Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 53


__ADS_3

Kamila menatap Derrick jengah, melihat Derrick tiba dengan penampilan berantakan, wajah kusut dan rambut yang acak-acakan. Kamila tahu apa yang membuat suaminya seperti itu. Pasti Kalila lagi kan? batin Kamila memilih pergi masuk ke kamarnya bersama putrinya.


**


Theo masih setia menemani istrinya di ruang perawatannya. Sudah dari kemarin istrinya belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Tubuh Theo yang sudah tak terurus membuat Kartika merasa kasihan. Pagi tadi dirinya datang melihat keadaan menantunya. Tapi malah melihat Theo yang seperti kehilangan semangat hidupnya.


"Bersihkan tubuhmu nak! Kau tak mau kan saat istrimu sadar nanti melihatmu seperti ini?" hibur Kartika lembut membelai rambut putra bungsunya.


"Theo takut Kalila sadar saat Theo tak ada ma?" rintihnya.


"Mama akan ada di sini menunggunya sampai kau kembali. Kau bisa menggunakan kamar mandi ruang ini." bujuk Kartika lagi. Shinta juga disitu ikut menyaksikan keadaan menantunya yang dengan setianya menunggu istrinya bahkan sampai lupa mengurus dirinya sendiri.


Dia sangat tersentuh, tidak salah dirinya mempercayakan putrinya pada menantunya ini, meski Theo berumur jauh di bawah putrinya tapi terlihat dewasa dan dapat diandalkan sebagai kepala keluarga.


Theo akhirnya menurut apa perkataan Kartika, diapun masuk kamar mandi yang ada di ruang perawatan istrinya.


"Makanlah dulu sayang!" pinta Kartika sudah menyiapkan makanan untuk Theo setelah selesai mandi. Sedang Shinta sudah pamit pulang setelah meletakkan makanan untuk Theo dan putrinya meski belum sadar.


Theo hanya mengangguk, tak ada nafsu makan sama sekali sejak istrinya pingsan. Meski dia sedikit memaksakan makanan agar masuk demi agar tetap terjaga dan sehat saat istrinya sadar tadi tidak menyalahkan dirinya sendiri.


Jari jemari Kalila bergerak dengan susah payah, mata Kalila terbuka perlahan. Menatap sekeliling yang dikenali sebagai rumah sakit.


"Sayang, kau sudah sadar?" sontak Theo mendekati ranjang istrinya meninggalkan makanan yang baru dimakan beberapa sendok.

__ADS_1


Theo menggenggam erat jemari istrinya dan langsung menekan tombol darurat untuk menghubungi dokter yang ada di sebelah ranjang.


"Akhirnya kau bangun?" ucap Theo tersenyum senang. Kalila menatap wajah Theo yang mencemaskannya. Kalila hanya bisa mengangguk terlalu lemah dirinya ingin bersuara.


"Syukurlah sayang, aku senang sekali." ucap Theo lagi. Kartika yang sejak tadi berdiri di belakang Theo hanya tersenyum senang dan mengambil ponselnya untuk menghubungi besannya. Kalila mencoba menggerakkan tangannya mengulur ke meja dekat ranjangnya.


"Kau mau apa? Kau butuh sesuatu?" tanya Theo antusias melihat tangan istrinya hendak mengambil sesuatu.


Dokter tiba, dan memeriksa tubuh pasiennya dengan teliti. Terdapat senyum manis di bibirnya, pertanda kabar baik tentang Kalila.


"Syukurlah, semua normal, hanya perlu pemulihan. Saya akan memberikan obat anti mual yang aman untuk kandungannya. Agar asupan makanan tetap bisa masuk selama trimester pertama." jelas dokter itu tersenyum yang dibalas senyum bahagia di bibir Theo dan beralih menatap istrinya yang juga ikut tersenyum.


"Makasih dok." ucap Theo, dokter pun meninggalkan ruangan itu.


"Putriku, kau baik-baik saja. Kau membuat mama cemas." ucap Kartika mendekati ranjang berdiri di sebelah Kalila berhadapan dengan tempat Theo.


"Baiklah. Kau harus makan, sejak kemarin kau belum makan. Bahkan Theo pun ikut-ikutan tak makan. Bagaimana jika kalian berdua sakit. Membuat mama cemas saja." canda Kartika sedikit lebay membuat Kalila dan Theo tersenyum bersamaan. Kalila pun menatap Theo tak suka.


"Baiklah. Sekarang aku akan makan. Kau juga harus makan meski sedikit. Ok!" ucap Theo membuat mereka tersenyum lagi. Theo meneruskan makannya tadi dan Kalila disuapi Kartika meski sedikit sungkan, tapi Kartika memaksa. Dan Kalila hanya menurut sambil menatap suaminya yang juga makan.


"Oh, ya, bagaimana kalau kalian sementara ini tinggal di rumah mama. Banyak orang disana. Apalagi menantu mama sedang hamil, takutnya jika kau tak di rumah tak ada yang menjaga istrimu." ucap Kartika menatap Theo yang membuat Theo berkerut tak suka.


"Kami tetap akan pulang ke apartemen. Ada bibi pelayan yang kubawa dari rumah mama." jawab Theo tegas menolak keputusan Kartika meneruskan makannya. Cuek dengan keinginan Kartika. Kalila hanya menunduk merasa bersalah pada Kartika, karena Kalila tau apa yang membuat Theo tak mau tinggal di rumah Kartika apalagi mengajak istrinya tinggal disana.

__ADS_1


"Tapi Theo .." ucap Kartika lagi belum menyerah.


"Ma..." jawab Theo tegas yang tak mau dibantah lagi.


"Bagaimana kalau pulang ke rumah ibu. Apa kalian juga tak bersedia?" sela Shinta yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Besan." sapa Kartika mendekati Shinta yang membuat mereka saling sapa cipika-cipiki. Theo mendekati istrinya menggenggam tangannya.


"Bolehkah?" pinta Kalila memelas menatap suaminya memohon. Theo memeluk tubuh istrinya yang dirindukannya.


"Baiklah. Tapi jangan banyak bergerak, istirahat yang cukup." ucap Theo mengizinkan. Membuat Kalila tersenyum senang balas memeluk suaminya.


"Kita tinggalkan mereka besan. Biarkan mereka melepas rindu. Padahal baru kemarin mereka tak berbincang." sindir Kartika yang membuat Kalila merona dan semakin menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih yang sudah mendukung 🙏🙏


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2