaminya tak ada apa-apa. Akhirnya Kalila mengirim pesan pribadi pada sekretaris suaminya, mbak Dewi.


"..."


"Apa suami saya sudah makan siang mbak?" tanya Kalila ragu, dia sebenarnya tak mau merepotkan sekretaris suaminya ini dalam urusan pribadinya, tapi Kalila bingung mau menghubungi siapa.


"..."


"Ah, aku sudah menghubungi ponselnya tapi sepertinya tak diangkat, apa dia sedang sibuk?" tanya Kalila lagi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"..." Kalila menunggu, sepertinya mbak Dewi masuk ke dalam ruangan suaminya.


"..."


"Ah, begitu ya, biar saja mbk, saya akan kesana menunggu di ruangannya. Makasih mbak?" jawab Kalila tersenyum senang meski tak bisa dilihat Dewi.


Dewi adalah wanita paruh baya yang dikerjakan sebelum Theo menggantikan posisi papanya dan Dewi sudah punya suami dan 2 anak. Karena pekerjaannya yang bagus. Theo tetap mempertahankannya.

__ADS_1


Kalila berjalan menuju kantin kantornya, memesan makanan dan minuman dua porsi yang akan dibawakan ke ruangan suaminya dan berencana untuk makan siang bersama setelah meetingnya selesai.


Kalila langsung dipersilahkan Dewi masuk ke ruangan dan Kalila masuk ke ruangan suaminya dan melihat sekeliling ruangannya. Dulu sebelum mereka menikah, Kalila tak memperhatikan dengan detail ruangan itu.


Ruangan itu tampak elegan dan mewah. Warna abu-abu dan hitam mendominasi setiap barang-barang dan warna dinding menunjukkan kesan seorang pria sejati. Kalila meletakkan kantong makanannya di meja tengah sofa, dia duduk menyiapkan makan siang mereka.


Hampir 15 menit Kalila menunggu, tapi belum ada tanda-tanda suaminya akan segera muncul. Kata Dewi, meeting hari itu akan sedikit lama, karena terdapat banyak kejanggalan yang ditemukan dan membuat sebagian pegawai akan terlambat makan siang termasuk suaminya.


Kalila meraih majalah yang terletak di sudut sofa yang memang dipersiapkan jika ada seseorang yang bosan saat duduk di sofa ruangan itu.


"Apa Theo ada mbak?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul di depan meja sekretaris Dewi.


Dewi yang memang makan siang disitu langsung gelagapan karena masih banyak makanan di dalam mulutnya.


"Ah, tuan Derrick." sapa Dewi sedikit menundukkan kepalanya memberi salam.


Kurasa tak apa, mereka kan ipar. batin Dewi meneruskan makan siangnya.


Derrick memasuki ruangan Theo, awalnya niatnya memang mau bertemu Theo untuk membahas masalah kejanggalan yang terjadi dalam perusahaan yang juga ditemukan kejanggalan pula di tempat cabang yang ditanganinya, sehingga Derrick ingin membahasnya langsung dengan sang adik.


Derrick belum menyadari jika ada orang lain juga di dalam ruangan itu. Derrick dengan santainya langsung menuju sofa dan dirinya pun sontak terkejut melihat Kalila tertidur pulas dengan menyandar pada sofa. Posisi Kalila duduk di sofa panjang dengan kepala menyandar agak serong di sandaran sofa itu.


"Ah, dia ada disini juga?' bisik Derrick, mendekati sofa yang diduduki Kalila hingga tertidur.


Derrick mendekat dengan hati-hati berharap agar tidak membangunkan Kalila dari tidurnya. Tapi, Derrick yakin Kalila tak akan bangun jika diusik begitu saja. Derrick mendekat menatap wajah yang dirindukannya itu. Derrick ingin merekam wajah Kalila di dalam ingatannya. Wajah cantik nan imut, yang dulu maupun sekarang dapat menggetarkan hatinya.


Tangan Derrick tanpa sadar terulur menyentuh pipi Kalila. Membuat hati Derrick menghangat. Senyum di wajahnya berkali-kali terbit menghiasi wajahnya. Seseorang yang ingin dilihat dan ditemuinya, kini malah tanpa sengaja bertemu di tempat yang tak dimungkinkan untuk bertemu.


Theo begitu posesif dan dibuat bagaimanapun caranya untuk tidak bertemu dengannya. Seolah Theo takut jika istrinya direbut olehnya. Seolah-olah Theo tau hubungan masa lalu dirinya dengan istrinya. Tanpa sadar Derrick semakin berani membelai seluruh wajah Kalila dengan lembut.

__ADS_1


Kalila yang sudah terlalu capek dan mengantuk karena menunggui Aksa semalam hanya menggeliat tanpa membuka matanya. Derrick sontak melepas belaiannya, menjauhkan tangannya melihat Kalila bergerak tapi tak membuka matanya.


Derrick kembali menyentuh sudut bibir Kalila, menyentuh bibirnya dengan lembut.


"Aku merindukanmu." bisik Derrick lirih, tak tahan dikecupnya bibir Kalila lembut, Derrick memejamkan mata menikmati kecupannya yang agak lama di bibir Kalila, wanita yang dicintainya dulu sampai sekarang.


Kalila merasakan lembut dan kenyal menyentuh bibirnya dan dia tanpa sadar mengira suaminya membalas ciuman itu dan membuka matanya perlahan dan sontak Kalila bangun dari duduknya dan langsung berjengat berdiri dari duduknya.


Kalila yang belum sepenuhnya bangun dengan jiwa yang masih belum terkumpul sepenuhnya, tubuhnya terhuyung ke depan yang segera refleks ditangkap Derrick. Kalila sontak mendongak menatap wajah Derrick dan mereka pun saling menatap satu sama lain.


Bersamaan dengan itu pintu ruangan terbuka entah siapa yang masuk membuat Kalila sontak mendorong tubuh Derrick ke belakang membuat Derrick terhuyung ke belakang meski tak sampai jatuh.


"Apa... yang kalian lakukan berdua disini?" tanya Theo setelah masuk ke ruangannya melihat istrinya dan kakaknya berada berdua di dalam ruangannya.


Seketika tangan Theo mengepal erat, menatap keduanya dengan dingin dan tajam.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2