Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 33


__ADS_3

" Maaf... membuat anda menunggu lama." ucap seseorang yang muncul mendekati Revan yang tengah menunggu di restoran hotel tempat mereka janjian untuk bertemu.


"Ah, tidak. Lagipula saya belum lama datang." jawab Revan menerima uluran tangan dari salah satu kliennya yang akan membahas kerja sama mereka.


"Sekali lagi maaf..." ucap pria itu yang ternyata Derrick, yang ditunggu Revan untuk membahas tentang kerja sama mereka.


"Tidak masalah. Mari, silahkan duduk." ucap Revan mempersilakan Derrick untuk duduk di kursi di meja yang sama.


Setelah tiga jam pembahasan proyek kerja sama, mereka akhirnya memutuskan untuk bekerja sama.


"Ada sendiri saja?" tanya Revan basa-basi setelah selesai membahas kerja sama mereka memutuskan untuk mengobrol ringan sebentar.


Sedangkan kontrak kerja sama mereka diurus sekretaris mereka masing-masing yang masih berbincang di meja dekat mereka.


"Ah, iya..." jawab Derrick singkat. Dia tak terlalu suka ngobrol tentang urusan pribadi dengan orang lain apalagi dengan orang yang baru dikenalnya.


"Ah, kukira anda datang bersama istri atau anak mungkin." basa-basi Revan.


"Bagaimana anda tau kalau saya sudah berkeluarga?" tanya Derrick mengernyitkan dahi menatap Revan tak suka yang sok tau dengan perkataannya padahal dirinya tak pernah bicara tentang statusnya.


"Ah, maaf, jika itu menyinggung anda. Melihat cincin di jari manis anda, kurasa itu bukan sekedar cincin biasa. Dan pria matang seperti anda tak mungkin masih lajang karena pasti banyak wanita yang mengantri." ucap Revan blak-blakan meski menerima tatapan tak suka dari Derrick.


"Ah, anda benar. Dan kurasa anda juga tak mungkin seorang lajang kan walau tak ada cincin di jari manis anda?" jawab Derrick balik tepat sasaran. Revan hanya tersenyum simpul.


"Tentu. Karena saya seorang duda keren yang tanpa anak." jawab Revan getir mengingat tentang istrinya.

__ADS_1


"Ah, sepertinya saya sudah bertanya tentang hal yang tidak boleh ditanyakan?" ucap Derrick seolah menyesal dengan pertanyaannya yang melihat raut wajah kecewa dari Revan.


"Ah, tidak masalah. Hanya saja kami bercerai karena istri saya berselingkuh dengan mantan kekasihnya." jawab Revan getir.


"Ah, maaf." ucap Derrick lagi merasa tak enak.


"Tak apa. Lagipula sudah lama sekali, apalagi kita akan sering bertemu mengenai kerja sama kita nanti. Lebih baik anda tau langsung dari saya sendiri daripada mendengar rumor yang salah dari orang lain." ucap Revan.


"Anda tak perlu mengatakan jika tidak ingin mengatakan." jawab Derrick.


"Tak masalah.... Saya akan menceritakan sedikit pengalaman pernikahan saya. Kami dijodohkan, karena istri saya tak mengatakan kalau dirinya punya kekasih jadi saya dengan senang hati menerima perjodohan itu. Yang dari awalnya kukira dia bahagia bersama saya tapi ternyata di belakang saya dia masih menemui kekasihnya hingga saya memergokinya. Dan dia menuntut perceraian memilih untuk kembali pada kekasihnya." cerita Revan.


"Ah, saya ikut menyesal mendengar kisah anda." ucap Derrick seolah menohok hatinya meski dirinya belum menuntut perceraian pada istrinya karena mengingat putrinya yang masih kecil.


"Aku turut menyesal kembali." ucap Derrick lagi, merasa kisahnya mirip dengannya tapi bedanya dia sudah punya anak.


"Saya hanya ingin anda tidak seperti saya. Kuharap anda tidak melakukan kesalahan seperti saya dan menyesal juga di kemudian hari." jelas Revan.


"Dan sepertinya saya telah menyesalinya." bisik Derrick lirih.


"Anda bicara sesuatu?" tanya Revan.


"Ah, tidak. Terima kasih atas nasehatnya." ucap Derrick. Mereka sama-sama tersenyum.


***

__ADS_1


Sementara Kalila dan Theo menikmati belanja mereka di pusat oleh-oleh pulau itu. Kalila memborong beberapa baju khas pulau itu diberikan satu persatu kepada keluarga besarnya.


Theo hanya menggeleng kepala tak percaya, dia hanya mengikuti langkah kaki istrinya dengan membawa hasil belanjaan istrinya yang sudah memenuhi kedua lengan Theo. Dia tak mengeluh, dia terlihat senang bisa membuat istrinya bahagia.


Sesekali istrinya menatapnya untuk dimintai pendapat untuk membeli sesuatu, tapi saat Theo memutuskan pilihan, bukan pilihannya yang dibeli tapi pilihan yang tidak dipilihnya. Theo menjadi kesal dan cemberut, kalau tidak memilih pilihannya untuk apa istrinya bertanya tentang pendapatnya, wanita memang sulit dimengerti.


"Sayang... ayolah! Kau lambat sekali." teriak Kalila yang melihat Theo jauh darinya dengan menenteng belanjaan Kalila.


"Memang karena siapa aku lambat, lihatlah! Apa belum cukup belanjamu?" jawab Theo berseru dengan nafas yang ngos-ngosan berlari sambil membawa tentengan kantong belanjaan yang tidak cuma sedikit.


"Ayolah! Sedikit lagi, ya...ya..." rayu Kalila setelah suaminya berada di dekatnya menunjukkan wajah imutnya. Membuat Theo hanya tertawa, tak bisa menolak pesona istrinya.


bersambung


Mohon dukungannya 🙏


Beri like, rate dan vote nya


Makasih 🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2