Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 18


__ADS_3

"Apa yang mama bicarakan tadi?" tanya Theo saat di dalam mobil perjalanan pulang untuk mengantar Kalila.


"Ini... ibumu memberikan ini?" jawab Kalila menunjukkan gelang yang dipakai di tangan kirinya, itupun Kartika yang memasangkan padanya dengan memohon untuk tidak melepaskannya.


"Benarkah?" seru Theo tersenyum senang tau makna dari gelang turun temurun itu.


"Hei...apa maksud senyummu itu? Seolah kau tau arti gelang ini kan?" seru Kalila.


"Haha...itu artinya mama dan papa memberikan restu pada kita..."


"Restu pacaran kan?" tanya Kalila tak mau dibilang kepedean karena dianggap mengharap lebih.


"Pacar juga tapi menantu juga."


"Apa?" teriak Kalila membuat Theo kembali tertawa terbahak-bahak.


"Theo kita sudah janji untuk pacaran dulu, mengenal diri kita masing-masing kan?" tanya Kalila.


"Tentu saja.. lagipula aku tak mengajakmu untuk menikah sekarang." Kalila menghela nafas lega.


"Tapi kalau kau bersedia itu juga tak masalah," goda Theo tersenyum seringai.


"Hei..jangan bercanda, masih banyak yang harus kita lakukan, kenapa terburu-buru menikah?" seru Kalila dengan wajah yang sudah memerah digoda Theo.


"Kita bisa melakukannya bersama setelah menikah, bukankah itu lebih menarik. Pacaran setelah menikah?"


"Hei...kau anak kecil jangan menggoda orang yang lebih tua ya?" seru Kalila semakin memerah wajahnya.


"Siapa yang kau maksud anak kecil? Aku sudah dewasa dan aku sudah bisa melamarmu sekarang juga untuk menikah, aku juga bisa langsung membuat anak!" seru Theo tertawa keras semakin menggoda Kalila.


"Theo!!" teriak Kalila. Malah membuat Theo tertawa lepas.


Kalila menatap Theo yang tertawa lepas, seperti memang begitulah sifatnya.


Apa benar lelaki ini dulu pernah terluka? Apa benar lelaki ini dulu tak pernah tertawa? batin Kalila menatap Theo bahagia yang juga tertawa lepas.


"Baiklah. Selamat malam." pamit Kalila hendak membuka pintu tapi pergelangan tangannya ditarik Theo untuk menghadap padanya.


"Hanya itu?"


"Apa maksudmu?" Theo meraih pinggang Kalila dengan tangan satunya, mendekapnya.

__ADS_1


"Tak ada ciuman?" tanya Theo mengangkat dagu Kalila, mencium bibir Kalila. Kalila yang tak menolak membalas ciuman Theo sambil mengalungkan tangannya ke leher Theo.


Theo semakin dalam menekan tengkuk Kalila memperdalam ciumannya, melesakkan lidahnya mengabsen setiap gigi Kalila, saling bertukar saliva.


Theo melepas ciuman perlahan karena dirasa Kalila kehabisan nafas. Nafas Theo memburu, matanya sudah berkabut gairah. Jika lebih lama lagi, Theo tak akan bisa mengendalikan nafsunya.


"Selamat malam," pamit Kalila masuk ke dalam rumah tersenyum bahagia.


Sudah 2 minggu setelah pertemuan Kalila dengan orang tua Theo. Mereka masih menyembunyikan hubungan mereka di kantor, membuat Theo frustasi. Theo protes tapi Kalila tak mau dibantah, Kalila belum siap untuk mengumumkan hubungan mereka.


Setelah jam makan siang Theo menunggunya di atap. Mau tak mau Kalila menemuinya, hanya hari minggu mereka memang bertemu di apartemen Theo tapi tetap berhubungan lewat ponsel. Theo pun sibuk dengan proyek pembukaan hotel baru keluarga Theo.


Kalila menatap sekeliling tempat yang biasanya menjadi tempatnya bertemu dengan Theo, tapi tak mendapati Theo disana. Dilihatnya pesan dari Theo benar di jam tersebut, tapi...


Theo mendekap tubuh Kalila dari belakang. Kalila yang masih fokus pada ponselnya tersentak mengira orang lain.


"Aku merindukanmu," bisik Theo di telinga Kalila, membuat tubuh Kalila merinding.


Theo mengecup seluruh tengkuk Kalila, mengecupi leher Kalila juga. Kalila berbalik mengalungkan tangannya di leher Theo. Mereka saling berciuman melepas rindu masing-masing. Kalila pun sangat merindukan Theo.


Kalila mendorong bahu Theo merasa dirinya kehabisan nafas. Theo mencium lagi yang tak bisa ditolak Kalila lagi.


"Ponsel...ponselmu..." seru Kalila di sela ciumannya. Theo terpaksa melepas ciumannya tanpa melepas rengkuhan pada pinggang Kalila, sedang tangan satunya mengambil ponselnya dan melihat nama sekretarisnya tertera di layar ponselnya.


"Apa kau tidak bisa menungguku sebentar?" seru Theo mengumpat kesal karena kesenangannya diganggu, sedang Kalila berusaha melepas rengkuhan tangan Theo di pinggangnya tapi tak berhasil, Theo mendekap erat mengunci tubuh Kalila diantara dinding dan tubuhnya.


"Siapa yang kau suruh menunggu?" jawab yang di seberang telpon balik bertanya bukan suara sekretarisnya.


Theo menatap di layar ponselnya, benar nama sekretarisnya? batin theo, menempelkan lagi ponselnya di telinganya.


"Papa.." ucap Theo mengenali suara khas papanya, membuat Kalila menutup mulutnya.


"Aku akan segera kesana!" ucap Theo berdecak kesal. Memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lagi. Kembali menatap Kalila yang masih bingung.


"Papa menyuruhku ke kantor dan dia sedang menunggu di ruanganku," jelas Theo santai.


"Kembalilah! Lagipula jam makan siang sudah selesai aku juga sudah terlambat." usir Kalila masih berusaha melepas tangan Theo dari pinggangnya.


Tapi Theo malah menyerang Kalila kembali, Kalila yang belum siap karena sibuk melepas tangan Theo hanya bisa ikut mengimbangi ciuman Theo yang semakin brutal.


"Pulang kerja datanglah ke apartemenku, sandinya tanggal lahirmu. Tunggu aku disana!" ucap Theo mencoba mengontrol nafsunya.

__ADS_1


Berada di dekat Kalila sungguh membuatnya kehilangan kewarasannya, menginginkan Kalila lagi dan lagi. Saat Theo kebablasan Kalila langsung menolaknya dengan tegas 'No sex before married' itulah prinsip Kalila yang juga dihargai Theo.


Biarpun dirinya warga keturunan tapi Theo lahir dan besar di Indonesia yang begitu menjunjung tinggi adat ketimuran mamanya, itulah yang selalu diajarkan mamanya padanya, akan lebih baik menikahinya daripada melakukan hal yang dilarang sebelum dia sah menjadi istrimu.


Walau mereka sering bersenang-senang tapi Theo tak pernah melebihi batas, Theo mencintai Kalila dan tak ingin merusaknya. Theo akan melakukannya jika mereka sudah sah menjadi suami istri.


"Ada apa papa kemari?" tanya Theo saat melihat papanya sudah duduk di sofa ruangannya. Theo ikut duduk di depan papanya.


"Jika sesuai rencana, kakakmu akan pulang seminggu lagi. Jemputlah dia di bandara, dia datang bersama anak dan istrinya, dia akan menghubungimu nanti," jelas Mr.Jhon papa Theo.


"Hanya itu yang ingin papa sampaikan?" jawab Theo santai.


"Apa kau mau mengatakan kalau papa tak boleh datang kesini?" seru Mr.Jhon berdecak kesal melihat sikap Theo yang sangat cuek padanya.


"Papa bisa menyampaikan pada sekretarisku atau menghubungiku, papa tak perlu repot - repot datang kemari kan?" ucap Theo berdiri dari sofa menuju kursinya.


"Dasar anak nakal, kalau kau melakukan melebihi batasmu, papa tak akan merestui pernikahanmu jika kau tak merubah sikapmu?" seru Mr.Jhon menggoda putranya.


"Papa," seru Theo berdiri lagi dari kursinya menatap papanya sebal saat papanya hendak keluar dari ruangannya.


"Oh ya gadis itu, siapa pacarmu?"


"Kalila."


"Ya, ajak dia ke rumah, mamamu ingin bertemu dengannya lagi!" Mr.Jhon menutup pintu, pergi tanpa menunggu jawaban Theo.


"Pa..." seru Theo tersenyum senang.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like,rate dan vote nya


Makasih 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2