Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 11


__ADS_3

"Maaf..."


"Kenapa? Berikan aku alasan yang tepat!" desak Theo mulai emosi.


"Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku?" jawab Kalila berlalu masuk ke kamar mandi membersihkan diri.


"Aku tetap tak akan menyerah." seru Theo dibalik pintu kamar mandi keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan.


Setengah jam berlalu, Kalila masih belum keluar, dia bingung untuk memakai baju apa, sedangkan bajunya sudah tak layak dipakai. Masih bertahan di kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit tubuhnya mengintip sedikit keluar pintu berharap Theo masih ada untuk meminjam bajunya dulu.


Tapi Kalila tak melihatnya, dia masih diam bingung akan melakukan apa, dirinya menimbang-nimbang antara keluar dengan hanya berbalut handuk atau menunggu Theo menyadarinya kalau dirinya terlalu lama di kamar mandi. Kalila mengintip lagi, berharap Theo muncul, tapi tak muncul juga.


Saat Theo membuka pintu kamar membawa baju baru untuk Kalila, bersamaan dengan itu Kalila menutup pintu kamar mandi keluar dari kamar mandi itu masih berbalut handuk.


"Aaaaaa.." teriak Kalila saat Theo menatapnya. Spontan Theo membalikkan badannya membelakangi Kalila.


"Kau....mesum... kenapa masuk tanpa mengetuk pintu..." seru Kalila berusaha menarik selimut di ranjang menutupi tubuhnya sampai leher.


"Maaf... aku tak bermaksud apa-apa, aku tak pernah mengetuk pintu kamarku sendiri dan aku hanya ingin mengantar baju ganti untuk mbak!" ucap Theo tergagap. Ah, dia benar,i ni kamarnya, aku yang bodoh tak menguncinya dulu, batin Kalila.


"Tinggalkan saja disitu! Aku akan mengambil sendiri...kau keluarlah!" seru Kalila. Theo beranjak keluar kamar setelah meletakkan di meja dekat pintu kamarnya.


**


Pukul 7 pagi Kalila tiba di kantor tempatnya bekerja, berangkat naik ojol. Itupun setelah perdebatan panjang lebar dengan Theo yang memaksanya untuk diantar. Tapi Kalila menolak juga dengan berbagai alasan.


Kalila tak mau jadi bahan gosip di kantornya karena dikira merayu seorang bos besar, apalagi saat orang-orang akan tahu tentang putusnya hubungannya dengan Iwan yang juga bukan orang sembarangan di kantornya. Walau jabatannya masih di bawah jauh Theo.


Wajah sembabnya yang sudah ditutupi make up tak membuat rekan kerja Kalila sadar jika tak menatapnya lamat-lamat.


Saat makan siang di kantin kantor, Iwan menghampirinya, Kalila menatap wajah Iwan yang lesu penuh penyesalan di matanya, mungkin merasa bersalah pada Kalila.


"Boleh kita bicara?" tanya Iwan yang diangguki oleh Kalila.

__ADS_1


Di taman luar kantor masih di area gedung, mereka duduk di bangku taman yang kosong. Hiruk pikuk suara kendaraan di jalan raya terdengar berisik. Tak membuat keduanya terganggu. Masih saling diam tak ada yang mulai bicara.


"Maaf..." ucap Iwan memulai pembicaraan.


Kalila masih diam tak menjawab, menunggu Iwan melanjutkan kata-katanya.


"Aku tak bermaksud mengkhianatimu, aku sungguh mencintaimu Kalila, tapi..." kata Iwan lagi menggantungkan kalimatnya.


Kalila tetap masih diam, tak marah atau wajahnya tak menunjukkan emosi apapun, datar.


"Itu sebuah kecelakaan yang tak sengaja terjadi pada kami," Kalila menoleh mendengar kata-kata 'kecelakaan' menatap Iwan meminta penjelasan.


Iwan juga ikut menatap Kalila. Iwan menceritakan semua hal yang terjadi di tempat workshopnya, Reni adalah rekan kerjanya di kota itu, mereka sering bekerja sama mengurus semua pekerjaan keperluan workshop dan banyak membantu Iwan jika dirasa tak mengerti, kedekatan mereka sudah seperti seorang kekasih tetapi mereka hanya membicarakan tentang pekerjaan saja tak lebih.


Reni juga seorang yang profesional, tak mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan di waktu yang sama. Itulah yang membuat Iwan nyaman saat bersama Reni.


Saat itu mereka sedang mengikuti meeting workshop laporan pertama mereka setiap 2 bulan bersama juga semua rekan workshopnya yang lain juga.


Hubungan mereka pun sedikit menjauh sengaja menjaga jarak.


Hingga 2 bulan kemudian Reni datang pada Iwan mengatakan kalau dia hamil anaknya. Iwan langsung lemas seketika, perasaan bersalahnya terhadap Kalila semakin besar karena mengkhianatinya, juga merasa bersalah terhadap Reni.


Akhirnya setelah 1 bulan kemudian Iwan mengajak Reni menemui orang tua masing-masing mengatakan akan menikah. Kedua orang tua mereka malah menyetujui melihat umur mereka yang sudah pantas untuk menikah.


"Maaf..." ucap Iwan diakhir ceritanya.


Kalila masih diam menghela nafasnya perlahan. Iwan menatap Kalila menunggu reaksi Kalila, dirinya siap jika Kalila marah.


"Ah, aku tak menyalahkanmu mas? Aku malah senang mas mempertanggungjawabkan perbuatan mas. Memang seharusnya begitu, akupun juga akan melakukan hal yang sama jika hal itu terjadi padaku. Aku juga bersalah terlalu lama membuat mas menunggu jawaban lamaran mas. Mungkin kita tidak berjodoh. Makasih mas atas semuanya, Semoga mas bisa menjadi suami yang menyayangi dan bertanggung jawab terhadap istrinya. Semoga kalian bahagia." kata Kalila ikhlas merasa hatinya ringan seolah bebannya sudah hilang.


Di kejauhan tampak sepasang mata memicingkan matanya menatap mereka berdua duduk bersisian. Theo yang hendak keluar gedung kantor bersama sekretarisnya untuk meeting bersama klien melihat sosok Kalila sedang berjalan ke arah taman diikuti Iwan, menatap mereka dari kejauhan dengan wajah dingin dan datar, mengepalkan tangannya.


Jika kemarin Kalila tak menahannya, mungkin pria itu sudah babak belur dihajarnya karena menyakiti Kalila, tapi hal itu justru memberinya kesempatan untuk mendapatkan Kalila.

__ADS_1


Theo meninggalkan mereka setelah sekretarisnya menginterupsinya untuk segera berangkat walau Theo masih enggan untuk beranjak dari tempatnya.


"Cie...cie... yang baru ngobrol sama pacar?" goda Dina saat Kalila sampai di mejanya.


Kalila hanya tersenyum simpul diam tak menanggapi godaan Dina. Mungkin Kalila terus tersenyum sepanjang jalan setelah bertemu Iwan. Kalila memang tak pernah mencintai Iwan, kegalauan hatinya untuk menerima lamaran Iwan kini sudah berakhir. Dia tak akan merasa bersalah lagi terhadap kebimbangan perasaannya.


"Ih, ceritain dong kan sudah 5 bulan gak ketemu?" mohon Dina mengedip-ngedipkan matanya merayu Kalila.


"Apaan sih,kepo deh," jawab Kalila tersenyum manis.


"Ih pelit," rajuk Dina kembali ke mejanya.


"Entar pasti dengar kabar kok." jawab Kalila yakin.


Entah kenapa hati Kalila malah berbunga-bunga senang sekali, senyum-senyum sendiri.


Jam pulang kantor ponsel Kalila berbunyi tanda chat masuk.


'Aku menunggu di halte' isi chat itu.Kalila mengerutkan alisnya. Theo, batin Kalila.


Kalila beranjak keluar gedung kantor, menatap motor Theo terparkir didepan halte dekat gedung kantor, Theo duduk di motornya masih memakai helmnya agar tidak dikenali para pekerja kantornya.


Melihat Kalila dari halaman kantor menuju jalan, hendak masuk ke dalam taksi yang sudah berhenti di depannya, melirik Theo yang hendak mengejarnya dan tak sempat terkejar..


"Sial..."makinya.


bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2