Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Episode 72


__ADS_3

Theo bergerak gelisah di depan ruang operasi. Menatap lampu operasi yang masih terus menyala pertanda operasi belum selesai. Theo semakin gelisah pasalnya sudah lebih dari dua jam lampu operasi belum mati. Theo mondar-mandir kesana-kemari terus menerus menatap lampu itu berharap mati.


Hingga tak sampai setengah jam suara tangisan bayi terdengar dari ruang operasi. Wajah Theo mengulas senyum. Suara tangisan bayi yang didengarnya membuatnya bahagia mesti belum bisa melihat bayinya. Lampu operasi mati dan tampaklah dokter muncul dari pintu ruang operasi. Theo segera menghampiri dokter itu.


"Bagaimana dok?" tanya Theo antusias.


"Selamat telah kelahiran putra anda." ucap dokter itu yang menyarankan Theo untuk masuk ke dalam. Theo tersenyum sumringah.


Theo memang menolak masuk ke dalam, karena tak tega melihat istrinya kesakitan, itulah sebabnya dia memilih menunggunya di luar saja. Kini sekarang Theo bersedia masuk ke dalam untuk menemui anak istrinya.


"Apa kabarmu sayang? Anak kita laki-laki dan sangat tampan." ucap Theo antusias menatap istrinya yang merasa lemah.


"Syukurlah." lirih Kalila pelan dan masih terlihat lemas.


"Kami akan membawa ibu untuk dipindahkan ke ruang perawatan." ucap dokter itu yang diangguki Theo. Dia mengikuti ranjang istrinya menuju ruang perawatan. Sedang putranya dibawa perawat untuk diletakkan di ruang bayi.


**


"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Shinta dan suaminya yang sudah datang setelah mendapat kabar dari menantunya jika putrinya sedang melahirkan secara secar.


"Baik Bu." jawab Kalila mesti masih terdengar lemah.


"Waktunya memberi ASI." ucap perawat setelah beberapa jam putra Theo diantar ke ruang perawatan.


"Oh iya, siapa namanya?" tanya Shinta saat melihat cucunya menyusu.

__ADS_1


"Arthur Mario Harisson." jawab Theo menatap istrinya yang tengah menyusui putranya.


"Wah, Arthur ya, sangat tampan. Seperti papanya ya?" ucap Shinta tersenyum sambil membelai pipi cucunya.


"Iya betul." sahut ayah Kalila.


"Oh ya. Mamamu sudah kau kabari?" tanya Shinta menatap Theo, yang ditatap hanya diam tak memberikan jawaban.


Wajahnya berubah dingin, Theo masih merasa benci karena Kartika sibuk mengurus kakaknya. Sejak kejadian buruk yang menimpa istrinya, Theo belum sekalipun bertukar kabar dengan Kartika. Berdasarkan informasi sekretarisnya, mamanya sedang sibuk mengurus putra sulungnya.


"Kabari mamamu, bagaimanapun dia adalah neneknya juga." ucap Shinta lembut. Kalila menatap suaminya lekat.


Memegang lembut jemari tangan suaminya mencoba menghiburnya dan menganggukan kepalanya. Anaknya sudah dibawa perawat untuk dikembalikan ke ruang bayi.


"Aku... akan menghubunginya." ucap Theo keluar kamar perawatan istrinya.


"Iya ma, dia menjagaku dengan baik." jawab Kalila tersenyum menatap Shinta.


"Kau mau makan sesuatu?" tanya Shinta.


"Boleh."


"Kau harus makan banyak untuk ASI mu." saran Shinta.


"Iya Bu." jawab Kalila yang kini disuapi Shinta dengan makanan yang dibawanya dari rumah.

__ADS_1


**


"..."


"Istriku sudah melahirkan ma." ucap Theo.


"..."


"Di rumah sakit kota."


"..."


"Iya ma."


Theo menutup ponselnya, menghela nafas panjang. Theo masih tak bisa memaafkan kakaknya yang sudah berbuat buruk pada istrinya. Kesalahan itu membuat Theo semakin membenci kakaknya. Baginya itu adalah kesalahan yang sangat fatal, apalagi hal itu terjadi saat kakaknya dalam keadaan sadar dan normal.


Dan lebih tidak bisa dimaafkan lagi, kejadian itu terjadi saat istrinya sedang hamil. Theo sangat geram jika mengingat kejadian buruk itu. Yang membuat istrinya mengalami trauma yang tidak sebentar. Theo pergi menuju toilet mencoba mencuci muka untuk menghilangkan kekusutan di wajahnya.


Dia tak mau membuat istrinya cemas dengan keadaannya. Apalagi sekarang mereka harus mengurus putra mereka. Seketika senyum Theo kembali muncul mengingat putranya yang sangat mirip dengannya telah lahir ke dunia.


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2