Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 13


__ADS_3

Kalila masuk dan duduk di sofa apartemen Theo. Theo mengikuti.


"Mbak mau minum sesuatu?" tanya Theo.


"Kenapa kita tidak segera bicara saja? Apa yang ingin kau bicarakan?" desak Kalila walau dadanya berdegup kencang.


Kalila tak menyangkal perasaannya pada Theo, Kalila hanya masih belum menerima perasaan apa yang dirasakan ini entah cinta, suka atau hanya sayang terhadap seorang adik. Apalagi umur mereka yang terpaut jauh tidak mungkin merasakan cinta seperti layaknya cinta pada seorang pria.


Kalila ingin memastikan dulu benar-benar sebelum menerima perasaan Theo. Kalila tak mau menjadikan Theo sebagai pelarian saat dia baru putus dari Iwan belum lama ini.


"Mungkin mbak mau makan?" tanya Theo tak menjawab pertanyaan Kalila. Kalila berdiri.


"Lebih baik aku pulang,"


"Apa begitu sulit menerima perasaanku?" ucap Theo sambil membuat minuman untuk Kalila.


Kalila mengurungkan niatnya pergi demi mendengar perkataan Theo dan duduk kembali.


"Apa aku harus menunjukkan lebih lagi tentang perasaanku?" ucap Theo lagi meletakkan minuman mereka di atas meja depan sofa tempat duduk mereka dan Theo ikut duduk.


Kalila hanya diam belum menjawab masih menunggu kelanjutan perkataan Theo. Theo menyeruput kopinya dan meletakkan kembali terus menatap Kalila yang menghindari tatapannya.


Lama mereka saling terdiam, Kalila menghembuskan nafas perlahan.


"Theo..." ucap Kalila memecah keheningan.


"Ya.." jawab Theo antusias masih menatap Kalila.


"Tolong beri aku waktu?"


"Ya?"


"Aku tak tau perasaanku sendiri, aku tak yakin memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Mungkin perasaanku hanya perasaan terhadap seorang adik, tidak lebih?" jelas Kalila panjang lebar.


Theo menatap Kalila lekat.

__ADS_1


"Mungkin karena mbak melihatku sebagai seorang adik? Bagaimana kalau mbak melihatku sebagai pria?" jawab Theo balik bertanya. Kalila menatap Theo juga.


"Tapi aku tetap butuh waktu."


"Berapa lama? Bukannya mbak menghindariku selama ini untuk memastikan hal itu?" skak mat perkataan Theo pada Kalila.


Hal itu benar, selama ini dirinya menghindari Theo salah satunya memang itu. Theo mendekat duduk di sofa sisi Kalila. Kalila hanya diam tak menolak Theo mendekatinya. Bahkan dirinya terlalu terpukau wajah tampan Theo, yang beberapa hari ini tak dilihatnya, tampak berbeda dari sebelumnya.


Seperti bukan Theo yang seorang bocah, bukan Theo yang kemarin sering menggodanya saat bermain di rumahnya. Theo terlihat seperti orang dewasa yang menawan, dengan baju formal kemeja tanpa jas dan dasinya. Theo membelai rambut, pipi dan juga bibir Kalila yang memerah menawan.


Mereka saling menatap lama tampak saling terpesona. Kalila memejamkan mata merasakan kelembutan belaian Theo , mengecup jemari tangan Theo yang merambat dari pipi ke bibirnya. Dirinya yang belum pernah merasakan kelembutan belaian kasih sayang dari kekasihnya Iwan, bukan tak pernah tapi Kalila menolak seakan tubuhnya tak menyukai belaian Iwan.


Tapi saat merasakan belaian Theo, Kalila menginginkan lagi dan lagi, otaknya berpikir keras untuk menolak, tapi tidak tubuhnya, tubuhnya bahkan menginginkan lebih. Theo mengecup bibir Kalila sekilas, Kalila tak menolak, Theo mengecup dan mencium bibir Kalila lebih lama dan lebih dalam.


Kalila tak menolak, dia mengalungkan tangannya ke leher Theo membalas ciuman Theo, menikmatinya. Theo menarik pinggang Kalila lebih dekat, melingkarkan tangannya di pinggang Kalila. Lama mereka saling menikmatinya, hanya berciuman.


Dering ponsel Theo menyadarkan Kalila dari kegiatannya, meski Theo tak menghiraukan dering ponselnya. Kalila segera mendorong tubuh Theo menjauh.


"Aku akan pulang." reflek Kalila berdiri hendak pergi, tapi Theo ikut berdiri menarik tangannya mendekap erat tubuh Kalila.


"Bahkan tubuhmu tak menolakku." bisik Theo menggoda mengecup leher Kalila.


Kalila terduduk di bangku luar gedung apartemen mewah Theo. Dengan wajah memerah, Kalila sangat malu dengan reaksi tubuhnya, dia tak menyangkal ciuman Theo begitu hangat dan nikmat sangat lembut.


Dada Kalila berdegup kencang berdebar-debar entah perasaan apa yang dirasakan, tapi itu perasaan yang menyenangkan.


**


Setelah sarapan pagi Kalila berangkat, mendengar suara berisik di luar rumah. Kalila membuka pintu.


"Pagi mbak?" sapa Theo yang ternyata sudah di rumahnya ngobrol dengan Aksa. Wajah Kalila langsung memerah mengingat ciuman semalam.


"Katanya Theo mau ngajakin bareng mbak."


Kalila menurut tak banyak bicara daripada keluarganya bertanya tentang hal-hal yang tidak diinginkan, setidaknya tidak sekarang, Kalila belum siap mental, bahkan orang tuanya belum tahu perihal dirinya putus dari Iwan, mungkin sebentar lagi saat undangan pernikahan Iwan sampai pada orang tuanya.

__ADS_1


"Turunkan aku depan cafe saja, aku gak mau orang tau tentang aku yang kau bonceng!" perintah Kalila menepuk pundak Theo.


Theo tak menggubrisnya, tapi menurunkan Kalila depan kantor tanpa dirinya membuka helm. Tak ada yang mencurigai Kalila diantar siapa, mereka mengira Kalila diantar Aksa, adiknya. Orang kantor semua sudah tau Kalila punya adik laki-laki, karena sebelum Kalila pacaran dengan Iwan, Kalila sering diantar jemput Aksa, adiknya.


Kasak-kusuk orang-orang kantor membicarakan Kalila, tentang pernikahan Iwan yang tidak dengannya. Padahal semua orang kantor sudah mengira hubungan mereka bakal sampai ke jenjang pernikahan karena mereka tak pernah terlihat cek cok atau bertengkar, hubungan mereka terlalu adem ayem seperti orang yang tidak pacaran.


Mereka mulai menatap Kalila kasihan dan iba, karena dikira ditinggalkan oleh Iwan yang secara materi kariernya terjamin masa depannya. Kalila tak menanggapi mereka semua, dirinya sudah siap semua hal itu.


Mereka yang tak tau cerita sebenarnya dibiarkan berpikir semaunya, toh dirinya memang tak merasa terganggu. Tapi kenapa Kalila justru bahagia mengingat ciumannya dengan Theo. Kalila belum pernah berciuman, Theo lah ciuman pertamanya.


**


"Kau akan datang ke pernikahannya?" tanya Theo pada Kalila, saat mereka pulang kerja mampir makan di rumah makan biasanya.


"Hei, adik kecil, kau tetap harus memanggilku mbak...apa-apaan kau menyebutku seperti itu," kata Kalila menjitak kepala Theo. Theo mengusap kepalanya.


"Apa-apaan sih, kita kan sudah jadian?"


"Siapa bilang, aku tak pernah bilang iya?"


"Setelah ciuman itu bagaimana mbak bisa bilang tidak? Apa masih belum jelas....?" seru Theo yang mulutnya langsung disumbat sebelah tangan Kalila.


Sambil menatap sekeliling atas perkataan Theo yang vulgar. Theo memegang lembut tangan Kalila yang menutup mulutnya.


"Apa mau diulang lagi?" tanya Theo menggoda Kalila.


"Ya!" Theo terbahak berlari menuju kasir. Wajah Kalila bersemu merah, sangat merah.


Hari ini Theo mengendarai mobilnya untuk mengantar Kalila. Kalila terpaksa menyetujui dengan perdebatan panjang terlebih dulu. Perjalanan menuju rumah, tangan Kalila digenggam erat dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya memegang setir.


Theo tak henti-hentinya tersenyum lebar, senyuman manis karena perasaan bahagianya. Walau Kalila masih belum berkata iya tentang perasaannya tapi Theo sudah menganggap mereka pacaran. Kalila tak menolak, hanya diam terkadang tersenyum juga senang.


bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2