Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 41


__ADS_3

Sudah sebulan sejak kejadian itu, Theo memutuskan untuk melupakan apa yang terjadi dengan kakak iparnya dan tidak menceritakan semua itu pada istrinya, toh itu tak akan pernah terjadi. Harus. Tekad Theo.


Theo meneruskan pekerjaannya seperti dulu menjadi wakil Presdir menggantikan posisi papanya di perusahaannya. Sedang Derrick kakaknya mengurus cabang bisnis yang ada di kota S. Agak jauh dari perusahaan tempat Theo pimpin. Sedang istri Theo, Kalila memutuskan untuk resign dari tempatnya bekerja dengan masih diminta untuk menyelesaikan pekerjaannya sampai dua bulan ke depan.


Dan penggantinya akan masuk dalam bulan ini. Tentu saja rekan kerja Kalila tidak bersikap seperti dulu. Meski Kalila mengatakan bersikap biasa saja, tapi mereka tetap membatasinya. Kalila mendesah kecewa, apa yang dikatakan Theo benar adanya, untung dirinya memutuskan untuk resign meski harus menyelesaikan sisa pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya sebelum dirinya memutuskan resign.


Ting... bunyi ponsel Kalila tanda pesan chat masuk.


'*Sudah waktunya makan siang, aku menunggumu di ruanganku.' isi pesan chat yang dikirim Theo pada Kalila.


'Baiklah. Biarkan kuselesaikan sepuluh menit lagi.' balas pesan itu.


'Aku merindukanmu.' balas Theo lagi.


'Aku juga.' balas Kalila, senyumnya selalu mengembang saat membaca pesan chat dari suaminya*.


"Pak, ada yang mau bertemu." ucap sekretaris Theo dari telpon kantor yang dihubungkan oleh sekretarisnya.


"Suruh langsung masuk." perintah Theo yang mengira bahwa istrinya yang datang.


Bukannya dia bilang akan datang sepuluh menit lagi? Apa dia mau memberiku kejutan? batin Theo tersenyum senang. Padahal sekretaris itu sudah tau siapa istriku kenapa dia selalu meminta izin untuk istriku. omel Theo dalam hati.


Cklek... suara handel pintu terbuka.


"Sayang ... kau sudah da...." Theo tak meneruskan kalimatnya, dia terkejut saat yang dilihatnya bukan seseorang yang diharapkannya.


Awalnya Theo ingin menyambut kedatangan istrinya ke ruangannya, tapi bukan dia yang mengejutkan tapi dirinya yang terkejut. Senyum Theo langsung hilang dan membuatnya kembali ke kursinya dengan wajah masam.


"Ada apa datang kemari?" tanya Theo masih dengan nada tak suka berusaha cuek untuk tak melihatnya, dia mengalihkan pandangannya mengerjakan berkas-berkasnya.


"Aku masih menginginkanmu." ucap Kamila mendekati kursi Theo yang didudukinya.

__ADS_1


Theo sontak langsung berdiri menghalangi jalan Kamila untuk berusaha menyentuhnya.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Theo tak suka dengan sorot mata tajam dan dingin.


"Kau bahkan menghindariku. Karena takut tergoda olehku." ucap Kamila santai masih berusaha mendekati Theo yang membuat Theo semakin menjauh tapi tubuhnya terhimpit meja kerjanya dan salah satunya jalan keluar adalah dimana tempat Kamila berdiri.


Theo bisa saja memperlakukan kasar pada Kamila, tapi Theo masih bersabar selama Kamila tak melebihi batasnya.


"Pergilah! Aku tak perlu menjawab perkataanmu." ucap Theo ketus masih menatap Kamila tajam.


"Aku menunggumu di hotel XX, jika kau tak datang akan kukirimkan video ini pada istrimu." ancam Kamila yang memundurkan tubuhnya, baginya sudah cukup untuk hari ini, dan Kamila akan menunggu kedatangan Theo disana.


"Video apa maksudmu? Jangan berusaha mengancamku." ucap Theo masih dengan nada tinggi, marah, masih menatap Kamila dengan dingin dan tajam.


"Kau bisa melihatnya di ponselmu, aku sudah mengirim padamu. Aku tinggal mengirim pada istrimu jika kau tak datang ke hotel yang kumaksud." ucap Kamila meninggalkan ruangan Theo dengan senyum seringai kemenangan, tak lupa dikecupnya pipi Theo yang tersentak reflek terpundur dari tempatnya, karena sambil melihat ponselnya yang berdenting tanda pesan masuk.


Di depan lift.


"Hai, adik ipar... apa kabar?" sapa balik Kamila dengan senyum penuh arti.


"Baik kak. Kakak, apa kabar juga?" tanya balik Kalila basa-basi.


"Aku sedang bahagia. Baiklah, aku sedang ada urusan lain. Sampai jumpa." ucap Kamila masuk ke dalam lift tak lupa tangannya melambai pada Kalila berpamitan dengan senyum seringai yang tak dilihat Kalila, Kalila hanya membalas lambaian tangan Kamila.


Tok tok tok


Suara pintu ruangannya diketuk, Theo yang masih shock setelah melihat video kiriman Kamila pada ponselnya. Theo mengusap wajahnya kasar, dia mondar-mandir di ruangannya, tak konsentrasi lagi mengerjakan pekerjaannya.


"Masuk!" seru Theo yang sudah tau siapa yang datang. Wajahnya dibuat seceria mungkin, seolah tak ada yang terjadi tadi.


"Kau baru datang." sapa Theo mendekap tubuh istrinya erat. Meredam kegelisahan hatinya setelah kedatangan Kamila.

__ADS_1


"Kita makan siang sekarang?" ucap Kalila dalam dekapan suaminya.


"Ah, tentu." jawab Theo melepas pelukannya dan menarik istrinya untuk duduk di sofa ruangannya yang sudah berjajar di meja makan siangnya yang disiapkan sekretarisnya tadi.


"Oh ya, aku ketemu kakak iparmu." ucap Kalila di sela-sela makannya.


Theo langsung tersentak batuk-batuk atas ucapan istrinya, tapi segera menetralkan perasaan terkejutnya.


"Apa yang dikatakan padamu?" tanya Theo cemas memegang kedua sisi lengan istrinya dengan kedua tangannya.


"Tidak ada... hanya bertanya kabar saja..." jawab Kalila terbata karena suaminya secemas itu saat dia bercerita tentang kakak iparnya.


"Oh, benarkah?" ucap Theo sedikit lega dan melepaskan pegangannya di kedua lengan istrinya.


"Dia tadi menemuimu? ada urusan apa memangnya?" tanya Kalila sambil meneruskan makan siangnya.


"Ya? ... Ah... dia...dia tanya tentang kakakku. Katanya semalaman kemarin tak pulang ke rumah... dan... ponselnya tak bisa dihubungi... iya...dia bertanya itu padaku..." jelas Theo sedikit gugup dan gelagapan, takut istrinya berpikir macam-macam.


"Oh..." jawab Kalila tersenyum manis, entah kenapa suaminya sangat aneh. batin Kalila.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2