
Pulang kerja setelah weekend kemarin, Kalila sepakat dengan teman satu tim kantornya pergi bersama ke acara pernikahan Iwan. Upacara pernikahan yang diadakan di gedung pernikahan tak jauh dari gedung kantor tempat Kalila kerja.
Setelah jam kantor berakhir semua bersiap-siap untuk berangkat, tak lupa Kalila memoles sedikit wajahnya di toilet bersama rekan kerjanya yang lain. Kalila masih belum mulai memoles wajahnya menatap cermin toilet.
Saat semua orang sudah pamit setelah selesai memoles wajah mereka masing-masing, Kalila tersentak melihat dirinya belum apa-apa.
"Kita bahkan baru berhubungan, setidaknya biarkan kita terbiasa dengan diri kita masing-masing dan saling mengenal dulu."
"Maksutnya apa? Aku belum mengenalmu?Kamu lupa aku siapa? Aku teman Aksa, sahabat Aksa dan aku sudah mengenal baik siapa dirimu. Aku yang lebih dulu mencintaimu sejak dulu, sudah cukup bagiku untuk mengenalmu lebih baik dari siapapun, Kau adalah wanita yang aku cintai, wanita yang mampu mengusik hatiku, setiap aku memikirkanmu betapa hatiku sangat bahagia menginginkanmu selalu berada di sisiku," jelas Theo dengan nada kecewa.
"Bukan begitu Theo, aku...aku.. masih belum yakin dengan perasaanku? Aku..."
"Maksudmu kau belum mencintaiku atau kau masih meragukan perasaanku? Setelah apa yang kita lakukan selama ini apakah kau belum yakin tentang hubungan kita?" tanya Theo tak suka dengan perkataan Kalila yang menyepelekan perasaannya.
"*Bukan begitu Theo, bagaimanapun umur kita terpaut jauh, bisa saja kau suatu saat nanti menemukan seseorang yang mungkin bisa menggoyahkan hatimu yang masih labil dan belum dewasa..." ucap Kalila lirih di akhir kalimatnya takut menyinggung perasaan Theo.
Mereka yang sudah selesai makan, kembali duduk di bangku tepi tebing tempat mereka tadi. Terlihat Theo mengusap wajahnya kasar, mengusak rambutnya frustasi*.
"Aaarrg..." teriak Theo mengejutkan Kalila melihat Theo yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Theo..." bisik Kalila lirih sedikit takut.
"Jadi, kamu masih belum percaya padaku?Begitukah?" tanya Theo dengan nada sinis tersenyum getir, hatinya kembali merasakan sakit saat dianggap tak serius dengan perasaannya, tanpa menatap Kalila.
Kalila terlihat sedih melihat Theo kecewa dan tak mau bicara sambil menatapnya. Kalila menyentuh pundak Theo perlahan. Tapi Theo tetap tak mau menatapnya malah menundukkan kepalanya.
"Theo...maksutku...?"
"*Apa perasaanku kau anggap bercanda? Apa perasaanku kau anggap main-main? Kau anggap mainan? Hanya karena umur kita terpaut jauh? Dan kau pikir aku tipe pria yang dengan mudahnya jatuh cinta begitukah? Apa hanya karena umur yang kau permasalahkan?" sela Theo berbalik menatap Kalila.
Kalila menggeleng bukan itu maksutnya, dia percaya sangat percaya perasaan Theo tapi tapi Kalila sulit mengatakannya*.
__ADS_1
"Bukan..bukan..begitu Theo. Aku percaya. Aku tau tentang perasaanmu, tapi..."
"Tapi apa? Apa alasan yang membuatmu masih meragukanku?" seru Theo dengan wajah dingin dan tajamnya menahan amarahnya.
**
Dering ponsel Kalila mengagetkannya, segera diangkatnya ternyata Dina yang katanya mereka semua sudah menunggunya di depan gedung. Kalila segera memoles wajahnya dan segera berlari ke tempat mereka berkumpul.
Sejak pulang kencan kemarin Theo belum menghubungi Kalila lagi, Kalila juga tidak menghubungi dulu, bagaimanapun Theo sekarang seorang wakil Presdir pasti dia sibuk. Ya, tentu.. itulah yang dipikirkan Kalila sehingga Kalila tak menghubunginya lebih dulu takut Theo sedang sibuk.
Tapi tidak dengan Theo, Theo menunggu Kalila menghubunginya lebih dulu mungkin untuk meluruskan masalah mereka kemarin.
Setelah pulang kencan weekend kemarin tak ada percakapan apapun diantara keduanya. Mereka sama-sama memilih bungkam, mereka berpikir untuk memberi waktu pada masing-masing untuk berpikir ulang.
Tapi hingga sore hari waktu pulang kerja ponsel Theo tak ada panggilan atau pesan chat dari Kalila. Theo menghela nafas panjang.
"Tuan, pekerjaan saya sudah selesai untuk hari ini, saya mau undur diri pamit pulang," kata sekretarisnya.
"Oh, hari ini ada acara tuan. Semua karyawan sepakat untuk datang ke pesta pernikahan Iwan kepala bagian tim keuangan jam pulang kantor," jawab sekretaris Theo.
"Ah, begitukah? Semua karyawan?" tanya Theo meyakinkan diri, kalau semua karyawan berarti... Ah, kemarin Kalila bilang juga akan menghadiri acara pernikahan pria itu, batin Theo segera berdiri.
"Baiklah, aku ikut!"
"Ya? Apa? Tuan juga akan ikut hadir?"
"Kenapa? Apa aku tak diundang?"
"Tidak. Ah, tentu saja anda juga diundang."
Sekretaris itu mengikuti langkah wakil Presdirnya sambil mengetik chat obrolan grup karyawan perusahaan tentang kehadiran wakil Presdir mereka. Tentu saja grup obrolan tersebut langsung heboh banjir komentar para karyawan.
__ADS_1
Bahkan ada beberapa diantara mereka langsung berlari ke toilet lagi demi membenahi riasan wajah mereka untuk menarik perhatian wakil Presdir mereka yang sangat tampan. Kalila yang juga ikut obrolan grup karyawan perusahaannya juga terkejut, dia yang sudah sampai di gedung tempat pernikahan itu segera memberi selamat pada sepasang pengantin itu.
Kalila belum siap bertemu Theo pasca perselisihan mereka kemarin. Kalila beralasan sakit perut pada rekan-rekannya untuk pamit pulang.
Theo tiba 15 menit setelah Kalila pamit pada rekan-rekannya, sehingga tak sempat bertemu dengan Kalila. Setelah memberi selamat kepada mempelai, Theo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Kalila, tapi dicari kemanapun Theo tak menemukan keberadaan Kalila. Theo menghela nafas kecewa, sepertinya Kalila menghindarinya lagi.
Theo segera bergegas meninggalkan ruangan pesta dan pergi tanpa pamit siapapun, mengendarai mobilnya. Obrolan para karyawan yang berusaha menjilatnya tadi tak dihiraukannya sama sekali, entah kenapa dia malah semakin emosi.
Setir mobil itu dicengkeram kuat oleh Theo. Entah kenapa dia begitu marah saat tahu Kalila menghindarinya, Theo sungguh kecewa, apa perasaan Kalila hanya sebatas itu, tak sebesar perasaannya yang begitu takut kehilangan dirinya? batin Theo.
Diraihnya ponselnya begitu sampai di apartemennya untuk menghubungi Kalila tapi tak ada jawaban dari ponsel Kalila alias ponsel Kalila tidak aktif atau mati.
Theo semakin emosi membanting ponselnya ke kasur. Hari ini benar-benar dirinya sangat marah, sampai malas untuk pulang ke rumah memilih pulang ke apartemennya.
Selama ini Theo punya apartemen yang dibeli sendiri dari uang yang dihasilkan dari bermain saham, biarpun Theo putra seorang Presdir yang kaya, tapi tak membuat Theo bermalasan.
Uang jajan yang diberikan papanya digunakan untuk menanam modal di permainan saham dan terbukti memberikan keuntungan yang lumayan padanya. Meski apartemennya tak semewah milik orang kaya kebanyakan, tapi cukup mewah bagai pemuda yang mampu membeli dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.
Itulah sebabnya Theo sangat yakin untuk menikah dengan Kalila jika Kalila mau menerima lamarannya. Tapi Kalila masih meragukannya. Orang tuanya tak tahu atau tak mau mengurusi urusan anaknya mengenai apa yang diinginkan anak-anaknya. Bahkan apartemen itu belum ada yang tau selain dirinya dan Kalila.
bersambung
Mohon like dan rate nya...
Makasih 🙏🙏
Sekalian vote nya kak..
.
.
__ADS_1
.