Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 43


__ADS_3

Sepeda motor itu melaju begitu cepat, seperti tak memperdulikan jalanan yang memang sedang sepi. Susulan suara deru motor berada di belakangnya membuat pengemudi di depan semakin melajukan dengan lebih kencang.


Hingga kejar-kejaran sepeda motor itu tak terhindarkan, suara riuh rendah sorakan penyemangat yang memekakkan telinga mendengarnya, untung saja tempat itu jauh dari kawasan penduduk sehingga semakin kencangnya sorakan mereka saat kedua pengemudi sepeda motor itu mencoba memasuki garis finis.


Kilatan cahaya membuat pemandangan pengemudi yang di depan oleng dan menubruk sesuatu di depannya dengan keras.


Bruak...


Tidak kurang dari setengah jam ambulan yang dihubungi teman-temannya datang membawa korban tabrakan itu. Yang untungnya tidak terdapat luka serius di tubuhnya, hanya luka berdarah seperti terseret jalan beraspal. Untungnya perlindungan di tubuhnya sangat aman, sehingga lukanya tidak terlalu parah.


**


"Maaf... apa aku terlalu kasar padamu?" tanya Theo setelah mereka menuntaskan hasratnya melihat istrinya diam tampak kelelahan.


Mereka berbaring di ranjang dengan saling menatap satu sama lain. Saling menatap penuh cinta.


"Tidak, hanya saja.... bolehkah aku tau, apa yang terjadi?" tanya Kalila menatap Theo lekat tersenyum manis.


Theo menatap Kalila lekat penuh cinta membelai lembut wajah istrinya.


"Aku.... dari hotel XX..." jawab Theo menjeda kalimatnya menunggu reaksi istrinya.


"Bertemu klien?" tanya Kalila tadi melihat suaminya saat pulang sudah berganti pakaian meski sedikit tercium aroma parfum perempuan, tapi Kalila mencoba mengenyahkan pikiran buruknya.


"Tidak. Hanya..." Theo terdiam, ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kalau kau tak mau bicara, tak apa?" ucap Kalila menenangkan suaminya yang terlihat sangat terbebani dengan pertanyaannya.


"Tidak, aku akan mengatakan yang sebenarnya tapi aku bingung mau memulainya dari mana." ucap Theo.


Kalila tersenyum manis ganti membelai pipi suaminya lembut.


"Aku akan menunggu sampai kau siap." jawabnya.


Theo menatap haru pada istrinya. Sedikit sesak di dadanya karena tak segera jujur padanya. Theo memejamkan matanya sejenak. Dan perlahan membuka matanya menatap istrinya lekat.


"Aku..." suara dering ponsel Kalila mengejutkan keduanya, sehingga Theo tak melanjutkan ucapannya.


"Siapa?" tanya Theo yang melihat istrinya sudah menerima panggilan itu.


"Iya bu..."

__ADS_1


"..."


"Apa? Dimana? Kami akan segera kesana." seru Kalila langsung beringsut masuk ke dalam kamar mandi mencuci tangan dan muka setelah menutup panggilan ponselnya.


"Ada apa sayang?" tanya Theo yang juga ikut panik dengan reaksi istrinya.


"Aksa kecelakaan sayang, sekarang dia ada di rumah sakit kota. Kita harus segera kesana." ucap Kalila sambil memakai pakaiannya. Bajunya yang tercecer segera dibereskan beserta baju suaminya.


"Apa?" seru Theo ikut masuk ke kamar mandi mencuci muka dan memakai pakaian santai yang disiapkan istrinya.


**


Theo dan istrinya menyusuri lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa. Wajah panik Kalila segera dihiburnya agar tak semakin sedih.


"Ibu..." seru Kalila melihat ibunya berdiri di depan ruang UGD. Kalila langsung memeluk tubuh ibunya memberi semangat dan ayah juga berdiri tak jauh dari ibu.


"Ayah.." sapa Theo menatap ayah mertuanya tampak frustasi.


"Dokter lama sekali." keluh ayah dengan wajah cemas.


Dokter pun keluar dan berdiri di depan pintu ruang UGD. Kami semua menghampirinya.


"Tak apa, hanya luka memar dan goresan aspal. Tak ada yang fatal. Pasien hanya butuh istirahat yang cukup." jelas dokter membuat mereka semua bernafas lega.


"Terima kasih dok." ucap ayah.


"Pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan." ucap dokter itu mengangguk-angguk mengiyakan.


**


"Kau benar-benar balapan lagi?" seru Theo terkejut, saat Aksa curhat kenapa dirinya bisa jatuh dari motor.


Tapi, Aksa tak mengaku pada orang tuanya, karena tak mau membuat mereka khawatir, dia hanya bilang jatuh dari motor.


"Kenapa mulutmu kencang sekali." ucap Aksa marah menutup mulut Theo.


"Maaf..." ucap Theo tak merasa bersalah malah mencengir.


"Ada apa? Kenapa teriak?" tanya Kalila yang baru datang dari membeli makan malam sekalian mengantar ayah dan ibunya pulang, menawarkan diri untuk menjaga Aksa malam ini dan mendengar Theo berteriak dari dalam ruang perawatan Aksa.


"Tak apa, tak ada apa-apa. Hanya Theo yang lebai." jawab Aksa yang dibalas cengiran dari Theo.

__ADS_1


"Aksa, apa kubilang?" seru Kalila tak suka menatap Aksa tajam.


"Iya..iya aku tau." jawab Aksa masa bodoh, tau maksud ucapan kakaknya.


"Ada apa memangnya?" tanya Theo yang tak mengerti percakapan adik kakak itu.


"Sudahlah!" jawab Aksa masa bodoh.


"Ada apa sayang, apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Theo ganti menatap istrinya.


"Jangan katakan kak!" seru Aksa mencegah kakaknya mengatakan sebenarnya pada Theo.


"Hei, kalian sekarang main rahasia-rahasiaan denganku ya?" ucap Theo lagi masih tak terima dan belum menyerah, diapun mendekati istrinya dan merayunya untuk mengatakan yang mereka sembunyikan berdua.


"Kak..." seru Aksa yang masih berusaha mencegah kakaknya hendak bicara.


"Tanya Aksa sendiri sayang, aku akan mengatakannya nanti, saat kita pulang. Jika Aksa tak mengatakan padamu. Mari, kita makan dulu, kita belum sempat makan malam. Keburu si pembalap jatuh dari motornya." sindir Kalila di sofa ruang perawatan Aksa.


Keduanya sontak menoleh menatap Kalila dengan horor dan penuh tanda tanya. Kalila ikut menatap keduanya.


"Suara kalian terdengar dari lorong, untung ayah dan ibu sudah pulang dulu." jawab Kalila santai sambil terus menyantap makan malamnya.


Theo mendekati istrinya ikut menyantap makan malam juga, tapi dari tangan istrinya. Ya, Theo ingin disuapi istrinya.


"Kau mau disuapi juga?" goda Theo melihat Aksa yang menganga tak percaya menatapnya yang minta suap kakaknya dengan manja.


"Dasar bucin." umpat Aksa kesal, Theo hanya tergelak.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2