
"Apa orang tuamu tau tentang kita? Setidaknya apa mereka tau kau punya kekasih?" ucap Kalila.
"Mereka tau." jawab Theo yakin.
"Apa?"
"Kenapa? Kau tak percaya, aku sudah mengatakan bahwa aku punya kekasih dan mereka tak mempermasalahkannya." jawab Theo santai.
Kalila yang terkejut respon Theo yang terlalu santai dan terkesan meremehkan membuat Kalila heran.
"Apa mereka juga tau tentang aku?"
"Tidak. Lebih tepatnya belum. Apa kau menginginkan aku memperkenalkanmu pada orang tuaku?" goda Theo tersenyum tau maksud apa yang dicemaskan Kalila.
"Tidak, maksutku bukan sekarang, aku belum siap untuk sakit hati," lirih Kalila menunduk.
"Apa maksudmu dengan sakit hati? Kenapa kau harus sakit hati?" tanya Theo heran mendekati Kalila.
"Kau belum mengatakan tentang aku, bisa saja mereka tak menyukaiku dan menolakku," Theo terheran mendengar perkataan Kalila.
"Tunggu...Jangan bilang kau pernah ditolak oleh calon mertuamu sebelumnya...?" tebak Theo, Kalila yang mendapat pernyataan yang tepat sasaran membuatnya mendongak menatap Theo.
"Jadi...benar?"
Kalila mengangguk, bukan ditolak calon mertua tapi belum sampai disana sudah ditolak calon suaminya yang jadi pacarnya juga.
Theo mendekati Kalila mendekapnya.
"Itu tak akan terjadi, aku akan memperjuangkan cintaku," hibur Theo.
"Benarkah? Seyakin itukah kau?" tanya Kalila ragu.
"Kau... hanya perlu percaya padaku?"
"Sungguh...?"
"Tentu..."
"Bagaimana kalau orang tuamu menjodohkanmu dengan seseorang?"
Theo melepas pelukannya, demi mendengar pertanyaan Kalila yang tak dikiranya.
"Untuk apa melakukan perjodohan jika aku mempunyai dirimu?" kata Theo balik bertanya.
"Apa mereka akan merestui kita?"
Theo menatap Kalila heran, apa yang membuatnya tidak percaya padaku? batin Theo.
"Bagaimana kalau malam ini kita coba menemui mereka?" tantang Theo.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku akan membuat janji dengan orang tuaku dan aku akan menjemputmu malam ini. Kita lihat apa reaksi mereka?" Theo menghubungi sekretarisnya untuk mengatur jadwalnya makan malam bersama orang tuanya.
Theo mendekap Kalila, menghirup wanginya, membuat yang di bawah menegang. Theo segera melepaskan pelukannya, Theo tak mau kehilangan kendali.
Kalila masih tak percaya apa yang terjadi, memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti.
"Kita kembali sepertinya kau melewatkan jam makan siangmu. Makanlah dulu, aku akan memberikan jam istirahat tambahan." Theo mendudukkan Karina di kursi. Dan mulai makan.
**
Jam 7 malam, Theo sudah bersiap di depan rumah Kalila ngobrol dengan Aksa seperti lama tak pernah bertemu. Ngobrol anak muda yang hanya mereka yang paham.
Kalila sudah bersiap dengan dres di bawah lutut berwarna kuning gading dan legging hitam bahan kaos, membuat Kalila tampak semakin cantik dan imut. Theo tersentak langsung bangun dari tempat duduknya saat melihat Kalila muncul dari balik pintu rumah.
"Wah...tumben mbak cantik!" goda Aksa memecah keheningan kedua sejoli itu.
Pletak..
Kepala Aksa dijitak Kalila kesakitan.
"Ya... sakit mbak."
"Makanya jangan asal ngomong.." Theo tersenyum melihat kedua saudara itu yang masih selalu berdebat.
Kurang lebih satu jam mereka tiba di rumah Theo, kepala pelayan membawa mereka masuk. Tapi Kalila masih tak bergeming di tempatnya berdiri di depan pintu rumah Theo yang sangat mewah, Kalila masih shock menatap rumah Theo yang merupakan putra Presdir pengusaha properti terkenal di kotanya bahkan di negaranya. Kalila menjadi minder untuk masuk ke dalam.
Pikiran buruk menghantuinya, penolakan yang mungkin terjadi membuat dirinya gugup takut dan ragu lagi untuk melangkah. Saat Theo melihat Kalila yang masih berdiri di luar pintu tak mengikutinya, Theo kembali menggenggam jemari tangan Kalila.
Mereka tiba di ruang makan, sudah tersedia berbagai masakan mewah yang disiapkan di meja makan. Kalila menghampiri ibu Theo berdarah asli Indonesia, menyalami ibu Theo mengikuti Theo.
"Cantik sekali? Siapa namamu nak?" sapa ibu Theo yang bernama Kartika.
"Kalila Tante," jawab Kalila sopan.
"Cantik seperti namanya,"
"Makasih tante.." jawab Kalila tersenyum malu memerah wajahnya.
Theo benar ternyata ibu Theo Kartika sangat ramah.
"Ayo duduk, tunggu papamu tadi menerima telpon dari rekan bisnisnya," ucap Kartika duduk di tempat yang sudah disiapkan, begitu juga Theo dan Kalila mengikuti.
Papa Theo tiba setelah beberapa menit mereka duduk, mereka berdiri lagi menyapa papa Theo, tuan Jhoni. Kalila menunduk begitu Theo memperkenalkan dirinya. Jhoni atau lebih akrab disapa Mr.Jhon seorang warga turunan Belanda yang wajahnya mirip dengan Theo, jika mereka berdiri bersama mungkin orang akan mengatakan Theo adalah versi muda papanya.
Mr.Jhon yang juga sudah fasih dengan bahasa Indonesia sangat ramah, jauh dari bayangan Kalila tentang perkiraannya selama ini. Mereka makan dengan tenang dan keheningan, sepertinya mereka benar-benar melarang untuk bicara saat makan.
Setelah selesai makan kami berkumpul di ruang keluarga yang sudah disediakan minuman dan camilan oleh pelayan rumah itu. Kalila tak banyak bicara dia hanya menyimak percakapan dua pria yang bicara tentang bisnis yang tidak dimengerti Kalila.
"Ikut tante yuk!" ajak Kartika melambai pada Kalila.
Kalila menatap Theo, dia hanya mengangguk meyakinkan untuk tidak terlalu cemas. Kalila mengikuti Kartika ke ruang bacanya. Kalila menunggu di sofa yang ditunjuk.
__ADS_1
"Tunggu disini, tante ambil sesuatu di kamar sebentar."
"Ya tante." Kalila sedikit canggung.
Setelah beberapa menit muncul Kartika dari balik pintu di seberang sofa yang kelihatannya pintu penghubung antara ruang baca dan kamar pribadinya.
Kartika membuka kotak yang dibawanya mengeluarkan isinya, sebuah gelang emas yang terlihat sangat mahal mungkin harga yang tidak pernah bisa diterima akal sehat Kalila.
"Kau tau ini apa nak?" tanya Kartika memperlihatkan gelang itu pada Kalila.
Apa harus ditanya lagi, bukannya itu gelang? batin Kalila yang tak sempat dijawab sudah dijawab Kartika.
"Kau benar ini gelang." ucap Kartika tersenyum seperti tau apa yang dipikirkan Kalila. Kalila hanya tersenyum malu.
"Kau tau... gelang ini adalah turun temurun warisan keluarga."
Betul kan bukan sembarang gelang.
"Tante mendapatkan ini dari ibu mertuaku dulu?"
Maksudnya apa ya?Kok aku gagal paham kenapa dia menceritakan padaku?
"Sekarang aku memberikannya padamu!"
"Ya?.....apa? ups." Kalila segera menutup mulutnya karena kaget dan tak sengaja berteriak di depan Kartika. Kartika hanya tersenyum.
"Ta...tapi saya..."
"Aku tau kalian masih pacaran. Kau tau Theo sudah menceritakan semuanya kepada kami tentangmu, setiap dia bercerita selalu tentangmu, Kalila beginilah Kalila begitulah.." jelas Kartika tersenyum lebar bercerita tentang putranya. Kalila semakin memerah wajahnya menahan malu.
"Dia sudah menceritakan tentang dirimu, sejak kuliah tahun ke 2, saat aku bilang untuk memperkenalkan dirimu pada kami dia selalu bilang belum waktunya, belum saatnya, selalu mencari-cari alasan menolaknya. Tapi saat kemarin dia telpon tante untuk makan malam. Tante sangat senang sekali." jelas Kartika tersenyum senang.
Ah, jadi sudah selama itukah dia menyukaiku?
"Terima kasih sudah mau menerima Theo, Kau tau sebelum mengenalmu dan mulai bercerita tentangmu, Theo anak yang pendiam entah apa yang membuatnya pendiam. Dia juga tak mau bergaul dengan anak-anak sebayanya. Tante sempat berpikir apakah ada yang mau dengannya. Tante senang kau bisa mengembalikan Theo kami yang dulu," ucap Kartika panjang lebar matanya berkaca-kaca bercerita tentang Theo. Kalila menggenggam jemari Kartika berharap dapat menghiburnya.
"Kalila janji tante, akan selalu disisi Theo dan mencintainya," Kartika tersenyum.
bersambung
Mohon like,rate dan vote nya kakak
Dukung terus karyaku...
Makasih 🙏🙏
.
.
.
__ADS_1