Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 24


__ADS_3

**


Derrick kakak Theo pulang ke rumah dengan raut wajah kesal, entah karena apa.


"Kakak baru pulang?"tanya Theo melihat wajah kakaknya yang semrawut, acak-acakan dan wajah kusut seolah sedang patah hati.


Dan bau minuman beralkohol yang menyengat hidung Theo. Meski tak sampai mabuk, tapi sepertinya kakaknya minum minuman keras yang tidak sedikit.


"Ah adikku sayang, kau mau menikah."ucap Derrick ngelantur sambil senyum-senyum getir.


"Kakak mabuk?" ucap Theo menutup hidungnya saat kakaknya mendekatinya dengan bau alkohol yang menusuk hidungnya.


"Aku mabuk....hehe... iya... aku mabuk?"ucap Derrick ngelantur tak jelas. Dan dia tergolek lemas di sofa ruang keluarga tak sadarkan diri.


"Kak kakak... tidurlah di kamarmu..."ucap Theo menepuk pipi kakaknya yang sudah tak sadarkan diri.


"Kenapa Theo?"tanya kakak iparnya yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar mendengar suara berisik dari luar kamar.


"Kakak mabuk dan dia tak sadarkan diri." jawab Theo menunjuk arah Derrick dengan dagunya.


Kamila kakak iparnya menghela nafas berat, pernikahannya yang sedang mengalami krisis karena suaminya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya tak pernah memperhatikan dirinya sama sekali, bahkan seolah Derrick menghindari sentuhannya.


Kamila yang sudah haus akan kasih sayang dan belaian suaminya pernah merayu suaminya tapi tak digubris yang ada setiap hari Derrick selalu pulang dalam keadaan mabuk agar tidak perlu berhubungan intim dengannya, kadang hubungan intim mereka harus diawali dalam keadaan mabuk dan besoknya Derrick selalu lupa atau sengaja melupakannya.


"Bisa minta tolong papah dia ke kamar?"pinta Kamila pada Theo yang diangguki Theo.


Theo memapah di sisi kiri dan Kamila di sisi kanan, tak sengaja tangan Kamila menyentuh lengan Theo yang reflek Theo menepisnya dan membuat Kamila terkejut, padahal dirinya juga tak sengaja.


"Maaf..."ucap Kamila lembut.


"Ah, tidak, akulah yang seharusnya minta maaf... itu refleks tubuhku. Maaf..."ucap Theo serba salah.


"Biarkan aku sendiri saja yang memapahnya ke kamar." Kamila menuruti mau Theo, dia melepaskan rangkulan tangannya dari bahu suaminya dan mengikutinya dari belakang mereka.

__ADS_1


**


Suara riuh rendah kegembiraan di rumah Kalila terdengar hingga ke ruang dalam. Rekan Kalila benar-benar datang setelah kerja kantor usai, mereka duduk di samping rumah duduk di gazebo. Suara gurauan dan candaan dari rekan kerjanya membuat Kalila tersipu malu.


Semuanya menggoda Kalila, bertanya tentang perjalanan kisah cinta mereka, dan sejak kapan hal itu terjadi. Semuanya pun berteriak histeris saat kejadiannya sebelum putusnya hubungan Kalila dengan Iwan atasannya, mantan Kalila.


Hingga akhirnya Kalila mengakui jika perasaannya pada Iwan bukanlah perasaan cinta tapi hanya sekedar kasihan atas perjuangannya memberikannya banyak perhatian pada Kalila.


"Aku terpaksa menerimanya, berharap bisa belajar untuk mencintainya tapi ternyata itu... sulit..."curhat Kalila.


"Dan dengan pak Theo sekarang?"goda Dina membuat Kalila tersipu malu.


"Dia teman adikku, saat itu aku tak tau jika dia memperhatikanku."jelas Kalila malu-malu menutup wajahnya yang sudah semakin memerah malu.


"Cie.... pasti seneng ya disukai brondong..." goda rekan lainnya.


"Lalu, apa rencanamu setelah menikah?"tanya Dina antusias.


"Tentu saja bekerja lagi. Aku tak mungkin meninggalkan pekerjaanku?"ucap Kalila spontan.


"Secara suamimu wakil Presdir, pasti kau tak nyaman dengan tatapan para pegawai kantor?" ucap Dina lagi.


Kalila terdiam, dia tak pernah memikirkan hal itu, dia hanya berpikir setelah menikah akan bekerja kembali tak akan ada yang berubah padanya nanti.


Dia lupa siapa yang akan dinikahinya, dia adalah atasannya, wakil Presdir di perusahaan tempatnya bekerja. Apa semua pegawai lain akan nyaman padanya, tentu saja tidak. Dan juga Theo pasti tak akan mengijinkan berada diantara orang-orang yang membuatnya tak nyaman untuk kebersamaan mereka.


Aku di depan rumah, menunggumu.


Isi pesan dari nomer tak dikenalnya. Kalila mengabaikan pesan itu dan meneruskan membersihkan sisa-sisa makanan dan sampah setelah obrolan dengan rekan kerja Kalila tadi yang sudah pamit pulang sejam yang lalu.


Aku akan masuk jika kau tak mau keluar menemuiku. Fredy.


Kalila membelalak melihat nama Fredy tersemat di akhir pesan itu. Kalila segera membalas pesan itu sebelum pria itu nekat masuk dan menemui semua keluarga besarnya, keluarga besarnya sedang ada di rumahnya untuk ikut mempersiapkan pernikahannya yang tinggal beberapa hari ke depan.

__ADS_1


Mereka mungkin tak mengenal Fredy tapi mereka semua tau siapa masa lalu Kalila yang pernah meninggalkan Kalila karena perjodohan orang tuanya.


Tunggulah di taman kota, aku akan kesana. Sepuluh menit lagi, balas pesan Kalila.


Kalila bergegas mengambil jaketnya berlari kecil menuju taman kota yang tak jauh dari minimarket tempat dia biasa belanja.


Kalila celingukan mencari sosok Fredy yang sedang menunggunya di bangku taman tak jauh dari pintu masuk taman, Fredy melambai melihat Kalila masuk ke dalam taman menuju ke arahnya. Senyum Fredy yang dapat menggugah rasa yang sudah dikubur jauh-jauh di masa lalunya membuat dada Kalila berdetak.


"Sepertinya kemarin aku sudah bilang, Tak ada lagi yang perlu kita bicarakan."ucap Kalila tegas berdiri di depan Fredy.


Fredy hanya balas tersenyum.


"Duduklah, bukankah dulu kita sering duduk disini?"jawab Fredy tersenyum getir.


"Kau mabuk kak?"tanya Kalila saat mencium bau alkohol dari arah depan Fredy, Kalila mencoba mendekat lagi dan duduk di bangku taman tepat di sebelah Fredy.


"Tidak. Aku hanya minum sedikit. Agar hatiku tak sakit saat merindukanmu."racaunya yang masih terdengar jelas meski sedikit melantur.


"Pulanglah kak, kau sudah mabuk."


"Aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu, aku sudah berusaha untuk melupakannya dan berusaha untuk mencintai istriku, tapi tak bisa. Kau selalu terbayang-bayang di wajahku. Apa yang harus kulakukan?"ucap Fredy parau, dengan nada serak menahan tangisnya, menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Hati Kalila mencelos, dia tau betul sifat pria ini, lima tahun mengenal pria ini mungkin dari luar terlihat kuat, tapi hatinya rapuh, dia pernah menangis saat disuruh memilih antara dirinya dan orang tuanya.


Bahkan saat dirinya ingin memperkenalkan Kalila pada mereka, penyakit mamanya langsung kambuh dan hati Fredy yang lemah tak sanggup melihat mamanya kesakitan hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk menerima perjodohannya dan memilih mengakhiri hubungannya dengan Kalila.


bersambung


Mohon dukungannya 🙏🙏


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2