
"Hai..." sapa Aksa, dia berdiri di depan pintu butik Putri, sahabatnya.
Tangannya melambai meski harus sedikit kecewa karena tak segera mendapatkan balasan dari sapaannya dan lambaian tangannya. Putri termenung, menatap sosok pria dihadapannya ini. Banyaknya pikiran membuatnya blank tak mengingat siapa pria di depannya ini.
"Siapa?" tanya Putri ragu tak mau terlalu percaya diri bahwa yang dilihatnya sekarang pria yang pernah membuatnya ragu untuk melangkahkan kakinya ke Paris.
"Ah..." Aksa melongo, diapun akhirnya tertawa. Ternyata perkiraannya salah, gadis impiannya itu ternyata tak mengenalinya atau... pura-pura tak mengenalnya karena sudah menjadi sukses? Tawa Aksa perlahan luntur karena dengan percaya dirinya dia menyapa seseorang yang ternyata sudah tak mengenalinya.
"A... aku..."
"Ah, mungkin aku yang salah kenal. Maaf." potong Aksa dan berlalu meninggalkan emper butik Putri.
"Aksa." ucap Putri berbalik menatap Aksa yang hendak pergi. Aksa menghentikan langkahnya namun tak berbalik. Dia masih diam.
"Shit." umpat Aksa lirih.
"Benarkan Aksa?" tanya Putri lagi mendekati Aksa yang masih tak bergeming dalam diamnya.
Hingga Aksa berbalik menatap Putri lekat, gadis yang dirindukannya, masih tetap sama, cantik, tapi sekarang lebih cantik, elegan dan dewasa dan tentu saja pakaiannya sangat berkelas.
Seketika Aksa merasa minder yang sok kenal dengan gadis yang masih sangat dicintainya ini. Hati Aksa mendadak mengurungkan niatnya untuk mendekati Putri kembali. Dirinya merasa tak pantas bersanding dengan gadis sempurna ini.
"Maaf, aku salah kenal." Aksa menundukkan kepalanya memohon maaf.
"Kau masih tetap sama. Tak punya kepercayaan diri." ucap Putri. Aksa tertegun menatap Putri lekat mencerna ucapan Putri.
"Kukira kau sudah melupakanku?" ucap Aksa.
"Bagaimana aku bisa melupakan sahabat terbaikku?" balas Putri.
**
__ADS_1
"Kau butuh sesuatu sayang?" tanya Theo setelah dirinya menyelesaikan pekerjaannya masuk ke dalam kamar melihat istrinya menyusui putranya. Kalila menoleh menatap suaminya yang baru masuk ke kamar.
"Kau sudah selesai?" ucap Kalila balik bertanya.
"Hmmm. Aku merindukanmu." ucap Theo menelusupkan wajahnya ke leher istrinya.
Menghirup dalam-dalam aroma istrinya yang sudah menjadi candunya.
"Geli sayang." erang Kalila tersenyum.
"Ah, kau membuatku ingin memakanmu saja." bisik Theo serak masih mengecupi leher istrinya yang membuat Kalila merinding geli meski juga menikmati.
"Sa... yang ... biarkan aku menyelesaikan menyusui putra kita." jawab Kalila yang merasa kegelian.
"Harus menunggu berapa lama lagi? Aku sungguh merindukanmu..." bisik Theo serak, melepaskan kecupannya.
"Paling tidak dua bulan kurang lebih." jawab Kalila tersenyum menggoda suaminya. Theo spontan mendongak menatap istrinya dengan tatapan penuh hasrat.
"Hei, putramu belum ada sebulan." ucap Kalila tersenyum menatap suaminya.
"Ah, sepertinya dia sudah kenyang dan tertidur." ucap Kalila menggendong putranya menaruhnya di box bayinya.
Sudah beberapa hari ini putranya tidur bersama di kamarnya. Theo kasihan melihat istrinya harus keluar masuk tengah malam menemui putranya yang menangis saat haus. Sehingga Theo memaksa untuk membawa box bayi putranya di kamar mereka.
Namun saat siang mereka membawa box bayi itu kembali ke kamar putranya meski berada di sebelah kamarnya yang disekat dengan pintu menuju langsung kamar putranya.
Mereka pun merebahkan tubuhnya di ranjang dengan Kalila berada di dekapan suaminya.
"Sayang..." lirih Kalila karena tak mau membuat putranya bangun.
"Hmmm..." jawab Theo yang masih bangun meski matanya memejam dengan mendekap tubuh istrinya.
__ADS_1
"Ada pesan masuk di ponselku." ucap Kalila hati-hati.
"Pesan? Pesan apa? Dari siapa?" tanya Theo penasaran membuka matanya masih bersikap biasa.
"Dari kak Derrick." jawab Kalila singkat menunggu reaksi suaminya.
Theo membelalakkan matanya spontan terduduk di di ranjang. Kalila yang tak mengira reaksi spontan suaminya ikut terduduk menatap suaminya sedikit gugup.
"Apa isi pesannya?" tanya Theo dingin meski tak menatap wajah istrinya tajam.
Dia berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak berteriak pada istrinya. Kalila mengambil ponselnya di laci nakas sebelah ranjangnya. Kalila mengulurkan ponselnya pada suaminya memberi kode untuk membaca sendiri isi pesan. Theo menerimanya membuka pesan yang dimaksud istrinya dengan perasaan yang entahlah bercampur aduk.
Theo menghela nafas berat mencoba mengendalikan perasaannya. Theo membuka pesan di ponsel istrinya perlahan yang tidak di lock screen.
Raut wajah Theo seperti menahan diri untuk tidak meremukkan ponsel istrinya karena emosinya.
"Dari mana dia tahu nomermu sayang?" tanya Theo berusaha untuk lembut agar tak membuat istrinya takut.
"Aku tak tahu, aku tak membalas ataupun menghapusnya. Kupikir kau harus tahu." ucap Kalila hati-hati, dia sudah melihat sorot mata suaminya menahan amarah dan cemburu.
"Terima kasih sudah jujur padaku." lirih Theo mendekap tubuh istrinya kembali. Amarahnya perlahan sirna karena kejujuran istrinya. Theo mengajaknya berbaring kembali.
"Tidurlah!" ucap Theo memejamkan mata untuk tidur tak mau membahas lagi tentang pesan itu.
Kalila hanya diam ikut memejamkan matanya, tidur dengan perasaan yang bertanya-tanya, kenapa suaminya hanya diam?
bersambung
.
.
__ADS_1
.