
Setelah jam 2 siang, Theo baru melepaskan Kalila. Kalau saja Kalila tak merengek untuk meminta jalan-jalan, Theo tak mungkin melepaskannya.
Semalaman hingga pagi tadi, Theo tak melepaskan Kalila dari ranjang mereka, bahkan makan pun room service ke kamar, dan Theo mengizinkan Kalila beranjak dari ranjang hanya ke kamar mandi, itupun tanpa sehelai benangpun. Makanan pun dibawa Theo ke kamar dan makan bersama di atas ranjang.
Setelah makan Theo 'menyerang' Kalila lagi. Stamina Theo benar-benar kuat, Kalila sampai kelelahan tak bergerak meski tak sampai pingsan. Mungkin Theo akan melanjutkan lagi jika tak kasihan terhadap Kalila.
Dan siang ini Kalila merengek untuk diajak jalan-jalan keliling pulau B. Dia sudah bosan di dalam kamar terus menerus dan Theo benar-benar menempel padanya sepanjang waktu di atas ranjang mereka.
Kini mereka menuju tempat wisata di kota itu berkeliling kesana-kemari menikmati indahnya suasana kota dengan bergandengan tangan penuh cinta. Belum sampai di satu tempat Kalila sudah menarik pergelangan tangan Theo untuk diajak ke tempat lain.
Dan di setiap toko penjual sovenir, Kalila pun juga menjelajahi satu persatu toko itu. Yang hanya masuk melihat-lihat tanpa berniat untuk membelinya. Theo menghela nafas panjang melihat kelakuan Kalila.
Tadi katanya capek di kamar terus, dan sekarang sudah mengelilingi hampir semua toko dan tanpa membeli apapun dan dia bilang tak capek, aku bingung jalan pikiran wanita, batin Theo tapi masih mengikuti Kalila dengan senang.
"Theo... Theodore..."sapa seorang wanita cantik, seorang bule yang tinggi, cantik dan berkulit putih.
"Savira..."jawab Theo menyapa balik wanita bule yang bernama Savira itu.
"Apa kabarmu?"tanya Savira memeluk Theo dan cipika-cipiki pada Theo membuat Kalila cemberut kesal.
Theo yang mempunyai trauma sentuhan wanita selain mamanya dan Kalila hanya mengikuti meski tubuhnya sedikit menegang. Kalila langsung menarik lengan Theo menyatakan kepemilikan pada pria ini.
"Kenalkan... dia istriku?"ucap Theo senang melihat tangan istrinya bergelayut mesra di lengannya.
"Hai... apa kabar?"sapa wanita itu menyalami Kalila dengan pandangan tak suka.
Dan Savira langsung kembali menatap Theo dan berbincang-bincang akrab tanpa mempedulikan Kalila. Begitu juga Theo seolah lupa dia juga mengobrol intens dengan Savira. Kalila yang merasa dicuekinya menjadi cemberut dan melepaskan gelayutan tangannya pada lengan Theo dan pergi meninggalkan Theo dengan dada yang sesak dan sakit.
Entah kenapa Kalila merasa sakit hati, meski bukan niat Theo seperti itu. Hingga Kalila masuk ke dalam sebuah restoran seafood dan memesan beberapa makanan untuknya dan Theo... entahlah. Kalila mencoba mengontrol emosinya, dia akan mempercayai Theo bukan seperti pria pada umumnya tapi.... bagaimana dengan wanita itu?
__ADS_1
Pakaian wanita itu tampak menggoda dengan rok span mini dan singlet tank top yang dadanya tumpah-tumpah, pria mana yang tak akan tergoda dengan wanita menarik seperti itu.
Kalila menatap tubuh mungilnya, benar-benar tak memiliki bentuk tubuh yang membuat para pria tertarik. Kini Kalila menjadi minder dengan tubuhnya sendiri.
"Boleh bergabung?" tanya seorang pria yang tampan dan menawan yang entah datang dari mana.
Kalila yang sedang melamun hanya mengangguk dan sesaat dirinya sadar melihat sekeliling restoran itu yang mendadak begitu ramai pengunjung.
Kalila kembali menatap pria yang sudah duduk di depannya. Jika Kalila belum menikah dengan Theo, pasti dirinya akan terpesona dengan pria asing di depannya ini.
Pria berkulit putih bersih dengan dagu yang sedikit kasar karena cukuran yang kurang bersih, bahu yang lebar dan wajah yang matang tampak semakin menambah kejantanan pada pria itu.
"Maaf..."ucap pria itu membuyarkan lamunannya.
Wajah Kalila mendadak memerah karena malu karena pria itu memergokinya yang sedang menatapnya intens. Pria itu tersenyum melihat ke salah tingkah an Kalila.
Dan Kalila menerima uluran tangan pria itu yang langsung diganti dengan uluran tangan Theo yang tiba-tiba muncul di samping Kalila. Kalila terkejut dengan kedatangan Theo, Kalila benar-benar terpesona dengan pria matang yang bernama Revan itu hingga melupakan kecemburuannya terhadap Theo tadi.
"Sayang, kau meninggalkanku?" ucap Theo mesra menarik pinggang Kalila posesif.
Kalila yang tak menyangka Theo menunjukkan sikap mesranya hanya mengikutinya.
"Aku sudah lapar dan kau sepertinya sedang sibuk."jawab Kalila penuh penekanan dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.
"Seharusnya kau menungguku." ucap Theo lagi. Dan beralih menatap Revan.
"Siapa anda?"tanya Theo menatap Revan dingin dan tajam.
"Ah maaf, restoran ramai dan kulihat tak ada meja lagi, dan kukira wanita cantik ini sendiri dan aku memohon untuk bergabung di mejanya dan dia mengizinkannya. Benarkah nona....?" ucap Revan beralih menatap Kalila yang masih belum fokus.
__ADS_1
"Kalila... panggil saja Kalila.." jawab Kalila gelagapan ditanya oleh Revan yang mendapatkan tatapan tajam dari Theo.
"Sekarang istri saya tidak sendirian dan tolong cari tempat lain, kami sudah memesan meja ini sebelumnya." jawab Theo penuh penekanan pada kata istri untuk menunjukkan kepemilikan.
Dan dirinya terpaksa menahan amarahnya melihat istrinya duduk dan ngobrol dengan pria asing yang mungkin baru dikenalnya. Dan mungkin saja itu modus untuk mendekati istrinya.
Saat dirinya berbincang dengan Savira, tiba-tiba dirinya teringat dengan Kalila dan mencari ke sekeliling mencari keberadaan istrinya. Theo teringat tadi katanya Kalila lapar dan ingin makan di restoran seafood dan tanpa bicara pada Kalila dia sudah memesan meja untuknya dan istrinya di restoran seafood terdekat dari tempat mereka. Karena restoran seafood disini sangat terkenal dan tak akan mendapatkan meja jika tidak reservasi terlebih dulu.
Theo segera masuk mencari restoran yang dipesannya tadi tak ternyata istrinya ada di restoran itu bersama dengan seorang pria asing yang entah kenapa terlihat sedang merayu istrinya. Kalau saja Theo tidak bisa mengendalikan kewarasannya, mungkin Theo akan menghajar pria yang bernama Revan itu. Tapi Theo berusaha mengendalikan emosinya dan mendekati mereka perlahan.
"Ah, maaf sudah mengganggu bulan madu kalian." jawab Revan pamit dan menatap Kalila lembut sambil mengedipkan sebelah matanya tanpa diketahui Theo.
Dan Kalila bergidik dengan kedipan mata itu dan reflek dirinya mencengkeram paha Theo.
"Jangan menggodaku disini sayang."bisik Theo membuat Kalila menoleh menatap tajam pada godaan Theo yang sepertinya tak menyadari kedipan mata Revan tadi.
"Sayang .. kau tak lihat dia..."
"Silahkan pesanannya..."sela pelayan restoran meletakkan pesanan Kalila di meja dan mengurungkan niat Kalila untuk membahas maksud kedipan mata Revan tadi.
bersambung
Mohon dukungannya 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1