Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 20


__ADS_3

Kalila berjalan menuju ruangan Theo, kata kepala bagian dalam timnya, wakil Presdir menyuruhnya untuk mengantarkan berkas laporan keuangan. Kepala bagian timnya sempat heran dan bertanya-tanya, entah apa hubungan Kalila dengan wakil Presdir, kenapa selalu menyuruh Kalila untuk datang ke ruangan wakil Presdir.


Pernah bu kepala menyuruh Dina padahal Kalila ada di tempatnya, tapi langsung disuruh kembali oleh sekretaris wakil Presdir tanpa masuk ke ruangannya.


"Langsung masuk mbak?" suruh asisten sekretaris itu kemudian meninggalkan meja kerjanya entah kemana, kadang Kalila heran kenapa asisten sekretaris itu langsung pergi setelah menyuruhnya masuk.


Cklek...


Pintu terbuka, Kalila masuk melihat Theo duduk di kursinya mengerjakan pekerjaannya dengan serius.


"Kunci pintunya!" perintah Theo begitu tahu siapa yang masuk ke ruangannya.


"Tidak! Apa yang ingin kau lakukan?" protes Kalila.


Dia tau apa yang ingin dilakukan Theo padanya. Setiap Theo menyuruhnya ke ruangannya Theo pasti beralasan menyuruhnya mengantarkan berkas laporan keuangan. Padahal itu hanya kedok saja, Theo ingin sesuatu, mencumbunya.


"Tak apa jika kau ingin ada orang yang tiba-tiba masuk!" goda Theo.


Ah, pikiran Kalila berseliweran jika ada yang memergoki hubungan mereka. Kalila terpaksa mengunci ruangan Theo dari dalam.


"Kemarilah!" perintah Theo melambai pada Kalila.


Tapi Kalila tak bergeming, tetap berdiri di tempatnya. Theo berdecak kesal cemberut.


"Kenapa? Kau tak mau? Padahal aku begitu merindukanmu?" Theo menunduk lirih cemberut, memelas. Kalila selalu tak tahan dengan wajah memelas Theo.


Theo tau batasannya dan tak mungkin melakukannya lebih dari itu tanpa seizinnya. Kalila menghela nafas mendekati kursi Theo. Theo mendongak menatap Kalila tersenyum penuh arti, menarik pergelangan tangan Kalila hingga terduduk di pangkuannya.


"Jangan menguji kesabaranku!" ucap Theo tak mengharapkan jawaban Kalila langsung ******* bibir Kalila sangat dalam, Kalila juga membalasnya.


Mereka saling memperdalam ciuman tanpa henti mencari kepuasan masing - masing. Tangan Theo tak tinggal diam menjelajahi setiap lekuk tubuh Kalila, membuat Kalila mengerang nikmat. Kalila melepas ciumannya karena dirasa kehabisan nafas, dan mencium bibir Theo lagi.


Begitu juga Theo meraba titik sensitif Kalila hingga adik kecil Theo terasa mengeras membuat Kalila menghentikan ciumannya dan hendak bangun dari pangkuan Theo, tapi Theo menahannya.


"Aku menginginkanmu!" deru nafas Theo memburu, matanya sudah berkabut gairah. Suaranya serak menahan hasratnya. Theo kembali 'menyerang' Kalila lagi, mereguk kepuasan membuat Kalila semakin terbuai.


"Aku ingin segera memilikimu?" ucap Theo lirih mendekap erat tubuh Kalila, membenamkan wajahnya di dada Kalila, setelah puas bermain di area dada Kalila yang baju dan kancingnya sudah berantakan tak pada tempatnya.


"Bersabarlah!" elus Kalila pada punggung Theo. Nafas mereka sama-sama memburu, sama-sama berkabut gairah.


"Entah kenapa aku merasa takut?"

__ADS_1


"Apa yang kau takutkan?" tanya Kalila masih pada posisinya. Ganti mengusap rambut Theo mesra.


"Aku takut kau diambil orang lain?" jawab Theo sendu, ucapannya bernada cemas, Kalila tak menampik, firasat Theo selama ini selalu benar.


"Aku hanya milikmu hanya untukmu dan aku hanya menginginkanmu tidak orang lain!" hibur Kalila, dirinya juga sangat mencintai Theo, tak mau kehilangannya juga.


Dia juga sudah berjanji pada Kartika untuk selalu bersama Theo. Kalila menatap Theo mencium bibir itu lagi mereguk kepuasan sekali lagi.


"Buktikan!" ucap Theo dengan nada serak menahan hasratnya. Menatap Kalila lekat dengan penuh nafsu.


"Tidak sekarang." Kalila turun dari pangkuan Theo merapikan pakaiannya. Theo segera menghampiri mendekap Kalila dari belakang menyusuri setiap jengkal tengkuk Kalila.


Kalila menggeliat geli sambil tetap membenahi pakaiannya. Theo membalik tubuh Kalila dan menciumnya lagi lebih dalam lebih lama dan lebih kasar karena hasratnya.


"Aku harus kembali!" ucap Kalila mendorong tubuh Theo menjauhinya.


"Shit.." umpat Theo merasa sayang kesenangannya harus berakhir.


"Besok aku tidak bisa menjemputmu?" ucap Theo sebelum Kalila pergi. Kalila hanya menoleh menatap Theo.


"Aku harus menjemput kakakku di bandara, mereka akan mendarat jam 8 pagi," ucap Theo lagi mengerti arti tatapan Kalila.


"Baiklah. Hati-hati." ucap Kalila mengecup bibir Theo sekilas dan pergi meninggalkan ruangan Theo.


Theo sudah bersiap di bandara pagi sekali, rencana pesawat mendarat jam 7 pagi dan ini sudah jam 6.45 berarti tinggal 15 menit lagi mereka mendarat. Theo menunggu di tempat orang-orang keluar dari pesawat.


Sudah lebih dari 5 tahun tak pernah bertemu dengan kakaknya. Setelah menikah kakaknya langsung pergi ke Belanda mengurus bisnis papanya dan tinggal bersama kakek mereka di sana menemani masa tua kakek. Papanya Mr. Jhon merupakan putra tunggal kakek.


Saat kakek melepas Mr. Jhon menikah dengan Kartika, kakeknya tinggal dengan neneknya, tapi 5 tahun kemudian setelah pernikahan Mr. Jhon nenek meninggal dunia meninggalkan kakeknya seorang diri, hanya tinggal dengan para pelayan mereka. Hingga kakek memboyong kakaknya untuk tinggal bersama kakeknya. Tapi saat kuliah, kakak Theo pulang ke tanah air karena mamanya yang sedih melihat Theo seperti mayat hidup.


Theo menunggu hanya bermodal foto keluarga kakaknya yang baru dikirim kemarin. Dan kakaknya mengatakan jika tidak ada yang mendesak mereka akan pulang bersama - sama.


Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, ada seorang wanita dan anak perempuan mungkin berumur sekitar 5 tahunan, yang mendekatinya.


"Theo..." sapa wanita itu, saat wanita itu membuka kacamatanya, Theo baru mengenalinya.


"Kakak ipar?" sapa Theo, wanita yang ternyata kakak iparnya itu.


Wanita itu cipika-cipiki pada Theo, tubuh Theo membeku hanya menurut tak membalas. Selama hidupnya, Theo tak pernah bersentuhan dengan wanita manapun, hanya ibunya saja dan setelah itu Kalila, hanya terhadap Kalila dirinya menjadi sangat agresif, tidak dengan wanita lain, apalagi kakak iparnya yang baru ditemuinya hari ini.


Jujur, tubuh Theo langsung merinding jika bersentuhan dengan wanita manapun, entah karena apa, sejak kecil seperti itu. Seolah mengenali dirinya sentuhan itu tidak baik untuknya.

__ADS_1


"Dimana kakak?" tanya Theo melihat kakak iparnya datang hanya dengan putrinya menyeret kopernya sendiri. Theo mengambil alih membawakan koper itu.


"Kakakmu tak jadi pulang hari ini, tiba-tiba ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi kami pulang berdua saja," jelas kakak iparnya.


Mereka menuju mobil yang sudah diparkir di depan pintu keluar bandara.


Ponsel Theo berdering, tertera nama kakaknya.


"Ya kak?"


"..."


"Baru sampai, kami mau perjalanan pulang ke rumah."


"..."


"Begitukah? Tak apa santai saja, kakak bisa bertemu jika pulang nanti."


"..."


"Iya..iya.."


Theo menutup ponselnya dan tancap gas untuk menuju rumah.


"Kakakmu? Kapan dia kemari?" tanya kakak iparnya yang memilih untuk duduk di depan sebelah Theo. Sedang putrinya duduk sendiri di kursi belakang terlelap karena capek.


"Lusa, setelah urusannya selesai. Dengan kakek."


"Dengan kakek? Sepertinya kakek tak pernah bilang akan ikut?"


"Mungkin kakek merindukan kami." Theo tersenyum tetap konsentrasi menyetir.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2