
Derrick mencoba keluar kamar menuju restoran di lantai dekat lobi untuk makan malam. Berharap bertemu dengan Kalila.
Sudah dua hari ini Derrick disibukkan dengan pekerjaan kantor, sehingga tak kembali ke hotel sama sekali. Derrick harus mengunjungi secara langsung proyek yang sedang dijalani untuk kerjasama mereka dengan Revan, sehingga terpaksa menginap di hotel luar kota di pulau B.
Sudah hampir satu jam Derrick tak melihat atau tidak sengaja bertemu dengan Kalila maupun adiknya Theo. Hingga makan malam yang dipesannya sudah habis. Derrick berjalan menuju ke meja resepsionis bagian informasi. Mencoba bertanya apa mereka sudah check out?
Seharusnya berdasarkan data yang dikatakan oleh bagian informasi kemarin harusnya besok mereka baru check out dan Derrick berharap melihat Kalila untuk terakhir kalinya dan bisa berbincang dengannya.
"Permisi, boleh saya tau tentang tamu hotel di kamar presiden suite?" tanya Derrick hati-hati.
"Maaf, kami tidak bisa memberikan informasi private tamu hotel." jawab petugas bagian informasi itu ramah yang kali ini adalah perempuan.
Derrick berdecak kesal, mengeluarkan dompetnya ingin memberikan kartu namanya dan berkata dia salah satu penanam saham di hotel itu tapi...
"Ah, tuan maaf, teman saya tidak tahu siapa anda. Ada yang bisa saya bantu?" ucap petugas pria tempo hari yang ditanyai Derrick dulu.
Petugas bagian informasi perempuan itu hanya menunduk minta maaf karena tak tahu menahu tentang siapa dia.
"Tak apa. Aku hanya ingin tahu tentang tamu yang tempo hari kutanyakan. Apa mereka sudah check out?" tanya Derrick mengembalikan dompetnya kembali.
"Ah, adik anda, mereka sudah check out kemarin pagi." jawab petugas itu.
"Sudah check out, kemarin pagi? Kau yakin?" tanya Derrick tak percaya.
"Maaf tuan, tapi itu semua benar, sekarang kamar itu kosong. Pesanan berikutnya besok akan check in." jelas petugas pria itu.
Derrick meninggalkan meja informasi itu tanpa pamit dengan wajah kecewa.
__ADS_1
"Segitunya kau tak mau bertemu denganku?" bisik Derrick lirih.
**
Theo menarik pinggang istrinya masuk ke dalam apartemennya. Kalila yang heran dengan keadaan suaminya hanya menurut. Kalila penasaran ada apa dengan suaminya. Setelah memasukkan kata sandi pada pintu apartemen, Theo menarik tubuh istrinya 'menyerang' nya dengan liar dan brutal.
Nafsu yang sempat terpancing karena sentuhan kakak iparnya tadi membuat Theo menginginkannya berada di dalam istrinya.
Setelah ciuman liar itu, Theo melepas dengan nafas yang memburu pada keduanya.
"Kita... mandi bersama." perintah Theo setelah melucuti pakaiannya dan pakaian istrinya.
"Kita sudah mandi tadi." ucap Kalila masih belum paham apa yang terjadi dengan suaminya yang semakin aneh, tapi Kalila tak banyak membantah hanya menuruti suaminya.
"Aku gerah setelah tertidur sebentar di kamarku tadi." tak banyak bicara lagi, Theo menggendong tubuhnya seperti koala dan membawa masuk ke dalam kamar mandi kamarnya, mengisi bathtub dan berendam di dalamnya bersama istrinya.
Mengingat perkataan Kamila tadi, Theo semakin kasar 'menyerang' istrinya. Dirinya cemburu, dirinya tak suka istrinya dijadikan obyek fantasi **** oleh kakaknya. Bahkan Theo menghentakkan dirinya ke dalam tubuh istrinya hingga istrinya berteriak kesakitan hingga meneteskan air mata. Theo tersentak saat melihat air mata yang mengalir di pipi istrinya.
"Maaf... aku terlalu kasar.. maaf..." ucap Theo lembut, melembutkan pergerakannya di bawah sana.
Mencium bibir istrinya lembut, menghilangkan rasa sakit tadi. Kalila menatap suaminya lembut, entah dirinya antara sadar dan tidak karena terlalu kesakitan di bawah sana sampai tak mendengar kata maaf dari mulut suaminya.
Entah sudah berapa kali Theo menggauli istrinya, Theo menggendong tubuh telanjang istrinya yang sudah lemas karena melayani nafsunya.
Theo membaringkan tubuh istrinya di ranjang menutupi dengan handuk, dirinya mencari pakaiannya, setelah itu memakaikan pakaian istrinya dan menyelimutinya. Theo menatap wajah istrinya yang kelelahan. Theo merasa bersalah dan menyesal. Theo mengusak rambutnya kasar. Mengusap wajahnya juga.
"Maaf..." bisiknya yang tak didengar istrinya.
__ADS_1
**
Theo duduk di meja bar dekat dapurnya, meneguk minuman. Theo masih merasa bersalah, tanpa sadar tubuhnya bereaksi saat kakak iparnya menyentuhnya tadi, tapi saat itu Theo tak sadar dan dia mengira itu adalah sentuhan istrinya.
Tubuh Theo menegang saat mengetahui bukan istrinya yang menyentuhnya tapi 'adik kecilnya' menggeliat ingin dibebaskan saat itu. Dan untungnya Theo segera bangun dan sadar saat itu kalau tidak dia pasti akan berdosa dan sangat bersalah pada istrinya.
Dia telah menodai pernikahan suci mereka, padahal itu terjadi di saat pernikahannya yang baru memasuki beberapa hari. Theo meneguk lagi minumannya. Sudah duduk lebih dari dua jam di meja bar itu, Theo tetap tak bergeming di tempatnya.
Dia antara ingin cerita atau tidak pada istrinya tentang kejadian itu, tapi Theo takut untuk jujur jika istrinya tau, dia pasti akan sangat kecewa dan sakit hati. Dan kebahagiaan pernikahan mereka pasti akan berbeda untuk kedepannya. Theo akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakannya dan dia berjanji tak akan terjadi lagi nantinya.
"Kenapa tak ajak-ajak? Aku juga ingin." sahut Kalila yang tiba-tiba muncul di belakang merebut gelas minumannya yang masih berisi separuh hendak menenggaknya.
Theo langsung menepis gelas itu hingga terjatuh dan pecah di lantai. Kalila tersentak atas kekasaran suaminya. Theo pun juga terkejut dengan apa yang dilakukannya. Theo pun pergi dari meja itu dan masuk ke dalam ruang kerjanya meninggalkan Kalila tanpa bicara apapun.
bersambung
Mohon dukungannya
Beri like, rate dan vote nya
Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1