Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 22


__ADS_3

Theo berdiri lagi di tempat tunggu di bandara tempat para penumpang pesawat turun. Tadi pagi saat dirinya bersiap untuk berangkat kerja sekalian menjemput calon istrinya, Kalila. Theo mendapat pesan dari kakaknya kalau pesawatnya akan mendarat setengah jam lagi.


Dan dirinya disuruh untuk menjemputnya sekarang juga. Theo mengumpat kesal, selalu seperti ini, kakaknya selalu seenaknya sendiri menyuruhnya. Dan selalu mendadak.


Rencananya dengan Kalila pagi ini benar-benar gagal total. Setelah 3 hari lalu acara lamarannya dengan Kalila, Theo selalu disibukkan banyak pekerjaan yang diberikan papanya tanpa istirahat, waktu jam makan saja Theo harus mencari celah di sela-sela pertemuan kantornya.


Papanya benar-benar memberikan banyak pekerjaan seperti janjinya saat hendak berangkat ke rumah Kalila untuk lamaran tempo hari.


Bereskan pekerjaanmu sebelum pernikahan. ucap papanya saat itu. Theo terpaksa menuruti demi melancarkan pernikahannya.


Mungkin setelah kakaknya sampai dirinya akan 'honeymoon' dengan tenang setelah pekerjaannya digantikan sementara oleh kakaknya. Dan selama sibuk itu pula, dirinya tak pernah bertemu Kalila sama sekali.


Menelponpun dilakukan saat malam hari pulang bekerja dan sialnya, Kalila sudah tidur jam segitu. Dan hari ini dia sudah berjanji untuk menjemput Kalila dan membawanya ke apartemen sebentar sebelum ke kantor, tapi pesan dari kakaknya membuat semua rencananya gagal total dan berdirilah disini dirinya saat ini, suatu tempat di bandara tempat orang-orang datang setelah turun dari pesawat.


"Dek..."seru seorang pria yang dikenali Theo sebagai kakaknya yang diikuti pria tua yang walau umurnya sudah banyak tapi masih terlihat sehat dan bugar, yang berdiri di belakang kakaknya yang dikenali sebagai kakeknya. Mr. Jonathan, nama kakeknya.


"Kakak!"seru Theo memeluk kakaknya erat melepas kerinduan masing-masing.


"Apa kakek tak dapat pelukan juga?"goda pria tua itu melebarkan kedua tangannya ke samping siap menerima pelukan dari cucu bungsunya. Theo tersenyum senang ganti memeluk kakeknya erat dan ini ketiga kalinya kakeknya menginjakkan kaki di tanah air Theo, pertama saat lamaran dan pernikahan putranya, papa Theo, kedua saat kakak Theo, Derick dilahirkan.


Dan yang ketiga sekarang yang membuatnya sangat merindukan anak dan cucunya. Jangan tanyakan apa beliau pulang saat kelahiran Theo, itu terjadi waktu neneknya sakit keras yang tak mungkin ditinggalkan dan setelah beberapa waktu neneknya meninggal dan membuat seluruh keluarga Theo termasuk dirinya yang saat itu baru berusia satu tahun diajak ke Belanda untuk menghadiri pemakaman neneknya.


Mereka menuju mobil Theo yang sudah disiapkan di pintu depan bandara oleh penjaga parkir. Theo mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang.


"Kau yakin akan menikah?"tanya Derick saat dimobil yang duduk di sebelah Theo di kursi depan yang kakeknya ada di kursi belakang.


"Tentu saja."jawab Theo tersenyum senang dan bangga. Derick tersenyum senang melihat adiknya diselimuti wajah kebahagiaan.

__ADS_1


"Syukurlah.Kau begitu mencintainya?" tanyanya lagi penasaran. Pasalnya dirinya tak pernah mendengar atau melihat adiknya ini pacaran sekalipun atau membawa teman seorang wanita sekalipun sejak kecil. Derrick tau benar trauma adiknya ini saat bersentuhan dengan wanita hanya pada mamanya Kartika yang membuat Theo nyaman.


"Sangat."Theo menjawab penuh senyum dan cinta berbinar di kedua matanya. Derick tertawa bahagia.


"Kakak baik-baik saja?"tanya Theo hati-hati.


"Apa maksudmu? Tentu saja kakakmu ini baik-baik saja. Jangan cemaskan aku, cemaskan dirimu. Mungkin seminggu sebelum pernikahan, mama akan memingitmu!" goda Derick tertawa lebar.


"Aku akan mencuri kesempatan untuk bertemu dengan calon istriku."seru Theo, dia sudah mendengar hal itu dari mamanya dan dia langsung protes keras dengan hal itu. Ini sudah jaman apa pakai dipingit segala, teriak Theo saat itu. Dan mamanya tegas tetap memaksa melakukannya. Derick malah tertawa terbahak-bahak melihat keposesifan Theo.


"Jagalah orang yang kau cintai, jangan pernah lepaskan jika kau sangat mencintainya. Jangan seperti kakak."bisik Derick lirih di akhir kalimatnya.


"Pasti. Siapapun tak akan aku biarkan merebutnya dariku."ucap Theo tegas, tetap fokus menatap jalanan. Sementara kakeknya sudah terlelap menyandar pada sandaran kursi. Mungkin faktor umur yang sudah tidak tahan duduk terlalu lama.


**


Theo sedang menikmati kesenangannya, bergelung di tempat tidur mencari kepuasan hasratnya meski tak sampai berhubungan intim. Kalila hanya pasrah, dia percaya pada Theo tak akan berani lebih dari itu sebelum mereka sah menjadi suami istri. Itulah janji Theo pada Kalila saat dia menyanggupi lamaran Theo.


"Kau sangat seksi."ucap Theo sambil masih bermain di dada Kalila yang kenyal. Bermain di sekitar areola dada membuat Kalila menggelinjang kenikmatan, sebenarnya Kalila pun tak sabar dan tak tahan belaian dan jamahan Theo.


Jika dirinya dalam keadaan tak waras mungkin dia akan memasrahkan dan menyerahkan dirinya padanya. Untungnya dia berusaha untuk tetap dalam kewarasannya dalam menghadapi kemesuman Theo, meski dirinya menikmati juga sentuhan-sentuhanya.


Kalila tersenyum malu, wajahnya sudah memerah hingga leher dan telinga ditambah Theo semakin menelusuri dan meninggalkan jejak kepemilikannya di dada Kalila.


"Mulai minggu depan aku sudah cuti."ucap Kalila yang membuat Theo melepaskan kesenangannya mendongak menatap Kalila.


"Kenapa? Masih seminggu?"cemas Theo yang artinya jika Kalila cuti membuatnya tak bisa bertemu diam-diam seperti sekarang.

__ADS_1


"Mama menyuruhku cuti seminggu sebelum pernikahan. Dan beliau bilang aku harus dipingit selama itu. Jadi mungkin kita akan bertemu saat di altar."jelas Kalila membelai pipi Theo yang sudah melihat raut wajahnya tajam, ingin marah mendengar dirinya harus berpisah seminggu sebelum pernikahan. Kalila mencoba menghibur Theo.


"Aku tak akan memberikan izin cuti."tegas Theo kembali bermain di dada Kalila, menggigit kecil di dadanya.


"Auww.."jerit Kalila saat Theo menggigit areola di dadanya.


"Bagian HRD sudah memberikan izin, kaupun sudah menyetujuinya. Apa kau lupa?"tanya Kalila menahan mulut Theo mencegah Theo menggigitnya lagi.


"Kapan itu?Aku tak pernah..."Theo tak meneruskan kalimatnya, teringat saat menandatangani surat pengajuan cuti, tapi tak melihat nama Kalila. Karena pikirannya terlalu senang dipenuhi oleh Kalila saat pulang kerja tadi, Kalila mengiriminya pesan untuk bertemu setelah pulang kerja. Tentu saja Theo berbinar senang dan membuatnya tersenyum sepanjang hari.


"Kau sengaja mengajakku bertemu hari ini untuk membuatku lengah kan?"seru Theo lagi menyingkirkan tangan Kalila yang menutupi mulutnya. Theo bangkit masih menindih tubuh Kalila dengan bertumpu pada kedua lututnya.


"Maaf..."ucap Kalila tertawa, melihat Theo tau rencananya.


"Aku tak akan melepaskanmu malam ini." Theo mengecupi seluruh tubuh Kalila tanpa henti, Kalila berteriak menahan geli saat kecupan-kecupan itu mendarat di titik sensitif tubuhnya.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2