Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Episode 73


__ADS_3

Aksa menatap kosong ke depan. Dia tak menyangkal bahwa kecelakaan balap motor itu karena ada yang mengganggu pikirannya.


"*Hei... kau sudah dengar, Putri sudah balik?" bisik salah seorang karyawan perusahaan tempat Aksa bekerja.


"Benarkah?" tanya cewek satu lagi.


"Sayang sekali padahal sudah punya butik sendiri di sini, kenapa dia lebih memilih untuk membukanya lagi di Paris?" ucap seseorang lainnya.


"Biasalah orang kaya, gak cukup hanya sekali saja memupuk kekayaan."


"Hei... jangan salah. Dia mendapat tawaran itu dengan usahanya sendiri."


"Apa maksudmu?"


"Disini kan dia buka butik dari modal keluarganya, sedang di Paris adalah hasil jerih payahnya sendiri setelah sukses dengan fashion show dari design nya."


"Masa."


"Minggu depan kan reuni, kita ajak dia saja. Siapa tahu mau datang. Kita interogasi dia."


"Betul tuh."


"Penasaran aku."


"Iya q juga*."

__ADS_1


Aksa yang tak sengaja menguping pembicaraan para gadis yang sedang makan siang itu segera berlalu ketika melihat para gadis hendak pergi. Dia akan sangat malu jika terlihat menguping dan itu sangat tidak sopan.


Tapi jika pembicaraan itu bukan tentang orang yang dirindukannya mungkin Aksa akan melewatinya begitu saja. Namun itu menyangkut orang yang dirindukannya dia sontak berhenti dan mendengar para gadis tadi. Aksa menghela nafas panjang.


'


Apa dia masih mengingatku? Tentu saja lupa, bahkan dia tak mengenalku? Aku hanya berani menatapnya dari jauh tanpa berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sudahlah!' Aksa kembali menghela nafas panjang.


"Aksa..." seru seorang gadis rekan kerjanya di bagian departemen yang sama.


"Kau sudah makan siang?" tanya gadis itu menyeimbangkan langkahnya dengan Aksa.


"Sudah." jawab Aksa singkat.


Mereka masuk lift bersamaan dan tak lama lift penuh sesak karyawan yang selesai makan siang dan hendak menuju ke ruang kerja mereka masing-masing.


Theo sudah bersiap untuk pulang ke rumah. Setelah satu minggu dirawat, dokter sudah mengizinkan istri dan putranya pulang. Theo tak sabar bermain dengan putranya di rumah nanti.


"Sudah siap semua?" tanya Shinta yang baru datang yang juga ingin mengantar putri dan cucunya pulang. Theo dan Kalila menoleh bersamaan.


"Sudah ma." jawab Kalila tersenyum manis.


"Aku bantu sayang." tawar Theo hendak menggendong istrinya.


"Jangan sayang, aku akan jalan sendiri saja. Kau papah aku saja." ucap Kalila tersenyum senang.

__ADS_1


"Baiklah! Bilang kalau kau lelah!" ucap Theo.


"Iya." jawab Kalila. Shinta hanya menggeleng tersenyum menyaksikan kemesraan pasangan itu. Sedang Arthur putra mereka digendong oleh Shinta neneknya.


Tak sampai satu jam mereka tiba di rumah. Theo memarkirkan mobilnya dengan apik di depan rumahnya. Para pelayan sudah di depan pintu menyambut kedatangan majikan mereka. Begitu juga para pengawal sudah berdiri di tempat mereka masing-masing.


"Selamat datang nyonya." sapa para pelayan bersamaan seraya menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Kau capek?" tanya Theo menatap istrinya tak tega berjalan.


Pasti bekas operasinya sakit jika berjalan terlalu jauh menuju kamarnya. Kalila yang hendak membalas sapaan para pelayan membatalkannya karena tawaran suaminya itu.


"Tidak, aku sudah tidur dan duduk selama di rumah sakit. Biarkan aku berjalan sebentar." ucap Kalila sedikit kesal.


Pasalnya suaminya sudah berkali-kali menawarkan diri. Namun Kalila malah semakin sebal saja. Theo hanya menghela nafas menanggapi kekeras kepalaan istrinya itu.


Kini Kalila sudah berdiri di dekat ranjang bayinya. Menatap terus menerus putra kecilnya yang menggemaskan itu. Sedang Theo, tiba-tiba sekretarisnya datang memberikan beberapa berkas yang harus ditandatanganinya hari ini juga dan tidak bisa ditunda lagi.


Terpaksa dirinya mau tak mau meninggalkan istrinya dan putra mereka di kamar bayi.


bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2