
"Cie...cie...yang kekasihnya pulang!" seru Dina saat melihat Kalila baru tiba.
"Siapa?" jawab Kalila masih belum paham.
"Masa pacar sendiri gak tau?" seru Dina lagi.
"Oh, dia bilang sih mau pulang karena workshopnya sudah berakhir, tapi kapan tepatnya dia pulang gak ngomong," jawab Kalila.
"Wah emang gak telpon?"
"Telpon sih walau gak setiap hari...dia kan lagi sibuk gak mungkin aku mengganggunya," jelas Kalila, tentu saja berbohong, akhir-akhir ini Iwan jarang menghubunginya dengan alasan sibuk.
Mungkin memang sibuk, karena hari-hari terakhir workshop. Kalila tak mau menghubunginya dulu takut sibuk dan mengganggu workshopnya, tapi dia mengabari setelah ujian, mereka pulang bersama dengan teman-teman workshopnya.
"Mas Iwan..." seru Kalila mendekat menggelayuti lengan Iwan saat melihat Iwan ada di tempat parkiran jam pulang kantor.
"Kalila!" jawab Iwan gugup.
Kalila menyadarinya, segera melepas tangannya dari lengan Iwan. Kalila termasuk orang yang peka terhadap perlakuan orang padanya dan setiap firasatnya tajam dan tak pernah meleset sekalipun. Kalila bertanya-tanya menatap kegugupan Iwan. Tak banyak bertanya.
"Mas Iwan sudah sampai gak ngabarin aku?" tanya Kalila dengan nada agak diimutkan.
"Ah, maaf...aku melaporkan hasil workshop kami pada atasan. Sebagai bukti kami telah mempelajari workshop kami.." jawab Iwan berusaha menutupi kegugupannya.
"Oh begitu ya? Lalu kita bisa pulang bersama kan?" tanya Kalila lagi.
"Ah maaf...kami masih harus meeting lagi menyelesaikan laporan yang belum, karena tadi masih istirahat...kamu pulang sendiri gak papa kan, aku akan pesankan taksi online?" bohong Iwan masih berusaha menutupi kegugupannya.
Kalila tidak bodoh, Kalila tau betul Iwan berbohong.
"Gak usah mas, aku akan pesen sendiri, mas yang semangat ya, biar bisa naik jabatan," seru Kalila menyemangati, tak mau mendesak apa yang terjadi dengan kekasihnya itu, Kalila juga tak mau mendesaknya.
Di kejauhan Theo yang hendak menuju mobilnya melihat interaksi keduanya, mengepalkan tangannya menahan amarahnya, berhenti tak jauh dari mereka. Hingga melihat Kalila pergi menjauh dari tempat Iwan bukan menaiki mobilnya tapi pergi ke arah depan gedung menuju halte bus dekat gedung. Theo melepas jasnya memberikan pada sekretarisnya.
"Aku akan pulang sendiri..." seru Theo berlari mengambil motornya ditempat parkir melaju kencang menuju tempat Kalila menunggu taksi.
__ADS_1
"Mau kuantar pulang mbak?" tanya Theo beberapa saat setelah tiba di depan Kalila tersenyum manis.
Kalila mendongak menatap wajah Theo ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui dan menerima uluran helm dari Theo memakainya dan mulai naik motor Theo.
Saat merasa Kalila tidak memegang pinggangnya dengan benar, Theo menarik tangan Kalila hingga mendekap tubuh Theo. Kalila tersentak merasakan tarikan tangan Theo.
Wajah Kalila yang ada di belakang punggung Theo memerah bak tomat, langsung menyerukkan wajahnya kedalam punggung lebar Theo. Theo tersenyum merasakan pelukan dan sentuhan hangat Kalila.
Motor melaju membelah kota mencari jalur yang biasa dilewati mereka dulu saat masih sering mengantar jemput Kalila pulang kerja. Kalila seakan pasrah mau diajak kemanapun, sesaat ingin melupakan rasa kecewanya terhadap reaksi Iwan yang setelah lama pulang dari luar kota untuk mengerjakan workshopnya.
Sakit, itu mungkin yang dirasakan Kalila juga, meski perasaan Kalila belum semakin dalam pada Iwan tapi saat Kalila berusaha bertekad untuk sedikit demi sedikit menunjukkan perasaan untuk memutuskan menerima lamaran Iwan beberapa waktu lalu membuat Kalila sakit hati dan kecewa atas perlakuan iwan tadi, entah apa yang disembunyikan darinya.
Tingkah Iwan berubah pada Kalila, seperti ada yang berusaha untuk ditutup-tutupi. Kalila tak ambil pusing memikirkan hal itu, Kalila hanya tak mau dibohongi bahkan selama mereka pacaran tak ada satupun yang disembunyikan Iwan padanya.
Sikap Iwan selalu tenang dan tegas tak pernah ada hal aneh atau berusaha menutupi apapun. Kadang sikap Iwan yang begitu tulus itulah yang membebani Kalila saat menyadari perasaannya tak sama seperti yang Iwan rasakan.
"Mbak kita mampir makan ke tempat biasa ya?" seru Theo di perjalanan.
Tak ada jawaban dari Kalila. Apa dia tertidur?batin Theo tak merasakan pergerakan dari belakang.
"Mbak..." tegur Theo lagi, masih belum ada pergerakan, malah Kalila semakin nyaman mendekap tubuh di depannya itu. Theo yang merasakannya wajahnya semakin memerah merasakan Kalila menempelkan tubuhnya semakin erat.
"Apa sudah sampai..." Kalila menghentikan ucapannya saat menatap sekeliling masih di pinggir jalan.
"Mbak gak papa?" cemas Theo turun dari motor diikuti Kalila yang masih bingung menatap sekeliling.
"Kita dimana? Kok berhenti disini. Ada apa?" tanya Kalila menatap Theo meminta penjelasan.
Theo menghela nafas.
"Mbak yang ada apa? Kukira terjadi sesuatu karena kutanya gak jawab? Bahkan berulang kali aku memanggil mbak?" kata Theo balik bertanya. Kalila yang baru sadar apa yang terjadi tertunduk malu.
"Ah maaf aku gak dengar kamu... emangnya ada apa mbak?" tanya Kalila salah tingkah merasa bersalah.
"Karena sudah berhenti disini, kita cari makan disini aja yuk! Aku sudah lapar. Sekalian jalan-jalan, aku sudah lama gak jalan-jalan keliling kota kayak dulu," ujar Theo memegang perutnya menunjukkan kalau dirinya lapar sambil tengak-tengok mencari penjual makanan di sekitar taman kota itu.
__ADS_1
Kalila tertawa melihat tingkah kekanakan Theo seperti dulu, walau sudah menjadi wakil Presdir, anak kecil tetaplah anak kecil, batin Kalila mengusak rambut Theo seperti dulu, wajah Theo semakin merah merasakan usakan tangan Kalila dan memegang tangan itu.
"Jangan anggap aku seperti anak kecil, aku sudah dewasa, bahkan aku sudah selesai wisuda dan juga..... aku sudah bisa buat anak," canda Theo beranjak berjalan pergi untuk mencari warung penjual makanan.
Kalila yang tertawa terbahak melihat reaksi Theo langsung diam terkejut dan sadar dengan kalimat terakhir Theo membuat wajah Kalila memerah.
"Hei, anak kecil ini sudah berani bicara mesum ya sama orang yang lebih tua?" teriak Kalila mengikuti langkah lebar Theo dengan sedikit berlari kecil.
Theo ikut tertawa terbahak, tawanya yang ngakak membuat hatinya menghangat, hanya selalu dengan Kalila dirinya bisa tertawa selebar itu. Theo merangkul pundak Kalila yang tidak ditolak Kalila, Kalila ikut tertawa juga sambil berjalan bersama.
Di warung makan nasi bebek terdekat, mereka memesan makanan dan mencari tempat duduk tapi sudah penuh semua, hanya tinggal tempat duduk lesehan dekat pintu keluar.
Mereka saling menatap dan mengangguk mendekati tempat itu, melepas sepatu masing-masing dan menunggu pesanan datang.
"Pacar mbak gak bisa antar pulang? Kok nunggu taksi? Biasanya gak pernah gak antar pulang seharipun?" tanya Theo memulai pembicaraan sambil menunggu pesanan.
"Ah kamu kenapa tidak pernah menyebut namanya sekalipun, dia punya nama Iwan, kenapa selalu menyebutnya seperti itu," kata Kalila melayangkan tangannya bercanda seperti hendak memukul adiknya.
"Aku benci menyebut namanya," sahut Theo ketus.
"Eh memang apa salahnya?"tanya Kalila polos.
"Dia sudah menjadi pacar mbak, aku gak suka," jawab Theo enteng merasa tak ada beban, sambil mengaduk minumnya yang sudah diantar dulu.
Ah, Kalila tersentak spontan menutup mulutnya. Kalila langsung mengontrol hatinya.
"Anak kecil ini ya," ucap Kalila menoyor kepala Theo. Theo spontan memegangi kepalanya.
"Aku sudah dewasa mbak, bahkan aku sudah siap menikah asal menikah dengan mbak?" kata Theo spontan menatap Kalila.
Kalila menggantung tangannya di udara, kalimat Theo berhasil membuat Kalila terpaku. Saling menatap lekat di antara mereka..
bersambung
.
__ADS_1
.
.