Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 36


__ADS_3

"Sayang... setelah cutiku selesai, bolehkah aku tetap bekerja?" tanya Kalila saat pesawat telah lepas landas untuk kembali ke kota mereka, kembali pulang, Kalila menatap suaminya lembut sambil menautkan jemari tangan pada suaminya yang tidak sibuk, tapi tangan suaminya kelihatan sibuk dengan laptopnya mungkin tentang pekerjaan.


Theo menoleh ke arah istrinya lekat. Sebenarnya dia tak mau mengizinkan istrinya bekerja lagi di kantornya, bukan karena macam-macam, pasti teman-temannya tak bisa memperlakukan dirinya seperti sebelumnya, bagaimanapun juga sekarang Kalila adalah istrinya, istri seorang wakil Presdir di perusahaannya.


Sedikit banyak mereka pasti akan tetap tak bisa leluasa seperti dulu, bekerja seperti diawasi langsung oleh istri bosnya. Dan perlakuannya pun akan ada sedikit banyak juga canggung. Walau Kalila masih berperilaku sama seperti dulu tapi bagi rekan-rekan kerja lamanya tentu saja tidak.


Apalagi ada kakaknya yang memutuskan untuk terus kembali ke negara mereka tanpa mau kembali ke negara kakeknya. Dengan alasan ingin membantu usaha papanya yang ada disini saja. Tapi Theo tahu, bukan hanya itu saja alasan kakaknya tetap tinggal disini, pasti karena Kalila istrinya.


Entah punya maksud apa kakaknya ingin mendekati istrinya lagi. Apa dia berencana untuk mengambil atau merayu Kalila untuk kembali padanya lagi, merajut kisah cinta masa lalu mereka? Lalu bagaimana dengan anak dan istri kakaknya Kamila? Apa kakaknya berniat menceraikan istrinya jika Kalila berhasil didapatkannya?


Theo awalnya curiga dengan hubungan kakaknya dan kakak iparnya, seolah mereka dekat karena hanya formalitas saja, Theo tau ada pancaran cinta atau kebahagiaan saat kakaknya menatap istrinya. Seolah kakaknya bosan atau malah benci pada kakak iparnya.


Apa karena kakak masih mengharapkan Kalila jadi dia dingin pada istrinya? Tapi tidak, Derrick, sudah sejak awal pernikahan mereka tidak ada raut wajah kebahagiaan di matanya.


Saat pernikahannya dulu dia memang terlihat tersenyum senang dan bahagia tapi entah kenapa Theo merasa itu semua adalah kebohongan atau kepura-puraan kakaknya untuk menutupi kesedihan dan rasa bersalahnya entah pada siapa.


Saat itu Theo tak tau, orang yang membuat Derrick galau sampai hari ini adalah istrinya, Kalila.


"Kau inginnya bagaimana?" ucap Theo balik bertanya menatap istrinya penuh cinta.


"Aku inginnya tetap bekerja seperti sebelumnya. Memangnya apa yang akan kulakukan jika tak bekerja?" jawab Kalila bertanya lagi juga menatap suaminya lembut.


"Kau tak mungkin lupa kan siapa dirimu sekarang?" tanya Theo lagi lembut.


"Tentu saja aku tau sekarang aku adalah seorang istri." jawab Kalila masih belum paham maksud pertanyaan Theo.

__ADS_1


"Dan istri siapa kau sekarang?" tanya Theo lagi.


"Tentu saja istrimu. Kenapa kau masih menanyakan hal itu. Apa yang sedang ingin kau sampaikan?" ucap Kalila tak sabar, menunggu jawaban suaminya yang dinilainya berbelit-belit.


"Lalu siapa suamimu?"


"Suamiku? Tentu saja kau, suamiku seorang.... oh my Gosh..." Kalila tak meneruskan kalimatnya, tangannya menepuk keningnya mengingat sesuatu, dia baru paham maksud dari pertanyaan suaminya.


Bahkan dia benar-benar lupa kalau suaminya adalah wakil Presdir di perusahaan tempatnya bekerja.


"Sekarang kau sudah paham?" tanya Theo tersenyum mendengar istrinya yang memang suka melupakan apapun tanpa memikirkan hal-hal berat yang menurutnya itu memusingkan.


"Lalu, apa aku harus mengundurkan diri?" tanya Kalila lagi menatap suaminya minta pendapat.


"Itu terserah padamu sayang? Kau inginnya bagaimana? Kau boleh menentukan pilihanmu sendiri, aku tak mau membuatmu terbebani dengan semua ini, aku percaya padamu. Kau pasti bisa mengambil keputusan yang bijak. Bagaimanapun aku tetap akan mendukung dan menyetujui keputusanmu." jawab Theo panjang lebar memberikan pengertian pada istrinya yang seolah bijak.


Dan Theo tak mau hal itu terjadi. Mimpi buruknya kemarin masih berkelebatan di pelupuk matanya.


"Beri pendapat padaku? Sekarang aku adalah istrimu dan kau adalah suamiku. Apa yang kau inginkan sebagai suamiku?" tanya Kalila lagi masih menatap Theo lekat.


Theo menutup laptopnya setelah data yang diketiknya untuk persiapan presentasi meeting nanti di save menatap Kalila lekat membelai pipi istrinya lembut.


"Aku tak mau menjadi suami yang mengecewakan istrinya. Aku juga tak mau menghalangi karirmu. Apapun keputusanmu aku akan mendukungmu. Jadi pilihlah yang menurutmu baik untukmu dan kita sayang."


"Jangan merasa terbebani pada keputusanmu nanti. Aku percaya padamu. Tapi aku hanya ingin mengatakan satu hal. Kurasa meskipun rekan-rekan kerjamu masih bersikap sama kepadamu, tapi bukan berarti mereka tidak merasakan kecanggungan. Mungkin juga mereka jadi tak bisa leluasa seperti dulu saat sebelum pernikahan kita."

__ADS_1


"Sedikit banyak mereka akan mulai membatasi untuk bergaul denganmu baik dalam pekerjaan maupun percakapan kalian nantinya. Tapi semua keputusan kembali padamu lagi. Kau bebas menentukan pilihan sayang." jelas Theo panjang lebar, tak lupa dikecupnya bibir istrinya sekilas.


Dan itu membuat Kalila sibuk berpikir dan mencerna seluruh perkataan suaminya. Bahkan tak menghiraukan kecupan suaminya tadi.


Dan semuanya adalah benar, rekan-rekannya pasti jadi tak senyaman dulu meski mereka bilang tak apa.


Kalila menatap kedepan membenahi duduknya dengan pikiran yang berkecamuk mencerna lagi dan sekali lagi seluruh perkataan suaminya tadi.


"Jangan terlalu berat berpikir sayang, Theo junior akan kaget juga." canda Theo mengelus perut istrinya yang terlihat melamun dengan tatapan mata ke depan dengan pikiran yang mungkin entahlah...


"Kau apa-apaan sih." ucap Kalila menepuk punggung tangan suaminya tersipu malu.


"Pikirkan pelan-pelan jangan merasa terbebani. Ok?" ucap Theo mengedip-ngedipkan matanya pada istrinya yang dijawab dengan senyuman manis sejuta watt pada suaminya. Theo ikut tersenyum dan melanjutkan lagi pekerjaannya yang sempat ditundanya tadi.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2