Kakak Sahabatnya

Kakak Sahabatnya
Bab 21


__ADS_3

Persiapan di rumah Kalila untuk menyambut kedatangan tamu yang mungkin penting bagi kehidupan Kalila nanti sudah hampir selesai. Tinggal menunggu kedatangan Theo dan keluarganya mungkin setengah jam lagi sampai.


Kalila bergerak gelisah di dalam kamarnya. Duduk di depan cermin meja riasnya membetulkan riasannya yang mungkin ada yang terlewat. Kalila sangat gugup, di hari dirinya akan menerima lamaran dari Theo, pria yang sangat dicintainya. Kalila tak pernah bermimpi secepat ini dirinya dilamar oleh Theo. Pria teman seangkatan adiknya, pria muda yang mungkin lebih pantas disebut adik dalam umur tapi tidak untuk fisiknya.


Theo yang berbadan tinggi, besar, bahu yang lebar, dengan wajah blasteran Indonesia - Belanda, berkulit putih dan wajah tampan tanpa cela idaman semua wanita, pasti tak akan menolak pesona Theo, sedang Kalila yang meski selisih umur terpaut tujuh tahun dengan Theo memiliki wajah cantik, baby face dan badan yang tak terlalu tinggi menambah keimutan Kalila yang tak sama terlihat dari umurnya, mungkin jika mereka jalan bersama lebih pantas seperti Kalila sebagai adik Theo. Tapi membuat keduanya sama-sama saling melengkapi kekurangan masing-masing.


Tok tok tok


Suara pintu kamar Kalila diketuk.


"Mbak,Theo sudah datang!"seru Aksa dari luar kamar.


"Iya..."seru Kalila semakin gugup saja.


Keluar kamar perlahan menuju ruang keluarga yang disiapkan untuk menerima tamu keluarga Theo yang hendak melamar Kalila.


Belum sampai Kalila melangkah turun ke bawah untuk menemui keluarga Theo, Theo sudah menghampirinya dan menarik pergelangan tangan Kalila masuk kembali ke dalam kamar pribadi Kalila. Theo mengunci pintu itu dan berbalik menatap Kalila.


"Sayang...Ada apa?"tanya Kalila melihat Theo menarik dirinya tanpa permisi.


"Aku merindukanmu."Theo mendekap tubuh Kalila erat, menyerukkan wajahnya ke bahu kecil Kalila. Kalila mengusap rambut Theo mendekap tubuh Theo balik.


"Baru kemarin kan?"


"Entahlah, sepertinya sudah berminggu - minggu." sahut Theo asal ganti menyerukkan wajahnya ke leher Kalila mengecupi leher itu, membuat Kalila menggelinjang geli.


"Di bawah tinggal nunggu kalian? Mau sampai kapan bermesraannya!"tegur Aksa kencang dari luar kamar yang sontak membuat keduanya spontan melepaskan diri masing-masing tapi saat Theo teringat sudah mengunci pintunya, Theo mendekap lagi tak menggubris Aksa.


"Theo,lepas!! Ada Aksa di luar!"dorong Kalila yang tak membuat tubuh besar Theo bergeming.


"Nggak...dia gak ngeliat kita. Biarin aja!"jawab Theo cuek.


"Kami keluar!"teriak Kalila.

__ADS_1


Mereka sudah duduk bersisian di sofa ruang keluarga membuat semua orang yang ada disitu menggelengkan kepala tak percaya melihat keintiman mereka berdua, terutama Theo , dia menempel pada tubuh Kalila tak mau bergerak sedikitpun.


Dan kedua jemari tangan mereka bertautan tak mau lepas. Kalila hanya menunduk malu, mukanya sudah memerah padam menahan malu, melihat keposesifan Theo. Aksa hanya tersenyum lucu menatapnya. Aksa tau betul sahabatnya itu benar-benar mesum, sungguh pencapaian rekor jika dia masih mempertahankan kegadisan kakaknya.


Setelah kedua keluarga saling sapa dan bertukar salam. Mereka memulai mengobrol ringan dan memulai acara.


"Baiklah! Langsung saja sepertinya mereka sedang berada di dunia mereka sendiri. Saya akan ikut kapan tanggal pernikahan mereka besan menentukan?"kata Kartika memulai pembicaraan.


"Minggu depan."sela Theo sebelum orang tua Kalila berbicara, semua orang sontak menoleh menatap Theo terkejut dan tak ketinggalan Kalila juga ikut menatap Theo.


"Aku tak mau lama-lama, aku ingin minggu depan kalau terlalu lama, besok kami siap." Kalila mencubit pinggang Theo yang langsung mengaduh kesakitan memegangi pinggangnya.


"Sayang..."seru Theo segera ditutup mulut lebarnya Theo yang hendak melanjutkan ucapannya dan sayang, panggilan 'sayang' bagi mereka yang disepakati untuk dipanggil jika sedang berdua saja malah terceplos dari mulut Theo di depan kedua keluarga belah pihak.


"Sayang..."seru semuanya bersamaan mengulang ucapan Theo, tapi Kartika malah tertawa elegan menutup mulutnya.


"Ternyata putraku begitu mencintai putri anda? Bagaimana kalau kita nikahkan mereka segera? Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan."ucap Kartika memecah keheningan.


Theo memilih untuk tinggal lebih lama di rumah Kalila membiarkan semua keluarga besarnya untuk pulang terlebih dulu. Akhirnya diputuskan untuk menentukan pernikahan mereka dua minggu yang akan datang meski Theo sedikit protes karena terlalu lama dengan yang diusulkan. Karena seluruh keluarga dengan mempertimbangkan segala hal, akhirnya keputusan mutlak dua minggu lagi.


"Kau siap?"ucap Theo setelah mereka menyingkirkan diri mereka untuk duduk berduaan di samping rumah Kalila dan duduk di gazebo tempat istirahat keluarganya.


"Bagaimana kalau aku bilang tak siap?" tantang Kalila menatap Theo lekat.


"Aku akan menyeretmu ke altar pernikahan." ucap Theo yakin.


"Kau mau memaksaku?"


"Kalau perlu."Kalila menganga tak percaya menatap Theo dengan sorot mata serius. Kalila mengecup bibir Theo sekilas, tapi Theo malah memperdalam ciuman itu menekan tengkuk Kalila.


"Sabar kenapa?"celetuk Aksa dari belakang membawa camilan dan minuman yang memang disiapkan untuk teman ngobrol bersamanya.


Kalila mendorong tubuh Theo menjauh, Theo berdecak kesal menatap sahabatnya itu, sejak dulu Aksa suka sekali merecoki Theo, menggoda Theo, mengira dia gay karena setahu Aksa, Theo tak pernah pacaran sekalipun. Mesumnya itu karena sering sekali nonton film bokep saat bersama teman - teman kuliah.

__ADS_1


"Tinggal nunggu 2 minggu kenapa?" goda Aksa pada keduanya membuat Aksa tertawa lebar. Kalila yang memerah karena malu memukul kepala Aksa tapi segera ditepis.


Malah semakin membuat Aksa tertawa terbahak-bahak. Kalila masuk ke dalam kamarnya membiarkan kedua sahabat itu berbincang.


"Lo udah yakin dengan keputusan Lo?" tanya Aksa setelah tinggal mereka berdua.


"Apa maksud Lo?Gue gak pernah main-main dengan keputusan gue, apalagi menyangkut masa depan gue. Bagi gue Kalila adalah segalanya."


"Gombal. Sok puitis Lo, dasar jones, tak pernah pacaran sekali pacaran main nikah aja." ejek Aksa membuat Theo tersenyum senang.


"Cintai kakak gue!Jangan berani membuatnya menangis, karena guelah musuh Lo jika sampai kakak gue menangis."tegas Aksa sedikit ancaman melanjutkan ucapannya.


"Guepun gak mau jika bukan kakak Lo calon istri gue. Dan gue janji akan membahagiakannya.


"Lo kenal betul siapa gue, gue gak bisa bersentuhan dengan wanita manapun. Tapi saat kakak Lo ngusak rambut gue, entah kenapa gue merasa nyaman dan ingin lebih." lanjut Theo lagi.


"Jadi Lo udah suka kakak gue sejak itu?" tanya Aksa mengingat pertemuan pertama kali Theo dengan kakaknya, Aksa sering bercerita tentang Theo pada keluarganya dan pertemuan pertama mereka nyatanya menjadi arti yang dalam bagi Theo.


Theo mengangguk.


bersambung


Mohon dukungannya


Beri like, rate dan vote nya


Makasih 🙏🙏


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2