
Kamila membuka matanya perlahan, menatap sekeliling ruangan itu, ruangan yang asing.
"Kau sudah bangun?" ucap seorang pria yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk di pinggangnya. Dan handuk di tangannya untuk mengusap rambut basahnya. Membuat Kamila meneguk ludahnya susah.
"Dimana aku? Siapa kau?" ucap Kamila terbata, menatap ke dalam selimut tanpa sehelai benangpun. Kamila tersentak menatap pria itu tajam penuh amarah meminta penjelasan.
"Kau yang merayuku. Dan aku adalah pria normal." jawabnya enteng masuk ke dalam walk-in closet nya.
Kamila mencoba mengingat kejadian semalam tapi dia benar-benar lupa, mabuk membuatnya melupakan segalanya. Kamila melirik ruangan yang dimasuki pria tadi, dia mencari-cari pakaiannya kemarin, tapi tak ada. Kamila pasrah, dirinya yang salah, dalam keadaan mabuk entah dibawa kemana oleh orang asing ini.
Pria itu keluar dengan pakaian formal jas kantornya. Menatap Kamila yang juga menatapnya.
"Dimana bajuku?" tanya Kamila menatap tajam.
"Masih dibawa laundry, belum diantar. Mungkin... beberapa menit kemudian lagi." jawab pria itu melirik jam tangannya.
Bersamaan dengan itu bel pintu apartemen itu berbunyi.
"Ah, sepertinya sudah sampai." ucapnya beranjak menuju ke pintu depan. Kamila menunggu dengan selimut masih menutupi tubuh polosnya.
Cklek
Pria itu masuk lagi dengan membawa baju Kamila yang sudah rapi dan wangi.
"Silahkan." ucapnya menyerahkan pakaian itu dan diterima Kamila dengan agak kasar masih dengan tatapan tajam dan dingin.
Kamila memang bukan wanita baik-baik, dia mengakui itu, tapi 'bermain' dengan tidak sadar saat dirinya mabuk. Itu bukan maunya. Kepalang tanggung dia lebih menginginkan dalam keadaan sadar dan suka sama suka. Bukan dengan dirinya saat mabuk seperti ini. Dirinya sungguh akan sangat liar saat mabuk. Dan dia pasti akan menyesali setelahnya karena tak ingat lagi.
__ADS_1
"Anda bisa mandi." ucap pria itu menunjuk pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
"Tinggalkan aku sebentar." ucap Kamila meski tidak berniat memerintah tapi nadanya sudah seperti orang memerintah.
"Baiklah." ucap pria itu santai dan kebetulan pesanan sarapannya datang.
Sementara Kamila mempercepat mandinya, dia ingin segera pergi dari tempat itu. Dia tak mau berbasa-basi lagi pada orang asing ini. Dia juga tak berniat ingin mengenal atau sekedar tau siapa nama pria yang sudah tidur dengannya ini semalam.
"Kau tak mau sarapan dulu?" tanya pria itu melihat Kamila sudah berpakaian rapi dan wajah yang sudah segar hendak keluar menuju pintu keluar tanpa menoleh atau pamit dengannya.
Kamila terpaksa menghentikan langkahnya, berbalik menatap wajah pria asing itu. Jujur saja setelah menikah dengan suaminya, baru sekali ini Kamila tidur dengan pria lain selain suaminya meski dulu sebelum menikah dia sering berganti-ganti pasangan tidur. Itu karena dia tak mau terikat dengan siapapun.
Tapi setelah menikah ada perasaan ragu dan rasa mengkhianati suaminya meski suaminya hanya menggunakannya sebagai objek fantasi terhadap mantan kekasihnya dulu. Terus terang rasa bersalahnya sangat besar pada suaminya tapi rasa sakit hatinya lebih mendominasi.
"Anggap semalam tak terjadi apapun, suatu kesalahan. Aku akan melupakan semuanya juga. Dan terima kasih semalam sudah menolongku." ucap Kamila menundukkan kepalanya sebagai wujud terima kasih.
"Suatu kesalahan katamu?" ucap pria itu mengejek. Kamila menatapnya dengan berani.
"Itu hanya one night stand." jawab Kamila menggeser tubuh pria itu namun tak bergeming.
"Setelah kau merayuku untuk menyentuhmu. Seharusnya kau memberi harga padaku jika itu suatu kesalahan." goda pria itu berjalan mendekat dan Kamila ikut terpundur ke belakang.
"A...apa maksudmu?" jawab Kamila gugup.
"Kau bahkan tak mengingatnya tentu saja kau bisa dengan mudah melupakan. Lalu? bagaimana denganku, yang ingat betul setiap detail yang ada di balik pakaian ini." ucap pria itu menelusurkan jari telunjuknya dari wajah Kamila sampai menurun ke bawah melewati dada, perut dan... Kamila langsung menepis jemari itu saat hendak menyentuh bagian bawah tubuhnya.
"Berapa yang kau inginkan?" jawab Kamila merogoh tasnya mencari dompetnya.
__ADS_1
Tapi tangannya ditahan dan tubuhnya ditarik masuk ke dalam dekapan pria itu yang reflek telapak tangan Kamila menahan dan berusaha mendorong dada pria yang bertubuh kekar itu. Tapi tenaganya yang kecil tak mampu mendorong, malah pria itu semakin menariknya kencang mempererat dekapannya.
"Daripada bertanya berapa, aku pikir bagaimana jika kita lakukan sekali lagi agar impas, kita melakukan dengan keadaan sama saling sadar. Dan suka sama suka." bisik pria itu lirih, dengan sapuan nafas pria itu menghembus lehernya yang wajahnya memang dipalingkan ke samping menghindari tatapan elang pria itu.
"Aku harus pulang." jawab Kamila, dia tak bohong jika tubuhnya mulai terangsang.
Hembusan nafas pria itu membuat sesuatu di bawah tubuhnya basah. Apalagi tonjolan keras yang berhadapan langsung dengan tubuh bawahnya yang basah dan berkedut semakin membuat hasratnya naik. Tapi Kamila berusaha mengendalikan dirinya. Dia tak melakukan kesalahan lagi. Apalagi pria itu orang asing yang tidak dikenalnya.
"Kau sungguh wanita yang menarik." ucap pria itu dengan nada suara serak menahan hasratnya, wajahnya sudah berkabut gairah. Dia mengendurkan dasinya dengan tangannya yang bebas.
"Lepaskan aku!" desis Kamila semakin dia bernafsu juga mendengar suara serak pria itu yang juga berkabut gairah.
Pria itu meluncurkan serangannya membuat Kamila semakin tak bisa mengendalikan dirinya dan suara desahan lolos dari mulutnya saat pria itu menelusupkan tangannya ke punggungnya yang entah sejak kapan kaitan pembungkus dadanya terlepas meski pakaiannya masih utuh.
bersambung
Mohon dukungannya
Beri like rate dan vote nya
Makasih sudah mendukung 🙏🙏
Abaikan typo 🙏🙏
.
.
__ADS_1
.