
"Hai..." sapa Theo dengan tangannya melambai pada orang yang baru datang di cafe tempat mereka janjian, dengan senyum devilnya pula saat orang yang ditunggunya datang dan duduk di hadapannya terhalang meja. Ya, Theo menggantikan istrinya untuk menemui kakaknya Derrick.
"Theo, kau juga disini?" tanya Derrick antusias. Derrick masih belum mengingat tentang pernikahan adiknya dengan Kalila mantan kekasihnya.
"Apa maksudmu?" jawab Theo sinis sedikit ketus membuat Derrick bertanya-tanya ada apa dengan adiknya ini?
Dulu mereka saling menyayangi dan kedua seperti sahabat baik juga saudara yang baik yang saling mengasihi. Namun sejak kejadian buruk itu, Theo semakin membenci kakaknya ini. Dia masih saja geram jika mengingat kejadian buruk itu, namun dia berusaha menahan dirinya untuk tidak melakukannya karena kondisi kakaknya.
"Ah, aku ada janji dengan seseorang. Dan tak kusangka kau juga sedang disini." ucap Derrick tak tahu apa-apa tak merasa bersalah.
"Maksudmu Kalila?" tanya Theo masih bernada sinis.
Derrick mengernyitkan dahi, bagaimana adiknya bisa tahu? batin Derrick. Malah dibalas senyum seringai dari Theo.
"Kenapa? Apa kau berpikir bagaimana aku bisa tahu?" tanya Theo masih dengan senyum semakin sinis.
"Aku semakin tak mengenalimu adikku." jawab Derrick tersenyum manis.
__ADS_1
"Ck ck apa kau tahu? Wanita yang kau tunggu itu sudah bersuami?" tanya Theo ketus.
Derrick langsung duduk tegak, meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"A... apa... apa maksudmu Theo?" tanya Derrick terkejut langsung duduk tegak padahal baru saja dirinya bersandar.
"Seharusnya kau mencari tahu wanita yang kau temui itu masih single atau tidak." ucap Theo sinis.
"Kalila tak mungkin meninggalkannku untuk menikah dengan orang lain. Kami berjanji untuk saling mencintai." jawab Derrick yakin.
"Oh ya? Kau kira ini tahun berapa? Hubungan kalian bahkan sudah berakhir berpuluh tahun yang lalu. Apa kau juga lupa kalau kau yang meninggalkannya memilih untuk menikah dengan wanita yang dijodohkan denganmu?" jelas Theo sinis membuat Derrick membelalakkan matanya terkejut dengan pernyataan Theo yang baru saja diucapkan.
"Ayolah kak! Memang ini sudah tahun berapa? Jangan jadikan alasan hilang ingatan kakak juga melupakan pernikahan kakak. Dan juga putri kakak yang tak pernah kakak perhatikan. Semua orang di rumah sudah sangat merasa direpotkan oleh kakak. Seharusnya kakak sadar diri atas kesalahan yang kakak lakukan." seru Theo tak kalah kencang karena kakaknya selalu saja berusaha menghindari masalahnya jika itu terasa terlalu berat untuk pikirannya.
Derrick terduduk bengong dengan pernyataan adiknya barusan, dia banyak berpikir pada semua ucapan adiknya ini. Dia memang selalu seperti ini jika ada masalah yang berat. Tak mau menghentikan satu persatu hingga dia menghindari masalah beratnya. Derrick menunduk, memegang kepalanya yang berdenyut.
Di benaknya terlintas ingatan-ingatan tentang masa lalu yang terjadi pada dirinya bagai kaset rusak terus berputar-putar tentang kehidupan masa lalunya yang sempat tidak diingatnya.
__ADS_1
"Arrggh...." seru Derrick memegangi kepalanya yang terasa berdenyut sakit.
Theo yang sudah tahu akan yang terjadi, dia sudah mengantisipasinya, dua orang pengawal yang dibawanya yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk langsung menghampiri Theo.
"Bawa kakakku ke rumah sakit tempatnya berobat dulu. Jangan bilang kalau dia habis bertemu denganku. Katakan pada mama, dia pingsan di jalan!" perintah Theo meninggalkan cafe dan tak menghiraukan kakaknya yang sudah pingsan dibantu pengawalnya.
Theo membenahi jasnya yang tidak kusut. Merapikan sebelum meninggalkan cafe itu. Menatap Derrick yang dibopong oleh kedua pengawalnya.
"Kau harus sadar kak, jangan lagi menghindari masalah akibat kesalahanmu sendiri." guman Theo berlalu pergi meninggalkan cafe itu.
bersambung
.
.
.
__ADS_1
Maafkan typo