
Kalila sudah diizinkan pulang, tapi Theo memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Theo bukan tak mengizinkan istrinya pulang ke rumah. Theo memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya di rumah saja tanpa datang ke kantor.
Dia ingin full menemani istrinya seharian di apartemennya. Meski rasa mual dan muntahnya sudah menghilang. Tapi Kalila merasakan tubuhnya sangat lemah. Dia hanya ingin tidur-tiduran saja tanpa melakukan apapun. Mungkin anaknya laki-laki, karena pembawaannya sangat malas dan tidak mau melakukan apapun.
Tapi, setelah trisemester pertama sudah lewat. Kalila menginginkan apapun yang dilihatnya. Alhasil tubuhnya kini naik beberapa kilo dari sebelumnya yang tidak bisa menerima asupan makanan apapun.
Bahkan Theo pernah tengah malam harus mencari makanan yang diinginkan istrinya itu. Dan mau tak mau Theo terpaksa pergi malam-malam meski sudah sangat mengantuk.
"Sayang...aku mau mi goreng." ucap Kalila, setelah makan malam.
"Tentu." Theo memakai jaket, membawa ponsel, dompet dan kunci mobil. Theo sudah tau mi goreng kesukaan langganan istrinya.
"Mau kemana sayang?" tanya Kalila bingung, menatap suaminya keheranan.
"Beli mi goreng?" jawab Theo balik tanya.
"Aku mau dibuatkan olehmu, tak mau beli." ucap Kalila imut dengan tatapan puppy eyes nya.
Theo menghela nafas, dia bisa masak, tapi entahlah sesuai selera istrinya atau tidak.
__ADS_1
"Baiklah." jawab Theo melepas lagi jaket dan meletakkan lagi dompet, kontak mobil dan ponselnya. Menuju dapur dan mulai memasak, Kalila sambil menopang dagu menatap suaminya yang sibuk memasak membelakanginya.
"Sayang, jangan menggodaku." ucap Theo lirih saat istrinya sudah ada di belakangnya, mendekap tubuhnya. Mengusap wajahnya pada punggungnya. Dan kedua tangannya sudah masuk ke dalam celana boxernya yang spontan membuat 'adik kecilnya' bereaksi.
"Aku merindukanmu." bisik Kalila lirih. Theo berbalik menatap istrinya lekat. Mengangkat dagunya.
"Kau tau aku juga sangat merindukanmu." mengecup bibir istrinya lembut. Menatap lagi dengan wajah yang sudah berkabut gairah.
Kalila mengangguk melihat tatapan memohon suaminya. Theo langsung menyerang istrinya, memagut bibirnya mesra. Mencium brutal, melampiaskan segala hasratnya yang ditahan sebelumnya. Selama trimester pertama, dia dilarang menyentuh istrinya. Bukan hanya larangan dokter, tapi keadaan lemah istrinya yang membuatnya tak tega untuk meminta dilayani.
Theo mengangkat tubuh istrinya tanpa melepas ciumannya, menuju kamar mereka. Kalila melepas kaos suaminya yang dibantu Theo setelah membaringkan tubuh istrinya di ranjang. Theo melucuti satu persatu pakaian istrinya. Hingga istrinya tanpa sehelai benangpun dengan perut yang mulai membuncit yang terlihat semakin sexi.
Theo menelusuri seluruh lekuk tubuh istrinya tak terlewatkan satu inci pun. Istrinya hanya bisa mendesah keenakan. Theo melakukan semua gerakan dengan pelan dan lembut, takut melukai istrinya apalagi sekarang dia sedang hamil.
"Hati-hati sayang." ucap Theo setengah serak menahan hasratnya, menatap khawatir karena Kalila bergerak sangat liar dan kasar.
"Jangan terlalu lembut sayang, aku tak tahan lagi." ucap Kalila serak menahan hasratnya. Kalila mulai bermain-main di dada suaminya. Memanjakan seluruh tubuh suaminya. Membuat Theo mendesah nikmat.
Kalila menghentakkan tubuhnya di dalam tubuh suaminya. Bergoyang dengan menggoda, membuat suaminya semakin ikut mempercepat gerakan pinggulnya dari bawah. Istrinya terlonjak keenakan, hingga dadanya memantul membuat tangan Theo tak tinggal diam untuk tidak menjilat dan meremasnya.
__ADS_1
Hingga beberapa waktu Kalila mencapai pelepasannya, tapi suaminya masih kuat dibawah belum mendapatkan pelepasan.
**
Theo mendekap tubuh istrinya dari belakang sambil mengelus perut istrinya, tersenyum senang. Tak banyak, hanya tiga ronde yang dilakukan pada istrinya karena istrinya sudah lemas, mungkin karena kehamilannya.
"Makasih sayang...aku mencintaimu..." bisik Theo lirih.
Mereka pun terlelap dalam tidurnya.
bersambung
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
__ADS_1
.
.