
Derrick turun dari mobil, setelah sopir mengantarkan ke tempat tujuannya. Derrick segera turun dan menatap rumah besar yang tak terlalu megah. Derrick ingat betul, dia sering kemari.
Derrick membuka gerbang rumah itu, yang diyakini tak pernah terkunci jika di siang hari saat penghuni rumah masih di rumah. Dan tebakannya benar, Derrick membuka gerbang rumah itu langsung menuju pintu depan rumah.
Menekan tombol di tempat biasa. Suasana hatinya kelihatan sumringah bahagia, saat membayangkan sosok gadis yang entah kenapa sangat dirindukannya itu.
Padahal seingatnya dia baru beberapa hari yang lalu tak bertemu setelah kegiatan mereka di kampus usai. Dirinya menunggu dengan tak sabar dengan dada yang berdegup kencang sejak tadi.
Cklek
Suara pintu terbuka, seorang pemuda tinggi, tampan dan mempunyai wajah mirip gadis yang ingin ditemuinya, seperti bertemu gadis itu versi laki-laki. Namun bukan sapaan hangat dan akrab yang diterimanya tapi tiba-tiba pemuda itu mencengkeram erat kerahnya.
"Mau apa anda kemari, ha...!" Dan bugh satu pukulan melayang di rahang Derrick dengan tiba-tiba, Derrick yang belum siap spontan jatuh ke belakang.
Wajah lebam bekas pukulan belum hilang sempurna kini bertambah lagi. Darah menetes di sudut bibirnya. Derrick berusaha berdiri tapi lagi satu pukulan melayang kembali di rahang satunya, hingga membuatnya tersungkur kembali.
"Lebih baik anda pergi sebelum saya menghajar anda hingga babak belur kembali." seru Aksa yang sudah sangat emosi sejak mendengar pelecehan yang terjadi pada kakaknya karena ulah pria itu.
Sopir yang sejak tadi hanya menunggu di sebelah mobil langsung berlari melihat majikannya tersungkur karena pukulan itu. Derrick masih diam belum bicara, dia sendiri bingung kenapa pemuda ini memukulinya tiba-tiba.
Setelah diingat kembali, Derrick ingat siapa pemuda ini. Dia adalah Aksa adik kandung Kalila yang sangat posesif saat kakaknya didekati seorang pria meski hanya untuk berteman, tapi sikap posesifnya hilang saat kakaknya masuk perguruan tinggi. Jadi mereka terpisah sekolah.
Dulu saat baru pertama kali Derrick berkunjung ke rumahnya pertama kali langsung dihadang pemuda ini yang menginterogasinya seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi seorang penjahat.
__ADS_1
"Aksa." ucap Derrick setelah berhasil berdiri dengan dibantu sopirnya.
"Pergi dari rumah ini, saya tak ingin melihat anda berkeliaran di rumah ini." ucap Aksa tegas.
Hukuman yang dilakukan Theo pasca kejadian itu lebih dari cukup untuk pria ini dan Aksa tak mau main hakim sendiri hanya karena emosinya. Apalagi kejadian sudah berapa bulan berlalu. Aksa sudah berjanji jika suatu saat pria ini datang, akan menghajarnya tanpa ampun.
Tapi, melihat keadaan pria itu yang seperti orang linglung yang kehilangan ingatannya membuatnya mengurungkan niatnya. Dia hanya tak mau bertemu dengannya.
"Kalila ada?" tanya Derrick antusias tak menggubris perkataan Aksa.
"Kenapa? Apa yang akan kau lakukan lagi padanya? Ha..." seru Aksa tak suka dia masih menanyakan kakaknya yang sedang mengalami traumatik akibat kejadian itu apalagi sekarang dalam keadaan hamil.
"Kami berjanji akan kencan hari ini." jawab Derrick antusias dengan tatapan mata yang berbinar-binar seperti anak kecil yang hendak mendapatkan mainan yang diinginkannya.
"Apa maksudmu?" tanya Derrick bingung.
"Tuan, lebih baik kita pulang dan obati luka anda." bujuk sopir itu.
"Aku ingin bertemu dengannya." ucap Derrick masih menatap Aksa penuh harap tak menggubris perkataan sopirnya. Aksa semakin tak mengerti keadaan Derrick, dia mengernyitkan dahi menatap sopir itu. Dan sopir itu hanya menggeleng.
"Kakak tak di rumah."
"Kau bohong, dia ada di dalam kan? Dia pasti marah karena aku tak segera datang saat kami berjanji untuk kencan?" ucap Derrick memohon.
__ADS_1
"Kakakku tak tinggal disini lagi, dia sudah menikah. Sekarang dia tinggal dengan suaminya." Bagai disambar petir, Derrick menggeleng tak percaya.
"Kau bohong kan, katakan kau bohong. Jangan bercanda." ucap Derrick.
"Terserah kalau kau tak percaya." ucap Aksa hendak masuk tapi tangannya ditahan Derrick.
"Katakan kalau kau bohong! Katakan!" seru Derrick mulai kehilangan dirinya. Dan tiba-tiba kepalanya sakit lagi saat suatu ingatan terlintas tentang suatu pernikahan tapi siapa dan Derrick pun pingsan.
"Tuan." seru sopir itu panik menangkap tubuh majikannya yang dibantu Aksa yang juga terkejut dengan keadaan Derrick. Dia membantu sopir itu untuk dipapah ke dalam mobilnya.
**
"Begitulah tuan kira-kira cerita yang saya dengar. Saya terpaksa harus menjadi sopir dan sekaligus mengawalnya jika terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan seperti ini." jelas sopir sekaligus pengawal Derrick yang diperkerjakan Kartika.
Aksa mengangguk paham dan merasa bersalah sekaligus miris. Merasa bersalah karena sudah memukulnya tanpa tahu keadaannya, miris karena melihat keadaan Derrick seolah terpukul dan mungkin merasa bersalah juga pada kakaknya karena kejadian itu.
Bisa saja alam bawah sadarnya tak mau mengingat perilaku bejatnya, sehingga ingatannya tentang masa depan setelah pernikahannya berniat dilupakannya.
bersambung
.
.
__ADS_1
.