
Theo berjalan ke ruangannya setelah meeting hari itu selesai. Perasaannya sejak tadi tak enak, entah kenapa sepanjang meeting kegelisahan menghampirinya. Dia ingin sekali segera bertemu istrinya.
Padahal baru beberapa jam dirinya meninggalkan istrinya di ruangannya tapi rasanya sudah beberapa hari lamanya. Bahkan isi meeting hari ini tak masuk sama sekali di benaknya. Pikirannya terus dibayangi wajah tangisan istrinya.
Apa kehamilannya membuatnya kesakitan? Apa dia tersiksa lagi dengan kehamilannya dan tak ada yang tahu? batin Theo yang akhirnya membisiki sekretarisnya untuk segera mengakhiri meetingnya dan bisa dilanjutkan besok lagi.
Akhirnya meeting panjang itu berakhir, dengan penuh semangat dan senyum di wajahnya, Theo berjalan bukan berjalan tap setengah berlari menuju ruangannya ingin segera menemui istrinya. Theo mengendurkan dasinya yang terasa mencekik lehernya itu.
"Apa istriku masih di dalam?" tanya Theo meski belum dijawab dia langsung masuk ke dalam ruangannya. Dan apa yang dilihatnya membuatnya benar-benar emosi dan amarahnya meluap. Sisi gelap Theo pun kembali bangkit.
Bag...bug...bag...bug...
Theo menyerang membabi buta wajah Derrick dengan wajah dingin dan tajam. Seolah bukan dirinya yang tampak di wajahnya kini. Ya, sisi kelam Theo muncul dalam dirinya saat melihat istrinya dilecehkan oleh Derrick, kakak kandungnya sendiri.
Kalila yang dalam keadaan hamil tentu saja tak mampu melawannya. Apalagi tubuh Kalila yang mungil semakin memudahkan niat Derrick untuk melecehkan istrinya lebih lagi. Theo pun menyerang Derrick dengan brutal tanpa mempedulikan wajahnya yang mungkin sudah tak berbentuk lagi.
Theo yang seperti orang kesetanan terus menyerang, memukul, menghantam, menghajar tanpa mempedulikan Derrick yang sudah terbaring pingsan. Sekretaris Theo yang mendengar suara berisik saat dia mengikuti bosnya tadi sontak terkejut, melihat bosnya menyerang kakaknya membabi buta tanpa belas kasihan.
Sekretaris Theo juga sempat melihat wajah shock istri bosnya bagai orang yang kehilangan jiwanya dengan baju sobek, rambut acak-acakan dan entah apa yang bisa digambarkan lagi, keadaan istri bosnya benar-benar menyedihkan sekaligus memprihatinkan.
Sekretaris itu segera melepas jasnya untuk menutupi tubuh depan istri bosnya. Kalila bagai orang linglung tak ingat apapun menerima tanpa tenaga. Asisten sekretaris ikut berteriak histeris melihat keadaan itu. Dan mendekap tubuh istri bosnya dengan jas yang diberikan sekretaris itu.
__ADS_1
Sekretaris itu langsung menghentikan penyerangan brutal bosnya meski dirinya tak mampu menahannya karena tenaga kuat bosnya seolah berkali-kali lipat.
"Tuan, hentikan!" serunya tak mampu membuat Theo berhenti.
"Anda bisa membunuhnya tuan?" pinta sekretaris itu terus menarik tubuh bosnya.
"Tuan, cukup!"
"Tuan, tenangkan istri anda dulu!" serunya lagi, langsung membuat Theo sadar dan menghentikan pukulannya dan mencari istrinya yang seperti orang kehilangan jiwanya.
"Sayang, kau tak apa? Bagian mana yang sakit? Apa yang dilakukannya padamu?" Theo memeluk tubuh istrinya erat dan melepas lagi demi melihat keadaan tubuh istrinya yang sudah begitu banyak tanda merah di area leher dan dadanya.
Kemarahan pun muncul kembali di mata Theo yang menatap tajam bekas tanda kepemilikan yang ditinggalkan ******* itu pada tubuh istrinya. Sekretaris yang sudah mulai mengangkat tubuh pingsan babak belur Derrick yang dibantu asisten sekretaris terpercaya Theo terlonjak melihat bosnya marah kembali menyerang Derrick lagi. Dan Kalila pun jatuh pingsan membuat Theo menghentikan pukulannya lagi demi melihat istrinya.
Theo membopong tubuh istrinya ke ranjang ruangan kecil di belakang meja kerjanya, menggenggam erat jemari tangan istrinya cemas dan khawatir yang tak berkesudahan di matanya. Sebelumnya Theo melepas pakaian istrinya, menggantinya dengan pakaian yang lebih layak. Theo tak mau tubuh istrinya menjadi tontonan dokter keluarganya, meski dia seorang perempuan sekalipun.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Theo cemas setelah dokter memeriksa keadaan istrinya.
"Nyonya hanya kelelahan dan stres, sepertinya kejadian yang dialaminya benar-benar telah membuatnya terkejut dan shock, untung saja janinnya tak apa-apa. Tapi jika lelah dan stres ini berkelanjutan mungkin dapat mengganggu kesehatan tubuhnya juga janinnya. Alangkah baiknya jika nyonya tidak terlalu stres dan lelah." jelas dokter itu segera pergi setelah menyerahkan resep obat pada asisten sekretaris yang mengantarkan dokter itu pergi.
Theo menghampiri tubuh istrinya yang masih tertidur pulas. Menatap istrinya lembut.
__ADS_1
"Maaf... maafkan aku... aku... aku tak bisa menjagamu. Maaf...hiks...hiks..." bisik Theo lirih yang membuat siapapun mendengar suara yang menyayat hati itu ikut menangis.
Kini Theo sudah membawa istrinya kembali ke apartemennya dengan diantar sekretarisnya.
Kalila membuka matanya perlahan, menatap sekeliling ruangan. Menoleh pada Theo yang tertidur menggenggam jemari tangannya.
"Aaaarg... aaaaa.... " teriak Kalila saat mengingat kejadian pelecehan tadi.
Membuat Theo tersentak sontak bangun dan menenangkan istrinya dengan mendekap tubuh istrinya, bukannya dia semakin tenang malah semakin memberontak mendorong tubuh Theo seolah Theo lah orang yang melakukan pelecehan itu padanya. Kalila terus berteriak dan berteriak. Hingga dokter kembali muncul memberikan suntikan penenang yang masih dalam kondisi aman untuk wanita hamil.
Keluarga Kalila dan keluarga besar Theo mendapat kabar tentang pelecehan itu ikut shock dan kaget, hal yang tak dipercaya dilakukan Derrick pada istri adiknya atau adik iparnya. Aksa benar-benar geram mendengar hal itu, ayah Kalila pun ikut geram dan marah yang langsung ditenangkan oleh Shinta istrinya.
"Kita lihat dulu keadaan putri kita pak?" hibur Shinta pada suaminya yang dianggukinya dan Aksa yang mendengarnya ikut menemui keadaan kakaknya.
Kalila kembali tertidur pulas karena pengaruh suntikan tadi. Theo menatap miris tentang hal yang terjadi pada istrinya. Dia ingin kembali marah dan membunuh Derrick kalau perlu yang telah membuat keadaan istrinya seperti itu.
bersambung
Mohon dukungannya 🙏
.
__ADS_1
.
.