
Pagi itu Kalila menghabiskan waktunya lagi duduk di gazebo di samping rumahnya. Melamun, melamun dan melamun lagi, terdapat beberapa pelayan dan pengawal berdiri sigap di sekitarnya seakan siap melaksanakan apapun perintah dari majikannya.
"Silahkan nyonya!" ucap seorang pelayan wanita yang masih sangat muda baru datang membawakan minuman hangat dan camilan untuk majikannya itu.
Lagi-lagi Kalila memandangnya dengan tatapan tak berminat. Dihela nafasnya dalam-dalam, kenangan buruk itu muncul lagi. Dia pun memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa takut dan traumanya membaca-baca artikel dalam ponselnya.
Saat membaca sebuah artikel Kalila membelalak membaca sebuah komentar di artikel itu.
'Jangan sampai suamimu diambil pelakor karena kamu tak melayani suamimu di ranjang.' tulis salah satu komentar itu.
'Asal kita baik melayaninya maka suami kita tak akan tertarik kok?' tulis komentar lainnya.
'Makanya kami disini menawarkan baju lingerie seksi untuk merayu suamimu agar tetap betah di rumah. Hubungi 08xxxxxx.' Sahut iklan yang tiba-tiba ikut berkomentar.
'Dasar iklan nemplok aja.' Tulis salah seorang netizen.
Kalila tiba-tiba tersenyum lucu membaca iklan itu. Diapun menghela nafas berpikir kembali tentang rumah tangganya, suaminya sudah lebih dari sebulan dia berpuasa. Kalila sebenarnya kasihan tapi reaksi tubuhnya sungguh tak bisa dicegah. Tapi, malam ini dia bertekad untuk merayu suaminya.
Setelah makan malam Theo masih berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerja. Setelah menemani istrinya makan malam, Theo terpaksa mengerjakan semua pekerjaannya yang menumpuk yang sudah tidak bisa lagi ditinggalkan. Dia menyuruh seorang pelayan untuk menemani istrinya di kamar sampai tertidur.
"Tinggalkan aku sendiri, aku mau tidur." usir Kalila secara halus pada pelayan yang menemaninya itu.
"Maaf nyonya, tuan menyuruh saya menemani nyonya sampai tertidur." jawab kedua pelayan itu. Kalila menghela nafas.
"Kalau begitu aku minta tolong. Ambilkan aku susu hamil."
"Baik nyonya." salah satu pelayan pergi tapi pelayan satu masih menunggu di dalam. Kalila menatap tajam.
"Kau tak ikut?"
"Saya akan tetap disini bersama nyonya." jawab pelayan itu tenang merasa tak bersalah.
"Kalau begitu tolong kau panggilkan suamiku untuk segera ke kamar!"
"Tapi nyonya..."
__ADS_1
"Kau mau membantahku?" teriak Kalila meski sebenarnya dirinya tak ingin, dia terpaksa melakukannya untuk menjalankan rencananya dan itu akan memalukan jika pelayan masih tetap dikamarnya.
"Baik nyonya." pelayan itu langsung pergi meninggalkan kamar itu. Kalila langsung mengunci pintu kamarnya.
Kalila membulatkan tekadnya, dia mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Sehat selalu sayang, bantu mama bertahan." bisik Kalila.
Tok tok tok
Cklek
Kalila membuka pintu tapi hanya mengintip.
"Susunya nyonya!" kata pelayan yang disuruhnya tadi.
Kalila hanya mengulurkan jemari tangannya untuk menerimanya tapi melarang pelayan itu masuk ke dalam kamarnya.
"Pergilah!" usirnya.
"Tapi nyonya..."
Tok tok tok
Suara pintu ruang kerja Theo diketuk. Theo berdecak kesal. Dirinya sudah jengkel karena banyaknya pekerjaannya, sekarang dia diganggu saat dirinya sedang jengkel-jengkelnya.
"Masuk!" teriaknya penuh emosi. Kalau tidak penting aku akan memecatnya. batin Theo emosi.
Pelayan itu masuk dengan takut, hingga akhirnya dia menunduk karena ketakutan.
"Ada apa?" teriak Theo emosi.
"Itu tuan, nyonya menyuruh saya untuk memanggil tuan?" kening Theo mengernyit menatap heran.
"Istriku?" tanya Theo memastikan.
__ADS_1
"Iya tuan."
"Tunggu, kau yang kusuruh menunggu istriku di kamar tadi kan?" tanya Theo mulai cemas.
Pelayan itu hanya mengangguk mengiyakan.
"Tunggu, ada apa dengan istriku." seru Theo langsung beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya berlari menuju kamarnya.
Perasaan cemas dan khawatir menggelayutinya, takut terjadi sesuatu dengan istrinya. Theo ragu untuk masuk ke dalam kamarnya. Pikiran berseliweran di kepalanya, membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan.
"Apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanyanya pada kedua pelayan itu.
"... Tidak tuan, hanya saja...." jawab salah satunya ragu.
"Hanya apa?" bentak Theo tak sabaran.
"Nyonya memaksa mengusir kami." jelas pelayan yang lain karena takut bentakan majikannya.
"Apa? mengusir?"
"Nyonya tak bisa tidur jika kami ada di kamarnya."
"Lalu?"
"Jadi, kami disuruh menunggu di luar pintu."
Theo menghela nafas, kecemasan mulai hilang.
"Pergilah! Aku akan memanggil lagi jika butuh kalian." usir Theo.
"Baik tuan." Mereka meninggalkan Theo sendiri.
bersambung
.
__ADS_1
.
.