Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 38


__ADS_3

Theo menghampiri istrinya yang membantu pelayan rumah itu membereskan meja ruang keluarga yang baru saja selesai untuk arisan ibu-ibu teman-teman Kartika. Theo menatap istrinya lekat, yang sibuk bolak-balik dari dapur ke ruang keluarga begitu juga sebaliknya membawa barang-barang untuk acara tadi.


Theo berdiri memperhatikan dari pintu masuk dapur. Saat agak lama istrinya meletakkan piring-piring yang dibawanya. Theo mendekap tubuh istrinya dari belakang. Sontak wajah Kalila memerah mengingat keberadaan mereka di dapur rumah orang tua Theo, apalagi ada banyak pelayan yang masih hilir mudik ikut membereskan sisa-sisa acara tadi.


"Kita pulang sekarang?" bisik Theo yang menyerukkan kepalanya di tengkuk istrinya dengan nada parau. Kalila yang menyadari ada yang aneh dengan suaminya menghentikan kegiatannya.


"Aku selesaikan dulu, tinggal sebentar lagi." ucap Kalila lembut.


"Biarkan pelayan yang melanjutkan. Kita pulang sekarang." desak Theo dengan nada yang semakin gelisah.


Seperti sedang menahan rasa ketakutan. Kalila berbalik menghadap suaminya, melepaskan pelukan suaminya. Tapi suaminya malah ganti menyerukkan wajahnya ke lehernya. Kalila hanya menghela nafas.


Pelayan yang mondar-mandir ke dapur tak terlihat batang hidungnya sama sekali seolah memberikan waktu luang untuk mereka berduaan. Wajah Kalila semakin memerah malu membayangkan para pelayan yang peka untuk menghindari mereka.


"Kita pamit mama dulu?" ucap Kalila akhirnya.


Theo mengangguk menurut langsung berpaling tanpa memperlihatkan wajahnya yang entah kenapa membuat Kalila semakin penasaran dan cemas. Entah kenapa Kalila merasa dadanya berdegup kencang.


Mereka menuju kamar Kartika yang tadi menuju kamar setelah acara.


Tok tok tok


"Ma..." seru Kalila mengetuk pintu kamar Kartika.


"Iya nak." jawab Kartika berseru dari dalam berjalan membuka pintu kamarnya.


"Kami pamit mau pulang dulu. Acaranya juga sudah selesai." pamit Kalila tersenyum manis.


"Ah, terima kasih sayang, mama tadi baru selesai mandi dan ganti baju. Sudah lengket badan mama jadi mandi sekalian." jawab Kartika berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga yang sudah bersih seperti sedia kala seolah tidak pernah terjadi apapun pagi tadi, karena pelayan membereskan dengan cepat.


"Iya ma." ucap Kalila.

__ADS_1


"Dimana suamimu?" tanya Kartika celingukan mencari keberadaan Theo.


Kalila juga heran, padahal tadi dia mengikutinya hingga ke kamar mama. Tapi entah dimana dia sekarang.


Tidak lama Theo muncul dengan wajah yang lebih segar mungkin selesai cuci muka.


"Hati-hati pulangnya?" nasehat Kartika menatap Theo yang mendekati mereka.


"Tentu ma." jawab Theo dengan senyuman seperti biasanya, seolah perkataannya di dapur tadi tak pernah terjadi.


"Bagaimana? Ada kabar baik belum?" tanya Kartika antusias melirik Theo dan berganti melirik perut Kalila.


"Baru beberapa hari ma?" jawab Kalila yang paham maksud Kartika tersipu malu.


"Ya, siapa tahu. Jangan menundanya ya? Mama mau segera melihat cucu dari putra bungsuku." goda Kartika tersenyum malu.


"Kan sudah punya cucu ma?" balas Theo tersenyum.


"Mereka kalau urusan disini akan balik ke Belanda dan cucu mama juga akan ikut kan?" sedih Kartika pura-pura, meski dia sebenarnya juga benar-benar sedih.


Kamila melintasi mereka yang sedang berbincang setelah dari dapur tampak membawa minuman di botol ikut duduk di sofa ruang keluarga. Theo segera berdiri.


"Ayo sayang, kita pulang." ajak Theo, setelah kejadian beberapa waktu lalu, Theo jadi canggung di rumah itu. Dia ingin segera pergi dari situ.


"*Kakakmu sudah tak pernah menyentuhku setelah aku melahirkan Sovia, meski aku merayu dan memohon padanya." curhat Kamila, saat Theo menyentak pelukannya.


"Itu, bukan urusanku kak?" jawab Theo hendak keluar kamar, tapi...


" Suamiku masih mencintai wanita masa lalunya." ucap Kamila lagi membuat Theo menghentikan langkahnya tanpa membalikkan tubuhnya.


Theo masih diam membuat Kamila meneruskan kalimatnya lagi.

__ADS_1


"Awalnya aku tak tau siapa dia? Kupikir selama dia tak ada disisinya aku bisa memenangkan hatinya. Tapi setelah kami pulang kemari, sekarang aku tau siapa wanita itu?" ucap Kamila lagi.


"Aku tak peduli. Itu urusan kalian sebagai suami istri. Kenapa kakak ipar menceritakan semuanya padaku." jawab Theo masih membelakangi Kamila hendak memegang handel pintu membukanya.


"Bagaimana tidak menjadi urusanmu? Kalau wanita masa lalu suamiku adalah istrimu. Awalnya kukira kebetulan saja namanya sama, tapi saat sorot tatapan kerinduan terdapat pada mata suamiku saat menatap calon istrimu, hatiku rasanya sakit, sakit sekali. Meski kami pernah berhubungan intim, setiap pelepasan dia selalu menyebutkan nama orang lain karena kami berhubungan dalam keadaan dia mabuk. Dan kenapa harus nama istrimu? Aku berharap itu hanya sekali dua kali dia menyebut nama itu dalam setiap pelepasannya tapi, setiap kali berulang kali kami berhubungan intim, hanya nama Kalila Kalila dan Kalila dalam benaknya, dalam mabuknya juga seperti itu. Pasti saat dia berhubungan intim denganku juga membayangkan wajah Kalila..."


"Cukup kak... Hentikan!" Teriak Theo membuat Kamila bukannya terdiam malah semakin berteriak mengeluarkan semua emosinya.


"Padahal aku sudah berusaha mencintainya, menerima dirinya meski saat pelepasannya selalu menyebut nama orang lain. Tapi saat aku tau wanita itu adalah istrimu, suamiku semakin berani dan terang-terangan menolakku dan bahkan mengancam akan menceraikan aku." teriak Kamila.


Theo langsung meninggalkan kamarnya, baginya sudah cukup mendengar itu semua dan sudah tak mau lagi mendengar istrinya dijadikan alasan rumah tangga mereka berakhir.


Theo mengepalkan tangannya menahan amarahnya, dia tak terima. Istrinya dijadikan fantasi kakaknya saat berhubungan intim dengan istrinya. Meski hanya difantasikan Theo sangat marah dan cemburu. Tapi, istrinya tak tau apa-apa.


Entah kenapa istrinya tak segera menceritakan tentang masa lalunya tentang hubungannya dengan kakaknya dulu. Theo berjalan cepat menghampiri istrinya yang sibuk membantu para pelayan membereskan meja ruang keluarga*.


"...yang.." Kalila menyentuh lengan suaminya yang sedang fokus menyetir dan entah kenapa Theo jadi pendiam setelah pulang dari rumah Kartika. Seperti ada yang sedang dipikirkannya dan itu bukan hal sepele.


"Sayang..." seru Kalila lagi menyentuh lengan suaminya.


"...ya..." jawab Theo gelagapan, dia memang sedang melamun, mengingat kembali ucapan kakak iparnya tadi.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2