
"Kau sudah pulang sayang?" tanya Kalila saat melihat suaminya muncul di kamar bayi mereka.
Theo tak menjawab menghampiri istrinya memeluk erat tubuh istrinya. Kalila hanya membalas pelukan suaminya dengan menepuk-nepuk punggungnya mencoba menghibur mungkin terlalu banyak masalah pada suaminya.
"Aku mencintaimu." bisik Theo masih dalam pelukan istrinya.
"Aku juga." balas Kalila lirih memejamkan mata menghirup aroma suaminya.
"Mario baru tidur?" tanya Theo melepas pelukannya menatap lekat putranya yang tertidur pulas di box bayinya.
"Ya, dia baru menyusu hingga tertidur. Aku baru membaringkannya di box bayi saat kau baru muncul tadi." jelas Kalila ikut menatap putranya yang terlihat pulas tak terganggu dengan suara orang tuanya.
Dengan tangan Kalila memeluk tubuh suaminya dari samping memeluk posesif berusaha memberi kekuatan pada suaminya.
Theo menarik tubuh istrinya menuju kamar mereka yang tepat berada di sebelah kamar putranya. Kalila hanya mengikuti langkah suaminya. Sesampainya di ranjang kamar mereka, Theo duduk di tepi ranjang.
Saat istrinya ikut duduk di sebelahnya segera Theo menariknya sehingga istrinya terduduk di pangkuannya. Kalila tersentak refleks mengalungkan lengannya ke leher suaminya. Theo menyerukkan kepalanya ke dada istrinya.
"Biarkan begini dulu!" lirih Theo, membuat Kalila hanya terdiam sambil mengusap-usap rambut suaminya. Setelah kurang lebih lima belas menit, kaki Kalila terasa kram.
"Bagaimana kalau kita berbaring saja?" saran Kalila.
__ADS_1
Namun terdengar nafas beraturan dari suaminya pertanda kalau suaminya sudah tertidur pulas. Kalila mencoba membaringkan tubuh suaminya perlahan di ranjang agar tak terbangun dan berhasil.
Suaminya tidak terbangun malah semakin pulas saja. Dia hanya menggeliat, Kalila buru-buru mendekap kepala suaminya membenamkan pada dadanya kembali sehingga membuat suaminya semakin pulas lagi.
"Maaf, pasti sangat berat sekali masalahmu. Terima kasih sudah selalu berada di sisiku." bisik Kalila lirih. Dan dia pun ikut tertidur pulas dengan masih berpelukan satu sama lain.
***
Kartika berlarian di lorong dengan diikuti para pengawal yang mengantarkannya ke rumah sakit. Setelah mendapat kabar tentang pingsannya putra sulungnya itu membuat Kartika langsung merasa cemas dan khawatir. Saat sudah sampai di ruang UGD kebetulan dokter baru keluar dari dalam.
"Bagaimana keadaan putraku dok?" tanya Kartika melihat raut wajah cemas dokter yang memang bertanggung jawab atas penanganan kondisi Derrick.
"Baiklah dok. Terima kasih." jawab Kartika mengikuti ranjang putranya untuk dibawa ke kamar perawatannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kartika setelah Derrick dipindahkan ke kamar perawatannya. Keluar kembali menemui pengawal Theo yang mengabarinya tadi.
"Saat melewati cafe, tuan Theo melihat tuan Derrick pingsan di luar cafe. Dan menyuruh kami ke rumah sakit ini." jelas pengawal Theo itu.
Kartika mengangguk paham. Dia juga tak menanyakan putra bungsunya itu dimana karena tahu hubungan keduanya. Kartika juga tak menyalahkan Theo karena tak ikut mengantar kakaknya ke rumah sakit. Karena Derrick memang sangat bersalah terhadap adiknya itu apalagi pada adik iparnya.
"Baiklah. Sampaikan pada putraku kalau kakaknya baik-baik saja!" ucap Kartika masuk kembali ke kamar perawatan Derrick.
__ADS_1
"Baik nyonya. Kami pamit." jawab pengawal itu dengan sopan.
Tak lupa menundukkan kepalanya pada ibu majikannya itu yang juga harus dihormati meski hubungan keduanya kini sedang tidak baik-baik saja.
"Kau kenapa lagi nak?" lirih Kartika berdiri di sisi ranjang putranya yang masih setia memejamkan matanya.
Tanpa sadar air matanya luruh sampai terduduk di kursi dekat ranjang.
bersambung...
.
.
.
Maafkan typo.
Beri dukungannya.
Beri like, rate dan vote nya
__ADS_1